
"Paman tak pernah memberitahuku kalau dia punya saudara!" Shin sedikit kesal dengan fakta ini. Bukankah ini artinya Hong Wei membohonginya selama ini?
"Tentu saja, karena aku memintanya untuk merahasiakan hubungan ini." Feng Li menenangkan Shin agar dia tidak marah pada pamannya.
"Apa master saudara kandung paman Hong Wei?" Konsep saudara memang masih simpang-siur baginya. Bukan konsep saudara saja, keluarga pun dia hanya tahu sedikit, hubungan antara manusia apalagi.
"Bukan, tapi hubungan kami lebih erat daripada ikatan darah." Feng Li nampak sangat bangga dan senang saat menunjukan hubungan mereka yang erat.
Shin memasang wajah bingung tak mengerti, setelah tertegun beberapa saat dia membuka mulutnya kembali.
"Bagaimana master bisa bertemu dengan paman?"
Feng Li mengukir senyum samar di wajahnya ketika mendengar permintaan Shin, dengan senang hati Feng Li menceritakan panjang lebar tentang pengalamannya, dari awal sampai akhir tidak ada yang disembunyikan olehnya.
Feng Li berbicara sambil makan, seringkali ceritanya terpotong karena makanan, tapi Shin tidak terganggu sedikitpun, sebaliknya dia jadi makin bersemangat karenanya, Hong Wei jarang sekali menceritakan masa mudanya pada Shin dulu, cerita persaudaraan tentang paman dan gurunya ini membuatnya tersentuh. Berkali-kali mereka berdua dalam kondisi hidup dan mati, dalam kondisi ini persaudaraan dan kesetiaan keduanya dipupuk lebih banyak. Cerita ditutup dengan kembalinya Feng Li ke Kota Yan dan Hong Wei ke Kota Mang seiring dengan habisnya makanan di meja.
Pada kenyataannya, Feng Li tidak perlu makan sama sekali, tapi ketika dia mencium aroma yang semerbak datang dari masakan Shin, bukan hal yang buruk memanjakan lidah yang sudah mati selama beberapa waktu.
"Kau akan memulai latihanmu besok Shin." Kata Feng Li setelah menyelesaikan ceritanya.
Shin hanya mengangguk kecil lalu bertanya tentang hal lain.
"Master, apa kau tahu tentang Azure Sky Heavenly Ranking?" Hal ini pernah disinggung Zhang Wu tapi tidak dijelaskan lagi.
"Kenapa? Apa kau tertarik mengikutinya?"
"Aku tidak tahu, tapi aku masih penasaran tentang yang disebut Sekte Besar." Satu hal lagi yang berada diluar jangkauan pengetahuannya.
"Sekte Besar ya, sekarang apa pendapatmu tentang kekuatan Tiga Klan Besar?" Feng Li menjelaskan dengan sebuah pertanyaan.
"Kuat." Kuat saja sebenarnya tidak mampu untuk mendeskripsikan itu, hanya tetua saja sudah ahli surgawi, patriarknya saja sudah ahli master, ditambah jumlah wilayah yang mereka kuasai serta jumlah anggota mereka, kata kuat masih terlalu lemah untuk itu.
"Maka sesuatu yang kau sebut kuat itu hanya dianggap semut oleh mereka, bahkan murid biasa mereka juga haruslah seorang master! Dengan wilayah ratusan kilometer dan dukungan dari kerajaan dan kekaisaran disekitarnya membuat mereka tak terkalahkan. Bahkan di seluruh kekaisaran ini tak ada yang pernah memasuki salah satu sekte besar itu. Tapi generasi muda sekarang sangatlah menjanjikan, mungkin Putra Mahkota Dou Yehan, memiliki kualifikasi untuk itu." Feng Li telah menembus batas pengetahuan Shin.
"Dengan memasuki salah satu sekte itu mungkin aku bisa jadi ahli terkuat!" Shin sangat antusias dengan ini. Terutama karena janji pada ibunya bisa dia penuhi dengan menjadi anggota Sekte Besar ini.
"Tidak mungkin." Feng Li meruntuhkan semua ekspektasinya.
"Kenapa? Apakah ada yang lebih kuat daripada ini?" Perbincangan ini sudah jauh diluar batas kapasitas Shin.
"Saat aku masih naif sepertimu aku juga berpikir seperti itu, eksistensi yang ratusan kali lebih kuat dari kekaisaran ini terlihat sangat tak terkalahkan dihatiku, tapi selama aku melakukan pelatihan dunia luar aku telah menemukan eksistensi yang jauh, jauh lebih kuat dari sekte besar ini.". Feng Li juga sedikit merinding ketika mengatakan hal ini.
"Apa itu?"
"Tidak baik untuk pelatihanmu jika kau mengetahuinya terlalu cepat." Shin sangat terlalu lemah untuk eksistensi yang sangat terlalu kuat.
'Pasti kekuatan mereka telah berada di imajinasi terliar ku.' Batin Shin.
"Rumah ini hanya punya dua kamar. Yang disebelah kiri adalah kamarku dan yang disebelah kanan adalah milik kalian. Ying Ai akan tidur diteras sebagai hukuman."
"Ada dua ranjang di kamarmu." Melihat kekhawatiran di mata Shin, Feng Li menjelaskan lebih lanjut. Kalimat ini telah menghapus rasa khawatir Shin.
"Jangan bangun terlambat, pelatihan sudah dimulai sejak pagi buta. Aku tidak mentoleransi keterlambatan apapun!"
Shin menatap Ying Ai dengan iba, akibat dirinya Ying Ai harus dihukum seperti ini. Jika ini dibiarkan begitu saja, harga dirinya sebagai laki-laki akan tercoreng, Shin tidak berjalan ke kamar tapi malah menuju teras. Feng Li sedikit terkagum dengan tindakan Shin, 'Anak ini memegang teguh tekad dan harga dirinya. Aku harus mengetes sejauh mana keteguhannya ini.' Batin Feng Li.
"Aku tidak menghukummu Shin, pergilah ke kamar!" Bentak Feng Li.
"Tapi dia tidur diluar guru." Shin bicara dengan nada iba.
"Apa kau berani menentang gurumu ini!" Feng Li lebih membentak Shin. Sebuah tes kecil sebelum pelatihan neraka dimulai.
"Murid ini tidak akan berani, tapi masalah ini tidak akan mempengaruhi kehormatan murid pada master. Murid ini hanya tidak tega melihatnya seorang diri di teras." Shin tidak gentar meski berada dalam kemarahan gurunya.
"Lakukan saja sesukamu." Feng Li lalu masuk kedalam kamarnya.
"Maaf, kau jadi dimarahi guru karena aku." Kata Ying Ai.
"Kau kenapa?" Shin sepertinya sudah bertanya pertanyaan yang salah.
"Dasar bodoh." Bibirnya cemberut. Shin kebingungan dan tidak bertanya lagi.
Shin mengambil dua buah bantal selimut dari dan berjalan ke teras, teras kayu yang keras dan dingin membuatnya sangat tidak nyaman untuk tidur disana. "Ambil ini."
Ying Ai yang sudah diteras mengambil bantal dan selimut dari Shin, dia lalu berbaring dan bertanya, "Hey, kenapa kau melakukan ini semua?"
"Jangan banyak tanya, tidurlah cepat." Bukannya Shin tidak mau menjawab tapi karena dia tidak bisa menjawabnya, dia lalu berpikir keras tapi masih belum bisa memikirkan jawabannya. Mungkin jawabannya tidak bisa dipikirkan dengan akal semata, haruslah dengan sesuatu yang lebih misterius.
Karena teras rumah Feng Li sempit terpaksa Shin harus berbaring disebelahnya, Shin tidak merasa terganggu sedikitpun dengan ini, tapi Ying Ai berbeda dengan Shin yang dingin.
"Kenapa kau tidur disana!?"
"Mau bagaimana lagi, teras ini kan tidak luas." Sebuah alibi yang tidak bisa dibantah dengan apapun, karena inilah Ying Ai tidak menjawab lagi dan mulai tidur.
Keesokan harinya.
Shin terbangun lebih dulu dan membangunkan Ying Ai, Ying Ai sudah terbiasa dengan bangun pagi sehingga mudah dibangunkan, bangun paginya tak lain dan tak bukan adalah untuk memulai latihannya.
"Kau sudah bangun." Ying Ai mengucek matanya yang masih mengantuk, rambut panjangnya terlihat sangat berantakan setelah tidur. Ying Ai segera masuk kedalam rumah dan cuci muka.
Rutinitas mereka dimulai dengan lari pagi mengelilingi Kota Yan lima kali sejauh total lima puluh km. Dilanjut dengan sarapan dan latihan fisik lainnya, sebagian besar hari dihabiskan dengan mempelajari teknik beladiri warisan Yan Shen.
Feng Li memanggil kedua murid kecilnya ke halaman rumah, "Shin, pelatihanku dimulai dengan lari mengelilingi Kota Yan lima kali, bilang saja kalau tidak sanggup."
"Mau sepuluh kali juga aku akan lakukan." Shin sudah menginjak ranjau.
"Jadi kau mau lari sepuluh putaran!?"
"Tidak, tidak." Shin tidak menyangka ternyata Feng Li adalah orang yang sangat serius, candaan kecilnya hampir menjadi sebuah bencana besar baginya.
Kekuatan dan stamina Shin sudah jauh meningkat sejak Shin berulang tahun, saat dulu sebelum Shin bisa merasakan aura dia sudah terbiasa lari dua puluh km setiap hari, dengan kondisinya saat ini lima puluh km terasa sama seperti dulu.
"Pergilah ke gerbang utara. Aku akan mengawas diatas tembok kota seperti biasa."
Whoosh
Feng Li terbang dengan cepat ke arah utara, sungguh hebat bila bisa terbang seperti itu.
"Ayo pergi, jangan sampai ketinggalan olehku nanti." Ying Ai berganti pakaian dengan kaos putih bersih dan celana hitam panjang yang sangat kontras dengan rambut merahnya, perpaduan ketiga warna ini terlihat sangat indah hampir seperti sebuah lukisan.
"Mohon bantuanmu, senior." Setelah sekian lama akhirnya Shin mau memanggil Ying Ai senior, ini jelas memicu kesenangan dari Ying Ai.
"Ya, teruslah panggil aku seperti itu." Katanya begitu senang.
"Kenapa kau begitu senang?" Shin sepertinya sudah menginjak sebuah ranjau darat.
"Jangan panggil aku 'kau' lagi, panggil aku senior lagi." Ying Ai jadi semakin kesal.
"Kau kan hanya dua atau tiga tahun lebih tua dariku." Shin terus saja mengulanginya, entah dia tidak tahu atau memang terlalu bodoh.
"Aaaarrghh.... Kubakar kau hidup-hidup." Ying Ai mengeluarkan api dari tangannya dan melemparkannya pada Shin, dia tampak sangat menakutkan saat ini.
"Hey-hey apa yang kau lakukan." Shin masih tidak mengerti kesalahannya dan kebingungan, saat api merah dilemparkan Shin menghindar sebisa mungkin.
"Diam kau disana!!" Ying Ai masih kesal dan terus melempar bola api pada Shin. Shin tak bisa meredakan amarahnya dan langsung berlari ke gerbang utara dan dengan cepat meninggalkan Ying Ai dibelakang.
"Kejar aku kalau kau bisa." Shin sudah empat kali menginjak ranjau, dan setiap ranjau ini berisi bola api yang tak ada habisnya.
Diatas tembok kota Feng Li bisa dengan jelas melihat keadaan di rumahnya, "Sudah lama sekali aku melihat Ying Ai sampai seperti itu, aku ingin tahu apa yang dikatakan bocah Shin itu." Senyum dipasang Feng Li di wajahnya, melihat anak didiknya bersenang-senang seperti ini membuatnya bahagia. 'Hong Wei, hutangku akan kubalas sekarang.' Batin Feng Li.
Dan begitulah, hari pertama dari perjalanan Shin menuju puncak dunia dimulai dengan panas.