Lone Hero

Lone Hero
Dari Sarang Di Atas Tanah



Feng Li sudah tinggal di rumah ini sekitar satu dekade lebih, banyak kenangan yang telah diukirnya di rumah tua dan sederhana, dia punya uang untuk pindah ke tempat yang lebih baik namun dia memilih untuk menetap disini, karena disinilah semua alasannya untuk tetap hidup berada, walau alasan itu sudah pergi. Ya, itu adalah Yan Shen, gurunya.


Shin dan Ying Ai pergi ke tempat menarik di Kota Yan yang belum sempat mereka kunjungi sebelumnya, saat mereka berkeliaran di pusat kota semua orang sudah sangat terbiasa dengan kemunculan mereka, alangkah terkejutnya mereka karena iblis merah yang dulu telah berubah menjadi peri ungu, Ying Ai dalam mode ungu ini jelas menyebabkan semua orang penasaran dan sangat jelas kalau tidak ada yang berani bertanya tentang ini.


Disisi lain Feng Li hanya menunggu di teras rumah dan kursi favoritnya sejak dulu, sudah puluhan tahun berlalu tapi kursi ini masih mempertahankan kekuatan dan keeleganan miliknya. Dibarengi dengan secangkir teh ataupun kopi dia selalu menikmati waktunya sebagai ahli terkuat disini, sekedar menatap langit atau orang yang sedang lalu lalang atau juga menikmati tumbuhan yang telah dia rawat sejak dulu, dengan tenang di menikmati waktunya. Kebanyakan praktisi terus mengejar kekuatan lebih tak terkecuali dengan Feng Li, hanya saja dia lebih fokus untuk mengembangkan muridnya ketimbang dirinya sendiri, perasaan menjadi guru dari orang yang kelak akan jadi hebat tak bisa terbandingkan bangganya.


Dia juga melakukan ini semua karena nasehat gurunya dulu, sebagai penerus sage setiap kalimat darinya haruslah membawa kebajikan dan kebijaksanaan yang tak terukur.


Dulu, tepatnya pada tahun-tahun awal Feng Li menjadi murid Yan Shen.


"Guru, suatu saat nanti semua kebaikan ini akan ku balas seratus kali lipat !" Kata Feng Li di rumahnya sendiri.


"Jika kau ingin membalas budi untuk segala kebaikan yang telah kuberikan, jangan lakukan itu padaku, masih ada banyak orang yang lebih membutuhkan. Dengan kemampuan dan bakat milikmu harusnya tidak terlalu sulit melakukannya, dan bagus juga jika kau mengangkat murid sebagai balas budi untukku."


"Kenapa aku harus melakukannya pada orang lain ? Aku bahkan tidak mengenal siapa mereka." Feng Li saat ini baru saja sembuh dari traumanya, dia masih belum mendapatkan emosi dan simpatinya secara penuh.


"Kau akan mengerti pada waktunya, tidak usah terburu-buru. Dan ayo kita mengembara ke dunia luar yang luas, kau tidak akan mendapat pengalaman tentang manusia di sini."


"Kemana kita akan pergi guru ?" Feng Li sangat bersemangat dengan ajakan Yan Shen, ini adalah pertama kali baginya keluar dari Kota Yan.


"Kita akan ke Evil Region !"


"Oh, tempat macam apa itu ?"


"Nanti juga kau akan tahu, segera siapkan segala keperluan, kita akan berangkat besok pagi !" Sifat pengembara ini dimiliki Yan Shen akibat dari ajaran sage, mereka sering mengembara dan menjadi musafir untuk pelatihan dan menyebarkan ajaran dan kebaikan mereka pada seluruh dunia, dengan cara inilah para sage membangun kekuatan dan reputasinya.


Dalam perjalanan ini Feng Li kecil banyak diajari dan dinasehati oleh Yan Shen, mulai dari kebaikan hingga kejahatan, Yan Shen pertontonkan semuanya pada Feng Li. Perjalanan mereka hanya berlangsung singkat, setelah satu tahun mereka kembali ke Kota Yan. Mereka duduk di meja yang sama dengan yang sekarang.


"Kenapa guru menunjukan itu semua padaku ?"


"Feng Li, dunia ini selalu mempunyai dua sisi yang berlawanan, siang dan malam, panas dan dingin, dan yang lainnya. Tak terkecuali juga dengan manusia, ada yang baik ada juga yang jahat, tapi tak sepenuhnya itu terlihat seperti itu, ada yang menjadi baik untuk tujuan jahatnya dan ada yang bersikap 'jahat' tapi dengan niat baik. Semuanya selalu memiliki dua sisi, jika kau ingin menemukan kebenaran dari segalanya, hanya melihat dan belajar tentang kebaikan saja tidak akan pernah cukup." Yan Shen mengeluarkan kertas lalu kuas dan tinta, dia kemudian menulis angka "6" di kertas itu.


"Angka berapa yang kau lihat ?"


"Enam !"


"Lalu bagaimana dengan ini !' Yan Shen memutar kertas miliknya.


"Itu berubah menjadi sembilan !" Feng Li sedikit senang dengan pengajaran yang dipikirannya adalah sebuah permainan.


"Sekarang kita tukar posisi."


Setelah beberapa saat mereka berdua berpindah tempat duduk.


"Sekarang katakan angka berapa yang kau lihat."


"Enam."


"Kalau aku bilang sembilan, apa kau pikir itu salah ?" Yan Shen memberi pertanyaan yang menjebak.


"Aku... tidak tahu, di satu sisi aku melihat enam, di sisi lain aku melihat sembilan, ini menjadi sangat membingungkan. Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukan padaku guru ?" Pikiran Feng Li tidak bisa mencerna ini dengan baik.


"Seperti kataku sebelumnya, kita tidak bisa melihat kebenaran dari satu sisi saja karena... tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini ! Kau bilang enam karena memang begitu kelihatannya dan aku bilang sembilan karena alasan yang sama. Siapa yang benar dan siapa yang salah ? Jawabannya adalah tidak ada, kupikir aku benar dan kau pikir kau benar, kupikir kau salah dan kau pikir aku salah, keduanya saling bertentangan namun sebenarnya sangat berkaitan. Tidak ada cara untuk menemukan kebenaran sejati, semuanya memiliki kebenaran masing-masing, tiap orang memiliki keyakinan atas kebenaran yang berbeda pula, dan jika mereka bertemu yang bersebrangan konflik biasanya terjadi. Dan pencarian kebenaran itu biasanya hanya menjadi pencarian 'pembenaran' dari kebenaran yang kita yakini."


"Kebenaran mutlak memang tidak ada tapi usaha mencari kebenaran selalu memiliki cara, salah satunya adalah begini. Coba kau lihat angka ini dari tengah dan sebutkan apa yang kau lihat."


"Aku... tidak tahu harus menyebutnya apa, kadang aku lihat enam dan kadang aku lihat sembilan. Tapi yang pasti ini hanyalah tinta dalam kertas."


"Setelah kita melihat dari dua sisi seperti tadi, langkah selanjutnya untuk mencari kebenaran adalah dengan berpikir dari dua sudut pandang dan mencoba menyatukan keduanya. Kita lihat ada enam dan sembilan tadi, dan saat dilihat dari tengah itu... tidak memiliki bentuk yang tetap, kebenaran selalu berubah sesuai dengan perkembangan situasi dan keadaan, itu bisa dicari tapi tidak bisa didapatkan. Karena... tidak ada kebenaran di dunia ini !" Ini adalah hasil dari pemahaman Yan Shen seumur hidupnya tentang jalan para sage, dan tentunya otak Feng Li tidak mampu memahami seluruh kalimat ini tapi dia selalu mengingatnya, setelah puluhan tahun berlalu dia akhirnya mengerti nasehat gurunya saat itu, dan itu adalah sekarang.


Kembali ke masa kini saat Feng Li memutar kembali memorinya saat bersama dengan Yan Shen dengan tenang, teh miliknya menambah kesyahduan momen tak terbandingkan nikmatnya ini.


Karena diajari oleh seorang sage sikap Feng Li sedikit berbeda daripada ahli pada umumnya, dia lebih tidak peduli pada urusan duniawi dan jarang tampil di mata umum. Tapi sebuah kejadian fatal telah sempat membuatnya melupakan ajaran kebaikan dari gurunya, dia melanggar batas dan mencederai teknik bela diri yang telah didapatkannya karena hal ini, selama lima belas tahun perjalanan kultivasi dia telah melewati ratusan pertarungan hidup dan mati, dia telah bepergian sejauh ribuan km dari sini hanya untuk mencari kekuatan lebih, tapi meski pandangannya telah diperluas menjadi sangat luas, dia masih memilih untuk kembali. Semua itu dia lakukan hanya untuk membalas dendam pada gurunya.


Tak terasa waktu sudah sore dan dua bocah muridnya telah kembali dari liburannya. Keduanya segera masuk dan memasak di dapur, walau sudah tidak memerlukan makanan lagi, memasak adalah salah satu kegiatan yang cukup sering mereka lakukan dan kompetisikan dulu.


"Ying'er, kau mau makan apa hari ini ?"


"Aku sudah tidak perlu makan apapun lagi sekarang, masak saja apapun yang kau inginkan !" Ying Ai menunjukan supremasinya sebagai ahli surgawi.


"Oh, kau memang tidak perlu makan lagi tapi apa lidahmu tidak ingin mencoba masakan dariku atau... kau takut aku akan menantangmu lagi !?" Shin menyatakan perang secara terselubung.


"Oohh... didiemin malah ngelunjak, biar kutunjukan padamu apa itu koki yang sesungguhnya !" Harga dirinya sebagai ahli surgawi sudah sangat terhina dengan pernyataan perang Shin, mau tidak mau dia harus menelan ajakan ini.


"Apa yang akan kau lakukan dengan semua bahan ini ? Membakarnya ? Memasak itu lebih sulit daripada bertarung Ying'er, ini bukanlah keahlianmu ! Skor kita akan jadi 90-89 dengan ini !" Shin mengeluarkan kalimat sombongnya lagi, dia tak ingin suasan jadi sedih menyedihkan pada saat terakhir ini, keseharian sehari-hari yang biasa ini adalah yang paling membahagiakannya.


"Kau... kata-katamu itu bahkan tidak menunjukan keterampilanmu ! Dalam dua puluh pertandingan memasak aku menang sepuluh kali ! Keahlian memasak kita setara. !" Ying Ai sedikit kesal melihat Shin menjadi sombong seperti ini.


"Keahlian setara apanya ! Aku hanya mengalah padamu saat itu, tangisanmu membuatku dihukum oleh guru." Shin mengeluarkan unek-uneknya sekarang, dan tentu saja dia bohong.


Tidak bisa membalas ucapan Shin, Ying Ai mencuri start. Dia meninggalkan Shin yang masih sibuk membanggakan dirinya sendiri.


Satu jam penuh mereka habiskan hanya untuk memasak dua hidangan ini, dan jurinya bukanlah chef J tapi mereka sendiri. Keduanya saling merasakan hasil masakan masing-masing, dan hasil dari kompetisi adalah kemenangan mutlak dari Shin, skor mereka sudah sah menjadi 90-89. Tapi Ying Ai bukan orang yang menyerah semudah itu, dia akan selalu mencari celah lainnya dalam satu minggu ini.


Saat diliputi oleh kesenangan dan kebahagiaan waktu terasa sangat cepat berlalu, bulan dan bintang-bintang kini sudah menghiasi angkasa pertanda bahwa malam sudah tiba. Setelah bermain seharian MC dan heroine kita ini sangatlah kelelahan, dan agenda mereka berikutnya tak lain dan tak bukan adalah tidur.


Saat Shin sudah terlelap dalam mimpi, Ying Ai diam-diam menyelinap masuk kedalam tempat tidurnya, setelah satu minggu yang pendek ini dia tidak akan melihat atau merasakan tubuhnya lagi, dan ini sangatlah membuatnya sedih dan sebagai pelipur lara dia melakukan ini.


"Kau melakukan ini sedikit lebih cepat dari perkiraanku." Namun apa daya, rencana kejutan esok hari miliknya sudah gagal, Shin hanya pura-pura tidur sejak tadi.


"Tak bisakah kau pura-pura bodoh sekali saja ? Apakah memang kau harus memecahkan segala trik dan kejutan yang kubuat ? Mending aku kembali saja." Ying Ai sedikit kesal dan akan segera kembali ke tempat tidurnya, namun dia yang ingin kesini, otomatis tidak mungkin dia pergi begitu saja.


Shin tidak bicara apapun karena memang tidak diperlukan, dia sudah sangat tahu sifat dari Ying Ai. Ying Ai tidak jadi pergi dan tetap dalam posisinya hingga besok.


Feng Li masih berada di teras rumah dan memandangi hampara langit hitam dengan kilauan bintang didalamnya, dia memutuskan begadang disini semalaman guna merelakan kepergian Ying Ai menjadi elang yang mendominasi seluruh langit, sedangkan dia masih saja tetap disini menikmati masa tuanya dengan secangkir teh atau kopi dan camilan yang berupa memori tentang gurunya atau perjalanan serta pertemuan yang pernah dilaluinya.


Seperti momen indah dan menyenangkan lainnya, ini sangatlah cepat berlalu, tanpa sadar batas waktu satu minggu telah pun berakhir. Su Yan sudah keluar dari kultivasinya dan menunggu di halaman sedangkan tiga guru dan murid ini masih di teras.


"Shin, kuharap kau akan berada di ketinggian yang sama dengannya nanti. Jemputlah dia saat kau memiliki kekuatan untuk itu." Feng Li berkata melepas kepergian Ying Ai sebentar lagi.


"Tidak perlu banyak bicara lagi, pergi! Pergilah dan terbang tinggi di angkasa yang tak terbatas, tinggalkan sarangmu disini dan jangan pernah melihat ke bawah ketika kau terbang. Tanah rendah disini tidak cocok bagi elang sepertimu, tempatmu berada di angkasa luas dan menguasainya. Katakan saja apa yang ingin kau katakan pada Shin." Feng Li tidak punya banyak nasehat untuk Ying Ai, dia memang tidak cocok untuk itu. Ying Ai mengangguk kecil dan menatap Shin dengan fokus, tampak kesedihan yang sangat mendalam muncul di mata ungu miliknya.


"Shin, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan sekarang. Baru setahun kita bertemu dan kita harus berpisah secepat ini. Yang pasti, jangan pernah lupakan aku selama beberapa tahun ini dan aku akan selalu menunggumu disana. Aku telah..... kehabisan kata..." Ying Ai tidak mampu bicara lagi dan beberapa butiran air mata mengalir dari matanya, wajahnya tampak sangat menyedihkan dan memilukan hati siapapun yang melihatnya, tak terkecuali dengan Shin. Dia sebisa mungkin menahan tangisnya tapi tidak bisa, pertahanannya terlalu rapuh untuk hal ini.


"Jangan khawatir, maksimal dalam sepuluh tahun dari sekarang aku akan mengambilmu dari sana !" Shin tidak bisa bersikap sedih saat ini.


Setelah satu pelukan singkat Ying Ai sudah berjalan menuju Su Yan.


"Selamat tinggal Shin, pastikan untuk menjemputku dalam sepuluh tahun !" Dia berbalik dan melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat menyembunyikan sedihnya.


Dia yang sudah bersamanya selama satu tahun, dia yang selama ini tidak pernah terpisahkan, dia yang merupakan orang yang mengajarinya banyak hal, dia yang menunjukkan padanya apa itu kasih sayang, dia yang sudah jadi prioritas utama dalam hatinya kini, tidak akan ada lagi. Hatinya bagai ditusuk ribuan sembilu tepat di titik lemahnya, Shin tersenyum dan menyeka air matanya melihat kepergian darinya.


"Tunggu, aku ingin bicara dengan guru kalian lebih dulu." Su Yan memecah momen dan Feng Li yang masih tegar mulai berjalan mendekatinya. Setelah dirasa cukup Su Yan memasang penghalang ruang untuk mereka berdua.


"Apa yang kau inginkan ?" Tanya Feng Li.


"Pertama-tama, maafkan karena aku telah tidak sopan sebelumnya. Aku belum tahu nama darimu." Su Yan sedikit malu-malu saat bertanya.


"Hahaha... tak kusangka kau akan bertanya, namaku adalah Feng Li, bukan nama yang bagus tapi tolong ingat dua kata ini."


"Kau bahkan masih bisa tertawa saat melepas kepergian dari muridmu sendiri."


"Aku bukan orang yang emosional, semua tangisku sudah dihabiskan setelah kematian dari guruku. Ribuan pembunuhan dan ratusan kematian serta perpisahan, cinta yang ditinggal, kematian sahabat, hancurnya sekte asal, penghianatan, kesedihan, dikepung ribuan musuh, aku sudah pernah mengalami semua itu. Perpisahan seperti ini tidak menimbulkan bekas yang cukup dalam."


"Tak kusangka pengalamanmu ternyata sebanyak ini, tapi apa kau rela muridmu sendiri menjadi penguasa di angkasa tak terbatas dan menjadi termahsyur sedangkan kau masih disini terjebak di sarang burung yang usang tanpa diketahui oleh siapapun."


"Dilampaui oleh muridmu sendiri, bukankah itu wajar bagi guru sepertiku ? Mau mereka berdua menjadi penguasa terhebat sekalipun aku akan tetap tinggal disini dan tidak jadi siapa-siapa. Nama mereka akan dikenal luas di seluruh dunia, sedangkan aku hanya melihatnya saja."


"Kupastikan aku akan menjaga dan merawat muridmu dengan baik. Dan jangan kau terlalu khawatir dengan muridmu yang satunya, dia juga punya sesuatu yang sama hebatnya."


"Aku percaya itu. Oh ya, ketika kau disana larang sekuat mungkin Ying Ai untuk datang berkunjung kesini sebelum Shin menjemputnya."


"Dari kedengarannya kau tidak berniat untuk bertemu dengannya lagi setelah ini, apa aku benar ?"


"Kau seratus persen benar, aku punya urusan yang sangat penting tapi belum diselesaikan. Tolong kau kabulkan permintaanku."


"Aku bisa melakukan itu, tapi apa kau tidak ingin melepas kepergian ataupun bersedih sekarang ? Kau yakin tidak akan menyesali ini ?"


"Penyesalan... memang itu menyakitkan, tapi itu kenyataan. Tak ada gunanya aku berpaling dari itu karena itu akan datang. Tapi kau tahu... penyesalan selalu datang di akhir, dan ini bukanlah akhir sama sekali... ini adalah awal dari segalanya !"


"Akan kusampaikan kalimat ini padanya nanti."


"Jangan, lebih baik jangan kau lakukan itu. Biarkan saja kenangan disini dia lupakan secepatnya."


"Baiklah, aku akan lakukan semua permintaanmu, semoga kau tidak menyesali semua ini." Dengan lambaian tangannya penghalang menghilang dan terlihat wajah Feng Li yang sedang tersenyum puas.


Ying Ai berjalan menuju Su Yan perlahan-lahan, rumah yang telah dia tempat beberapa tahun dan sudah banyak kenangan tercipta disini. Kini dia menuju angkasa tak terbatas, dari sarang di atas tanah.


Ying Ai berbalik dan menatap Feng Li dengan sedih, selama satu minggu ini dia selalu menghabiskan waktu dengan Shin, Feng Li bahkan hampir terlupakan. Sedikit merasa bersalah, Ying Ai berlari kembali menuju Feng Li dan memeluknya hangat, "Master, aku akan sering datang kesini lagi !" Ying Ai masih tidak tahu kebenaran yang sangat pahit.


"Ya, tapi ingat untuk selalu mengikuti perintah guru barumu dan jangan pernah lalai dengan itu !"


"Baiklah,aku akan melakukannya. Selamat tinggal, master !"


Ying Ai berjalan ke arah Su Yan tanpa tahu kebenaran sedangkan Feng Li kembali ke arah teras rumah.


Su Yan kemudian membuat celah ruang dan Ying Ai menatapnya dengan sedih, tapi dia sudah membuat pilihan ini, sudah terlalu terlambat untuk menyerah. Su Yan memegang tubuhnya dan kalimat terakhirnya adalah.


"Selamat tinggal, Shin !"


Tubuhnya masuk perlahan kedalam sana, dan segera celah ruang tertutup dan tubuh keduanya telah pergi ratusan km jauhnya. Shin langsung mengurung dirinya sendiri di kamar dan tidak berniat keluar selama seminggu.


Disisi lain Feng Li masih disini dan masih menatap tempatnya pergi tadi.


"Berapa kali pun aku merasakannya ini masih saja terasa sangat sakit, tapi untungnya aku sudah sangat terbiasa dengan ini."


Banyak sudah kisah yang ditinggalkan oleh Ying Ai padanya, dan kini posisi Ying Ai dalam hatinya sudah seperti gurunya, hanya bisa ditemui lewat memori indah yang telah terjalin. Hanya bisa dibayangkan tapi tidak bisa jadi kenyataan..


Beginilah kehidupan dari Feng Li sang Martial Master, penuh dengan rasa pilu dan kesedihan, tak lupa perpisahan dan penyesalan menyertai dirinya. Lengkap sudah penderitaannya di dunia ini, tanpa ada yang menemani, kecuali secangkir teh dan satu set memori indah yang telah ribuan kali diputar.