Lone Hero

Lone Hero
Pergi Lagi



"Shin, lebih baik kau tidak membocorkan tentang Grand Sage Art dan kehadiranku ini pada gurumu. Terlalu berbahaya jika terlalu banyak orang yang tahu." Shen memperingati Shin tentang rahasia ini.


"Bukannya kau yang seenaknya muncul!" Protes Shin karena memang ini adalah akibat dari tindakan Shen sendiri, dia pada awalnya memang sama sekali tidak berniat mengungkapkan keberadaan Shen. Tapi hanya soal Grand Sage Art Shin rasa Masternya berhak mengetahui hal ini.


"Hehe, akan tidak sopan jika aku tidak muncul didepan nyonya besar." Kata Shen dengan sangat puas.


"Sebaiknya bukan itu saja alasanmu!" Shin membalas dengan serius dibarengi sedikit kemarahan.


"Ingat Shin kau tidak boleh memberitahunya!" Tanpa menjawab argumen Shin, Shen hanya memperingatinya kembali. Dalam perdebatan, jangan pernah sekali-sekali melakukan hal ini.


"Tapi dia kan guruku." Sebagai muridnya Shin merasa tidak enak jika harus membohonginya seperti ini.


"Aku juga tahu itu, tapi bau darah yang kucium darinya sangat kuat. Dia pasti punya banyak musuh dalam kehidupan ini, jika dia tertangkap mungkin saja keberadaanku akan terungkap. Kau tidak mau mati konyol kan?" Shen kembali mengingatkan Shin tentang bahaya memiliki harta kuat. Walau ini hanyalah satu dari banyak alasan yang masih disembunyikan.


"Baiklah, tapi kau terlanjur menunjukkan dirimu pada Ying'er?" Sudah terlanjur tapi Shin percaya Ying Ai tidak akan membocorkannya begitu saja.


"Kau minta saja dia merahasiakannya. Rahasia ini terlalu besar untuk diketahui orang ketiga." Kata Shen melepaskan tangannya sendiri, dia yang menyebabkan masalah namun orang lain yang membereskannya, julukan sebagai yang terbijak di dunia memang benar.


Shin mengangguk pasrah sebagai jawaban atas perintah Shen.


Keduanya masih tetap diruang kultivasi ini dan hendak memberitahu Feng Li tentang keberhasilan Shin, Ying Ai bangkit dan berjalan keluar ruangan.


"Tunggu." Shin memegang tangan Ying Ai dari belakang dan menahan langkahnya, Ying Ai tersentak dan diam disana.


"Ada apa Shin?" Shin akan jadi orang konyol jika ucapannya salah, dia harus memilih kata yang tepat agar suasana tidak menjadi canggung.


"Ee... soal Shen yang tadi, bisakah kau menjadikan ini rahasia antara kita berdua saja?" Shin melepas tangannya dan Ying Ai berbalik ke arah Shin.


"Apa guru juga tidak boleh tahu itu?"


"Ya! Rahasia ini terlalu besar untuk diketahui banyak orang."


"Lalu kenapa kau menunjukkannya padaku?" Shin bilang rahasia ini terlalu besar jadi kenapa dia diberitahu, meski dia tidak tahu bahwa ini keinginan Shen sendiri.


"Karena itu akan menjadi rahasia antara kita berdua saja!" Aww, Shin sudah memilih kata yang salah. Dia memang masih bocah bodoh.


Wajah Ying Ai yang memerah sejak dipanggil Nyonya Besar menjadi semakin merah, Shin tidak tahu tentang ini dan malah melanjutkannya.


"Tapi lebih dari itu, itu karena aku percaya padamu." Shin berkata dengan sungguh-sungguh dan sangat percaya diri, Ying Ai menunduk dan tidak bergerak. Berulang kali Ying Ai seperti ini karena Shin namun dia masih belum mengerti juga alasannya. Untungnya Shin mempunyai pakar professional dalam segala hal. Dalam cinta sekalipun dia masih ahlinya.


"Shen, kau tahu dia kenapa?"


"Aku tidak tahu harus menyebutmu apa, bahkan kata bodoh tidak bisa menunjukkan betapa besar kebodohanmu itu! Itu karena kau yang ceplas-ceplos kalau bicara, pikirkan dulu akibatnya jika kau bicara, apalagi kau bicara pada wanita. Sigh... aku tidak menyangka pemilik keduaku akan jadi sebodoh ini." Suara kesedihan terdengar dari ucapan Shen. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Shen mulai meragukan keputusannya beberapa waktu yang lalu.


Shin memegang kepala Ying Ai yang menunduk itu dengan lembut. "Ini adalah rahasia kita berdua, tidak diizinkan orang lain didunia ini untuk tahu itu. Ayo kita pergi ke guru." Shin mengajak Ying Ai yang masih malu ini, dia memang tidak punya urat malu didalam tubuhnya.


"Kau pergi saja sendiri, aku ingin tidur!" Ying Ai tidak mengikuti Shin tapi menuju kamar karena mengantuk. Shin tidak bisa memaksanya karena tidak mau mengganggu waktu istirahatnya, Shin berjalan sendiri mencari Feng Li dirumah, tempat yang pertama kali dia tuju adalah teras rumah favorit gurunya. Dan benar saja, Feng Li sedang ngeteh santuy disana menikmati indahnya senja seperti anak indie.


Sruup!


'Aahh... nikmatnya teh kecoklatan ditambah dengan coklatnya langit dengan matahari yang perlahan mati ini. Nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan.' Momen ngeteh Feng Li ini sering terganggu dengan jadwal latihan Shin, jadi selama dua bulan kepergian Shin, Feng Li menikmati momen ini setiap harinya. Tapi momen ini tampaknya harus terganggu sekali lagi.


"Master, aku sudah berhasil!"


'Tak bisakah kau lebih lama disana Shin?' Begitulah kiranya ekspresi kekecewaan Feng Li jika dalam kalimat.


"Apa kau berhasil Shin?" Istirahat selama dua bulan ini sudah cukup baginya. Feng Li merubah sikapnya kembali menjadi seorang Master yang bijak dan megah.


"Ya!" Jawab Shin dengan sangat bersemangat, tampaknya Shin sangat menikmati saat menganggu momen indie Feng Li.


"Bagaimana bisa? Aku juga sepuluh tahun berada disana tapi masih gagal. Berapa langkah kau menaikinya Shin?" Dalam waktu yang sama akan wajar jika Shin gagal dan itu tidak membuat Feng Li kecewa, kesulitan ujian itu dia tahu sendiri.


"Aku mengungkap misteri dalam tangga itu, jadi butuh waktu yang sama untuk berhasil." Shin berbohong tentang ini agar tidak membuat Feng Li terkejut. Dalam lima tahun berhasil melalui ujian pasti akan membuatnya bertanya tentang lima tahun sisanya, jika Shin tidak ingin rahasianya terungkap ini harus dilakukan.


"Kau terlalu hebat, aku jadi ingin melihat hasil dari ujian ini Shin!" Feng Li mengeluarkan dua tongkat dari cincin ruang miliknya.


Shin dengan pengalaman dua tahun lebih dengan tongkat setidaknya setara jika sparring dengan Feng Li. Ditambah kondisi Battle Nirvana dia mungkin bisa menang!


Keduanya langsung menuju ke halaman rumah, hari yang semakin malam menjadikan cahaya semakin surut, ini menambah ketegangan pertarungan keduanya!


Tak! Tak! Tak! Tak! Tak!


Pengalaman Shin tidak bisa dibandingkan dengan dua bulan lalu, setiap serangannya telak dan Feng Li kesulitan menahannya. Shin melakukan berbagai gerakan tipuan dan trik licik lainnya saat sparring.


Dalam sepuluh pertukaran Feng Li tidak mendapatkan keuntungan apapun! Feng Li tidak berani menyamakan Shin dengan dia dua bulan yang lalu, dia memutuskan untuk melakukan pertarungan asli!


Dibawah kondisi Battle Nirvana gerakan dan serangan Shin menjadi lebih tenang dan lembut, namun dibalik ketenangan ini terdapat sebuah arus dalam yang sanggup menenggelamkan apapun! Gerakannya setenang air, serangannya tidak kuat tapi cepat dan bertubi-tubi hingga bisa memaksa Feng Li dalam kondisi bertahan!


Keduanya menarik senjata mereka kembali setelah pertukaran awal, mengambil napas sebentar untuk melanjutkan pertempuran mereka ini.


Shin merendahkan kedua kakinya dan tongkat di tangannya dia acungkan ke depan, pun sama dengan Feng Li melakukan hal yang serupa.


Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini, Feng Li memilih untuk menyerang terlebih dahulu setelah melihat perkembangan Shin yang signifikan, Feng Li menarik senjatanya hingga dekat dengan dadanya dan langsung membantingkan tongkat di tangannya dari samping, Shin sudah memperkirakan ini dan dengan tangan kanan yang berada di bagian depan tongkat ia arahkan ke bawah samping untuk menahan gempuran serangan Feng Li.


Dengan suara benturan kayu yang cukup keras benturan ini tidak mendapatkan hasil apapun. Kemudian, Shin mengarahkan kaki belakangnya bergerak ke samping sembari memutarkan tubuhnya dengan tongkat diikutkan bersamanya. Dengan putaran cepat menambah kekuatan yang akan dibawa oleh hantaman tongkat Shin kali ini. Dari sisi kanan, Shin membawa sebuah serangan yang dengan cukup mudah Feng Li tangkis dengan senjatanya.


Tak!


Feng Li mensejajarkan tongkatnya dan menikamkannya ke depan, ke arah wajah Shin yang tidak siap untuk menyerang. Namun, Shin masih bisa menghindarinya dengan mundur beberapa langkah ke belakang. Shin memutar tongkatnya dan menyimpannya lurus di belakang tangan kanannya seraya mengarahkan tangan kirinya ke depan.


Feng Li sudah menerkam Shin kembali seraya mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi hingga berada di belakang kepalanya, Shin memutar tongkatnya ke depan dan memasang kembali langkahnya. Saat sudah dalam jangkauan, Feng Li membantingkan tongkatnya keras dari atas, sayangnya Shin sudah menyimpan senjatanya horizontal untuk menahan gempuran ini.


Crack!


Tanpa sadar, Feng Li sudah mengerahkan terlalu banyak tenaga dalam serangannya kali ini, tongkat milik Shin retak sedikit dan untungnya masih jauh dari kata patah.


Shin kemudian memutarkan tongkatnya melewati kepalanya dan mengirimkan sebuah sapuan datar menuju tubuh bagian samping Feng Li dengan posisi akhir tongkat merupakan perpanjangan dari tangannya yang direntangkan. Semua gerakan ini dia lakukan dengan sangat cepat, hanya sepersekian detik dibutuhkan untuk Shin menyelesaikannya dan serangannya, telak mengenai Feng Li!


Shin segera memperbaiki posisi tangannya dan menarik tangan kanan yang direntangkan ini kembali ke sisi dalam tongkat; dengan tangan kiri yang memegang bagian tengah tongkat ini; dengan tongkat yang dijepit di tangan kanannya. Kakinya lurus dan sejajar antara keduanya, menjadikannya sebuah posisi yang pas untuk menyerang.


Shin mengacungkan senjatanya ke depan dan menyerang beberapa kali, serangannya yang bertubi-tubi dan membabi-buta sayangnya bisa sepenuhnya diterima oleh Feng Li.


Tak! Tak! Tak! Tak!


Feng Li menusukkan tongkatnya ganas ke depan dan langsung dihindari Shin dengan melangkah ke depan samping. Dengan tongkat yang teracungkan ke atas, Shin menghantam betis Feng Li dengan kuat.


Brak!


Seolah tak puas dengan hasil seperti ini, Shin menggerakkan tongkatnya menjauh beberapa inci dari tempat tersebut dan menghantamkannya lagi ke arah pinggang.


Brak!


Masih belum puas, tongkat Shin dibantingkan menuju pelipis kiri Feng Li yang membuatnya terdorong mundur beberapa langkah. Dan dengan ini, Feng Li mengakui kekalahannya. Shin memutar tongkatmya kembali dan menyimpannya lurus ke atas dengan genggaman tangannya


"Ini hebat Shin, kapan kau belajar ini semua?" Kata Feng Li saat dia sudah kembali ke teras favoritnya. Kemampuan Shin dia sudah melihat dan merasakannya sendiri, tidak perlu menyelidikinya lebih jauh lagi.


"Saat aku mempelajari tahap pertama Great Sage Art teknik tongkat ini langsung masuk kedalam kepalaku." Shin menyembunyikan keberadaan Grand Sage Art sesuai arahan Shen. Shin sudah melawan ahli dari para ahli tongkat selama dua tahun lebih, bahkan saat ini dia masih menyembunyikan keahlian aslinya. Dia bisa mengalahkan Feng Li jika hanya bicara soal tongkat.


"Master, aku ingin melihat Great Sage Staff itu!" Pinta Shin.


"Apa kau berniat menjalani ujian darinya?" Feng Li bertanya dengan khawatir.


"Ya! Lebih cepat lebih baik, aku butuh kekuatan untuk melindungi dia nanti!" Shin masih tetap pada pendiriannya.


"Apa kau yakin Shin? Aku beritahu padamu, ujian ini akan menjadi lebih sulit jika kau melakukannya sekarang." Shen masih mengetahui kondisi dunia luar meski berada didalam buku dan masih bisa berkomunikasi.


"Itu tidak apa-apa tapi apa kau tidak khawatir pada Ying Ai? Kau baru bertemu dengannya kurang dari satu hari dan ingin pergi lagi."


"Dia pasti akan mengerti!" Jika Shin sudah bertekad tidak ada yang bisa menghentikannya.


"Baiklah." Feng Li mengeluarkan great sage staff dari cincin ruangnya, ini tampak tidak berbeda dengan tongkat tadi tapi ini mengeluarkan aura suci yang kuat.


Shin mengenggamnya dan berkata dengan semangat pantang mundur.


"Para sage, aku terima ujianmu!"