
pagi menjelang,sayup sayup terdengar suara gaduh dari luar,ibu mengetuk pintu rumah Citra berkali kali,sambil memanggil mana gadis itu.
Segera ia bangun lalu membukakan pintu,mata merah yang sembab masih terasa berat tepaksa harus ia buka.
" Ada apa Bu? tumben pagi pagi udah gedor gedor." ucapnya sambil menguap.
"Cit ,mbak Siva sudah mau melahirkan,bisa tolong Bang Fatur anterin Mbak Siva ke rumah sakit." pinta ibu.
" Mbak Siva mau lahiran?" tanyanya, memastikan.
"Ya sudah ibu tunggu dulu,Citra mau ganti baju dulu." ujarnya lagi.
mendengar kabar bahwa Mbak Siva sudah merasakan kontraksi,dengan cepat ia mengganti pakaian hendak membantu membawanya ke rumah sakit tanpa membersihkan diri terlebih dulu.
Kalang kabut saat melihat Mbak Siva meringis kesakitan sambil memegang perutnya,mangatur nafas karena rasa mules yang semakin lama semakin tak tertahan lagi,air ketuban bercampur darah mengucur dari pangkal pahanya.
" Ayok Bang,tunggu apa lagi?" tanya Citra sedikit meninggikan suaranya pada Bang Fatur.
" Abang sudah memanggil ambulance,tunggu sebentar lagi."
Ambulance yang di pesan Bang Fatur baru saja tiba,Citra dan bang Fatur segera memapahnya masuk ke dalam ambulance tersebut di ikuti oleh ibu.
" Citra pake motor saja." ucapnya.
Setelah itu ambulance yang membawa Mbak Siva langsung melesat tanpa hambatan karena Citra mengawal dari depan,meminta para pengendara lain untuk memberi jalan.
Sesampainya di rumah sakit,ia segera memanggil para tenaga medis agar mbak Siva segera mendapat pertolongan.
Gadis itu terkulai lemas sambil mendaratkan bokongnya di kursi panjang yang telah di siapkan pihak rumah sakit,lalu menghubungi sahabatnya.
Alvi yang sedang membantu Bi Marni memasak di dapur umum langsung menghentikan aktivitas nya.
" Aku harus segera ke sana." gumamnya.
Melihat sang suaminya yang masih sibuk mengajar,membuatnya tidak enak diam,ia terus mondar mandir di teras rumahnya sambil menunggu suaminya.
" Kenapa lama sekali."gumamnya, kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Rasanya putaran jam berjalan sangat lambat.
Lagi lagi ia menghubungi Citra menanyakan keadaan kakak iparnya,wajahnnya kembali terlihat begitu panik saat mendengar bahwa sang kakak perlu di tangani lebih lanjut,karena posisi bayi sungsang.
Tidak bisa menunggu lebih lama lagi,iapun bertekat untuk pergi sendiri,menggunakan motor miliknya,tanpa memberi tahu suaminya terlebih dahulu,karena tidak ingin mengganggu proses belajar mengajar, dan kalaupun ia meminta izin sudah pasti Al tidak akan mengizinkannya.
Alvi dengan segera meninggalkan pondok pesantren itu,mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, jiwa emak emak penguasa jalan kini kembali meronta ronta,rasanya sudah lama sekali ia tidak ugal ugalan.
Tidak menunggu waktu lama,Alvi sampai di rumah sakit dengan selamat,ia lalu berjalan menuju ruangan yang sudah Citra beritahukan sebelumnya dengan sedikit tergesa gesa.
" Al jangan lari !! " Citra yang mengetahui kedatangan sahabat nya itu langsung berdiri menghampiri sahabatnya itu dan membawanya ke tempat duduk.
" Lu gimana sih,pake lari lari segala,kalo perut lu loncat gimana?" gerutunya lagi sambil memegang perut buncit sahabatnya itu.
" Tenang aja perut gue permanen jadi gak bakal lepas,gimana kondisi Mbak Siva?" tanyanya dengan wajah panik.
" Masih di dalam." Citra menunjuk sebuah ruang operasi.
" Lalu ibu dan Bang Fatur?"
" Ibu lagi ngurus administrasi ,Bang Fatur ikut menemani mbak Siva di dalam." jelasnya.
Al yang baru selesai mengajar langsung pulang menuju rumahnya,ia mengerutkan kening ketika mendapati rumah yang terlihat sunyi,tidak ada tanda tanda kehidupan di dalamnya.
Sampai di teras rumah ia mendapati ponsel milik istrinya yang tergeletak di atas meja luar.
" Assalamualaikum,,sayang." sapanya setelah masuk ke dalam rumah,tidak ada sahutan,satu persatu ruangan ia tadangi namun ia sama sekali tidak menemukan istrinya itu.
Kembali ke luar ,terlihat sudah tidak ada motor di sana.Al mengusap wajahnya dengan kasar,lalu ia membuka ponsel istrinya itu dan akhirnya ia menemukan titik terang dimana istrinya berada.
" Kenapa dia tidak memberitahuku." gumamnya. dan dengan segera iapun menyusulnya.
" Sayang!!!!" Al berlari menghampiri istrinya dengan perasaan kesal.
Avi yang sedang duduk bersama Citra menoleh saat terdengar suara seseorang yang di kenalnya.
" Bi,kenapa kamu tau aku ada di sini?" tanya Alvi.
" Ponsel mu tertinggal." Al menyerahkan ponsel tersebut dengan wajah yang tidak bersahabat
" Aku lupa, makasih ya Bi."
" Lain kali jika kamu mau pergi izin dulu sama aku." Al menatap Alvi dengan sorot mata yang tajam,menahan kekesalan.Alvi menundukan kepalanya tidak berani membalas tatapan itu.
" Maaf Bi,aku tidak mau mengganggu mu." lirihnya dengan suara tercekak.
" Aku sudah menunggumu lama di rumah,tapi kamu tidak juga datang,aku sudah khawatir dengan keadaan mbak Siva." tambahnya lagi,kini air mata yang berusaha ia tahan akhirnya lolos juga.
Al menarik tubuh istrinya itu,lalu mendekapnya,ia mengusap punggung Alvi berusaha menenangkan sang istri yang semakin terisak.
" Aku memang salah ,tapi tidak seharusnya kamu membentak ku seperti itu di tempat umum seperti ini." ucapnya lagi.
" Apa? kapan aku membentaknya?" protesnya dalam hati.
" Bukannya dia yang salah,tapi kenapa malah jadi aku yang di salahkan." lagi lagi bergumam di dalam hati .
" Maaf sayang,aku hanya khawatir,seharusnya kamu bilang sama aku,aku akan mengantarmu ke sini,aku tidak mau terjadi apa apa sama kamu." jelasnya.
" Maaf aku sudah membentakmu tadi."lirihnya.
Tangisnya pun mereda,Al mengusap air mata yang masih tersisa di pipi istrinya itu.
" Jangan di ulangi lagi ya." pintanya,Alvi pun mengangguk.
Citra masih duduk bersender dengan memejamkan mata, sama sekali tidak tertarik dengan drama di hadapannya,tidur menjelang subuh membuatnya menguap beberapa kali,terlihat jelas lingkaran hitam di sekitar matanya.
" Bagaimana kondisi Mbak Siva?" tanya Al setelah memastikan istrinya tenang.
" Masih di ruang oprasi." jawab Alvi.
" Kalo gitu kita makan dulu ya,kamu pasti belum makan kan dari tadi?" Al mengajak istrinya ke kantin rumah sakit.
Alvi mengangguk,ia mengajak Citra untuk ikut bersamanya,namun Citra hanya menggelengkan kepala tanpa membuka matanya.
" Lu makan duluan aja Al,gue belum laper." ucapnya.
" Ya udah,kalo ada apa apa hubungi gue ya."
Ucap Alvi sebelum meninggalkan sahabatnya itu.
Tidak lama setelah itu, seorang pria ikut duduk di sebelahnya,ia meletakan sebuah bungkusan plastik ke pangkuan Citra.
Gadis itu menyadarinya ,namun masih enggan untuk membuka mata,ia hanya meraba bungkusan itu dengan tangannya,terdapat sebuah botol minuman serta beberapa bungkus roti.
Gadis itu mengerutkan keningnya lalu perlahan dengan berat hati memaksakan untuk terjaga.
Melirik seseorang di sebelahnya,sontak ia mengucek matanya beberapa kali memastikan Indra penglihatannya.
" Gue gak lagi mimpi kan?" gumamnya.
" Apa ini?" tanyanya setelah memastikan bahwa itu memang kenyataan,sambil memperlihatkan bungkusan yang di terimanya dari pria tersebut.
" Kamu bisa melihatnya kan."
" Kamu sengaja membawakan ini untuk ku?" tersenyum girang,mata yang tadinya sayu terlihat segar seketika.
" Jangan berfikir yang macam macam,aku terlalu banyak membelinya,sayang kalau harus di buang." ucap pria itu santai
Citra menarik nafas dalam dalam lalu menghempaskannya dengan kasar.
" Kalo begitu kenapa tidak berikan saja pada orang lain." Citra beranjak hendak memberikan bungkusan tersebut pada orang lain ,namun Satria mencegahnya.
" Jangan berikan pada orang lain."
" Kenapa?" tanya Citra penasaran.
" Aku ingin kamu yang memakannya."
" Kenapa aku harus memakannya,ini roti dari toko ku kan,aku sudah sering mencobanya."
" Aku ingin kamu mencobanya sekali lagi,roti ini tidak enak,tidak pantas di perjual belikan." protes Satria sambil mengacungkan sebuah roti yang ada di tangannya.
" Yang benar saja." Citra tidak terima ,ia duduk kembali sambil membuka bungkusan roti tersebut lalu memakannya,satu gigitan sudah ia makan,tidak ada yang salah fikirnya,kembali mengigit memastikan bahwa memang tidak ada yang salah sampai satu bungkus roti pun berhasil ia habiskan.
" Apanya yang tidak enak?" protesnya ,ia melihat roti milik Satria yang baru habis beberapa gigitan,lalu meraihnya dari genggaman Satria dan tanpa permisi ia mengigit roti tersebut.
" Rasanya sama,tapi kayaknya punya bangSat lebih enak." mengigit lagi roti yang di genggam Satria.
" Apa mungkin karena di suapi." Citra terkekeh.
Satria menyunggingkan senyum sinis,ia ingin mengigit rotinya lagi ,namun kali ini Citra melarangnya.
" Jangan di gigit." ujarnya .
" Kenapa?"
" Ini bekas gigitan ku,kalo bangSat mengigitnya itu tandanya kita sudah...." Citra tidak menyelesaikan omongannya.Namun Satria sudah bisa menebak.
" Berciuman ?" tebaknya.
Citra menundukan kepala ,wajahnya telah berubah menjadi merah.
Satria terkekeh sambil menggelengkan kepala,"bukannya sebelumnya kamu juga mengigit roti bekas gigitan ku."
Citra kembali mengangkat kepalanya,benar juga,bisa bisanya ia berfikiran seperti itu.
"lagian mana ada ciuman dengan cara seperti itu." Satria terbahak melihat Citra yang salah tingkah.
" Apa kamu mau tau cara berciuman dengan benar." goda Satria.
Tanpa mendapat jawaban dari Citra, Satria perlahan mendekatkan wajahnya,Citra hanya mematung sambil membulatkan mata,jarak antara keduanya kini hanya beberapa centi saja, sontak Citra memutup matanya dengan cepat, Satria tergelak sambil mendorong kening Citra ke belakang. " Jangan berharap yang macam macam." ucapnya sambil terus tergelak.
Satria belum menyadari perasaannya,Namun Jarak yang di buatnya kini perlahan semakin terkikis.