Lone Hero

Lone Hero
Latihan Keras



"Aku... Aku pilih niraya!" Shin akhirnya memutuskan untuk mempelajari bagian niraya (neraka) yang dibuat oleh Feng Li. "Kenapa master belum memberikan teknik ini sebuah nama?" Shin yang tahu masa lalu Feng Li juga tahu asal-usul teknik ini. Yan Shen beramanat bahwa teknik ini harus disempurnakan dan diberi nama oleh muridnya, namun Feng Li masih belum memberi nama untuk teknik ini.


"Itu karena aku tidak layak, bagian niraya ini sudah mencederai bagian yang dibuat oleh guruku. Bagian pertama mengajarkanmu ketenangan dan kedamaian, tekniknya bisa mengalahkan lawan dengan lembut, seperti air mengalir yang lama-kelamaan bisa menghancurkan batu. Sedangkan teknik buatanku berisi keganasan dan kekejaman yang tak terkira, banyak serangan penghancur dengan kekuatan tinggi. Apa kau yakin mempelajarinya Shin?"


Shin terkejut dengan perbedaan antara guru dan murid ini, yang satu tenang seperti air dan yang satunya lagi ganas dan kejam bagaikan api neraka.


"Aku mengejar kekuatan tertinggi, tekad dan sifatku tak akan berubah hanya karena sebuah teknik bela diri!" Shin bersikeras memilih bagian niraya.


"Tapi harus kau tahu bahwa pelatihan bagian ini lebih keras dan kejam dari bagian nirvana!" Feng Li memberi sebuah peringatan keras.


"Tidak ada kekuatan yang gratis didunia ini!" Shin masih bertekad untuk itu.


"Bagus, aku suka tekadmu itu." Feng Li memuji tekad dan pendirian yang kuat dari Shin. Jenius di dunia ini sebanyak bintang dilangit, tapi hanya sedikit diantara mereka yang berdiri di atas yang lainnya. Bukan karena perbedaan sumber daya atau guru yang memadai tapi karena tekad dan keteguhan yang kurang.


"Bagian mana yang kau pelajari Senior?" Meski ada kata kau dalam kalimatnya untung saja diakhiri dengan panggilan senior.


"Sama sepertimu. Lagipula aku seorang elemental api, kelemah lembutan seperti itu tidak cocok denganku." Ying Ai sudah bersemangat kembali.


Latihan bela diri Shin akan dimulai sebentar lagi, keduanya dipanggil Feng Li menuju halaman rumah mereka, halaman rumah mereka yang kecil tampak hanya cukup menampung mereka bertiga. "Shin, rentangkan kakimu dan rendahkan seperti kau sedang duduk!" Shin melakukan perintah Feng Li dengan kesusahan, saat kedua kakinya direndahkan selutut, gemetar menyelimuti kakinya karena dia tidak terbiasa dengan sikap seperti ini. Sambil gemetaran Shin bertanya pada Feng Li, "Apa gunanya aku melakukan ini master?"


"Ini untuk dasar bela diri, fondasi tubuhmu memang lumayan bagus namun fondasi untuk teknikmu masihlah sangat buruk. Tetaplah seperti itu selama dua puluh menit! Jika kau berdiri sebentar saja durasinya akan aku lipat gandakan!" Selama satu menit percakapan ini Shin sudah lelah luar biasa, sekarang dia disuruh seperti itu sembilan belas menit lagi! Jika bukan karena tekadnya yang kuat Shin mungkin sudah menyerah saat ini.


Feng Li meninggalkan Shin yang berjuang dengan susah payah dan menuju Ying Ai.


Latihan Ying Ai sedikit berbeda daripada Shin, dia disuruh untuk lebih bisa mengendalikan kekuatan elemen api miliknya. Tugas untuknya adalah untuk bisa menyelimuti lilin dengan api tanpa melelehkannya, Feng Li jelas menugaskan Ying Ai mengatur suhu api. Berkali-kali Ying Ai mencoba tapi masih belum berhasil juga, sepertinya latihan ini lebih sulit daripada Shin. Sudah puluhan lilin berubah menjadi cairan tanpa ada peningkatan. Ying Ai berhenti membakar dan malah bermeditasi dalam rangka mendapat pencerahan.


Dua puluh menit sudah berlalu, seluruh tubuh Shin sudah sangat basah oleh keringat dan kakinya gemetaran tanpa henti. Dia segera duduk dan meluruskan kakinya, "Istirahat sepuluh menit lalu kita lanjutkan lagi!" Apa-apaan, Shin hanya diperbolehkan istirahat sepuluh menit, dia sedikit menyesali keputusan untuk datang berguru padanya dan kesan baik hati sudah menghilang jauh dari kepalanya, Feng Li saat ini merupakan penjelmaan dari seorang iblis.


Sepuluh menit yang singkat sudah terlewati, Shin yang masih kelelahan tidak diberi kelonggaran sedikitpun, "Hancurkan guci berisi air ini dengan pululanmu dan kau hanya dibolehkan memukul air didalamnya!" Shin menghela napas lega, latihan kali ini tidaklah berat seperti sebelumnya,


hanya menghancurkan guci keramik tipis seperti ini memang bukan tugas yang sulit. Juga guci ini tidak terlalu tebal meski ukurannya cukup besar.


Shin mengaktifkan aura dan memukul permukaan air, saat tinju sudah di permukaan air suara penghancur harapan terdengar, "Aku lupa bilang tadi, kau tidak dibolehkan menggunakan aura saat menjalani pelatihan dariku!" Suara iblis menyerang hati Shin yang penuh harapan. Shin hanya bisa pasrah dan akhirnya merilis auranya. Kekuatan gurunya dia sudah sangat jelas akan hal ini.


Plak!


Air di guci bergolak dan menyembur keatas setelah dipukul Shin, air bercipratan dan membasahi Shin. Dia memukul beberapa kali lagi dan hasil yang sama terulang lagi. Shin akhirnya mencoba memukul secara cepat tapi tidak berguna. Setelah satu jam pemukulan tinju Shin sudah berwarna kemerahan dan air di guci tinggal sedikit. Shin bahagia karena ini mungkin artinya pelatihan sudah berakhir, dia memanggil Feng Li, "Master..."


Sebelum Shin menyelesaikan kalimatnya, Feng Li sudah memotong ucapannya, "Air itu berharga disini, ambil lagi airnya di sungai, pelatihanmu tidak akan berakhir sebelum guci itu pecah!" Sekali lagi harapan Shin dihancurkan iblis keji ini.


Wajah penuh kebahagiaan dan harapan sudah tergantikan. Shin tak bisa menentang gurunya dan hanya bisa patuh mengambil air di sungai yang sama saat dia diajak Ying Ai. Untung saja letak sungai itu tidak jauh dari rumah, karena Shin tidak bisa mengangkat guci itu karena ukurannya yang terlalu besar, dia menggunakan ember untuk mengisi air, meski sudah menggunakan dua ember masih butuh tiga kali pengisian, kombinasi antara pemukulan dan pengisian ini melengkapi kelelahan Shin. Pukulan demi pukulan Shin lontarkan tanpa hasil pada guci dan berkali-kali dia sudah mengisi air. Seharian Shin terus mengulangi kegiatan ini, dia hanya istirahat saat makan siang dan terus melanjutkannya lagi.


Tak terasa hari sudah sore, Shin merasa kecewa karena latihannya tidak membuahkan hasil apapun. Disisi lain Ying Ai juga menunjukkan wajah yang sama, sudah ratusan lilin ia lelehkan. Dengan wajah lelah dan kecewa keduanya masuk kedalam rumah.


Feng Li hanya bisa tersenyum melihat kedua murid kecilnya ini, dibalik senyum ini terdapat sebuah kesedihan yang mendalam, harus membuat dua murid yang disayanginya ini tersiksa sedemikian rupa menyebabkan hatinya sakit, ingin sekali dia membiarkan keduanya bersenang-senang setiap hari. Namun dia harus bisa sabar karena ini semua untuk masa depan murid kecilnya, dia tidak bisa menunjukkan kesedihannya ini pada muridnya hingga dia menyembunyikannya dibalik senyuman.


Di dalam kamar.


Shin menyembunyikan tangan merahnya karena tidak mau membuat Ying Ai khawatir. Tapi penglihatan seorang wanita tidak bisa dianggap remeh, "Tunjukkan tanganmu!" Ying Ai mengeluarkan kotak obat dari laci.


"Aku baik saja." Shin tetap menyembunyikan luka yang dideritanya ini.


"Jangan bertindak sok kuat, berkali-kali aku sudah bilang kau harus lebih bergantung pada orang lain!" Ying Ai tak tahan dan mengambil tangan Shin, dia membantu mengoleskan obat pada tangan Shin yang merah. "Aww... sakit." Shin meraung rendah karena efek obat ini, mendengar ini gerakan tangan Ying Ai menjadi lebih lembut lagi sampai Shin merasa nyaman.


"Terima kasih... maaf."


"Untuk apa?" Ying Ai heran dengan permintaan maaf dari Shin.


"Tidak tahu." Shin menjawab dengan polos hingga dia terlihat bodoh.


"Tidurlah sekarang, besok kau masih harus berlatih seperti ini lagi." Ying Ai akhirnya bertindak seperti seorang senior sebagaimana mestinya.


Puk puk


Ying Ai menepuk kepala Shin dengan lembut karena kerja kerasnya, 'Eh.. kenapa tanganku bergerak sendiri ?' Rupanya ini karena refleks.