Lone Hero

Lone Hero
Kota Black Water



Adapun Ying Ai, dia yang sedang dalam pengejarannya dipenuhi berbagai pemikiran bahkan bisa dibilang overthinking, memang Shin yang buru-buru meninggalkannya cukup membuatnya terkejut dan khawatir, namun yang jadi alasan utamanya adalah arah yang sedang ditujunya, kalau dia tidak salah menerka Ying Ai pikir ini adalah arah ke Kota Mang. Baginya yang sudah mengetahui masa lalu Shin, dia bisa menebak apa yang telah terjadi sebelumnya.


Shin hanyalah ahli Pembentukan Tengah biasa, kekuatannya hanya bisa dibilang rata-rata--jika menggunakan standar generasi muda Kekaisaran. Juga, Ying Ai sadar bahwa musuh yang akan dilawan Shin adalah seorang ahli Duniawi, sangat sulit untuk bisa menang melawan satu, apalagi membunuhnya? Alhasil dia menjadi teramat sangat khawatir, terlepas dari sikapnya.


Segera, dia sudah cukup dekat dengan Shin sekitar beberapa puluh meter lagi. Dilihatnya Shin yang memegang Arhat Staff seraya menatap langit begitu dalamnya, sangat jelas kesedihan muncul dalam raut mukanya itu, namun Ying Ai juga bisa merasakan perasaan lega, bahagia, dan suatu kepuasan di baliknya. Awalnya dia sangat tidak mengerti dengan hal ini, tapi setelah memandang dua mayat yang babak belur di dekat Shin, dia sudah mengerti garis besar kejadian.


Dengan cepat Ying Ai melesatkan tubuhnya, mendekati Shin dari belakang--memunggunginya. Saat tepat berada tepat di belakangnya, Ying Ai tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Raut muka Shin terlihat sangat dalam dan sepertinya bukan hal yang pantas untuk merusaknya. Tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya dia hanya memilih untuk diam, tapi diam-hening ini tidak berlangsung lama sebab Shin sudah tentu bisa merasakannya, dengan wajah yang sudah menjadi lebih baik, dia berkata, "Tidak apa-apa, mereka hanya dua orang yang aku punya dendam dengannya. Lihatlah diriku ini, tidak ada luka apa pun kan? Sampah rendahan seperti ini tidak perlu membuarku bersusah-payah."


"Baguslah, pamanmu sekarang pasti sedang tersenyum di atas sana. Tapi jangan lupakan tujuan kita Shin, kita harus secepatnya menuju wilayah selatan! Tugas dari Master masih menunggu untuk kita selesaikan."


"Ya, aku paham. Juga maaf karena meninggalkanmu tadi." Ini harus, wajib dilakukan oleh Shin! Biarpun Ying Ai tidak menampakkan semili pun kekesalan dalam wajahnya, dan bahkan sama sekali tidak merada kesal di hatinya, Shin masih harus melakukan ini untuk keselamatannya sendiri.


"Jangan pikirkan, lebih baik kita langsung saja pergi," ajak Ying Ai yang langsung disetujui. Tanpa ada banyak suara terdengar lagi, keduanya kembali mengarah ke Wilayah Selatan, menuntaskan segala yang tertunda karena acara tak terduga ini.


Shin meninggalkan mayat Hong Zhao dan Hong Lei begitu saja, mayat seorang tetua dengan wajah hancur tak berbentuk tentu akan menjadi penghalang terutama bagi anggota Klan Hong. Terbukti, saat nanti Hong Niwa dan Hong Taixie berangkat, mereka tidak sampai ke Wilayah Selatan karena menemukan tubuh ayahnya sendiri tergeletak di jalan sudah membusuk.


Saat dalam perjalanannya, Shin menatap langit dan seakan melihat sosok Hong Wei dalam luasnya langit itu, menjadikan emosinya kembali bergolak seperti sebelumnya. ''Paman, tunggulah seluruh tua-tua Klan Hong menuju neraka!' batinnya semakin memantapkan tekad balas dendam pada Klan Hong.


"Ada apa, Shin?" Ying Ai melihat perubahan dalam ekspresi Shin di sebelahnya tentu saja penasaran.


"Tidak apa-apa, mari kita lanjutkan perjalanan." Shin pulih dan saat dia melihat langit yang sama sekali lagi, sosok Hong Wei sedang tersenyum padanya hangat sekali. Tetapi dia sadar bahwa itu hanya ilusi yang tidak nyata, namun tetap saja itu sangat berharga.


Waktu berlalu dengan cepat, tujuh hari sudah terlewati sejak kejadian itu dan karenanya pula mereka butuh waktu delapan hari untuk mencapai Wilayah Selatan. Dan kini mereka telah sampai!


Tanah di sini tandus dan kering, tidak ada pohon atau vegetasi apa pun sejauh mata memandang, pasir kekuningan dan udara panas adalah segala yang ada di sini. Semuanya kosong, tanpa ada banyak vitalitas dan vegetasi, tempat ini memang sangat tidak layak untuk ditempati. Biarpun begitu, masih saja ada manusia tinggal di sini.


"Shen, ada di mana kota terdekat dari sini?" Persediaan mereka hampir habis dan mereka hampir mati kelaparan, ketandusan di sini semakin membuat mereka tersiksa, mereka belum mencapai Scarlet Land Forest atau reruntuhan Sekte Burning Heaven namun sudah dalam kondisi kepayahan seperti ini. Pengetahuan Shen memang sangat dibutuhkan di saat seperti ini.


"Tiga km ke utara ada Kota Black Water, namun ini adalah Wilayah Selatan jadi di dalam kota sekalipun masih ada banyak bahaya mengintai. Sebelum tenggat waktu Volcano Essence terbentuk menipis, lebih baik kalian tetap diam di penginapan."


'Kota Black Water... kenapa nama ini sedikit tidak asing?' batin Shin kala mendengar nama itu, hanya saja dia tidak menyadari bahwa kota ini adalah tempat di mana Zhang Wu dahulu berasal.


"Lalu kapan Volcano Essence akan terbentuk?" Dengan adanya Shen di sini, mereka tidak perlu repot-repot mengumpulkan atau membeli informasi dari orang lain. Tinggal tanya saja dan tunggu jawaban keluar, bagaikan memiliki wikipedia berjalan.


"Satu minggu dari sekarang. Informasi tentang ini sudah menyebar dengan cepat jadi keberhasilan dalam rencana kita akan meningkat. Lalu untuk reruntuhan Sekte Burning Heaven aku tahu banyak tentang denah tempat itu, meski letaknya berjauhan dengan Klan Sage Kuno namun kami menjalin hubungan baik dulu. Lokasi Divine Flame dan harta atau pil lainnya akan aku beritahukan padamu nanti." Shen memasang wajah sombong sekarang, dia sangat bangga dengan kehebatannya ini.


"Tumben sekali kau berguna!" Selama Shin melalui kesulitan Shen memang jarang sekali membantunya. Saat ujian Arhat Staff atau ujiannya sendiri juga dia tidak membantu. Pada dasarnya, Shin melakukan semuanya sendiri, seringkali juga dia bertanya namun tidak mendapat jawaban. Jika ada kesempatan dia ingin membalasnya, dan sekaranglah saatnya!


Shen, "$ # ¥ % !"


Dengan itu, mereka memutar arah dan berjalan sesuai arah yang disebutkan. Setengah jam kemudian Kota Black Water sudah ada di depan mereka, tembok kota yang megah dan gerbang yang dijaga oleh penjaga yang tampak tidak ramah ini akan mereka masuki. Aktivitas di sini menjadi lebih ramai dan hidup karena warisan kuno di sini. Jika digitung-hitung, peningkatannya adalah 400%!


Banyak orang keluar-masuk kota yang ukurannya lebih besar dari Kota Yan ini. Shin dan Ying Ai diperbolehkan masuk setelah membayar beberapa koin emas, pemerasan ini memang biasa terjadi dan mereka hanya bisa mematuhinya. Bagaimana tidak, penjaga gerbang biasa saja adalah ahli Duniawi Menengah! Ini menunjukkan jika standar kota ini lebih tinggi daripada Kota Yan. Selain itu, bukan hal yang bijak untuk menambah daftar musuh di hari pertama kedatangan.


Setelah memasuki kota, keduanya mencari penginapan sesegera mungkin, area luar kota ini masih terlalu berbahaya bagi mereka. Namun karena efek warisan kuno dan Volcano Essence, banyak ahli muda di seluruh kekaisaran datang berkunjung ke kota ini, menyebabkan penginapan menjadi langka. Keduanya terus mencari seharian namun tak kunjung menemukan penginapan yang kosong.


Ying Ai adalah orang kaya, dia memiliki ribuan koin kristal di cincin ruangnya, ini adalah uang hasil menjual Pil Aura oleh Feng Li dan semuanya diberikan pada Ying Ai. Penginapan murah sudah penuh semua, mereka hanya bisa memilih yang mewah.


Keduanya melangkah masuk tanpa memedulikan tatapan orang lain dan menuju meja resepsionis.."Tolong dua kamar, yang paling mahal juga tidak apa-apa." Ying Ai menawar pada resepsionis, mereka sudah putus asa mencari penginapan di seluruh kota.


"Maaf, tapi apa kalian punya uang untuk membayarnya? Jika kalian tidak punya, silakan keluar dengan kesadaran sendiri," kata resepsionis wanita itu dengan sopan, bagaimanapun Shin dan Ying Ai bisa jadi adalah calon pelanggan mereka, meski di bawah umur tapi jika punya uang mereka sama sekali tidak peduli. Tapi tetap saja, pihak penginapan curiga jika ada dua bocah tiba-tiba memesan kamar di sini, secara harga per malam di sini mencapai seratus koin kristal!


"Apa ini cukup?" Ying Ai melempar kantung berisi dua ratus koin kristal padanya.


"Baiklah, tapi sayangnya hanya ada satu kamar yang tersisa dan kamarnya single bed." Karena banyaknya orang disini akan wajar jika penginapan murah sudah penuh, hanya saja mereka tidak mengira kalau penginapan paling mahal sekalipun sudah penuh.


"Aku tidak punya pilihan lain, kami ambil kamar itu." Dengan berat hati Ying Ai memutuskan mengambil kamar, jika bukan karena kondisi yang mendesak dia akan memilih mencari penginapan lain.


Resepsionis mengambil uang dan memberi kunci ke Ying Ai. "Kamarmu adalah yang termahal di sini jadi penghuni sekitarmu adalah orang penting, mohon jaga tingkah laku agar tidak mengganggu kenyamanan." Dia menyatukan tangannya dan merubah sikapnya menjadi sangat sopan setelah menerima uang ini. Namun Ying Ai tidak peduli dengan ucapannya dan langsung menuju ruangannya dengan Shin.


Setelah beberapa menit menaiki tangga akhirnya mereka sampai juga, Ying Ai membuka pintu kamar dan benar saja, ini adalah ruangan paling mewah yang pernah mereka datangi. Setiap benda di sini adalah kelas satu; karya seni terbaik disusun dan ditampilkan dengan sempurna; wewangian juga tercium saat mereka memasuki ruangan. Harga dua ratus koin kristal per malam memang sebanding dengan pelayanannya.


"Shen, bagaimana cara memancing Magma Bird?" Ying Ai membenamkan dirinya di kasur dan bertanya.


"Sesuai namanya, Magma Bird menetas dan tumbuh di dalam magma jadi kau hanya bisa menemukannya di dalam gunung berapi. Dia adalah yang tercepat di antara tiga raja jadi resikonya juga tinggi, cara paling aman adalah kau menyerang dari jarak jauh dan terbuka agar dia bisa melihatmu. Saat dia muncul kau terus serang dia dan lari menuju kerumunan Fire Ape King. Temperamennya yang pemarah dan pendendam akan semakin memudahkanmu melakukan misi ini."


"Lalu untuk Blazing Tail Salamander?" Tanya Shin tepat setelah Shen selesai dengan Ying Ai.


"Blazing Tail Salamander bersifat tenang dan tidak mudah marah di antara tiga raja, namun saat dia sudah marah, kemarahannya tidak akan berhenti sebelum musuhnya mati! rupanya serupa dengan kadal dengan ekor berapi, senjata utamanya adalah ekornya dan kelemahannya adalah bagian bawah tubuhnya. Kau harus bertarung dengannya sebelum bisa memancingnya, Shin!" Bertarung dengan Beast level 8 sambil menghemat tenaga untuk memancingnya adalah tugas yang sulit, tak ada keraguan untuk hal itu. Shin bahkan sedikit gemetar dengan tugasnya kali ini.


"Soal leberangkatan, kita akan berangkat ke Scarlet Land Fores enam hari dari sekarang!" Shen ingin satu hari untuk bersiaga dan mengawasi situasi di sana.


"Baiklah, lagipula itu semua adalah urusanmu. Tapi Shen, apa kau punya informasi tentang Sekte Burning Heaven?"


Shen tidak lekas menjawab hal ini, dia menatap mata Shin terlebih dahulu kemudian mengirim transmisi suara, "Bukannya aku tidak ingin memberitahumu, tapi informasi ini mengandung iblis di dalamnya. Jika Ying Ai tahu ini, konsekuensinya akan tak terbayangkan."


Shin masih tetap dalam raut mukanya tanpa ada perubahan, tapi dalam hatinya dia tentu ingin mengetahui segala informasi itu, hanya saja dia harus mengalihkan Ying Ai terlebih dahulu. "Tidak jadi, nanti saja aku tanya lagi."


"Kalau begitu, lebih baik aku berkultivasi saja," ucap Ying Ai, menyadari bahwa sesi diskusi sudah berakhir. Dia berdiri di atas ranjang dan duduk bersila; dia sudah mulai berkultivasi.


Shen memahami kode Shin ini dan keadaan juga sudah mendukung, dia mulai memberi informasi yang diinginkan Shin via transmisi suara, "Seperti yang kau tahu, ini adalah sekte kuno yang hancur saat invasi iblis kedua. Sekte ini berhubungan baik dengan Klan Sage kami, jadi aku sudah pernah beberapa kali ke sini. Sekte yang mengkhususkan diri dalam api ini merupakan satu dari lima sekte api kuno. Tiap sekte ini memiliki Divine Flame di dalamnya, sekte ini mempunyai Burning Heaven Divine Flame, dengan warna ungu gelap dan merupakan yang paling panas diantara kelimanya, ketua sekte ini menggunakan Divine Flame untuk membakar habis jutaan iblis bersama murid-muridnya. Tapi akhirnya hancur setelah kekalahan terus menerus dan sergapan dari iblis tingkat tinggi. Dia dengan heroik mengorbankan nyawanya untuk menyegel para iblis bersamanya. Ekspedisi warisan ini ada kemungkinan diketahui iblis yang disegel jadi resiko kematiannya tinggi."


"Ada berapa iblis tingkat tinggi yang menghancurkan sekte ini?" Sebagai sebuah eksistensi super bahkan pada zaman kuno pasti bukan musuh biasa yang bisa menghancurkan mereka.


"Ada sepuluh Jenderal dan ratusan Panglima yang datang saat itu, dari sepuluh Jenderal, tujuh sudah mati dan tiga disegel di dalam."


'Jenderal? Panglima?" Shin baru pertama kali mengetahui tingkatan kekuatan iblis dan pastinya sangat penasaran. Terlebih lagi dia penasaran kalau Jenderal Iblis itu setingkat apa kalau dibandingkan dengan manusia.


"Itu tingkatan iblis, kau hanya boleh tahu segitu saat ini." Lebih sedikit Shin tahu lebih baik namun ini harus dia ketahui untuk sebuah alasan.


"Kekuatan mereka jauh melampaui bayanganmu sendiri, bahkan jika iblis yang paling lemah datang menyerang kekaisaran ini, dalam satu jam kekaisaran ini akan rata dengan tanah!"