My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 99



Sesampainya di rumah,Alvi segera masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan diri,ia terhentak saat sepasang tangan melingkar indah dari balik punggungnya saat ia asyik mengguyur tubuhnya di bawah shower,mengusap perut buncitnya dengan sangat lembut sambil menciumi leher dan pundaknya." Aku sangat merindukan mu." bisik Al dengan suara berat.


Alvi tersenyum lalu membalikan badannya,kini Meraka sudah saling berhadapan,Alvi mengalungkan tangannya ke leher sang suami,di balik guyuran air


Ia melihat dengan jelas gairah yang terpancar dari mata suaminya itu,tidak menunggu lama Al meraih tengkuk sang istri lalu menyambar bibir yang nampak menggoda,Alvipun membalasnya dengan senang hati,mareka masih saling berpaut dengan tubuh polos tanpa sehelai benang,saling memberi kehangatan, semakin lama semakin panas,hingga tidak menunggu waktu lama Al langsung menggendong istrinya itu ala bridal style lalu membawanya ke tempat tidur.


Al melanjutkan aksinya,******* habis bibir mungil pujaan hatinya itu dengan buas,tidak sampai di situ leher dan dua gunung kembarnya pun tidak luput dari jajahanya,membuat desiran darah mengalir hingga Avi menggeliat dan ******* pun keluar dari mulutnya.


" Aaaakkhh....Bii." desahnya,menikmati sentuhan dari sang suami yang telah menghujaninya dengan beberapa kecupan hingga meninggalkan jejak di leher dan dadanya.


" Ayo Bi !!" desahnya lagi dengan wajah memerah menahan sesuatu yang harus segera di tuntaskan.


Dengan senang hati Al pun menurutinya,memasukan burung unta yang sedari tadi meraung raung memintanya untuk segera masuk ke dalam sarangnya.


"Hmmmm..." Alvi mengigit bibir bawahnya dengan mata terpejam,ketika burung unta menerobos masuk ke dalam sarangnya.


Tak hanya itu, kini Burung untanya pun di biarkan berkeliaran keluar masuk dengan hati hati karena tidak ingin melukai bayi yang menghuni rahim sang istri.


Hingga lenguhan pun terdengar dari keduanya setelah si burung unta puas dan memuntahkan semua cairan.


" Terimakasih sayang." Al mengecup kening Alvi lalu mengusap peluh yang menetes deras dari dahi hingga lehernya.


Alvi membalasnya dengan anggukan kepala.Lalu mereka kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri .


Setelah itu Alvi segera menunaikan shalat ashar,sementara Al duduk si sebuah sofa berukuran panjang yang masih berada di dalam kamar sambil memainkan ponselnya karena ia telah lebih dulu menunaikan shalat berjamaah sebelum pulang dari rumah Umi tadi.


" Sayang ada yang ingin aku sampaikan padamu." ucap Al setelah melihat Alvi membereskan alat shalatnya.Ia lalu memepuk ruang di sebelahnya meminta Alvi untuk segera menghampirinya.


" Apa Bi?" Alvi menghampiri Al dan duduk di sebelahnya.


" Aku ingin membawamu untuk menemui seseorang besok,tapi aku harap kamu bisa mengendalikan emosimu." ujarnya lagi dengan tatapan serius.


" Kemana?" Alvi mengerutkan keningnya,hingga alisnya terpaut sempurna.


" Kamu akan mengetahuinya besok,tapi kamu harus janji dulu kamu harus menahan emosimu,jangan sampai membahayakan keselamatan anak anak kita." ujar Al dengan telunjuk yang terangkat di hadapan wajah Alvi


" Iya deh,aku janji." Alvi meraih telunjuk itu dan mengigitnya dengan gemas.


" Aaawww." teriak Al yang langsung menarik tangannya lalu mengibaskanya beberapa kali.


" Sayang jangan bilang kalo kamu ngidam dan ingin memakan jariku."


Alvi terbahak,lalu mencubit kedua pipi unta arabnya itu dengan gemas.


" Aku memang sangat ingin memakanmu." ujarnya sambil mengecup sekilas bibir Al.


*


*


*


*


Sebuah rumah beratap jerami dengan dinding bambu yang terlihat sangat kumuh.


"Rumah siapa ini Bi?jangan bilang kalo ini pondok yang aku minta." tanya Alvi ketika mereka sampai di pekarangan rumah tersebut.


" Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Satria yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.


" Kita coba saja dulu." balas Al ragu,lalu iapun mengetuk pintu rumah tersebut.


Tidak menunggu lama penghuni rumah itupun membukakan pintu dan alangkah terkejutnya dia,pria yang mengaku telah mencelakai bapak menunduk tidak berani mengangkat wajahnya di hadapan ketiga orang itu.


" Bi siapa dia?" lagi lagi Alvi bertanya sambil menatap heran.


" Dia orang yang telah mencelakai bapak." sahut Satria.


Seketika Alvi bergeming,matanya mulai berkabut,tangannya terkepal hingga giginya bemertak.


" Maaf ,maafkan Aku." pria itu berlutut sambil memeluk kaki Alvi, sontak membuat Al melayangkan tinjuanya yang tepat mengenai pipi pria itu hingga tersungkur.


" Jangan berani berani menyentuh istriku!!" ujarnya.


" Ampun,tolong ampuni aku." tubuh pria itu bergetar, berusaha untuk bangkit,masih dengan posisi berlutut pria itu perlahan mundur,saat Alvi mendekatinya dan langsung melayangkan tamparannya.


" Bapak ku salah apa,sampai kamu berbuat seperti itu?" bentak Alvi.


" Maaf aku terpaksa melakukannya karena aku membutuhkan biaya untuk pengobatan istriku."


" Siapa orang yang menyuruhmu?berapa uang yang kamu terima?aku akan membayarnya sepuluh kali lipat asal kau bisa mengembalikan bapak ku."


" Sayang hentikan,kita akan menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin,jika perlu kita akan membawanya ke kantor polisi." Al menarik tangan Alvi berusaha menemangkannya, namun Alvi malah menepisnya.


" Maafkan aku,aku memang salah,tolong ampuni aku,aku sudah membayar semua atas kesalahanku,aku sudah menerima pembalasan atas apa yang sudah aku perbuat,hidupku tidak tenang,aku selalu di hantui rasa bersalah,jangan jebloskan aku ke penjara,anak anak ku masih kecil ,mereka tidak mempunyai siapa siapa lagi selain aku," pria itu menundukan kepala sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


" Apa dengan meminta maaf kamu bisa mengembalikan seorang ayah kepada anaknya,mengembalikan seorang suami kepada istrinya,mengembalikan seorang kakek kepada cucunya?" teriak Alvi sambil menarik rambut pria itu dengan sangat kuat.


" Bapak!!!!" teriak dari kedua anak laki laki berusia enam tahun dan empat tahun,tanpa di sadari mereka telah melihat kejadian di mana Al dan Alvi menamparnya,anak anak itupun langsung menghampiri orang tuanya yang kini nampak berlutut tak berdaya dengan luka di sekitar wajahnya.


" Jangan sakiti Bapak ku." lirih seorang anak yang lebih tua sambil berusaha melindungi orangtuanya.


Melihat hal itu Al langsung menyuruh Satria untuk membawa kedua anak itu,agar tidak menyaksikan apa yang di lakukan Alvi pada orang tuanya,anak kecil itu meronta ronta dalam gendongan Satria.


" Aku mohon jangan sakiti anak anakku,mereka tidak bersalah." lirih pria itu lagi,sambil berusaha melepaskan diri ketika Alvi lengah dan melepaskan cengkramanya.


Alvi dan Al masih memperhatikan Satria yang membawa kedua anak itu keluar untuk menjauh,ada perasaan iba dalam benaknya ketika melihatnya histeris memanggil orangtuanya.


namun tiba tiba pria itu menyambar sebuah gunting yang tergeletak tak jauh darinya,lalu dengan cepat ia menancapkanya di perut Alvi,membuat ibu hamil itu teriak sambil memegang perutnya yang telah bercucuran darah.


" Sayang!!!" teriak Al saat melihat Alvi ambruk ke lantai.


Satria langsung melepaskan gendongannya ketika mendengar teriakan Al.


Al segera membawanya ke rumah sakit, sementara Satria langsung mengamankan pria tersebut dan membawanya ke kantor polisi.