
Rumah Feng Li berada tidak jauh dari sini, hanya butuh beberapa menit jalan kaki untuk sampai. Setelah beberapa menit perjalanan singkat rumah kayu yang sama persis dengan deskripsi Zhang Wu saat itu ada didepan Shin. Setelah sekian lama akhirnya Shin menemukan tempat ini, ratusan pertanyaan yang sia-sia Shin lontarkan sebelum akhirnya Shin bisa datang ke rumah Feng Li.
"Tunggulah disini dulu!" Ying Ai melangkahkan kakinya ke depan pintu rumahnya secara diam-diam, dia tidak mau dimarahi Feng Li karena kelakuannya ini. Pintu rumah dibuka selembut mungkin, saat pintu terbuka sepenuhnya ternyata Feng Li sudah siaga didepan pintu wajahnya yang serius tampak sangat menakutkan di mata Ying Ai. Seolah melihat hantu di siang bolong, Ying Ai berteriak lalu berbalik dan segera berlari. Namun refleks Feng Li sangat cepat, kerah belakang bajunya sudah ada dalam genggamannya.
"Mau pergi kemana bocah nakal!" Feng Li memarahi Ying Ai yang keluar semalaman.
"Lepaskan aku dulu!" Ying Ai mencengkram tangan Feng Li dengan kuat, mencoba lepas dari cengkraman Feng Li.
"Jawab dulu pertanyaanku, darimana kau kemarin sampai tak ingat rumah!?" Feng Li khawatir seperti seorang ayah yang peduli. Hidupnya selalu seorang diri dan Ying Ai hadir dalam hidupnya beberapa tahun lalu, maklum kalau dia sangat protektif.
"Kemarin aku main sampai lupa waktu, saat aku sadar ternyata hari sudah malam. Lalu aku bermalam di penginapan. Master bilang sendiri kan kalau malam hari itu berbahaya." Ying Ai jelas mengarang alasan ini meski setengah dari pernyataan ini benar. Dia bahkan berani menggunakan kalimat Feng Li sendiri sebagai counter attack.
"Oh, lalu siapa bocah itu, jangan bilang kau tidur dengannya kemarin." Feng Li menunjuk Shin yang diam diluar rumahnya. Dia juga tahu bahwa Ying Ai datang dengan Shin.
"Ja... jangan bercanda. Dia bocah yang kutemui dijalan, dia bilang dia mau bertemu dengan master." Pipi Ying Ai memerah karena malu. Feng Li sedikit tak percaya, dia mengalihkan pandangannya pada Shin dan memanggilnya.
"Bocah, kemari kau, kau berhutang penjelasan padaku."
Shin terkejut sedikit dan menuruti perintahnya. Suaranya tegas dan memberikan tekanan hebat pada diri Shin, hanya aura yang dipancarkan dari tubuhnya sudah membuat Shin tak berdaya. Ahli master memang diluar jangkauannya saat ini.
"Muridku ini bangga dan sombong, bagaimana bocah sepertimu bisa bersamanya?" Ucap Feng Li saat Shin sudah ada di halaman rumahnya.
"Aku membuatnya berlutut padaku." Jawab Shin dengan sombong. Hal ini adalah fakta, tapi apa Feng Li akan percaya hal ini?
"Pfft, kau pikir muridku selemah itu?" Feng Li tentunya sangat jelas tentang perbedaan kemampuan diantara mereka. Perbedaan tingkat kekuatan mereka terlalu tinggi, mustahil membuat Ying Ai berlutut bahkan dengan sepuluh Shin--dalam cara konvensional--tapi Shin punya skill yang cocok untuk itu.
"Coba saja sendiri kalau begitu." Shin bahkan tidak gentar dihadapan ahli terkuat. Karena ketidaktahuannya, dia tanpa sengaja bersikap diluar batasannya sendiri. Jika bukan Feng Li ahli master didepannya, Shin sudah mati puluhan kali saat ini.
"Hahahaha, seranglah aku semaumu!" Kesombongan Shin hanyalah permainan anak-anak bagi Feng Li, dia hanya ingin melihat sejauh mana Shin bisa membuktikan kesombongannya ini. "Aku tidak ingin menghancurkan rumah ini." Jawab Shin masih sombong, dia memang terlalu bodoh hingga t0lol! Dihadapan seorang yang bisa membuat sepuluh juta rakyat kekaisaran bertekuk lutut dia masihlah bersikap seperti ini, otaknya harus sedikit diservice.
Feng Li turun ke halaman depan rumahnya, dia menatap Shin seolah seorang predator menatap mangsanya. Shin merasa lemah dihadapan ahli setingkat ini, seolah satu jari Feng Li bisa dengan mudah membunuhnya. Bukan seolah, tapi kebenaran! Fokusnya perlahan memudar dihadapan tekanan, untuk mempertahankan fokusnya Shin menggigit lidahnya kuat.
Feng Li tidak membuat persiapan apapun, harga dirinya akan tercoreng jika membuat pertahanan melawan bocah lemah ini, lagipula dia memang tidak membutuhkannya. Shin mengaktifkan aura dan mengeluarkan serangan terkuatnya.
"Focussed Pressure Strike!"
Creack!
Halaman rumah retak dengan cepat namun Feng Li seperti tidak merasakan tekanan apapun. Ada sedikit kejutan terlihat diwajahnya yang tenang, "teknik ini serasa familiar."
Durasi tiga napas sudah berlalu dengan cepat, selain halaman yang retak tak ada hasil lain yang terjadi. Ini jelas membuat Shin merasa kecewa.
"Teknik ini lumayan kuat, tak heran kau bisa membuat muridku berlutut. Tapi teknik tak berguna sedikitpun bagiku." Feng Li menjelaskan perbedaan antara mereka berdua. Sedikit mengingatkan betapa lemahnya Shin sebenarnya.
"Kau adalah ahli master, tentu saja teknik ini tak berguna bagimu. Aku mencarimu karena disuruh pamanku, Hong Wei. Apa kau kenalan pamanku?" Shin menjelaskan tujuannya kesini.
"Ternyata Hong Wei. Pantas saja teknikmu serasa familiar, bagaimana kabarnya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Sepertinya mereka berdua mempunyai suatu hubungan tertentu.
Shin diam sejenak sebelum menjawab, "Paman sudah meninggal." Suaranya lirih saat mengatakan ini.
"SIAPA YANG MEMBUNUHNYA!!" Feng Li tanpa sadar mengeluarkan niat membunuh yang intens saat mendengar jawaban Shin. Shin merasa merinding tingkat tinggi, seluruh sel didalam tubuhnya berkontraksi akibat teror yang dirasakan tiap inci tubuhnya. Pikirannya dipenuhi kematian dan dia tanpa sadar bertekuk lutut tak berdaya. Semua kesombongan dan arogansi yang dia tunjukkan sebelumnya lenyap tak bersisa, bahkan Shin merasakan bahwa hanya sehelai rambur Feng Li punya kekuatan yang cukup untuk membunuhnya. Dengan begini, pikirannya terjernihkan dan dia harus berpikir dua kali sebelum bersikap sombong sebelumnya. Ying Ai juga terkena dampak yang sama dengan Shin.
"Te... tetua dari... Klan Hong." Suara Shin getir dan terbata-bata, hanya untuk bicara sebanyak ini saja dia sudah menggunakan tiap ons kekuatan dalam tubuhnya. Dalam suaranya ini berisi niat membunuh dan dendam yang sangat pekat, kematian pamannya memang meninggalkan luka mendalam dihatinya.
"Beraninya mereka!! Klan Hong akan rata dengan tanah sehari dari sekarang!!" Nada marah Feng Li menggelegar seperti guntur, kemarahan seorang Feng Li bahkan tak bisa dihentikan sang kaisar, tak perlu dikatakan lagi dengan Klan Hong. Bahkan Kota Mang pun akan hancur lebur.
"Jangan!" Shin ingin menghentikan Feng Li dengan sekuat tenaga.
"Apa kau masih punya belas kasihan pada mereka!? Jika iya maka tidak ada kebutuhan bagiku untuk menerima mu sebagai muridku, enyahlah dari sini!!" Teriak Feng Li dengan marah. Meski Shin tidak tahu ada hubungan apa antara mereka berdua, hubungan ini pastinya cukup dekat.
Feng Li tertegun dengan tekad kuat yang ada didalam kalimatnya, 'Tekad balas dendamnya serupa sepertiku dulu.' Pikir Feng Li.
"Hahaha, bagus, tekadmu pastinya kuat sekali. Kau adalah murid keduaku mulai sekarang. Panggil saja aku master." Feng Li menarik kembali niat membunuhnya, membiarkan Shin dan Ying Ai bisa bernapas dengan lega.
Shin melakukan kowtow sebagai bentuk penghormatan dan berkata, "Mohon bantuanmu, master."
"Tugas pertamamu adalah membersihkan semua kekacauan yang kau sebabkan ini. Dalam tiga jam aku akan mengeceknya lagi, jangan harap bisa makan kalau belum selesai!"
"Baik."
Ying Ai berkata di kejauhan, "Panggil aku senior mulai sekarang." Shin mengacuhkan kalimatnya dan terus bekerja.
"Jangan harap kau bisa lepas dari hukumanmu bocah nakal!" Feng Li menyeret Ying Ai kedalam rumah.
"Tidaaaaak."
Tiga jam kemudian halaman Feng Li sudah bersih seperti semula, Feng Li menepati janjinya dan mengecek pekerjaan Shin lalu tersenyum puas melihat hasilnya.
"Masuklah kedalam Shin." Seru Feng Li.
Kesan haus darah dan kejam Shin terhadap Feng Li dihapus dari kepalanya, hanya setelah mengenalnya lebih jauh kau bisa tahu bahwa Feng Li sebenarnya adalah orang baik.
Shin masuk kedalam rumah dan mencium bau harum, Shin yang lapar segera mencari sumber bau. Shin menuju dapur dan melihat Ying Ai yang sedang memasak. "Ternyata kamu bisa memasak juga ya."
"Tentu saja, dan juga jangan panggil aku kamu atau kau, aku seniormu sekarang!" Ying Ai masih tidak terima dengan sebutan Shin padanya. Mohon dimaklum.
"Terserah." Shin yang minim pengalaman memperlakukan pria dan wanita sebagai satu makhluk, dia tak tahu bahwa wanita adalah sebuah eksistensi misterius dan sulit dimengerti.
"Kalau kau seperti ini terus tak akan ada wanita yang akan tertarik padamu."
"Aku tidak peduli soal wanita." Seumur hidupnya Ying Ai adalah wanita seumuran pertama yang pernah bicara dengannya, wajar jika dia memperlakukannya sama dengan laki-laki.
"Kenapa sifatmu selalu dingin pada orang lain?" Ying Ai masih belum mengetahui masa lalu Shin yang bisa dibilang kelam.
"Karena dengan inilah aku bisa terus hidup." Shin hanya mengarang alasan, sesungguhnya dia hanya berhati-hati, tetapi karena dia sangatlah bodoh, kesannya dia adalah orang yang dingin.
"Apa gunanya hidup tapi sendirian." Konsep ini memang harus dipertanyakan.
"Aku tidak tahu, tapi itu adalah apa yang kuyakini." Shin tidak tahu harus menjawab apa lagi. Bagaimanapun, kebohongannya masih harus terjaga.
"Hmph, terserah kau saja." Ying Ai kesal dan melanjutkan memasak.
Shin mendekat dan mencicipi masakan Ying Ai. Dia rasa ada yang kurang dalam masakan ini, "Tambahkan ini, ini, itu dan yang ini lagi!"
"Memangnya kamu bisa masak?" Tanya Ying Ai. Dia tidak percaya Shin yang bodoh ini bisa melebihinya.
"Lebih baik darimu." Shin kembali menunjukkan kelebihannya. Dalam hal ini, dia tidak perlu berpikir dua kali sebelum bersikap sombong.
"Hhmph, masak saja sendiri!" Ying Ai pergi dan meninggalkan masakannya.
Shin lalu menyempurnakan makanan ini tanpa mempedulikan Ying Ai. Selama bersama dengan Hong Wei, Shin mempelajari banyak hal, mulai dari aura sampai memasak, Shin hampir setiap hari memasak untuk Hong Wei, setelah bertahun-tahun dia bisa dibilang koki yang berpengalaman. Tidak seperti dengan pengalamannya dalam kehidupan.
Shin membawa masakan ini ke meja makan, wangi harum semerbak memenuhi ruangan ini, Feng Li dan Ying Ai sudah menunggu dengan sabar. "Silakan dinikmati." Dengan gaya seorang koki, Shin menyajikan makanan. Shin lalu duduk di meja makan dan bertanya pada Feng Li.
"Master, apa hubunganmu dengan paman Hong Wei?"
"Kami adalah saudara."