
Shin bangun dan melakukan latihan fisik rutinnya bersama Ying Ai dan melanjutkan memukul guci berisi air.
Hari kedua....
Hari ketiga....
Shin masih belum bisa menghancurkan guci dengan air, puluhan kali Shin mengisi ulang guci sampai sungai seolah akan dikuras habis olehnya. "Ini tak ada gunanya, aku harus pikirkan cara lain!" Shin berhenti memukul air dan berpikir.
"Saat aku memukul air kekuatannya diredam oleh air. Aku tidak bisa menggunakan kekuatan pukulanku. Aku harus menggunakan air didalamnya untuk menghancurkannya!" Shin mengerti sedikit tentang cara menghancurkan guci, saat dia meninju air sebagian besar kekuatan dari tinju itu akan digunakan untuk menggerakkan air didalamnya, dengan ini Shin mencapai kesimpulan sederhana bahwa dia harus menggunakan air untuk menghancurkan guci bukan tinju untuk menghancurkan guci.
Shin keluar dari kondisi meditasinya dan mulai meninju air sekali lagi, dia mengeluarkan tinju terkuatnya tapi hasil yang diharapkan tidak muncul, semakin kuat tinjunya hanya akan menimbulkan percikan yang semakin besar, "Ada yang salah." Shin merasa ada yang salah dengan caranya ini, tapi apa?
Air dalam guci sudah hampir habis, Shin harus mengambil air ke sungai sekali lagi. Dia mengambil dua buah ember kayu yang tidak terlalu besar, kemudian dia berjalan menuju sungai yang sudah sering dia lewati sebelumnya.
Tak butuh waktu lama baginya sampai, sesampainya dia disini Shin segera menyeruk air sungai dan mengisi dua ember ditangannya penuh.
Shin tidak langsung kembali setelah mengambil air tapi malah mengaktifkan auranya dan mengaktifkan teknik kontrolnya. Hanya disinilah dia bisa dengan bebas menggunakan aura tanpa khawatir akan hukuman.
Saat Shin mengaktifkan Focussed Aura Control dan memukul sungai yang tenang cipratan yang ditimbulkan lebih sedikit. Dia merilis auranya dan memukul sungai lagi, cipratan yang disebabkan lebih banyak dan juga terbentuk sebuah riak air. Shin mengulang ini dan akhirnya mengerti kesalahannya, "Aku terlalu memfokuskan kekuatanku, kekuatan satu titik memang bagus dalam hal penetrasi tapi kurang dalam hal penghancuran!" Setelah mendapatkan pencerahannya dia bergegas kembali untuk membuktikan teorinya.
Shin akhirnya kembali kerumah dan memukul air lagi, bukan dengan tinjunya tapi dengan telapak tangannya.
Plak!
Air didalam guci menyebar ke segala arah, cipratan yang terbentuk di titik benturan sekarang terbentuk di sisi guci, "Aku sudah berhasil menemukan caranya, tapi sepertinya masih jauh untuk bisa menghancurkannya." Shin bahagia karena setelah ini dia tidak melakukan usaha sia-sia lagi. Feng Li yang melihat Shin mengubah caranya memukul air memasang senyum diwajahnya, "Bakat anak ini lebih tinggi dariku, dulu aku butuh waktu satu minggu untuk menghancurkannya. Aku ingin tahu dia butuh waktu berapa lama."
Disisi lain, Ying Ai masih bermeditasi guna mencari solusi, "Bagaimana api bisa tidak melelehkan lilin, yang namanya api kan pastinya panas, guru pasti hanya bercanda dengan ini." Ying Ai kesal karena masih belum bisa mencari solusi untuk bisa mengeluarkan api yang tak panas. "Tidak.. jangan berpikir seperti itu, jangan sampai aku kalah dengan juniorku sendiri!" Ying Ai melihat Shin yang sudah menemukan solusi untuk tugasnya, dulu dia juga diberi tugas yang sama dan butuh waktu empat hari, lebih lama satu hari daripada Shin. Ini jelas sudah membakar semangat tak mau kalah sebagai senior.
Ying Ai tidak mencoba membakar lilin lagi namun membakar sebuah ranting pohon, dengan kekuatannya ranting itu langsung terbakar, dia hanya menggunakan api kecil untuk membakarnya. Setelah beberapa lama akhirnya ranting itu berubah menjadi abu dan menghilang diterpa angin. Ying Ai masih belum mengerti dan akhirnya membakar satu ranting lagi, dia memberanikan diri menyentuh api yang membakar ranting itu, "Ouch." Ying Ai kesakitan karena api tapi dia tidak terluka karena resistensinya terhadap api tinggi.
Ying Ai mengeluarkan api dari tangannya, saat dia menyentuhnya tidak terasa panas sama sekali. "Api pada hakikatnya adalah panas." Itu adalah apa yang Ying Ai pahami sekarang. Dia melanjutkan kondisi meditasinya dan terus berpikir. Setelah meditasi satu jam Ying Ai mendapat pemahaman baru, "Api memang panas, tapi aku bisa membuat api sendiri. Dan api ini tidak terikat dari hukum apapun, api ini adalah milikku, bukan milik dunia ini. Saat ranting terbakar itu adalah api alami yang mengikuti hukum alam, tapi api ini hanya akan mengikuti kehendakku! Api ini tidak akan pernah menyakiti tuannya, api ini tidak akan pernah mengabaikan perintah tuannya, aku... adalah tuan dari api!" Ying Ai membuka matanya dan menatap api di tangannya dengan pemahaman yang berbeda, sebelumnya dia memperlakukan api hanya sebagai alat untuk bertarung tapi sekarang dia melihat api seperti seorang ratu pada rakyatnya. Ying Ai melempar apinya pada lilin tapi masih gagal, "Aku adalah tuanmu, turuti perintahku dan bakar lilin itu tanpa melelehkannya!" Ying Ai menatap lilin dengan fokus saat api menyelimutinya, tidak ada tanda-tanda meleleh atau cair saat api menyelimutinya. Api yang terbuat dari kekuatannya dengan patuh menerima perintah sang ratu, Ying Ai sangat senang dengan peningkatan ini, dia telah berhasil dalam tugas yang diberikan padanya.
Shin terus menyerang air dengan telapak tangannya tapi masih belum bisa memecahkannya, dia butuh semacam kekuatan baru untuk melakukannya, dia memikirkan aura tapi segera membuangnya jauh jauh karena takut pada hukuman Feng Li. Shin hanya bisa memikirkan satu cara yaitu menggunakan posisi terbaik untuk menyerang. Dia melakukan postur dasar bela diri kali ini dan mulai menyerang lagi.
"Berhasil!" Riak yang ditimbulkan jauh lebih kuat tapi masih saja belum cukup untuk bisa menghancurkannya. Setelah berpikir keras Shin berpikir tentang Focussed Aura Control, tapi sebuah teknik kontrol aura digunakan tanpa mengaktifkan aura? Hanya Shin yang bisa memikirkan cara aneh dan gila ini.
Shin mengingat-ingat perasaan saat menggunakan Focussed Aura Control dan menerapkannya langsung pada kekuatan dan ototnya tanpa mengaktifkan aura. Jelas ini berkali-kali jauh lebih sulit karena kekuatan murni manusia lebih sulit dipindahkan dan lebih kaku daripada aura yang bersifat fleksibel seperti air.
Sesuai namanya, tahap kedua ini sepenuhnya berbeda daripada yang pertama. Dengan tahap kedua ini dia bisa membagi fokusnya menjadi beberapa bagian secara sempurna. Pada bagian awal mungkin dia hanya bisa menggunakannya pada aura, namun seiring dengan perkembangannya dia bisa membagi fokus pikirannya. Menjadikannya sebagi multi tasker yang sempurna.
Hari sudah sore tapi Shin belum keluar dari kondisi meditasinya, Feng Li ingin membangunkan Shin tapi urung melakukannya karena tahu Shin sedang dalam masa kritis dalam pemahamannya, kegagalan dan kesuksesannya akan ditentukan dalam waktu menegangkan ini.
Shin melanjutkan meditasinya sampai malam hari dan Ying Ai khawatir dengan Shin, Feng Li langsung menenangkan muridnya dengan menjelaskan padanya. Feng Li masih duduk di teras rumah menunggu Shin membuka matanya, dia juga penasaran akan hasil apa yang akan diraihnya.
Shin akhirnya membuka matanya dan berjalan menuju guci, dengan Focussed Aura Control tahap kedua dia menyerang permukaan air di guci ini.
Prak!
Air dihantam dengan sebuah telapak tangan keras, telapak itu tidak mengirim tenaganya ke bawah tapi menyebarkannya secara merata ke segala arah, seluruh sisi guci bergetar karena aliran air yang kuat ini.
Creack!
Sebuah retakan kecil timbul di permukaan guci, Feng Li mengarahkan badannya kedepan dan melihat guci dengan tak percaya, "Hanya tiga hari! Potensi anak ini... aku tidak bisa membayangkannya lagi."
Shin sangat puas dengan hasil ini, terutama dia sangat puas dengan teknik kontrol dari ayahnya.
"Sekali lagi!" Shin mengambil ancang-ancang dan merapatkan jemarinya, dengan tapak terkuatnya Shin menyerang guci.
Prank!
Dengan suara yang keras, guci pecah tercerai-berai dan air didalamnya tumpah, membasahi Shin sebagai hadiah untuk kerja kerasnya.
"Aku lelah!" Setelah Shin menghancurkan guci dia langsung jatuh dan tidak sadarkan diri, Feng Li dan Ying Ai langsung mendekatinya dengan penuh khawatir.
"Guru, apa dia baik-baik saja?" Tanya Ying Ai ketika berada dibelakang Feng Li yang sedang memeriksa kondisi Shin.
"Dia hanya tertidur." Jawabnya lemah.
"Syukurlah!" Ying Ai menghela napas lega. Dalam suaranya ini dapat terdengar jelas jejak kebahagiaan.
"Apa kalian punya hubungan tertentu!?" Feng Li penasaran dengan pertumbuhan kedua murid kecilnya. Wajah Ying Ai memerah seperti rambutnya dan berkata, "J-jangan bercanda!!"