Lone Hero

Lone Hero
Tekad



"Ayo ikut aku!" Ying Ai meraih tangan Shin, tangannya yang indah dengan lembut memegang tangan Shin, "A..apa ini." Shin yang tidak punya pengalaman sedikitpun dengan wanita terkejut, ini adalah pertama kalinya Shin memegang tangan wanita, "Tidak buruk." Begitulah kesan pertama Shin saat merasakan telapak tangan dari Ying Ai, meski kulitnya lembut dan indah tapi telapak tangannya kasar, dia pasti sudah menjalani latihan keras sebelum ini. Momen langka yang berharga baginya ini tak ingin dirusak oleh Shin, dia hanya bisa patuh kemanapun Ying Ai membawanya.


Tak terasa matahari sudah meninggakan dunia dan digantikan dengan indahnya bulan dan bintang-bintang.


"Haah, wanita memang makhluk yang tangguh." Tadi Shin diajak ke berbagai tempat yang menarik di Kota Yan, mulai dari pusat makanan sampai pusat perbelanjaan, dan tentu saja Shin yang membayar semuanya. Kelelahan yang dialaminya ini lebih dari saat menyempurnakan pil, dia bingung bagaimana bisa makhluk yang disebut wanita bisa tetap bersemangat.


"Apa kau masih belum puas juga?"


"Hehe, ada suatu tempat yang ingin kutunjukkan padamu!" Kata-katanya dipenuhi keceriaan dan kesenangan, dengan wajah imutnya dia tersenyum, senyum hangatnya ini serasa bisa mencairkan es.


Ying Ai membawa Shin ke sebuah tempat di pinggiran kota, hari yang sudah malam membuat daerah sekitar tampak sepi--tempat ini adalah sebuah tempat yang tersembunyi--setelah berjalan sebentar tampak sebuah sungai kecil dengan pepohonan disekitarnya, rumput hijau menutupi tanah di bantaran sungai. Hampir tidak ada suara manusia di tempat ini, hanya ada suara gemericik air dan beberapa suara serangga, air sungai yang tenang dan jernih dengan indah memantulkan cahaya bulan dan para peri malam. Langit seolah-olah memiliki dua bulan ditempat ini, cahaya bulan keperakan dengan lembut jatuh kebawah, menyelimuti Shin dan Ying Ai.


"Indahnya." Shin berdecak kagum dengan pemandangan ini, penampilan dari sungai, bulan, dan bintang terlihat sangat indah dan menenangkan hati, seperti pangkuan seorang ibu pada anaknya. Shin lama sekali menatap pemandangan ini, sebuah perasaan tenang dan damai yang sudah lama tak dirasakannya ini membuatnya tak tahan, segera sebuah air mata keluar dari mata kanannya, tak ada jejak kesedihan didalamnya, hanya ada perasaan kagum dan ketenangan didalamnya.


Sejak perjalanannya dimulai Shin waspada terus menerus dan tak pernah merasa setenang dan sedamai ini. "Terima kasih." Shin dengan sangat berterima kasih pada Ying Ai, hanya dengan pemandangan ini dia sudah melupakan keluhan dan kelelahannya selama ini. Hadiah ini tak sebanding dengan uang yang diberikan tadi.


"Perjalananmu pasti berat sekali kan, pemandangan ini mungkin bisa menjernihkan hatimu."


Shin kemudian duduk di rerumputan hijau dan semakin khusyuk melihat langit berbintang ini. Memori di Kota Mang kembali berputar dikepalanya, terbayang wajah Hong Wei yang menyayanginya, semua kenangan masa kecil dengan Hong Wei terngiang kembali, kenangan saat bermain, saat berbincang, saat suka atau saat duka semuanya bercampur jadi satu dan menyerang tepat kedalam hati kecil Shin, dan lebih menyakitkannya lagi adalah wajah itu tidak ada lagi didunia ini. Shin kemudian berbaring dan menutup kedua matanya dengan satu tangan, untuk pertama kalinya dia memberanikan diri memperkirakan kejadian di rumahnya saat malam itu terjadi. Terbayang saat Hong Wei harus melawan tiga orang bersamaan hanya untuk melindunginya, air matanya terus mengalir tanpa suara. Didalam kesunyian ini Shin terus memutar memorinya sampai kedalam gua, wajah ibunya kembali terbayang, meski ada kenangan pahit didalamnya dia masih bisa memakluminya, dan sekali lagi, wajah itu juga sudah tidak ada didunia ini sejak dulu kala. Untuk melindungi momen indah ini, untuk membalas dendam lama, untuk bertemu kembali, dia hanya punya satu jawaban. Bertambah kuat hingga bisa melindungi dari ancaman apapun. Jawaban sederhana yang paling tepat tapi sangat sulit untuk dicapai. Dia sudah mengukir tujuan ini didalam hatinya, tekadnya ini bahkan jika langit menurunkan murkanya pada Shin, tekadnya tidak akan goyah sedikitpun, meski tujuannya sejauh bintang dilangit, dia akan mendekatinya selangkah demi selangkah. Di malam yang damai ini, tekad Shin sudah mengakar jauh dalaöm jiwanya. Dan jembatan pertama untuk mencapai tujuan ini adalah Feng Li.


"Kau baik saja Shin?" Ying Ai duduk disebelah Shin yang berbaring.


"Jangan khawatir, aku sudah terbiasa dalam kesendirian ini." Dalam hidupnya, hanya Hong Wei seorang yang punya sikap baik padanya.


"Bagaimana aku tidak khawatir junior ku sendiri tidak bisa mempercayai orang lain dalam hidupnya." Sebagai murid pertama Feng Li, otomatis dia adalah seniornya Shin.


"Aku tidak pernah punya kenangan baik dengan orang lain sebelumnya."


"Maka biarkan aku jadi yang pertama untukmu."


Shin, "..."


Dia kembali menatap langit sangat lama, kedua tangannya ada dibawah kepalanya. Tatapannya sangat tenang dan damai, saat dia berbalik Ying Ai sudah tertidur pulas, wajah tidurnya yang sebanding dengan pemandangan langit ini membuat Shin tersenyum kecil. "Sigh.. sangat merepotkan." Shin mengeluarkan sebuah selimut dan memakaikan padanya. Tidur di dekat sungai dengan udara dingin pasti membuatnya tersiksa. Sebagai elemental api ketahanannya terhadap dingin haruslah rendah. Shin menutup kedua matanya dengan lembut, dia tidur berselimutkan cahaya bintang dan dinginnya malam. Momen ini, pasti akan kulindungi selamanya.


Matahari sudah kembali datang, sinarnya membangunkan setiap makhluk dari tidurnya.  "Huuuaaah!" Ying Ai yang baru terbangun melakukan peregangan, dia memegang kain yang menyelimutinya dan menatap Shin yang masih tertidur pulas. "Dasar bodoh."


Ying Ai yang bangun lebih dulu tak tega membangunkannya. Tak lama kemudian Shin bangun dari tidurnya. "Kita harus segera pulang, master pasti sudah khawatir." Shin mengangguk. Dan mulai berjalan ke rumah Feng Li.


Jembatan pertama dari tujuan besarnya akan segera dilalui.