
Keesokan harinya Ying Ai masih sakit dan harus beristirahat seharian penuh. Feng Li memanggil seorang tabib dan mengatakan bahwa Ying Ai terkena hawa dingin yang menumpuk, tidak perlu obat atau herbal khusus untuk menyembuhkannya. Hanya karena Ying Ai elemental api jadi dia harus istirahat seharian. Shin merasa lega dengan ini, dan seperti janji Feng Li, Shin akan memilih senjata yang cocok untuknya.
Dihalaman rumah.
Feng Li mengeluarkan sebuah rak senjata dari cincin penyimpanannya, didalamnya ada berbagai jenis senjata dengan jumlah total lebih dari seratus senjata didalamnya. Yang paling lemah diantaranya bahkan harta duniawi kelas rendah. Pedang, tombak, busur, dan kapak berjejer dengan rapi di rak tersebut. Penyimpanan seorang ahli master berkali-kali lipat lebih berharga daripada penyimpanan sebuah faksi disini. Bisa mengumpulkan ratusan harta tingkat tinggi tidak berada dalam jarak yang bahkan Cabang Klan Suo mampu.
"Memilih senjata bukan hal yang mudah, kau harus menentukan pilihanmu untuk seumur hidup. Jangan sampai kau menyesal karena sudah salah memilih senjata. Pilihlah yang paling cocok denganmu bukan yang paling kuat. Senjata hanya sebuah alat, dan alat tidak bisa menyerang sendiri. Kau harus memiliki hati yang bisa menyatu dengan senjata pilihanmu." Setiap ahli pasti akan memilih senjata mereka sendiri, namun seringkali senjata mereka tidak cocok dan malah menghambat perkembangan kekuatannya sendiri. Biasanya seseorang hanya akan memilih satu jenis senjata dan kebanyakan pilihan mereka adalah senjata jarak dekat, sangat jarang orang memilih busur dan panah sebagai senjata mereka.
Ada lima buah kayu besi yang digunakan sebagai target latihan Shin kali ini, atau lebih tepatnya alat untuk percobaan senjata Shin. Untuk kesan pertama serta pandangan sekilas tentang senjata yang dipilihnya. Shin memulai dengan mengambil sebuah pedang dengan dua mata, bilahnya berwarna perak dan lurus layaknya anak panah. Sebuah pedang yang merupakan harta tingkat duniawi. Shin berjalan mendekati salah satu kayu besi dan langsung menebas menggunakan pedang ini.
Dentang!
Sebagai harta duniawi pastinya memiliki ketajaman dan kekuatan yang diluar nalar Shin, tapi saat dia mencoba menyerang dengan itu Shin merasa tidak akan bisa mengeluarkan bahkan sepuluh persen potensinya. Kerusakan yang harusnya bisa membelah dua kayu besi, hanya menjadi goresan yang dalam. Jauh dari standar awal sebuah harta duniawi.
"Pedang memang tidak cocok denganku." Pernyataannya kali ini pasti akan ada banyak yang menentang, secara pedang adalah senjata yang paling mudah untuk "digunakan". Bahkan jika kau adalah pengguna tombak, hanya sekedar menggunakan pedang bukanlah hal yang sulit. Tapi setiap ahli adalah unik, mungkin Shin memang tidak cocok dengan pedang.
Shin lalu mencoba senjata lain dan menyerang targetnya lagi. Senjatanya kali ini adalah sebuah tombak. Dengan ujung yang datar dan cukup panjang, memiliki kekuatan yang jauh dari pedang sebelumnya walau tingkatan antara keduanya adalah sama. Ini tak terlepas dari karakteristik kedua senjata ini.
Tombak memiliku jangkauan yang lebih jauh daripada pedang atau tangan kosong, namun serangan yang bisa dilakukannya yang sangat terbatas dan menggunakannya pun lebih sulit. Tapi kekurangan ini tidak dihiraukan banyak ahli karena kekuatannya, jauh lebih superior daripada pedang biasa.
Panjang tombak yang dipilih Shin bahkan setinggi dirinya sendiri sehingga Shin cukup kesulitan memakainya. Shin lalu mengarahkan dan menusuk kayu besi dengan tombak di tangannya. Lagi-lagi, tombak ini tidak cocok untuknya.
"Tombak ini terlalu tidak bervariasi dan sulit dikendalikan. Ukurannya terlalu besar untuk saat ini, tapi di masa depan juga aku tidak akan menggunakannya."
Shin terus mencoba senjata lainnya, busur, kapak hingga cambuk dia coba satu persatu. Tapi nihil, semua senjata itu tidak ada yang cocok dengannya. Shin sudah terlalu nyaman menggunakan tubuhnya sebagai senjata, untuk batasan tubuh fisik Shin sudah tidak khawatir lagi karena sebentar lagi dia bisa mempelajari Nine Purgatory Body. Namun khawatir masih ada dikepalanya, syarat divine flame ini terlalu ketat, mungkin seumur hidupnya dia hanya bisa menemukan yang ini saja. Untuk itu dia harus menemukan senjata yang cocok untuknya.
"Master, apa tidak ada yang lain lagi?" Seluruh senjata di rak sudah dicobanya, jika ada yang lain dia akan senang hati mencobanya.
"Ada satu, aku tidak menyimpannya di rak. Nilai historis dan nilai dari senjata itu terlalu penting."
Tanpa basa-basi lagi Feng Li langsung mengeluarkan sebuah tongkat kayu dari cincin penyimpanannya, sebuah tongkat berwarna coklat dengan permukaan yang sangat halus dan mulus berada digenggamannya. Feng Li terlihat sangat berbeda saat memegang tongkat ini. Aura gagah perkasa dan tak terkalahkan memancar dari dalam dirinya. Tongkat yang sangat mulus ini tampak seperti sebuah tongkat biasa, namun ke-biasaannya ini membawa sebuah perasaan kagum dan hormat, senjata seperti ini seakan telah melewati ribuan pertarungan dan darah namun tetap mempertahankan kesuciannya. Ribuan nyawa mungkin sudah melayang dengan tongkat ini namun tidak ada darah atau aura kekejaman terpancar darinya. Ini seperti sebuah senjata suci dari surga dan hanya bisa digunakan para malaikat. Kesucian yang tak tertandingi ini sangat memanjakan hati yang melihatnya.
"Sepertinya ini bukan senjata biasa kan master?" Aura suci dan kebajikan darinya bahkan telah menyentuh hati Shin. Asal-usul dari benda ini pasti tidak akan biasa saja.
"Itu adalah senjata para sage pada zaman kuno, guruku mendapat warisan mereka dan senjata itu. Tongkat ini terbuat dari Paramita Divine Wood yang merupakan benda paling kuat di dunia. Bahkan dengan serangan terkuat milikku tidak ada bekas goresan sedikitpun diatasnya, meski sangat kuat tapi aku sangat jarang memakainya. Aku takut telah mencemari kesucian dari benda ini. Aku tidak tahu harta aura tingkat apa benda ini tapi itu pasti sangat tinggi." Feng Li menjelaskan.
"Master bilang kayu itu tidak bisa dihancurkan lalu kenapa bisa menjadi tongkat ini?" Sebuah pertanyaan yang terdengar konyol namun masuk akal.
"Seperti namanya, Paramita Divine Wood adalah perwujudan dari kesempurnaan dan selalu menjadi sempurna. Saat ditemukan para sage, kayu ilahi ini langsung berubah menjadi tongkat ini. Wujud tongkat ini dinilainya sebagai bentuk yang paling sempurna. Untuk bisa mengeluarkan potensi pwnuh dari item ini kau harus menjalani ujian dari kehendak para sage. Dulu aku menjalaninya tapi gagal, jangan harap aku akan memberitahumu ujian yang kualami!" (Paramita\=kesempurnaan)
"Kau bahkan boleh memilikinya. Item ini akan jadi sia-sia saja jika berada ditanganku. Mungkin saja kau bisa lulus dari ujian mereka."
Feng Li menyerahkan item berharga ini pada Shin. Shin merasa kagum saat memegang item ini, saat dia memegangnya ukurannya langsung menyusut hingga sempurna untuk tubuhnya, aura suci yang memancar darinya bahkan membuat Shin terlena.
"Tongkat ini memang sempurna, para sage itu pasti orang yang terkenal di zaman kuno. Tapi mereka juga manusia yang tak bisa melawan takdir, sekuat apapun mereka kematian pasti akan datang." Shin memberi penghormatan pada para sage yang memiliki tongkat ini sebelumnya, aura suci benda ini pasti tidak akan berbeda jauh dengan mereka.
Shin memegang tongkat dengan kedua tangannya, dia mengangkat tongkat tinggi-tinggi dan tangannya berada di ujung tongkat itu.
Brak!
Tongkat diayunkan ke depan dan kayu besi langsung tercerai berai. Shin mengembalikan posisi tongkat itu dan menusuk kayu besi kedua, sebuah lubang sempurna langsung terbentuk di kayu itu.
Shin menuju kayu ketiga dan menyapu secara horizontal, kayu besi langsung retak dan terbelah dua. Shin mengangkat tongkat dengan satu tangan dan langsung melemparnya seperti tombak. Kayu besi langsung ditembus seperti tahu.
Shin terkagum-kagum dengan kekuatan dari benda ini, lebih dari itu dia senang karena tongkat cocok untuknya.
"Benda ini mudah dikendalikan, variasi serangan dan pertahanannya juga tidak terbatas. Jika aku punya benda ini saat kompetisi perburuan membunuh sepuluh silverback wolf juga bukan masalah."
"Bagaimana menurutmu Shin? Apa kau mau memilihnya sebagai senjatamu kedepannya?
"Aku akan mengambil item ini master!" Tentu saja dia akan mengambilnya, selain karena tongkat ini memang sangat kuat, Shin juga merasa sangat cocok dengan senjata ini. Bukan pilihan yang buruk untuk jadi ahli tongkat dan martial artist sekaligus.
"Kau akhirnya mengakhiri penyesalanku yang satu ini. Aku khawatir pewaris para sage akan berakhir di tanganku." Feng Li menghela napas lega untuk beberapa hal, kemudian dia mengeluarkan sebuah benda dari cincin penyimpanannya.
Sebuah buku yang sangat usang dan kuno muncul di tangannya, aura kuno dan suci bercampur dan membuatnya sangat megah. Buku yang tampak usang ini masih tetap mempertahankan bentuknya seolah tak ingin hilang dari dunia ini. Atau lebih tepatnya, tidak akan membiarkan dirinya sendiri hilang, karena buku ini tidak boleh hilang. Keberadaannya terlalu penting untuk dunia ini.
"Ini adalah buku Great Sage Art yang ditemukan guruku. Ada teknik tongkat dan seni kultivasi didalamnya. Ingat ini Shin, segala teknik atau benda yang berasal dari era kuno pasti menyebabkan pertarungan untuk memilikinya, kau harus hati-hati saat di daerah selatan nanti. Sembunyikan token yang kudapatkan di pelelangan baik-baik. Tiga Klan Besar dan Keluarga Imperial pasti akan mengirim perwakilan mereka ditambah individu kuat yang tak terhitung jumlahnya. Bukan tidak mungkin ada token yang lain, dan kalau kalian tidak bisa mengalahkan lawan, mundur bukanlah hal yang memalukan. Nyawa kalian lebih penting daripada warisan atau harta apapun!" Feng Li memberikan buku Great Sage Art pada Shin. Menerima dua item agung dalam sehari menyebabkan Shin sangat senang, tapi dia masih sangat ragu tentang ujian yang akan dialaminya nanti.
Setelah penyerahan ini Shin mencoba menguasai Dark Blood Palm dari Suo Yao.
Porsi latihan Shin selama 6 bulan kedepan sedikit berbeda dari sebelumnya. Pada pagi sampai sore, Shin berlatih Dark Blood Palm dan tongkat miliknya dan pada sore sampai malam Shin akan meditasi sepenuhnya. Shin tidak mengkultivasi Great Sage Art karena diberitahu Feng Li bahwa ada semacam ujian juga didalamnya, ditambah dengan ujian senjata Shin merasa bingung harus melakukannya kapan. Akhirnya dia memilih mempelajari Dark Blood Palm lebih dulu karena lebih mudah.
Tak lupa sparringnya dengan Feng Li masih terus dilakukan, dengan tongkat biasa tentunya. Keahlian tongkat Feng Li memang tidak setinggi bela dirinya tapi tetap saja itu masih sangat ahli. Tubuh Shin banyak yang kemerahan karena serangan Feng Li, tangannya lecet karena memegang tongkat terus menerus.
Shin tidak tahu siapa itu para sage atau apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana sosok kuat seperti mereka mati. Tapi rasa hormatnya pada mereka sebanding dengan rasa hormat pada gurunya, jika bisa Shin ingin melihat sosok mereka dan menjadi salah satu dari mereka.