
Keesokan harinya, Meja Makan.
"Pelatihan dasar kalian sudah berakhir, kalian tidak perlu latihan apapun hari ini. Pergilah kemana pun kalian mau, tapi kalian harus pulang sebelum malam!" Hari ini Feng Li berbaik hati membiarkan kedua muridnya beristirahat dan ini adalah momen yang sangat langka. Jika ini adalah hari biasa setelah satu bulan latihan keras juga tidak akan ada hari libur seperti ini, tapi setelah melihat kerja keras dan penyelesaian tugas yang cepat, hadiah ini tidaklah berlebihan sama sekali. Ying Ai sangat kegirangan dan segera mengajak Shin keluar, namun jawaban Shin tidak pernah ia harapkan sebelumnya.
"Tidak, aku mau latihan saja." Shin tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sedikitpun, pamannya sudah menunggu tiga tetua Klan Hong pergi ke neraka. Kekuatannya masih sangat lemah saat ini dan sangat jauh untuk bisa mencapai tujuannya itu. Keterlambatan satu hari ini tidak akan dia biarkan.
"Istirahat juga penting dalam latihan, luangkan saja waktu satu hari ini karena selama enam bulan kedepan kalian tidak akan mendapat libur sedikitpun!" Feng Li tidak ingin hari libur yang langka ini tidak dimanfaatkan oleh Shin dengan baik. Terlalu keras latihan juga buruk, lama-kelamaan beban fisik dan mental akan menumpuk dan menyebabkan kultivasi terhambat, jelas ini bukan hal yang diinginkan Feng Li.
"Kau dengar kan apa kata guru! Pasti akan membosankan jika hanya berdiam diri dirumah saja!" Ying Ai bersikeras mengajak Shin keluar.
"Tapi..." Saat Shin akan melanjutkan kalimatnya dia merasakan niat membunuh yang kuat dari Ying ai.
Di telapak tangannya api merah berkobar dengan ganas dan siap membakar Shin menjadi abu, "Ikut atau api ini akan membakarmu!!" Ying Ai memaksa Shin dengan ancaman.
Shin hanya bisa menuruti permintaan seniornya ini, akan jadi lucu jika dia mati konyol karena Ying Ai. Tangan Shin digenggam dengan erat dan ditarik keluar rumah, Shin tersentak lalu meniadakan perlawanannya. Senyum dipasang di wajah Ying Ai saat menarik tangan Shin, ditambah dengan rambut merah panjangnya yang tercerai-berai membuatnya semakin indah, dengan pemandangan ini Shin akhirnya menemukan tujuan baru dalam kultivasinya.
"Kau mau kemana hari ini." Ying Ai bertanya tentang pendapat Shin, tapi sepertinya dia lupa bahwa Shin adalah orang baru di Kota Yan.
"Kau yang mengajakku jadi kau yang tentukan." Shin hanya beralasan karena ketidak tahuannya.
Ying Ai mengangguk dan membawa Shin ke berbagai tempat yang belum dikunjungi si Kota Yan dulu. Sebagai penutup, Ying Ai membawa Shin ke sungai tempat mereka tidur dulu. Shin merasa aneh kenapa Ying Ai membawanya ke tempat seperti ini karena kedamaian dan ketenangan tempat ini tidaklah cocok untuk sifat Ying Ai, tapi ini memang seperti sebuah surga bagi Shin.
Sungai yang mengalir, pepohonan dan hamparan rumput hijau ini masih tampak alami dan sama seperti dulu, tempat ini tersembunyi jadi hanya sedikit orang yang akan berkunjung ke tempat ini. Pemandangan yang tidak berubah memicu kebahagiaan Shin, dia tak ingin sesuatu yang disukainya berubah dan menjadi berbeda.
"Hey, kenapa kau membawaku kesini? Tempat ini tidak cocok untukmu kan?" Shin berbaring di rerumputan dan melihat langit, tidak ada langit gelap berbintang namun ada langit biru cerah dengan hamparan awan yang sama indahnya.
Ying Ai berbaring disebelahnya dan mulai menatap langit yang sama lalu mulai berkata, "Tidak akan adil jika hanya aku yang senang kan?" Tetap memandang langit, Ying Ai akhirnya menjawab, Shin tidak menyangka kalimat seperti ini bisa keluar dari mulut Ying Ai. Tapi jelas dia bahagia dengan ini.
"Terima kasih." Ying Ai berkata dengan lembut, namun Shin tampaknya kebingungan,
"Untuk apa?" Ying Ai membalikkan badannya kearah Shin, melihat Ying Ai seperti ini, Shin juga berbalik ke arahnya.
"Jangan melihat ke sini!!" Ying Ai yang malu mendorong wajah Shin menjauh darinya, wajahnya kini sudah seperti terbakar.
"Baik, baik.. tapi jawab dulu pertanyaanku!" Shin tetap tidak merubah posisinya dan menatap mata Ying Ai, mata merah Ying Ai tampak selaras dengan wajah dan rambutnya. Dengan malu akhirnya Ying Ai menjawab, "Terima kasih... untuk semuanya." Shin menatap Ying Ai lebih dalam lagi. "Kau sudah dapat jawabanmu kan!" Ying Ai tidak berani menatap Shin lalu dia melayangkan tangannya dan mendorong Shin menjauh.
"Semuanya apanya?" Tangan Ying Ai dengan cepat ditangkap oleh Shin dan dia tak berniat untuk melepaskannya.
"Lepaskan tanganku bodoh!" Ying Ai marah dan kesal pada Shin dan dia juga menyesal sudah berterima kasih tadi. Shin melepaskan tangannya dan menatap Ying Ai yang bangun dan berjalan menuju rumah, Shin mengejar Ying Ai dan memegang tangannya dari belakang, "Tunggu!"
Ying Ai tersentak lalu menoleh kebelakang, "Lepaskan tanganku!" Ying Ai mencoba melepaskan tangannya tapi cengkeraman Shin kuat sekali.
"Tidak!"
Dengan tangan satunya Ying Ai melempar api pada Shin, namun ada yang aneh dengan api ini.
"Ini tidak panas!" Tubuh Shin yang diselimuti api merah tidak merasakan panas sedikitpun bahkan pakaiannnya masih baik-baik saja seolah api hanya menyelimutinya saja.
'Kenapa aku tidak ingin membakarnya, padahal aku sangat marah padanya tadi!?' Batin Ying Ai. Kontradiksi ini membuat Ying Ai tidak mengerti dan kebingungan, bisakah kau marah pada seseorang tapi tidak ingin menyakitinya? Pertanyaan seperti itu terus menghantui kepala Ying Ai.
Api yang menyelimuti Shin mulai padam seraya Ying ai juga berhenti memberontak. Akhirnya Shin menemukan waktu yang pas untuk bicara, "Maaf untuk yang tadi." Shin masih belum melepaskan tangan Ying Ai dari genggamannya. Ying Ai diam karena masih memikirkan tentang kontradiksi ini.
"Mari pulang, matahari akan terbenam sebentar lagi." Shin melepaskan tangannya dan mulai berjalan tapi Ying Ai masih diam mematung disana. Shin sangat khawatir dengan keadaannya lalu bertanya, "Maaf karena sudah berlebihan tadi. Ayo pulang, guru pasti sudah menunggu di rumah." Shin mencoba menghibur Ying Ai sekali lagi, "Tadi kau yang membawaku keluar, sekarang aku yang akan membawamu kembali ke rumah!" Tapi percuma, Ying Ai masih belum mau bergerak. Mereka harus segera pulang tapi Ying Ai masih seperti ini, Shin mendekatinya lalu berkata, "Aku sungguh minta maaf untuk yang tadi, tapi kita harus segera pulang. Jika kau tidak ingin berjalan maka biarlah, biar aku menggendongmu." Meski berumur lebih muda tapi tubuh fisik Shin lebih tinggi darinya. Karena selalu bergaul dengan Hong Wei yang lebih tua dan tak bisa mengurus anak dengan baik kondisi mental Shin jauh lebih dewasa. Meski begitu, dia belum mendapatkan yang namanya pengalaman. Shin merendahkan dirinya dan membiarkan Ying Ai naik ke atas punggungnya. Tubuh kecil Ying Ai dengan pas naik ke punggung Shin, tubuhnya yang kurus tidak membuat Shin merasa berat.
Dalam perjalanan Shin mencoba sebisanya untuk menghibur Ying Ai, usahanya ini membuahkan hasil, sedikit demi sedikit Ying Ai sudah pulih lagi. Saat sudah dekat dari rumah Ying Ai berkata pada Shin, "Turunkan aku!" Shin khawatir bila dia makin membuatnya lebih marah lagi.
"Aku sudah tidak apa-apa, kau tidak perlu merasa bersalah untuk yang tadi." Senyum dan keceriaannya sudah kembali lagi dan Shin merasa senang untuk ini.
Saat diperjalanan tadi Ying Ai terus memikirkan api miliknya, saat dia mendengar suara Shin atau berada didekatnya dia merasa nyaman, api miliknya juga bersikap seperti tuannya. Dia hanya tidak ingin menyakitinya.