My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 21



"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baiknya perhiasan dunia adalah istri sholehah." ( HR muslim dari Abdullah bin amr)


Acara makan pun selesai,kami kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.


" Kenapa kita ke sini?" tanya ku saat sudah sampai di depan gerbang pondok pesantren milik si Unta Arab.


" Lu kan udah nikah sama bang ustadz, jadi sebagai istri yang baik lu harus ikut dimana pun suami lu tinggal." jawab Citra seolah menggoda ku.


" Kayaknya kamu yang lebih faham soal menikah." ucap unta Arab itu pada Citra.


" Faham dikit dikit bang." jawab Citra seraya menundukan kepalanya.


" Sudah saatnya juga kamu menikah."


" Belum ada jodohnya bang." lirih Citra dengan polosnya.


Unta Arab itu pun terkekeh menanggapi ucapan polos dari Citra.


Kami semua turun dari mobil itu, seketika gerbang itu terbuka lebar, kami di sambut oleh ribuan penghuni tempat itu. Beberapa orang dari mereka menyambut kami dengan memainkan alat musik rebana sambil bershalawat.


Ku lihat di ujung sana semua keluarga besar kami sudah ada, mereka menyambut kami dengan tersenyum.


" Selamat datang Nak." wanita paruh baya yang baru beberapa hari aku kenal menyambut dan memeluk ku.


Di ikuti juga dengan mbak Zahra.


" Selamat datang adik ipar." sambutnya, dan entah kenapa setelah melihatnya aku menjadi sedikit ilfill.


" Maaf ya Neng,ibu gak bisa jemput kamu, ibu sibuk ngurusin sodara sodara kita yang hadir di pernikahan kamu. Tadi mereka baru saja pulang." Ibu ku menghampiri seraya memeluk ku.


" Ya udah yuk masuk,kalian pasti cape." ajak wanita paruh baya,yang ku tau dia adalah ibu dari si unta Arab.Yang di panggil Umi oleh semua penghuni di tempat ini.


Kami masuk ke sebuah rumah yang terlihat cukup luas tapi tidak semewah rumah mbak Zahra yang pernah aku masuki.


" Sekarang kalian berdua tinggal di sini,maaf ya, rumahnya belum sepenuhnya jadi ." Umi berbicara padaku dengan sangat lembut.


Kami semua berbincang cukup lama, mengenalkan beberapa pelaturan dan kebiasaan di pondok pesantren mewah itu.


Tidak lama setelah itu keluarga ku pun pamit pulang,menyisakan aku sendiri seperti orang asing di sana, bagaikan anak kucing yang sengaja di buang di tengah keramaian.


" Aku gak mau satu kamar sama kamu." ucap ku setelah masuk kamar , dan memastikan tidak ada lagi orang di rumah itu selain aku dan dia.


"Tapi di rumah ini cuma ada satu kamar."


"Ya udah,aku tidur di ruang depan aja."


" Jangan, biar aku saja yang tidur di sana,kamu tidur di sini tapi ingat jangan pernah kunci pintunya karena ini masih kamar ku, dan semua kebutuhan ku ada di kamar ini." ucappria itu dengan penuh penekanan dan mau tidak mau aku harus menyutujuinya.


" Tapi biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk."


" Emang kenapa? ini kan kamar ku." protesnya, aku pun hanya diam tidak bisa menjawabnya.


*


*


*


*


Beberapa hari setelah acara pernikahan aku masih terkurung di tempat itu,tanpa melakukan apa apa, aku hanya berusaha untuk bisa keluar dari tempat itu dengan cara membuatnya meresa jengkel,marah bahkan jika dia menamparku aku akan dengan senang hati menerimanya,dengan begitu aku punya alasan untuk bisa bercerai dari nya.


Namun usaha ku gagal total, dia sama sekali tidak pernah marah walaupun aku sudah membuatnya kesal.Dia masih memperlakukan ku dengan baik,dia membiarkan ku berbuat semau ku di tempat itu,dan sesekali mengingatkan ku untuk makan , shalat dan menutup aurat dengan benar.


"Kamu mau kemana?" tanya nya,setelah melihatku sudah berpakaian rapih.


" Kamu istri ku,kemanapun kamu pergi aku harus tau."


" Aku nikah sama kamu,bukan berarti aku mau jadi istri kamu, jangan pernah mengatur atau melarang ku."


" Baik lah,kalo begitu ganti pakaian mu,aku sudah menyiapkanya di lemari baju."


" Emang ada apa dengan pakaian ku?" aku memperhatikan pakaian casual yang biasa aku pakai, tidak ada yang salah dan tentu saja sangat stylis.


"Kaum laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.Karena allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki laki) atas sebagian yang lain ( wanita) . Dan karena mereka ( laki laki) telah menafkahkan harta mereka maka wanita yang shalihah ialah mereka yang taat kepada allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada,menurut apa yang allah kehendaki." ( QS : Annisa 34)


" Ya ya ya.."mau tidak mau aku menurutinya sebelum mendengar lebih banyak lagi ceramahnya.


Aku pun mencari pakaian yang dia maksud.


" Pakaian macam apa ini." lirih ku saat melihat gamis syar'i yang banyak tersimpan di lemari pakaian. " Sejak kapan pakaian ni ada di sini?" gumam ku, tanpa pikir panjang akupun langsung memakainya.


" Kalo gini kan cantik." godanya, setelah melihat aku keluar dengan memakai pakaian yang dia minta.


" Aku mau ke toko." ucap ku dengan ketus.


" Tunggu, apa boleh aku mengantar mu?" karena tidak ada kendaraan yang bisa ku pakai, dengan terpaksa aku pun menerima tawarannya.


" Aku akan menjemput mu nanti." ucapnya setelah kita sampai di depan toko kue ku.


" Gak usah,aku bisa pulang sendiri." aku pun keluar tanpa mendengar protes darinya.


" Assalamu'alaikum uhkti." Citra menghampiri ku dengan senyum mengembang yang bagiku sangat menggelikan.


" Apaan sih lu."


" Bukanya jawab malah nyolot." gerutunya.


" Wa'alaikum salam." jawab ku seraya mendaratkan bokongku di kursi kebesaran ku.


" Penganti baru makin cantik aja, aura nya makin terpancar." ucap Rini yang memandang ku tanpa berkedip, aku pun hanya menggelengkan kepala merasa jengah.


" Oh ya teh, selama teh Alvi gak masuk hampir tiap hari ada yang nelpon ke sini nanyain teteh." karena toko yang masih sepi, Rini masih bisa bersantai dan duduk di sebelah ku.


" Siapa?"


" Gak tau,dari suaranya sih kayaknya orang sama."


"Cewek apa cowok."


" Cowok." jawabnya, aku pun sempat berfikir siapa orang yang di maksud Rini.


Tiba tiba suara telpon dari meja ku berbunyi membuyarkan fikiran ku.Dan aku pun segera mengangkatnya.


" Assalamu'alaikum." sapa ku seperti biasa


" Wa'alaikum salam. Bisa bicara dengan Alvi."


" Iya , saya sendiri,ini siapa?"


" Bisa temui aku, di taman dekat alun alun kota."


" Maaf aku sibuk." aku pun menutup panggilannya secara sepihak


" Alun alun kota kan jauh banget dari sini." gumam ku dalam hati.


" Siapa teh?" Tanya Rini yang sedari tadi memperhatikan ku.


" Gak tau orang iseng aja kali." ucap ku dengan asal, aku pun kembali pada pekerjaan ku dan tidak mengharaukan panggilan barusan.