My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 84



Setelah kepergian Al ,Alvi kembali masuk ke dalam rumah,tidak ada yang bisa ia kerjakan saat itu, hanya menonton film dan memainkan ponsel,semua itu sangat membosankan


Ia pun berniat untuk pergi mengunjungi toko sekedar menghilangkan penatnya,ketika masuk kamar hendak Mengganti pakaian,ia melihat barang berharga milik suaminya yang terginggal.Sebuah dompet yang berisi beberapa kartu dan surat kendaraan.Iapun segera menghubungi sang suami,bagaimana bisa suaminya pergi tanpa membawa barang penting seperti ini.


Ia mengambil gawainya lalu melakukan video call pada sang suami. Nampak jelas wajah tampan itu di layar handphone,setelah sambungannya terangkat.


"Assalamualaikum,,ada apa sayang? kangen ya?" padahal belum ada dua jam loh aku tinggalin." goda Al.


" Wa'alaikumsalam Bi, kamu lagi dimana?" tanya Alvi. sambil memicingkan mata menelisik sambil memperhatikan tempat yang Al datangi sekarang.Ibu hamil itu melihat suaminya sedang duduk di kursi kayu.


" Aku masih di rumah Satria,kenapa?"


" Mana bang Satrianya?" mulai curiga.


" Ya Allah sayang,sejak kapan kamu mulai posesif gitu? Satria masih di kamar,memang ada perlu apa?"


" Tunjukan dulu batang hidungnya." titah Alvi ,Al pun menuruti perintah sang istri ,ketika Satria keluar dari kamar Al langsung mengarahkan ponselnya ke Satria hanya menyorot bagian hidungnya saja.


Sampai layar di ponsel Alvi tertutup semua oleh gambar hidung Satria.


" Kamu sudah lihat kan batang hidungnya?"


" Iya Bi, maaf.Aku kira kamu sedang di warung kopi di temani Mbak mbak cantik." ibu hamil itu pun terkekeh merasa tidak enak.


" Kamu ini ada ada saja,ya sudah kalo begitu Aku pergi dulu ya." pamit Al namun Alvi langsung mencegahnya.


" Jangan dulu Bi,apa kamu melupakan sesuatu?"


Terlihat Al sedang memikirkan sesuatu.


Lalu ia meraba raba kantong celananya.


" Hmmmm,,,apa ya?" Al malah balik bertanya.


" Dompet." sahut Satria dengan yakin.


" Ah iya benar,dompet ku tertinggal sayang." Al cengengesan.


" Kamu ini gimana sih Bi,belum tua tua banget udah pikun." Alvi menggerutu.


" Ya sudah ,kamu tunggu di situ ya,biar aku antarkan." pinta Alvi.


" Emang kamu tau rumah Satria?" tanya Al ragu.


" Tidak,tapi Citra tau,aku akan minta Citra untuk mengantarnya.


" Ya sudah kalo begitu,hati hati ya,aku tunggu di sini."


Mereka menutup sambungan telepon nya. Lalu Alvi segera menghubungi sahabatnya itu, setelah mendengar permintaan Alvi ,Citra dengan semangat 45 langsung mengiyakan walaupun kini ia sedang di sibukan dengan pekerjaannya,tugas mengantar pesenan para pelanggan ia alihkan pada salah satu karyawannya.Ia hanya membawa beberapa bungkus kue yang di pesen Mbak Zahra tempo hari.


***


Tidak lama Citra sudah berada di depan rumah Alvi,sebelumnya ia mengantarkan pesanan Mbak Zahra terlebih dahulu.


Ia hanya membunyikan klakson dari halaman rumah,tanpa turun dari motornya.


" Assalamualaikum Al....Alvi...." teriaknya beberapa kali.


Alvi pun keluar dengan sedikit berlari. " Sabar dikit bisa gak." sahut Alvi.Citra pun hanya terkekeh .


Setelah itu mereka berangkat.


Jarak rumah bang Satria tidak terlalu jauh,Alvi antusias dengan pemandangan di sepanjang perjalanannya,menyusuri jalan setapak yang mungkin hanya muat untuk satu atau dua kendaraan bermotor saja,para pengendara motor yang membawa sayur hasil panen pun terlihat lalu lalang,tidak jarang mereka harus mengalah memberi jalan pada pengendara lain agar perjalanan tetap lancar ,hamparan kebun sayur dan buah yang segar begitu memanjakan indra penglihatannya,mengirup oksigen dalam dalam lalu menghempaskannya," Paru paru gue bisa sehat kalo setiap hari menghirup udara segar tanpa polusi seperti ini " ucap Alvi.


kabut tebal masih terlihat walaupun hari sudah terang.


" Pastinya." balas Citra.


" Lu yakin lewat jalan sini?" Alvi terlihat ragu saat Citra berbelok memasuki perkebunan, dengan jalan yang lebih sempit dari sebelumnya.


" Yakin ,Lu tenang aja."


" Tapi bagaimana bisa suami gue ke sini dengan membawa mobil,jalananya saja sempit begini." cicit Alvi.


" Mungkin terbang." tebak Citra seenaknya yang langsung mendapat pukulan dari belakang .


" Itu mobilnya, gue bilang juga apa ,laki lu ke sini di bawa terbang pake karpet ajaib sama jin peliharaannya." ucap Citra setelah sampai di pekarangan rumah Satria,sambil menunjuk sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sedang terparkir cantik di sana.


" Sembarangan,emang laki gue Aladin." sungut Alvi kesal.


Al tersenyum di ambang pintu menyambut kedatangan istrinya.


" Kalian sampai juga." Al merentangkan tangannya untuk menyambut sang istri.Namun Alvi malah menghiraukannya,pemandangan di depan matanya lebih menarik dan mampu menyihir siapa pun yang melihatnya. kebun sayur dan buah tumbuh dengan subur mengelilingi pondok kayu yang jauh dari kata mewah itu,namun bisa membuat siapa saja yang berada di sana merasa nyaman.


" Sayang aku di sini." cicit Al,


Citra masih saja terlihat salah tingkah dengan kelakuan sahabatnya itu walaupun bukan pertama kali ia melihatnya,sementara Satria masih cuek sambil memainkan gawainya pura pura tidak melihat.


" Dasar pasangan gak ada akhlak." lirih Citra.


"Ekhemm.."Satria berdehem ,membuat pasangan suami istri itu melepaskan pelukannya.


" Istri lu pasti capek,sebaiknya kalian duduk dulu." titah Satria.Setelah itu ia masuk ke dalam menyuruh Bu Sukma untuk membuatkan minuman.


Sambil menunggu minuman , Mereka duduk di kursi kayu yang berada di luar,Alvi duduk sebelah suaminya,netra masih tertuju pada hamparan kebun yang daunya seakan melambai lambai meminta ia untuk menghampirinya. Hatinya sudah meronta ronta.Rasanya ingin sekali ia berlari dan mengacak semua pohon sayur itu.


" Sayang kau lihat apa sih?" tanya Al kesal .


Karena sejak tadi Alvi tidak memperhatikannya.


" Enggak lihat apa apa kok Bi,tadi kamu kesini lewat mana?Jalannya kan sempit." tanya Alvi gelagapan ,ia takut unta arabnya marah.


" Aku lewat jalan lain." jawab Al singkat.


" Hmmmm,,,Bi perkebunan ini milik siapa?" tanya Alvi lagi ,


" Tanahnya milik Satria,tapi dia membiarkan warga sini yang mengolahnya,menanam sayuran itu di sini,jadi mereka bebas mengambil sayuran di sini sesuka mereka." jelas Al ,Alvi mengangguk sambil mencerna apa yang suaminya katakan.


" Hmmmm,,Bi boleh gak aku minta sesuatu dari kamu." ucap Alvi.


" Boleh ,memangnya kamu mau minta apa?" Al mengusap lembut kepala sang istri dengan penuh cinta .


" bagaimana kalo aku dan Citra tinggal di sini selama kamu pergi ." tutur Alvi terlihat ragu.


Alis Al terpaut sempurna ,ia mengerutkan keningnya,menatap Alvi penuh tanda tanya.


" Memangnya kenapa?" tanya Al.


" Aku suka tinggal di sini,pemandangan di sini membuatku nyaman dan tenang,aku bosan diam di rumah terus,hanya melihat dinding tembok di kiri dan kanannya." jelas Alvi sambil merengek seperti anak kecil yang meminta di belikan mainan.Al yang melihatnya merasa tidak tega untuk menolak permintaanya,walaupun ia sendiri merasa keberatan.


" Aku sih boleh saja,tapi kita harus meminta izin pada pemilik rumah." Al melirik Satria,ia mengedipkan mata pada Satria berkali kali,memberi isyarat agar Satria tidak mengizinkannya.


" Ya sudah ,kalian boleh tinggal di sini,tapi dengan satu syarat." ucap Satria.


" Syarat apa?" jawab Alvi dan Citra bersamaan.


" Kalian harus bersikap baik,tidak boleh mengganggu dan mengusik keberadaan mereka,jangan membuat mereka tidak nyaman." ucap Satria dengan penuh ancaman.


" Mereka siapa?" tanya Citra penasaran.


" Di sana ada sosok wanita berambut panjang dengan gaun putihnya,dan di sana ada sosok anak kecil yang menyakai ibu hamil,di sana juga ada sosok hitam tinggi dengan bulu yang lebat." jelas Satria sambil menunjuk setiap sudut rumahnya.


" Dan kau juga harus hati hati dengan makhluk itu,dia bisa merubah wujudnya sebagai seseorang yang dekat dengan kita,bisa saja dia berubah wujudnya menyerupai Al,aku tidak bisa bayangkan jika kau memeluk atau menciumnya." Satria menunjuk Alvi sambil berkidik,berusaha memasang wajah seperti sedang ketakutan,berharap dua gadis itu mengurungkan niatnya.


" Dan aku tau dia tidak akan mengganggu mu, karena dia tau tidak ada pria yang sedang dekat dengan mu." menunjuk ke arah Citra seraya mencibir.


" Sok tau,siapa bilang aku tidak sedang dekat dengan pria." protes Citra tak terima.


Alvi tersenyum sambil mengangguk dengan yakin,ia akan memenuhi syarat yang Satria berikan.


" Ya sudah,kalo cuma itu syaratnya kami siap,iya kan Cit." tanyanya pada Citra dan langsung di setujui oleh Citra.


" Sayang kamu yakin berani tinggal di sini." Al memastikan .


" Iya Bi,kenapa kita harus takut,mereka memang ada di mana mana,dan hidup berdampingan dengan kita,selagi kita tidak menggangu ,mereka juga tidak akan mengganggu." jawab Alvi yakin.Mau tidak mau Al pun mengalah ,ia mengizinkan istrinya untuk tetap tinggal di rumah Satria selama ia pergi.


" Ya sudah hati hati jaga diri baik baik,jangan lupa makan siang."


" Siap Bos." bals. Alvi dengan cepat.


Sebelum pergi Terlihat Satria berbicara pada Bu Sukma ,entah apa yang mereka bicarakan,wanita paruh baya itu hanya membalas dengan anggukan kepala dan sedikit membungkukkan badanya.


Mobil pun perlahan mulai bergerak.


" Hati hati my hubby.." teriak Alvi sambil melambaikan tangan dengan senyum yang merekah dari bibirnya.


"Dia terlihat senang sekali ,baru pertama kali aku melihatnya tersenyum seperti itu saat mengantarkan aku pergi ,padahal waktu aku meninggalkan dia di rumah wajahnya sangat murung." gumam Al.


" Kamu gimana sih, kenapa malah mengizinkan mereka tinggal di sini." ucap Al terlihat kesal.


" Aku kira mereka akan takut ." balas Satria dengan wajah yang dinginnya.


-


-


-


Haii guys duo al Dateng lagi,terimakasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya,,kasih dukungan dan vote juga seikhlasnya..Love you All...