
Setelah semua siap Citra, Alvi dan juga Al bergegas hendak pergi ke kebun strawberry milik bapak, yang memang tak jauh dari tempat tinggalnya.Lama sudah Alvi tidak menginjakan kakinya ke sana,tidak ada yang berbeda,semuanya terlihat sama seperti terakhir Alvi ke sana,gubuk kayu,bahkan untaian bunga dan akar liar yang pernah Alvi dan Citra sulap menjadi mahkota masih tersimpan di sana,namun tentunya sudah tidak berbentuk seperti semula.
Alvi tersenyum , netranya menatap jauh pada hamparan kebun yang lumayan cukup luas.
Ia pun mulai memetik buah favoritnya itu di temani Citra dan juga Al. Hingga tak terasa terik matahari sudah berada di atas kepala.
Al mengajak dua gadis itu untuk berteduh di gubuk kayu yang dulu senjaga bapak dirikan untuk kedua anak gadisnya agar tidak kepanasan saat nemenaninya memanen.
Alvi duduk bersebelahan dengan suaminya,sambil mencicipi buah hasil panennya, gadis itu terus menceritakan kenangannya bersama bapak di sana.
" Apa kamu tau Bi, bapak sengaja menanam buah strawberry ini hanya karena kami,kami suka banget makan buah ini,sampai sampai kami pernah nangis hanya karena ingin membeli buah ini yang kebetulan di jual di dalam mobil pick up,dan bodohnya kami ingin beli satu mobil itu sekaligus." ucap Alvi dengan senyum getirnya.
" Untung kalian gak minta di beliin mobilnya juga." timpal Al ,berusaha menghibur istrinya itu . Alvi pun tersenyum dan melanjutkan ceritanya lagi.
" Dulu kami berdua sering main di sini,berlari ke sana kemari sampai semua pohon strawberry itu hancur karena sudah kami injak,tapi bapak sama sekali tidak marah, bapak hanya menegur kami untuk tidak berlari, sekarang aku faham kenapa bapak menegur kami hanya karena kami berlari,bapak tidak ingin kami terjatuh dan luka." air mata yang berusaha ia bendung lolos begitu saja,Alvi kembali terisak. Al segera mendekapnya berusaha menenangkan istrinya itu .
sedangkan Citra yang duduk sedikit menjauh dari mereka hanya bisa mendengar apa yang Alvi ceritakan.Senyum getir pun terukir di bibir mungilnya, Perasaannya ikut hancur mengingat semua kenangannya bersama Bapak, kebahagiaan yang Alvi rasakan ikut ia rasakan juga, Walaupun ia tidak pernah mengenal orang tuanya sejak kecil,namun ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang orang tua,kerena orang tua Alvi selalu ada untuknya,Mata nya pun mulai berkaca kaca namun dengan sekuat tenaga ia menahannya,ia pun memalingkan wajah sambil menyandar pada tiang gubuk tersebut.
Saat itu juga, dari samping sebuah tangan terulur dengan sapu tangan dalam genggamannya, Citra tersentak sambil mengerutkan keningnya ia memutar kepala hendak melihat siapa pemilik tangan tersebut.
Citra pun tersenyum saat melihat siapa gerangan ,pangeran tampan sang pujaan hati yang selalu terlihat kaku dan menakutkan.Namun tidak mengurangi kharismatik dan ketampanannya.
" Aku gak butuh sapu tangan." ucap Citra cuek.
" Aku hanya kasihan sama kamu,di saat yang lain menangis ada yang mengapus air matanya, kamu sendiri hanya bersandar pada tiang." ledek Satria masih dengan muka kaku nya,namun dalam hati ia terbahak apalagi saat melihat wajah Citra yang merah ,terlihat sangat menggemaskan. Entah sejak kapan ia senang menggoda gadis yang selama ini menginginkannya.
" Sayangnya aku gak nangis, jadi aku gak butuh orang untuk menghapus air mata ku." entah kenapa juga Citra menjadi cuek,namun dalam hati ia begitu senang,bagai terdapat ribuan kupu kupu yang menari dalam hatinya.
Satria berdecih sambil menyunggingkan sedikit bibirnya.
" Entah kenapa aku ingin sekali melihat mu menangis seperti kemarin."
Citra terbahak, sampai memegangi perutnya. Al dan Alvi sampai di buat terperangah oleh nya.
" Kenapa? aku bukan duyung yang menangis langsung menghasilkan mutiara." ucap Citra sambil terus terbahak.
Satria hanya diam memperhatikan gadis di hadapannya,ia di buat penasaran dengan perasaan dari gadis itu,yang selalu terlihat caria dan tidak pernah menampakan kesedihan nya pada siapa pun. Sungguh acting nya sangat luar biasa.
Alvi pun tersenyum melihat kedekatan mereka, sepertinya Citra sudah mampu menjinakkan singa jantannya.
Karena tidak ingin menganggu, Alvi mengajak sang suami untuk kembali ke kebun,Namun Al segera menolaknya, Al memang senjaga menyuruh Satria ke sini untuk sesuatu yang penting,bukan untuk mendekatkan nya pada Citra.
" Apa yang bikin Lu ketawa kayak gitu?" tanya Alvi pada Citra dengan penuh rasa penasaran, setelah dua pria tampan itu menjauh dari mereka.
Sementara itu pertanyaan yang sama di lontarkan juga oleh Al pada Satria.
" Gue cuma nyuruh dia nangis." jawab Satria dengan santai.
bagitu juga dengan Citra.
" BangSat nyuruh gue nangis."
Al mengerutkan kening nya, sambil menatap sahabatnya dengan tatapan menelisik.
" Kenapa Lu nyuruh dia nangis,di saat gue repot repot menenangkan istri gue agar tidak menangis,lu malah nyuruh orang lain untuk nangis."
Satria pun hanya menyunggingkan senyum sinisnya.
" Cuma gue yang tau alasannya." ucap Satria sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Al pun hanya menggelengkan kepala,menyadari otaknya memang tidak akan mampu menebak apa yang ada di fikiran sang mantan detektif. Rencana yang Satria rancang memang selalu di luar nalar akal sehat manusia biasa.
Sementara itu,Alvi pun tak kalah bingungnya, mendengar jawaban Citra yang di suruh menangis oleh Satria.
" Kenapa Bang Satria nyuruh Lu nangis?" tanya Alvi,Citra mengangkat bahunya."Gue juga gak tau."
Citra menceritakan kebahagiaan nya pada Alvi dengan antusias,di saat BangSat menemui dirinya di rumahnya kemarin. Alvi pun tersenyum sambil memeluk sahabatnya itu.
" Kayaknya sianga jantan lu udah sedikit jinak." ucap Alvi. Citra pun mengangguk dengan cepat.
" Gue harap sih begitu."
Mereka pun tertawa bersama melupakan kesedihan yang selalu membebaninya untuk sesaat.
*
*
*
Votenya mana nih guys,tolong kasih dukungan buat thornya,dan Thor ucapin banyak terima kasih sama reader yang selalu setia nunggu up-nya,jika berkenan mampir juga di satu karya Thor . judulnya" Tokek cantik kesayangan mommy." pembacanya masih sedikit ....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜