
Si bos diselimuti aura merah kehitaman yang memancarkan rasa takut dan keganasan tak terbatas sedangkan Shin diselimuti aura kuning kehijauan, dengan kekuatan penuh mereka berdua tidak berniat berlama-lama lagi dalam pertarungan ini, baik si bos atau Shin sama-sama tidak bisa mempertahankan keadaan ini terlalu lama. Ronde ini mungkin akan berjalan singkat, tapi intensitasnya adalah yang tertinggi.
Shin menyalurkan aura di empat senjata utamanya, dia menatap si bos yang sedang mengarah ke arahnya dengan fokus, dia mengepalkan kedua tangannya dan menyiagakan kedua kakinya, saat keduanya sudah ada dalam jarak serang masing-masing si bos mengayun dari atas, Shin meninju kapak ini sebagai pertahanan.
Trank!
Suara besi muncul dan kedua serangan ini terhenti karena kekuatan mereka yang setara, tanpa terlalu lama jeda sebuah ayunan datang dari arah samping, berniat memenggal Shin.
Shin merendahkan tubuhnya, membiarkan kapak menebas udara kosong, setelah serangan terlewati dia bangkit dan menyerang tubuh si bos beberapa kali, sayangnya serangannya harus terhenti karena kaki si bos telah mendendangnya. Shin masih sempat menangkisnya namun efek dari serangan ini telah membuatnya terlempar beberapa meter.
Tanpa pikir panjang si bos langsung melesat ke aras Shin dan mengarahkan kapaknya dari dua arah yang berlawanan, Shin tidak cukup menangkis serangan ini dan mengeluarkan aura shield.
Trank!
Laju dua kapak terpaksa dihentikan oleh aura shield milik Shin tapi si bos tetap tidak mau menyerah. Dia menarik kapaknya lagi dan menyerang secara bertubi-tubi, hanya dalam beberapa napas berselang lebih dari sepuluh ayunan kapak menghantam aura shield milik Shin.
Tahu bahwa ini hanya membuang aura, Shin menonaktifkannya pada saat si bos mengambil ancang-ancang, dia mengambil langkah lebih dulu dan meninju beberapa kali, dengan sisi tajam kapak si bos berusaha menahan serangan Shin yang terus menghujaninya ini, keduanya terlibat pertukaran sengit tanpa ada yang mendapat keunggulan atas yang lainnya.
"ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA!!"
"MUDA MUDA MUDA MUDA MUDA!!!"
Trank!Trank!Trank!Trank!Trank!
Puluhan pukulan dan ayunan kapak beradu dengan sengitnya, attack speed keduanya telah mencapai tingkat yang sangat tinggi sehingga sulit diikuti oleh mata manuska biasa, yang bisa kita lihat dari pertarungan ini hanyalah suara besi yang terus saja terdengar beberapa kali setiap detiknya.
Kepalan Shin dengan epik menahan kapak yang tajam dan keras ini, namun ini sudah mulai tergores di banyak tempat. Tubuh Shin juga tidak sepenuhnya bisa menahan gempuran serangan musuh, banyak luka baru bermunculan dan darah merembes melalui kulitnya.
Pihak lain juga sama tidak berdayanya, beberapa kali Shin berhasil mendaratkan pukulan atau tendangan telak padanya, badannya memar di banyak tempat dan keseimbangannya juga sudah mulai terguncang. Napasnya berat dan bagian dalamnya terluka karena gempuran dari Shin.
"Haaah... haaah...."
Keduanya menghela napas kelelahan karena intensitas pertarungan yang tinggi, terutama bagi Shin yang hanya punya sedikit waktu yang tersisa.
Si bos maju ke depan dan dari atas dua kapak mengayun ke bawah secara bersamaan, sebagai langkah yang dirasa tepat Shin memilih untuk maju sambil meninju beberapa kali.
Tak!
Tangan si bos lah yang menyentuh pundak Shin, bukan kapaknya. Shin kemudian menyerang si bos yang tidak lagi memiliki pertahanan ini dengan sekuat tenaga, kesempatan emas seperti ini jarang sekali dia dapatkan.
Bug!Bug!Bug!Bug!
Srashh!
Shin berhasil mendaratkan beberapa pukulan tapi dari belakang si bos masih berniat menyerangnya, dia memutar gagangnya dan menarik kapaknya kuat, membiarkannya menempel ke punggung Shin dengan ganas. Dua buah luka robek yang dalam timbul di punggungnya tapi Shin masih terus memukul si bos.
Tak akan membiarkan Shin memukulinya begitu saja, si bos menarik kapaknya kembali dan langsung menyabet dari samping. Kedua tangan Shin masih sibuk menyerangnya dan tak bisa menangkis ini, sebuah luka diagonal terbentuk dengan sempurna di tubuhnya, diikuti dengan beberapa luka sayatan di betisnya, untung ada borgol disana jadi beberapa luka bisa tertahan oleh itu.
Sayangnya serangan combo Shin harus terhenti karena serangan tadi. Guna membuat kesempatan lain, Shin mengait kaki musuh yang menyebabkannya jatuh ke depan, tubuhnya terkusruk dan dia harus mencium tanah.
Saat Shin akan menyerangnya yang sedang dalam posisi rentan, sebuah ayunan kapak menyerangnya dari bawah, menciptakan luka berupa garis lurus yang membelah badan bagian kiri Shin hingga ke atas pundak, luka ini cukup dalam dan juga memperparah beberapa luka yang telah ada sebelumnya, ayunan ini juga telah memotong perban yang menempel di tubuh Shin, memperparah luka dan keadaan.
Darah mengucur deras dari puluhan luka baik yang ringan ataupun parah, selain dari stamina Shin yang kian menipis darahnya juga semakin sedikit, efek dari kehabisan darah ini juga sudah mulai dia rasakan, tubuhnya ling-lung dan penglihatannya mulai kabur. Meski begitu dia masih belum boleh menyerah.
Melihat bahwa si bos masih belum bangkit dari posisinya, Shin menendang tubuh si bos dari bawah, menyebabkannya mundur ke belakang dengan kepala menghadap langit. Shin segera menduduki tubuhnya dan berniat melakukan serangan finishing, seluruh aura dia kirim ke kedua tangannya dan dengan kejam dan tanpa ampun dia menghujani wajah si bos dengan pukulan.
"ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA!!!"
Si bos tentunya belumlah kalah atau mati ketika dipukuli oleh Shin, dengan tenaga yang tersisa dia menyerang tubuh Shin dengan telak, sekarang ini hanyalah adu ketahanan dan adu kecepatan siapa yang mati lebih dulu.
Setelah beberapa momen pemukulan dan sabetan singkat, hasil masih belum bisa diketahui. Kepalan Shin sudah penuh luka dan berdarah banyak begitu juga dengan kapak dan wajah si bos, entah sudah berapa kali dia menyemburkan darah segar dan giginya.
Dengan tubuh yang sudah terluka di banyak tempat dan kehabisan darah yang sama banyaknya, beban yang harus diterima tubuh Shin hampir tidak bisa dia tanggung lebih lama lagi, tubuh fisik kuatnya kini sudah ada diambang batas kehancuran tapi tekadnya masih sangat kokoh dan tegar.
Shin menyalurkan seluruh aura yang tersisa pada tangan kanannya, setelah itu terkumpul dia langsung menyiku wajah si bos kuat sekali, serangan terkuat yang dia bisa keluarkan.
Tak cukup hanya segini saja, Shin mengangkat tangannya dan langsung dikepalkan.
Bug!
Dengan satu pukulan, seluruh tengkoraknya hancur berkeping-keping yang memberinya sebuah kematian yang pasti. Tangan yang berniat menyerang juga jatuh terkulai lemas ke tanah. Wajahnya sudah tidak lagi memiliki bentuk yang bisa dikenali dan tampak sangat menyedihkan.
Shin langsung menonaktifkan auranya guna melemahkan tekanan yang diderita tapi terlambat, tubuhnya ambruk tepat setelah dia memukul dan darah terus mengalir tanpa henti, tulang dan kulitnya serasa dilumat oleh batu besar dan dia tidak kuasa menahannya lebih lama lagi.
Shin jatuh terkulai lemas dari tubuh si bos ke kanan, dia tidak bisa menggerakkan bahkan jarinya sendiri, kini dia hanya bisa menunggu Raja Yama menjemputnya. Shin yang berada dalam jarak satu inci dari kematian bisa melihat dengan jelas apa itu kematian yang sesungguhnya, teror dan rasa takut yang dirasakannya bahkan membuatnya tidak sanggup, terpikir berapa banyak penyesalan yang akan ditinggalkannya.
Dengan pengalaman kematian inilah juga seluruh tubuhnya terutama instingnya dilatih, menghalalkan segala cara hanya untuk bertahan hidup lebih lama akan lebih sering lagi dia lakukan. Rasa kematian yang dekat dan kehidupan yang jauh semakin menambah pengalaman serta keinginannya bertambah kuat, sadar bahwa dia hanyalah orang kecil dibanding dengan dunia yang besar.
Feng Li sedari tadi menonton pertarungan Shin dan berniat menolongnya jika bahaya datang, standar bahaya miliknya tentu ada diluar jangkauan manusia seperti kita.
Dengan cepat Feng Li segera mendekat ke arah Shin.
"Kau sudah bekerja keras. Makanlah ini dan pulihkan dulu kekuatanmu." Feng Li langsung menyodorkan sebuah pil pemulih pada Shin, dengan mulus pil ini meluncur melewati tenggorokan Shin dan efeknya semakin terasa, kemampuan pemulihan Shin bertambah banyak dan darah mulai berhenti mengucur.
Luka-luka kecil mulai tertutup setelah sepuluh menit dan dia sudah mulai bisa berjalan lagi. Kekuatannya pulih beberapa persen dan itu hanya cukup untuk bergerak, bahkan ahli pembentukan awal bisa membunuhnya saat ini.
"Kita pergi dari sini, bau darah dan mayat pasti memancing beast di sekitar. Kau masih terlalu lemah, pakai saja tongkat milikmu." Kata Feng Li.
Menghemat tenaga, Shin tidak menjawab ucapan Feng Li. Dia langsung mengeluarkan Arhat Staff dan langsung menaikinya, sambil duduk bersila diatasnya dia mencoba memulihkan kekuatan. Shin terbang rendah dan mengikuti Feng Li dari belakang.
"Makan ini lagi." Feng Li kemudian mengeluarkan beberapa pil pemulihan dan langsung diberikan pada Shin, benda mahal seperti itu dia keluarkan layaknya barang murahan. Mengingat intensitas latihan yang akan dilalui Shin nanti dan tingkat pemakaian yang segini boros, harusnya Feng Li sudah menyiapkan setidaknya seribu pil pemulihan!
Shin meminum beberapa pil sekaligus dan mulai memulihkan dirinya sekali lagi. Setelah dua jam perjalanan ke arah timur mereka berdua memutuskan untuk berhenti di sebuah tanah datar dan bermalam disini.
Sedangkan Shin masih dalam pemulihannya Feng Li memilih bersantai di tempat ini. Tiga jam kemudian luka Shin sudah mulai membaik meski belum tertutup sepenuhnya, sekitar setengah kekuatannya sudah pulih saat ini.
"Master, apa aku akan mengambil istirahat besok?" Biasanya setelah latihan keras akan ada sedikit hadiah kecil, meski tidak begitu juga Shin bertanya karena kondisinya.
"Istirahat apa? Tidak akan ada istirahat selama beberapa tahun kau disini." Feng Li menjawab polos.
"Tapi kekuatanku bahkan belum pulih setengah." Shin memelas meminta keringanan.
"Makan ini." Feng Li melempar beberapa pil pemulihan lagi, entah berapa banyak stok yang sudah dia sediakan.
Shin menangkap pil-pil ini dan menatapnya dengan sedih, dengan adanya item ini disini sangat tidak mungkin Shin akan mendapatkan waktu istirahat. Kalau dia terluka dia hanya tinggal meminum ini dan siap bertempur sekali lagi, metode latihan neraka ini memang cocok dengan karakter Feng Li.
Sebelum mengonsumsi pil ini Shin harus membangun tenda terlebih dahulu, matahari sudah mau terbenam dan malam hanya tinggal menunggu waktu.
Waktu yang singkat terlewati dan dua buah tenda sudah berdiri dengan sederhana, Shin memasuki bagiannya dan mulai memulihkan diri, karena acara ini dia tidak punya cukup waktu untuk sesi latihan malam.
Satu malam telah terlewat dan Shin sudah pulih sepenuhnya. Jadwal latihannya kali ini adalah pendalaman gerakan Feng Li dan akan berangkat dua hari lagi.
Setelah pertempuran kemarin Shin tampak sedikit berbeda, matanya lebih dalam dan setiap gerakannya mulai membawa keganasan didalamnya. Dia menjadi lebih tanpa ampun membunuh musuh-musuhnya dan peningkatan ini memang merupakan hal yang bagus. Dia menjadi lebih menghargai kehidupan terutama kehidupan miliknya sendiri, dia mengerti apa itu kematian dan teror dari itu, karenanya dia sebisa mungkin akan menggunakan segala cara untuk bisa bertahan hidup.
Sebagai gurunya Feng Li pasti tidak ingin merubah Shin menjadi seorang pembunuh berdarah dingin tak berperasaan, jeda beberapa hari ini juga dimaksudkan untuk mentalnya memulihkan diri.
Setelah rutinitas sparring singkat, Feng Li mengulas hasil kerja Shin kemarin.
"Lain kali jangan gunakan senjata lawan untuk membunuh mereka, aku melatihmu menjadi martial artist bukan menjadi pembunuh. Kau tahu konsekuensinya kan?"
Memang salah Feng Li sendiri tidak memberi tahukan ini sebelumnya, tapi yang pasti Shin akan melaksanakan perintah ini tanpa perlu diragukan.
"Aku tahu, setelah ini itu tidak akan kuulangi lagi." Shin berjanji pada gurunya.
"Bagus, seiring dengan bertambahnya pertempuran hidup dan mati yang kau berhasil keluar dari sana, teknik dan insting milikmu sedikit demi sedikit akan bertambah kuat, dalam beberapa tahun singkat bukan tidak mungkin kau bisa mencapai hasil yang kuharapkan. Tapi itu semua tergantung dari seberapa besar usahamu! Lupakan bertemu dengan Ying Ai lagi kalau kau bahkan butuh empat tahun!!" Feng Li menyebutkan targetnya yang bahkan lebih besar lagi dari sebelumnya. Dia juga menambah bumbu-bumbu "Ying Ai" ke dalam kalimatnya agar Shin semakin terpacu.
"Murid ini tidak akan mengecewakan guru!" Shin memberi hormat dan memulai pendalamannya.
Feng Li benar, jika Shin butuh waktu empat tahun disini dia hanya punya tiga tahun tersisa, mencapai prasyarat mengikuti kompetisi yang dimaksud juga sangatlah tidak mungkin. Jika Shin ingin bertemu dengan Ying Ai sekali lagi, dia butuh waktu maksimal tiga tahun!