Lone Hero

Lone Hero
Focussed Pressure Blood Palm



Tidak rela dipanggil ayam oleh Shin, para bandit langsung memacu kuda mereka dan menyerang Shin, tebasan pedang dan tusukan tombak menyerang Shin dengan kejam namun bisa dengan mudah ditangkis oleh Shin. Ning'er mundur beberapa meter dari area pertarungan.


Setelah pertukaran singkat tadi para bandit memutuskan untuk turun dari kuda mereka, terlalu berbahaya bagi mereka karena Shin bisa dengan mudah menjatuhkan kuda mereka. Dengan pedang dan tombak ditangan para bandit berlari menerjang Shin. Sepuluh bandit menyerang Shin bersamaan. Sebuah hal yang cukup diekspektasikan oleh Shin, baik dirinya sendiri atau bandit-bandit ini, keduanya sama-sama tidak ingin banyak waktu terbuang.


Shin mengaktifkan Aura Asli dan Aura Tongkat, Shin memfokuskan seluruh Auranya ke senjata miliknya lalu melakukan ayunan secara mendatar. Segera, tekanan udara besar dan gelombang energi yang cukup kuat menyapu ke depan. Gelombang aura berwarna putih keemasan menuju kesepuluh bandit yang menerjang kearahnya ini.


Para bandit ini mengaktifkan Aura meteka sendiri dan melakukan serangan pada gelombang serangan ini. Secara mengejutkan ternyata kedua serangan ini setara. Dengan tongkat paling kuat di dunia dan dilatih oleh ahli dari para ahli tongkat membuat Shin tak tertandingi dalam hal ini. Paling tidak, penguasaan Shin dalam jalan tongkat adalah yang terbaik bahkan di seluruh Azure Sky Empire.


Dalam kondisi Battle Nirvana ini Shin tidak pernah merasa panik meski melawan seribu musuh sekalipun. Ketenangan dan fokus ini menyebabkan kontrol Shin terhadap Aura meningkat tajam. Shin tidak menunggu bandit menyerangnya lebih dulu, dia melesat ke depan dan mengayunkan tongkatnya dari atas.


Brak!


Satu bandit terpukul mundur puluhan meter dan akhirnya berhenti karena menabrak tebing. Shin selalu diudara saat melakukan serangan karena tinggi badannya, dia harus mendarat sebelum bisa melesat lagi. Kecepatan Shin melakukan Earth Step berkurang signifikan karena dia tidak menyerap Aura Bumi dan hanya mengggunakan Aura Asli. Sebuah kerugian yang datang dari medan tempur itu sendiri, kendati, Shin masih tetap yakin bisa menghabisi sepuluh bandit ini sendirian.


Shin sekarang berada ditengah-tengah serigala haus darah dan sangat rentan diserang. Shin memang menyerang bandit paling ujung karena paling aman namun tetap saja bandit disebelahnya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


 


Shin yang baru saja mendarat sudah menerima satu tebasan dari bandit disampingnya, Shin mengangkat tongkatnya dengan dua tangan dan menahan laju pedang ini, senjata keduanya terhenti dan Shin langsung menendang kaki bandit ini dan menjatuhkannya. Bandit ini kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang, Shin memegang ujung tongkat dengan dua tangan dan menyerang bandit yang jatuh ini dengan ayunan dari atas. Dia tidak sempat untuk menangkisnya, tanah dibawah bandit ini langsung retak dalam jarak dua meter. Darah menyembur dari mulutnya dan tidak ada yang tahu dia masih hidup atau tidak.


Dua bandit sudah dikalahkan dan delapan lainnya sudah menunggu giliran. Para bandit ini sedikit familiar dengan gerakan Shin ini.


"Kau adalah Sage! Tidak mungkin bocah Pembentukan sepertimu bisa memiliki kekuatan dan penguasaan jalan tongkat yang sedemikian rupa." Ekspresi terkejut mereka sangat wajar, para Sage adalah sosok kuat yang memiliki jasa besar dalam perang tak berkesudahan ini. Teknik tongkat mereka adalah yang terbaik diseluruh dunia dan tak ada yang bisa menirunya. Tapi mereka salah dalam satu hal.


"Salah, aku adalah penerus Grand Sage! Kalian sepertinya baru pertama kali mendengar hal itu kan? Wajar saja, kalian terlalu lemah dan tidak berguna untuk bisa mengenal sosok agung seperti dirinya!" Mereka memang tidak pernah mendengar Grand Sage ini dan hanya berpikir bahwa Shin hanya membual. Bahkan jika bocah didepannya adalah murid dari Great Sage mereka akan tetap membunuhnya. Wanita yang dilindunginya terlalu berharga dan langka. Setelah menikmati keindahan seperti itu bahkan jika mereka mati setelahnya... setidaknya mereka mati dalam keadaan bahagia.


Shin mengangkat tongkat dengan dua tangan dan mengarahkannya kebelakang setinggi lehernya sendiri. Delapan bandit lainnya telah mengepung Shin, menutup semua jalur pelariannya. Tongkat dibelakang dia arahkan dengan cepat dan kuat kedepan, menciptakan sebuah serangan yang sangat kuat. Bandit didepan Shin menahan dengan tombaknya namun tombak ini tidak kuasa menahan gempuran Shin dan langsung patah. Tongkat Shin tidak berhenti dan menampar kepala bandit ini dengan keras, dia berguling-guling kesamping dan langsung tidak sadarkan diri. Meski mereka jahat namun Shin tidak pernah membunuh siapapun, dia pikir bahwa setiap bentuk kehidupan masih bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik.


Celah terbuka dalam kepungan dan Shin melesat keluar dari celah itu. Namun Shin sepertinya melakukan langkah yang salah, dia menjadi lebih jauh dari Ning'er yang dijaganya. Bandit tidak menghiraukan Shin dan langsung menuju Ning'er. Sebagai Elemental es Ning'er bisa membuat semacam perlindungan, dia membuat sebuah penghalang es yang tebal dan menyembunyikan dirinya didalamnya. Meski lama kelamaan akan hancur juga tapi langkah ini telah memberi Shin waktu yang diperlukan.


"Beraninya kalian!! Pengecut yang bahkan tidak berani melawan seorang bocah tidak pernah layak untuk bisa menyentuhnya!" Shin menjadi sangat marah dan langsung mendekati bandit paling belakang.


Adapun bandit, mereka sama sekali tidak peduli dan tidak menghiraukan semua ocehan Shin, bahkan pada dasarnya mereka sama sekali tidak mendengarnya berbicara. Biar kekuatan dahsyat Shin sudah dipertontonkan, mereka masih tetap tidak peduli.


Dalam sekejap Shin sudah berada dekat dengan para bandit yang tersisa dan seketika juga mengayunkan tongkat dari samping dengan sangat kuat dan ganas. Tanpa ampun dan berisikan sebagian Auranya sendiri.


Krak!


Seorang bandit yang tidak beruntung secara menyedihkan terkena serangn ini. Suara patah tulang bahkan terdengar dengan jelas, apakah hanya tulang rusuk atau sampai tulang belakang, hanya tuhan yang tahu.


Mendengar suara patah tulang ini keenam bandit sisanya menoleh kebelakang, ekspresi mereka menjadi sangat buruk, mereka melihat Shin seolah Asura yang keluar dari gunung mayat meski dia tidak pernah membunuh. Raja Yama didepan mereka membenarkan posisi tongkatnya dan sudah siap membantai sekali lagi.


Mereka tidak mengincar Ning'er sekarang, ancaman didepan mereka tidak akan membiarkan mereka menyentuh target mereka.


Saat mereka berlari, bau darah yang pekat tercium, daerah sekitar Shin menjadi semerah darah. Semua darah ini berkumpul dan menjadi telapak tangan darah yang tampak sangat keji dan ganas.


Bulu kuduk bandit merinding melihat tapak darah didepan mereka. Insting mereka mengatakan bahwa mereka harus segera lari kalau tidak konsekuensinya akan tidak terbayangkan. Mereka bersiap mundur namun tubuh mereka menjadi sangat berat, seolah ada sebuah gunung menggantung di atas tubuh mereka.


"Focussed Pressure Blood Palm!!" Itulah nama dari combo dua skill tingkat tinggi ini. Serangan yang kuat dan tidak bisa dihindari ini bisa membunuh beberapa musuh sekaligus.


Tapak darah turun dengan ganas dan para bandit yang tidak bisa bergerak memasang wajah memelas, berharap belas kasihan dari Raja Yama didepannya. Mereka berusaha mengedarkan aura membentuk pertahanan namun percuma, tapak darah sudah didepan.


LEDAKAN!


Ledakan keras terdengar dari jarak satu meter, kabut darah menyelimuti daerah tabrakan, setelah sepuluh menit kabut akhirnya memudar dan menyisakan lubang yang dalam. Para bandit yang terkena serangan telak telah terhapus dari dunia ini tanpa mayat satupun !!!


"A-Aku membunuh mereka!! Bagaimana ini... mereka, telah mati dengan kedua tanganku sendiri!" Shin sangat terkejut dengan kuatnya serangan ini dan fakta bahwa dia telah membunuh. Ini adalah pengalaman pertamanya membunuh, dia merasa perutnya sangat mual, perasaan bersalah yang sangat, timbul di kepalanya.


"Harusnya aku tidak menggunakan jurus ini... meski mereka hanyalah proyeksi tapi mereka masih manusia! Kenapa.... KENAPA !!!" Shin meninju tanah dengan pasrah, dia muntah-muntah setelah ini. Ning'er mencairkan esnya dan keluar dari tempat berlindung.


Dia mendekati Shin yang berlutut dan berkata dengan lembut, "Terima kasih." Senyumannya terhalang oleh cadarnya namun pesona miliknya tidak akan pernah terhalang, suara miliknya bagai musik terindah didunia, meski hanya dua kata itu adalah yang paling indah yang pernah didengar Shin. Namun kondisi Shin saat ini menyebabkannya tidak bisa dengan jelas mendengar suara indah ini.


Shin mengeluarkan semua isi perutnya dan berangsur-angsur pulih setelah sepuluh menit, namun rasa mual dan traumanya akibat membunuh masih ada meski akan pulih dengan cepat.


"Ah, dimana Wang Yan!?" Shin kemudian ingat dengan dia yang dengan sukarela membunuh ketua dari bandit ini, sepuluh ahli Pembentukan Akhir bahkan tidak sebanding dengan satu ahli Duniawi Awal. Shin yang khawatir mulai mencari Wang Yan dengan matanya, dia melihat keatas tebing namun tidak ada orang disana.


"Saudara Shin, kau sedang mencari kemana? Aku sudah ada disini! Meski pertarungannya cukup intens... aku masih bisa keluar sebagaj pemenang!" Wang Yan telah kembali. Dia tampak terluka banyak sekali dan langkahnya sangat berat, napasnya tidak beraturan dan Auranya sangat lemah. Dia pasti sudah mengalami pertarungan hidup dan mati yang intens, Shin merasa menyesal karena telah mengizinkannya tadi.


"Situasi masih berbahaya, kita harus menuju sisi lain hutan secepatnya!" Meski Wang Yan terluka parah, Shin terpaksa memaksanya melakukan perjalanan karena situasi ini. Wang Yan mengerti dan melanjutkan perjalanan kembali, untungnya tidak ada bahaya berarti saat melanjutkan perjalanan.


Setelah setengah jam lebih berjalan mereka berhenti di sebuah tanah datar dan memulihkan luka-luka mereka.


"Bagaimana caramu mengalahkan dia Wang Yan? Sangat jarang bisa mengalahkan seorang ahli Duniawi." Shin hanya ingin tahu trik apa yang digunakan oleh Wang Yan.


"Hehe, aku menggunakan ini di akhir pertempuran." Wang Yan mengeluarkan sebuah kristal berwarna merah dari kantungnya, kristal ini sangat cerah dan seperti sebuah matahari kecil, udara disekitarnya juga memanas.


"Apa ini? Apakah dengan benda ini kau bisa menang sebelumnya?" Kristal yang aneh ini menimbulkan rasa penasaran Shin.


"Ini disebut Kristal Api, jika diaktifkan ini menimbulkan ledakan yang kuat, namun butuh waktu untuk itu. Aku juga hanya punya dua, aku gunakan satu tadi. Jika meleset maka musuhku akan menjadi waspada dan aku akan kalah, aku beruntung dia lengah pada saat-saat terakhir. Efek ledakannya juga bisa mengenai penggunanya jadi aku harus hati-hati." Item hebat dengan resiko yang tidak kalah hebat juga.


"Lebih baik kita melanjutkan perjalanan besok, terlalu bahaya jika kita tidak dalam kondisi terbaik." Wang Yan dan Ning'er setuju, pendapat Shin sebagai pengawal mereka memang sangat masuk akal.


Dengan ini, secara resmi mereka telah masuk kedalam area tengah Hutan Kematian.