Lone Hero

Lone Hero
S1: The Beginning END- Epilogue



Kali ini Shin tinggal bersama dengan Zhu Long selama dua bulan penuh, selain memulihkan jiwanya sendiri tapi juga karena luka fisiknya juga sangat parah, itu tidak akan bisa sembuh dalam waktu beberapa minggu singkat.


Shin membentuk sebuah portal yang mengarah ke luar sana, sebelum berjalan meninggalkan tempat ini ada beberapa kalimat yang diucapkannya.


"Sister Zhu'er, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih ini."


Zhu Long mendekati Shin dan merendahkan didepannya lalu menepuk-nepuk kepalanya.


"Tidak perlu berterima kasih, bukankah wajar bagiku untuk melakukan ini? Pergilah, masih ada banyak hal yang menunggumu diluar sana."


Shin mengangguk kuat dan tersenyum atas bayaran pada Zhu Long. Seketika, jiwa shitacon Zhu Long meronta-ronta, dengan perpaduan dan kombinasi antara wajah dan rambut Shin yang baru ini, penampilan Shin dimatanya telah berubah menjadi jauh lebih menarik. Senyum manis yang terpampang jelas tepat didepannya, namun dia harus menahan apapun yang terjadi.


Tubuh Zhu Long menggeliat seperti tersetrum, giginya digertakkan kuat dan matanya menutup, raut mukanya serius karena menahan emosi yang tinggi, dia mematung kaku ditempatnya tanpa bisa bergerak.


Melihat ini, Shin mengukir rautan senang di wajahnya, dia bergerak ke depan cukup cepat dan tanpa Zhu Long duga atau tebak sebelumnya, Shin mengambil inisiatif memeluknya terlebih dahulu. Selama ini jarang sekali sampai tidak pernah Shin ambil inisiatif kecuali ada kejadian besar, selama dia disini dia hanya jadi mainan dari naga hitam ini. Meski begitu, Shin sama sekali tidak merasa terganggu, sudah cukup lama juga dia tidak merasakan saat-saat seperti ini dan tidak tahu kapan bisa merasakannya lagi. Dia memikirkan kemungkinan bahwa, ini sepertinya adalah yang terakhir.


"Xi-xiao Shin... apa ini...?"


Zhu Long yang menahan diri sebisa mungkin sangat tidak mengharapkan kejadian ini terjadi, dia menjadi malu dan darah mengalir deras melalui pipinya, memberikan sebuah rona merah yang indah disana. Sebuah pemandangan yang dimana adalah... yang pertama dalam sejarah panjang dunia ini!


"Ini adalah hukumanmu!" Sudah banyak, banyak sekali Shin mendengar tiga kata ini dari Zhu Long, dan entah kenapa itu selalu berakhir dengan dia yang kelelahan. Setelah menjadi lebih dewasa, keinginan terbesarnya adalah membalikkan kata-kata ini tepat didepan mukanya sendiri!


Mendengar tiga kata Shin yang sangat berani, tubuh Zhu Long tersentak hebat, kesenangan dan rasa bahagia hebat menjalar keseluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Zhu Long yang selama ini selalu mendominasi dan menaklukkan pria manapun didunia ini kini harus ditaklukkan dengan telak, oleh bocah tiga belas tahun! Tindakan Shin kali ini, sangat jauh diluar impian terbesarnya, bisa mengeluarkan pernyataan yang sangat berani ini tidak terkecuali akan membuat Zhu Long senang tak terbatas.


Sadar bahwa tindakannya kali ini akan mengundang bahaya besar, Shin tidak ingin momen ini berlarut-larut. Shin kemudian mengarahkan kepalanya kedepan, menyebabkan bibirnya yang kecil menyentuh kening Zhu Long tanpa peringatan apapun. Shin melepaskan pelukannya dan segera berbalik keluar dari sini sebelum bahaya mengancam.


"Selamat tinggal, sister Zhu'er!"


Akibat seruan dari Shin, Zhu Long telah mengembalikan kesadarannya, dia melongo dan menatap portal yang perlahan menutup. Kemudian, dia mengingat-ngingat kejadian yang telah terjadi dalam beberapa detik yang singkat ini.


Merasakan sebuah sentuhan lembut dari keningnya, Zhu Long mengarahkan kedua tangannya ke sana. Dirasakannya sebuah kulit halus mulus, dengan sebuah tanda berbekas basah yang masih baru. Segera, Zhu Long kehilangan akalnya, pipinya merah hingga seluruh kepalanya bahkan, dia tidak mampu berkata namun jelas bahwa dia sangat bahagia. Zhu Long terdiam dalam posisinya dan mungkin, tidak akan beranjak dari sana dalam waktu yang lama.


Dua bulan telah terlewati didalam sana yang mana hanya enam hari saja disini, Shin keluar dan tiba di tanah yang sudah hancur serta kenangan yang terbawa bersamanya. Shin merasa sedikit sedih tapi itu sangat wajar, waktu dua bulan sangat singkat dan tidak mungkin cukup untuk benar-benar menghapus luka seseorang. Untungnya, Shin sudah bisa dikatakan pulih dan biar waktu saja yang menyembuhkan lukanya.


Shen yang selalu memperhatikan keberadaan Shin langsung keluar saat Shin menampakkan dirinya.


"Kau sudah baikan Shin? Atau masih butuh beberapa waktu berkabung lagi? Tidak perlu khawatir, perjalananmu masih bisa menunggu, dirimu adalah yang terpenting disini."


"Tidak, aku sudah tidak perlu apapun lagi. Aku sudah pulih sepenuhnya baik rohani maupun jasmani. Perjalanan ini bagaimanapun tidak bisa ditunda lebih lama lagi, peningkatan kekuatan dalam lima tahun menuju ketinggian yang sangat tinggi haruslah dilakukan secepat mungkin. Meski begitu, masih ada beberapa tempat yang ingin kukunjungi, kau tidak keberatan dengan ini kan Shen?"


Ini adalah kepergiannya pergi ke dunia luar yang tidak terbatas, bagaimanapun kejamnya Azure Sky Empire pada dirinya, tempat ini masihlah tempatnya tumbuh dan berkembang. Dikekaisaran ini pula ada cukup banyak tempat yang punya kenangan tersendiri dengan Shin. Sebelum dia memutuskan pergi mengembara, dia tidak ingin ada sedikitpun penyesalan tertinggal dalam hati.


Shen menggelengkan kepalanya.


"Ini adalah pertama kalinya kau mengembara sejauh ini, apalagi semua orang penting dalam hidupmu sudah tiada lagi di kekaisaran ini, semua orang juga akan melakukan hal yang sama jika ada diposisimu." Shen lebih mengerti dari siapapun tentang hal ini, meninggalkan tempat yang sudah mengukir banyak kenangan disana cukup sulit untuk dilakukan. Apalagi... besar kemungkinan Shin tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke kekaisaran ini lagi.


"Terima kasih."


Tak berniat berlama-lama disini, Shin langsung terbang melesat ke arah Kota Mang yang merupakan yang terdekat dari sini. Tempat yang merupakan tempatnya tumbuh dari nol dibesarkan oleh pamannya, Hong Wei. Tempat spesifik yang ingin didatanginya tentu saja adalah bekas rumahnya dulu meski dia tidak tahu kondisinya saat ini. Setelah kematian Patriark Hong Xuan serta tetua lainnya, posisi Klan Hong di Kota Mang pasti jatuh hingga titik terendahnya, aset-aset darinya juga mungkin akan dijual sebagai jaminan. Apapun itu, Shin akan mengerti setelah dia sampai.


Shin menyusuri jalan yang dilaluinya enam hari lalu dengan sedikit pelan, dia ingin menikmati setiap lanskap pemandangan disini, lebih jauh dia ingin melihat sisa-sisa perjuangan Feng Li. Cekungan dalam serta retakan dalam tanah menjadi sebuah pemandangan yang biasa disini, Shin menikmatinya sepenuh hati dengan rasa lepas didalam hatinya. Perpisahan akan selalu ada di setiap pertemuan, bedanya adalah apa itu akan bertemu kembali atau tidak dan rela atau tidak. Dan sekarang, Shin harus belajar merelakan.


Sebagai ahli Surgawi dia sudah punya kualifikasi untuk terbang, karena dia ada di tahap paling awal dalam kualifikasi terbang, dia tidak bisa terlalu cepat melakukannya serta tidak bisa terlalu lama melakukannya. Karena inilah dia selalu menggunakan Arhat Staff karena jauh lebih mudah dan efisien sebagai alat transportasi. Tapi, dia punya sebuah keheranan dengan benda ini.


"Shen, kau yang bilang sendiri padaku kalau Arhat Staff milikku itu adalah senjata terhebat di dunia ini kan? Walau hanya satu dari lima bagian, kekuatannya seharusnya jauh lebih dahsyat dari harta manapun, dan bahkan harusnya setara dengan harta di penyimpanan Sekte Burning Heaven. Lantas kenapa senjata ini sangat lemah?" Shin masih terbang saat bertanya, selama Shin menggunakan Arhat Staff sebagai senjata utamanya, selain dari skill khusus Arhat Absolute Strike yang jadi kartu terkuatnya, senjata ini sama sekali tidak seperti harta terhebat lainnya.


"Sembarangan kalau ngomong. Menurut tingkat kekuatannya saja, tongkat milikmu jauh lebih hebat dari armor Ying Ai, karena ini adalah Divine Item. Tapi apa kau pernah berpikir kenapa, kau yang masih sangat lemah ini bisa menggunakannya?"


Shin, "..."


"Harta lain terutama yang berupa senjata, biasanya sangat sulit untuk ditaklukkan, meski bisa mendapatkannya tapi menggunakannya adalah sebuah kemustahilan. Berbeda dengan Arhat Staff milikmu, itu mengijinkanmu menggunakan sedikit dari kekuatannya untuk kau gunakan, klon Great Sage yang ditinggalkan didalam sana membiarkanmu melakukannya. Tidak ada konsekuensi berat yang harus kau tanggung akibat dari menggunakan ini. Walau dengan kekuatanmu yang sekarang, Arhat Staff tak lebih dari tongkat kayu biasa yang sangat keras."


Pernyataan "tongkat kayu biasa" yang dilontarkan Shen tidak bisa menjadi kebohongan, selama ini Arhat Staff memang digunakan seperti itu tanpa ada efek lainnya. Sangat tidak sesuai dengan deskripsi senjata terhebat.


"Jadi begitu.... Lalu, bagaimana kekuatan senjata ini pada kondisi maksimalnya?" Shin kembali bertanya.


"Kekuatannya tidak akan bisa kau bayangkan, meski hanya seperlima dari Paramita Staff yang asli, kekuatannya ada pada tingkat yang menakutkan. Normalnya, dengan satu ayunan lembut dari tongkat ini seratus Yun Xiao akan langsung mati, tidak diperlukan pertarungan keras apapun dan kau bisa menang sangat mudah." Menggunakan Yun Xiao sebagai perbandingan sebenarnya sangat tidak layak, Shen melakukannya agar setidaknya bisa masuk dengan kapasitas Shin. Pada kenyataannya, Flame Empress juga akan terluka!


"Hebat sekali. Lalu, apa ada skill khusus lain atau efek tertentu yang dimilikinya? Tidak mungkin hanya Arhat Absolute Strike saja kan?"


"Efek tertentu mungkin hanya Aura Suci dan pemurnian saja, kau harus mencari tongkat lain jika ingin mendapatkannya, itupun jika kau sangat beruntung. Soal skill khusus sebenarnya masih ada beberapa, tapi kau harus bersabar, itu hanya akan terbuka setelah kekuatanmu cukup melakukannya."


"Wow, tak kusangka ternyata tongkatku sehebat ini. Menilai dari segala kekuatan dan kegunaannya benda ini memang sangat pantas masuk dalam jajaran benda terhebat, sister Zhu'er juga punya kualifikasi untuk itu... tapi," Shin menatap Shen dengan aneh, "kenapa kau ada di urutan ketiga Shen?! Bukankah senjata ini jauh lebih pantas daripada dirimu!!"


"Lo mau gw pukul!!" Begitulah kira-kira terjemahan dari raut muka Shen saat ini. Tidak terima dengan kalimat dari Shin, Shen membuat sebuah pembelaan.


"Bukan begitu, asal kau tahu sa-"


"Iri bilang bos."


Shen, "$ # ¥ % !"


"Hahahaha.... Melihat wajah kesalmu itu aku puas sekali." Sudah cukup lama mereka tidak bertengkar lagi, dua tahun, selama itulah mereka tidak melakukannya.


"Hmph!" Shen mendengus kesal, "Ahli era primordial jauh lebih baik daripada dirimu. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki diriku, ratusan rencana perang yang dibuatku telah berhasil membawa kemenangan, banyak siasat licik telah membawa jutaan iblis kedalam liang lahat. Ratusan rencana iblis digagalkan diriku yang mana menyelamatkan milyaran nyawa makhluk hidup dunia. Dengan pemurnian yang dilakukan, aku sudah memurnikan satu benua secara utuh! Menjadikannya sebagai benua terkuat sampai saat ini. Dengan teknik yang terkandung didalam diriku, Klan Sage terbentuk dan mereka menjadi salah satu faksi terkuat didunia, bahkan melahirkan sosok yang berdiri setara bersama dengan pahlawan besar lainnya. Prestasi dan pencapaian ini tidak akan pernah didapatkan oleh siapapun, sudah sepantasnya aku diperlakukan seperti ini." Shen bicara dengan sombongnya ketika membicarakan kehebatannya... yang memang sangat spektakuler!! Akan jadi memalukan jika Shen berada di urutan keempat atau kelima.


"Ya, ya. Kau sangat hebat. Tapi, nomor satu dan dua, kau tahu item seperti apa mereka itu?" Dulu Shin pernah bertanya demikian tapi tidak dijawab oleh Shen.


"Tidak baik untukmu mengetahui rahasia ini. Yang bisa kau ketahui adalah, yang pertama adalah pembawa bencana terbesar sedangkan yang kedua adalah pembawa keselamatan tertinggi. Mereka berdua terlalu menakutkan untuk diketahui dan dimiliki makhluk hidup manapun."


Shin mengangguk mengerti dan menyimpan informasi ini dalam ruang memori terbaiknya. Meski maksudnya dia sangat kabur.


Waktu berjalan dengan cepat manakala Shin sedang terbang, rasanya sungguh sangat berbeda dari terbang menggunakan Arhat Staff, terpaan angin dan perasaan layaknya burung di angkasa lepas telah membuatnya lupa waktu. Tanpa dia sadari, Kota Mang telah berada dalam bidang cakrawala dan hanya berjarak beberapa km lagi.


Kota Mang, dipenuhi dengan berbagai emosi yang campur aduk bagi Shin, dari sedih dan marah ketika dia dicap sebagai sampah tak berguna hingga senang dan bahagia tatkala dia bersama Hong Wei. Bagaimanapun, meski bukan tempat kelahirannya, Kota Mang adalah tempatnya dibesarkan selama satu dekade, dalam pikirannya secara tidak sadar dia menganggap kota ini sebagai "rumah".


Terakhir kali Shin datang kesini, dia membawa gejolak besar dalam tatanan Kota Mang, salah satu tiga klan yang berada di eselon atas runtuh dalam semalam, Klan Hong menjadi sisa-sisa tidak berguna dan anggotanya diserap oleh dua klan lain. Aset-aset miliknya menjadi tidak bertuan dan semua orang memperebutkannya, apalagi kedua Patriark bekerja sama membuka brankas penyimpanan dengan sistem bagi hasil. Kendati demikian, ada sebuah rumah yang dibiarkan begitu saja tanpa ada yang menyentuhnya, itu tak lain adalah rumah Hong Wei sekaligus Shin. Klan Hong saja sudah rata olehnya, tak perlu dikatakan lagi apa yang akan terjadi pada mereka.


Semua orang di Kota Mang--termasuk para patriark--mengetahui seluk-beluk Shin sejak dulu, perihal Hong Wei pun mereka sangat jelas. Jika ada yang berani menyentuh atau mendiami rumah itu, tak diragukan lagi dia akan menyinggung Shin, yang mana, akan mengundang bencana besar!


Shin sudah datang dari sisi selatan kota dan terus terbang menuju rumahnya tanpa peduli tatapan ngeri dan takut dari orang-orang dibawah. Kekuatan Shin sudah tertanam sangat dalam di otak tiap orang disini, dan tidak ada yang ingin melihatnya menunjukan kekuatannya sekali lagi.


"Bagus, rumahku masih terlihat sama seperti biasa." Gumam Shin dalam perjalanannya.


Shin turun mendarat di halaman rumahnya, sudah tiga tahun penuh dia tidak kembali kesini lagi dan ada sebuah memori berbekas dalam benaknya. Ya, itu adalah saat malam kematian Hong Wei.


"Paman, sebentar lagi aku akan pergi dari kekaisaran ini dan mungkin tidak akan kembali lagi, sudah cukup lama kita berpisah dan aku tahu bahwa tidak mungkin kita bertemu lagi. Paman bisa bertenang diatas sana dan rumah ini masih akan tetap sama seratus tahun kemudian, dengan pengaruhku tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Saat ini aku hanya ingin bilang, terima kasih untuk semuanya! Jika aku ditemukan oleh orang lain mungkin umurku tidak akan sampai tiga belas tahun, bisa bertemu dengan paman, sebuah keberuntungan terbesar bagiku."


Shin mengucapkam kalimat terakhirnya sembari menatap rumah ini, setelah pandangannya tertahan selama sepuluh menit, dia berbalik dan terbang menuju Kota Yan.


"Kau tak ingin masuk ke dalam Shin?" Tanya Shen.


Shen tersenyum samar sebelum akhirnya kembali ke dunianya sendiri, perkembangan Shin kali ini telah menunjukan tren yang positif.


Perjalanan menuju Kota Yan lebih jauh lama dari sebelumnya dan Shin sudah kehabisan stamina. Mau tidak mau dia harus menggunakan Arhat Staff dalam perjalanannya kali ini.


Dalam perjalanannya kali ini, dia menyusuri semua tempat yang dilalui olehnya dulu sekali, dari gua tempatnya bertemu ibunya hingga jalan yang sama yang dilaluinya dengan Zhang Wu, hingga ke Lembah Kematian yang sangat tidak berbahaya juga dia masuki kedalamnya, entah mengapa tapi dia merasakan Devouring Dragon Vessel sedikit berfluktuasi didalam Aura Sea miliknya.


Dan setelah reuni tempat yang berlangsung beberapa jam, Kota Yan sudah berada tepat didepannya. Dia turun dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, peraturan kota harus dia ikuti meski dia bisa menentangnya.


"Kau terlihat berbeda sekali Shin, apa kau memakai wig atau semacamnya?" Tanya penjaga yang sudah cukup akrab dengan Shin.


"Tidak, ini rambut asliku. Gimana, bagus kan?" Shin sama sekali tidak keberatan dengan fakta ini, malah dia cukup senang karena dia... terlihat lebih cool daripada sebelumnya.


"Lumayan sih. Oh ya, apa kau mau pergi lagi setelah ini Shin?" Gaya hidup Shin yang tidak pernah tinggal lama di kota sudah diketahui hampir semua penjaga gerbang.


"Ya, dan sepertinya itu akan sangat lama sebelum aku kembali lagi."


"Sayang sekali, para praktisi muda di Kota Yan semuanya arogan dan sombong, tidak ada yang sepertimu. Tapi biarlah, itu semua adalah pilihanmu, aku tidak berhak mencampurinya."


Shin hanya mengangguk kecil dan langsung berjalan kedalam kota, menyusuri tempat yang sering ia datangi bersama Ying Ai dulu.


Dan kali ini, Shin sudah berada di sentra kuliner dengan berbagai tenda-tenda pedagang yang menjajakan jualan mereka sendiri, tempat ini juga membawa kenangan yang cukup memilukan hati, tiap kali Shin dan Ying Ai datang kesini, Shin harus pulang dengan dompet kosong.


"Lihat siapa yang datang, meski kau merubah rambutmu tapi kau tidak bisa menipu mata orang ini. Kau adalah Shin kan?" Ucap seorang pedagang.


"Ahh... benarkah itu dirimu Shin? Kau sangat berbeda dengan dua tahun yang lalu." Timpal pedagang lainnya.


"Dan ya, kemana perginya kekasih kecilmu itu? Sudah lama juga dia tidak mampir dimari." Balas Pedagang lainnya.


"Dia... sudah pergi sangat jauh dari sini." Shin berkata dengan rendah.


"Ayoyo, apa kalian telah... putus!!?" Seorang pedagang telah membawa kericuhan besar. Pasangan antara murid Feng Li sudah jadi rahasia umum diantara masyarakat kota, kecuali para praktisi muda. Gosip bermunculan semenjak kehilangan dua orang ini dua tahun lalu dan sekarang... kebenaran telah muncul?!


"Shin, makanlah ini, aku yang traktir. Dikatakan bahwa 'lontong' ini sangat ampuh bagi orang yang patah hati." Seorang pedagang melemparkannya pada Shin, sebuah makanan berbentuk tabung yang dibungkus dengan daun pisang yang isinya semua orang sudah tahu. Shin dengan gesit menangkapnya lalu menatapnya kosong. Tanpa butuh waktu lama seorang pedagang lain telah berteriak mentraktir Shin kembali.


"Jangan dengarkan dia Shin, kalimatnya adalah seratus persen kebohongan. Makanlah ini, orang seringkali menyebutnya sebagai 'leupeut'." Kini, sebuah benda terbang dan ditangkap lagi dengan tangan Shin yang satunya, meski namanya berbeda tapi... penampilannya sama persis! Hanya sebuah daun pisang yang diisi beras, apa bedanya dua makanan ini?! Shin menatap kedua makanan ini kosng dan bergumam dalam hati.


'Apa cintaku... hanya sebatas lontong dan leupeut?'


"Hoak, hoak. Kalo patah hati itu asupan vitamin kudu dijaga, nih traktiran gratis. Datang dan ambil sendiri Shin, ini disebut sebagai pecel." Pedagang lain menawarkan sepiring sayuran dengan saus kacang diatasnya. Piring ini disimpan diatas etalase dan menunggu Shin untuk datang mengambilnya.


Merasa bahwa ini jauh lebih baik, Shin melemparkan kembali makanan ditangannya dan berjalan kesana.


"Fitnah keji!" Seru pedagang lainnya, "Jangan kesana Shin, hanya kebohongan yang akan kau dapat. Datang kesini dan makan saja ini." Sepiring makanan lainnya sudah ada diatas etalase pedagang ini.


"Oh, apa nama makananmu itu?"


"Lotek."


Ketika Shin mengubah arah tujuannya, didapatinya sepiring makanan... yang sama persis!! Hanya seonggok sayuran yang diubek-ubek dengan saus kacang. Kini, misteri antara pecel dan lotek telah membuat sanubari Shin tersiksa.


"Plagiat!" Teriak pedagang lainnya, "Kau lihat sendiri kalau keduanya sama kan Shin? Datanglah, rasanya ada diluar batas nalar manusia biasa, ini setara dengan dewa!!" Mendengar kalimat ini, Shin punya harapan tinggi tentangnya. Dia berjalan pelan menuju tenda dengan poster bertuliskan "harga kaki lima rasa bintang lima" terpampang diatasnya. Sempat menebak alurnya, Shin ambil inisiatif.


"Apa nama makananmu itu?"


"Gado-gado!"


Dan ketika dia mendatanginya, dia mendapat makanan yang sama persis! Seperti di copy-paste antara tiga pedagang lain. Antara lotek, gado-gado, dan pecel, apakah ada semacam konspirasi dibaliknya?


'Bukankah ketiga makanan ini sama? Dan apa beda tiga makanan ini dengan mixed vegetables salad with penaut sauce?'


Shin diam tak bergerak, kebingungannya akibat hal ini telah ada pada tingkat tertinggi, akhirnya dia hanya bisa menunggu pedagang lain berteriak marah.


"Woy! Bukan begitu cara memperlakukan orang yang patah hati!" Shin menghela napas lega, akhirnya ada orang yang normal walau sedikit salah paham, "Nah Shin, ini adalah hidangan otentik yang baru saja kuciptakan. Kau akan memiliki kehormatan untuk jadi yang mencobanya pertama kali." Ucap pedagang ini dengan bangga.


Bagaimanapun, Shin sudah terkena beberapa jebakan, dia tidak mau merasakannya lagi.


"Apa nama makananmu itu?"


Segera, sepiring makanan berbau harum disimpan di etalase pedagang ini, warnanya kehitaman dan sedikit tidak sedap dipandang namun aromanya membuat siapapun tidak peduli.


"Ini kunamakan sebagai. Tahu tempe spesial bumbu tauco kecap!"


Shin memasang wajah aneh dan bingung tingkat tinggi, 'Wtf!! Bukankah kalau aku makan ini akan sama dengan makan, kedelai kedelai dengan bumbu kedelai dan fermentasi kedelai!! Combo wombo kedelai macam apa ini!!' Sebuah kombinasi tingkat tinggi antara empat olahan kedelai dalam satu piring, entah ini adalah masterpiece atau bukan, Shin tidak mau memakannya!


Sadar bahwa masih belum semua pedagang yang mengeluarkan menu masing-masing, Shin lari secepat kilat menuju tempat berikutnya. Bahaya yang dia rasakan sebelumnya, bisa membuatnya merinding!


Pedagang disini jelas hanya bermaksud bercanda, berita kepergian Ying Ai sudah menyebar dua tahun yang lalu. Fakta bahwa Ying Ai tidak ada lagi di Kota Yan sudah diketahui banyak orang disini. Semuanya yang punya hubungan cukup dekat dengan Shin hanya bisa bersedih atas namanya, meski tidak tahu recana kepergian Shin, mereka sudah sadar bahwa tidak lama lagi Shin akan menyusul.


"Semuanya, kita sudah berhasil." Kata seorang pedagang sembari semuanya secara serentak menatap punggung Shin yang kian menjauh... tak akan pernah terlihat lagi.


Tujuan Shin kali ini adalah sungai tersembunyi yang sering keduanya bertemu disana. Dalam waktu sekejap, pemandangan menyejukkan hati berupa sungai kecil dan hamparan hijau rumpur serta beberapa pohon yang berdiri kokoh kembali mengisi penglihatan Shin, banyak memori berbekas disini dan untungnya, semuanya adalah kenangan manis. Shin duduk disini dan menikmati pemandangan serta suara gemericik air sungai cukup lama.


Ying Ai, dua kata yang membawa bermacam emosi dalam hidup Shin, wanita pertama yang bisa akrab dan dekat dengannya. Bagi dirinya tiga tahun yang lalu, konsep antara pria dan wanita masih tidak jelas, dia membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Namun kini, semua pemahamannya telah berubah, dua kata Ying Ai telah menjadi sangat penting dalam hidupnya, hingga posisinya setara dengan Hong Wei dan bahkan Feng Li.


Kala berpisah dengannya dia tidak terlalu bersedih karena punya waktu mempersiapkan diri sebelumnya. Namun tetap saja, rasa menusuk kalbu masih ada dan juga sangat kuat. Kali ini, dia akan melakukan perjalanan super panjang, menempuh jalan berduri, melewati genangan darah dan gunungan mayat, menjadi kebih kuat hanya untuk bertemu dengannya lagi. Shin memantapkan tekadnya disini dulu, dan melakukannya lagi disini sekarang.


Shin bangkit dan menuju pemberhentian terakhirnya, dia akan kembali ke rumahnya. Jarak antara dua tempat ini tidak jauh, setelah beberapa waktu berjalan, rumah panggung sederhana namun masih kokoh kembali di bidang pandangan Shin.


Kebiasaannya setiap pulang adalah menatap teras, mencari-cari Feng Li disana. Namun, sudah tidak ada lagi Feng Li didunia ini, hanya ada sebuah kursi kosong yang sangat damai, tenang, dan sunyi.


Shin menguatkan tekad dan berjalan memasuki wilayah rumah ini, halaman yang cukup luas membawa latihan keras bersamanya, barulah saat dia sampai pada teras rumah, perasaan nyeri muncul lagi tapi dia masih bisa tahan serta tidak peduli.


Shin masuk kedalam tanpa mengucapkan salam, dia menyusuri berbagai ruangan dari ruang makan hingga dapur yang setiap darinya, membawa kenangan tersendiri dalam hidupnya. Shin memilih pergi ke kamarnya sendiri untuk mengganti pakaiannya, Shin memilih menggunakan pakaian dengan dua set, dalamnya putih bersih dan luarnya juga putih bersih, sangat cocok dengan rambut dan auranya saat ini. Tanda bahwa dia sedang dalam keadaan berkabung.


"Rumah ini adalah warisan dari Grandmaster Yan Shen, sudah selayaknya aku menjaganya sepenuh dan tidak merubah penampilannya sedikitpun. Sebagai pengingat guruku, rumah ini akan kubiarkan saja." Kata Shin didalam rumah.


"Master, anda telah hidup lama di rumah ini, bahkan Aura anda sampai meresap di kayu rumah ini, ini menunjukan betapa pentingnya rumah ini bagi anda. Namun, sepertinya aku tidak akan kembali dalam waktu dekat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya dan nasib apa yang menungguku, aku juga tidak tahu."


Shin dengan berat melangkahkan kakinya keluar rumah ini, saat dia berada di halaman rumah dia berbalik dan menatap rumah ini untuk yang terakhir kalinya, meninggalkan tempatnya tumbuh dan berkembang, meninggalkan tempat tinggalnya sendiri dan meninggalkan, tempat dimana penyesalannya tertinggal.


"Sungguh tempat yang sangat berarti. Banyak kenangan tercipta pun juga dengan penyesalannya. Tetapi, meninggalkan rumah ini adalah langkah pertama menuju nasib yang mungkin lebih baik... selamat tinggal, Master. Semoga, kedamaian senantiasa menemani anda." Shin menangkupkan tangannya dan berbalik pergi, dia terbang kembali menuju tempat yang belum pernah ia tuju sebelumnya.


"Shen, kemana kita akan mengembara kali ini?" Kata Shin di udara.


"Kita akan ke utara. Pergi sejauh... puluhan ribu kilometer jauhnya dari sini. Menuju dunia luar yang kejam, yang memberikan berbagai kepedihan pada gurumu. Kau mau beberapa informasi?"


"Kita bicarakan saja itu nanti, aku masih ada budi yang harus dibalas."