
Satria kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa dan tidak habis fikir oleh sikapnya sendiri,seolah menjadi rapuh tak berdaya di saat melihat orang terkasihnya menderita.
Ia terus menerus merutuki kebodohan akan sikapnya, sangat pantas jika di juluki wajah batu berhati tahu.
" Kamu tidak apa apa?" tanya Citra seraya memperhatikan wajah sang suami yang nampak segitu kusut macam kertas kas bon.
"Tidak apa apa." sahut Satria sambil merebahkan tubuhnya.
" Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan tadi?" Citra ikut terbaring,wajahnya menatap lekat pada sang suami.
" Apa aku terlihat bercanda?" balas Satria sambil membalas tatapannya.
Citra menggelengkan kepala dengan cepat,air matanya menetes begitu saja.
" Jadi kamu sudah menerima ku?" tanya Citra tak percaya.
" Hmmm..." Satria tersenyum sambil meraih tubuh kecil istrinya itu dan membawanya ke dalam pelukanya.
" Terimakasih,aku sangat bahagia." ucap Citra sambil membalas dekapannya
"Coba pukul aku!!" titah Citra membuat Satria terperanjat.
" Apa maksudmu?" tanya Satria heran.
" aku masih tidak percaya dengan semua ini,coba pukul aku, aku harap tidak sedang bermimpi?" ujarnya lagi seraya membawa tangan Satria untuk menyentuh pipinya.
" Untuk memberi kenikmatan saja aku tidak bisa,apalagi harus memukul mu." lirih Satria dengan lemas, sikap brutal dan arogan nya lenyap seketika saat berhadapan dengan istrinya itu.
" Apa itu mu sakit?" tanya Satria seraya meraba bagian bawah Citra.
" Iya." sahut Citra sambil menepis tangan nakal suaminya itu.
" Itu artinya kamu tidak bermimpi."
" Jadi, tadi kita benar benar melakukannya?" tanya Citra seolah tidak menyadari semua yang telah tejadi beberapa saat lalu.
" Kita belum melakukannya dengan benar." jawab Satria sambil memejamkan matanya.
" Mau di ulang lagi?" goda Citra sambil menaik turunkan alisnya,membuat Satria terkekeh.
" Jangan coba coba menggodaku,sebaiknya kamu belajar dulu untuk bisa menahan sakit dari serangan adik kecil ku." Satria mengeratkan dekapannya.
" Baiklah,maafkan aku karena sudah mengecewakan mu." lirih Citra sambil merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.
" Tidak apa apa,kita masih punya banyak waktu." Satria mengecup kening Citra dengan sangat lembut sebelum mereka sama sama memejamkan mata menuju alam bawah sadar.
Satria dan Citra tertidur pulas,tanpa melepaskan pelukannya,saling memberi kehangatan satu sama lain.
Kini Satria sudah menerima kehadiran Citra,pria itu akhirnya bisa berbagi kamar dan tempat tinggal dengan ikhlas,bukan hanya itu saja,melainkan apa yang ia miliki kini hak istrinya juga.
Hidupnya pun mulai berubah,canda dan tawa selalu mengiringi setiap langkahnya,kehadiran Citra memberi warna tersendiri baginya,sejak saat itu,Pria kaku itu baru menyadari bahwa sebuah pernikahan memang sangat penting bagi setiap insan.
Kehadiran seorang pendamping bukan hanya sekedar teman hidup,melainkan teman untuk membagi rasa suka dan duka.
Berjalan bersama mengarungi mahligai rumah tangga berharap ridha dariNya.
******
Setelah kejadian itu,Satria semakin bersikap aneh,bahkan Citrapun di buat kesal olehnya,bagaimana tidak,pria itu selalu menempel padanya bak lem tikus.
" Jangan dulu peluk peluk,badan mu masih basah." protes Citra sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan beruang kutub yang sudah berhasil ia jinakan itu.
Kemudian ia Membawa suaminya itu untuk duduk di atas meja makan.
" Bang!! sudah lepaskan dulu pelukanya."lagi lagi Citra di buat risih ,karena suaminya itu masih bergelayut manja di pinggangnya,ketika ia membantu mengeringkan rambut Satria.
Citra tersenyum malu,melirik Bu Sukma yang berada di antara mereka.Wajahnya memelas seolah berkata." Bu,tolong bantu aku." tanpa mengeluarkan suara.
" Kamu kenapa?" Citra merasa gemas,kemudian ia mengangkat wajah suaminya itu agar menengadah menatapnya.
" Tidak apa apa." sahut Satria sambil menggelengkan kepala seperti anak kecil yang tengah menolak sesuatu yang tidak ia inginkan,kemudian kembali mendaratkan wajahnya ke bukit favoritnya.
" Ya allah,hilangkan setan setan yang merasuki tubuhnya." seru Citra,sambil menggeliat berusaha melepaskan diri.
Bu Sukma menggelengkan kepala tak habis fikir dengan kelakuan tuannya itu.
Seperti seekor singa jantan yang mendapat kutukan dari nenek sisir,hingga menjadi seekor anak kucing yang nampak menggemaskan.
Hidangan yang tersaji untuk sarapan pun berubah,tak hanya sepotong roti selai kacang dengan susu hangat saja sekarang,melainkan menu yang lainnya pun ada,karena permintaan Citra yang ingin di buatkan beberapa lauk makan untuk sarapan.
" Sudah selesai,kita sarapan sekarang,aku harus segera ke toko." gadis itu mulai mendaratkan bokongnya di samping Satria.
" Baiklah." Satria terpaksa harus melepaskan dekapannya dari tubuh sang istri.
Lalu mulai melahap sepotong roti yang sudah Bu Sukma siapkan,tidak lupa juga meneguk susu hangat hingga tandas.
"Aku belum selesai makan." ujar Citra dengan mulut penuhnya, saat ia melihat Satria beranjak hendak mengambil jaket juga kunci motor.
" Kamu bilang harus segera ke pergi." sahut Satria dengan sedikit berteriak.
" Ya sudah tunggu aku sebentar." Citra meneguk segelas air putih,lalu menyusul suaminya ke depan.
" Bu,kami berangkat dulu ya." pamit Citra.
" Iya Neng,tapi bagaimana dengan makanan ya?" tanya Bu Sukma bingung saat melihat makanan masih banyak di meja makan.
" Bawa pulang saja,kalau tidak berikan pada petani yang datang." jawab Satria,sambil membantu istrinya memasangkan helm.
" Baiklah, hati hati." ujar Bu Sukma.
Kemudian Satria mulai menyalakan motornya dan melajukan kendaraan tersebut,meninggalkan pekarangan pondok sederhananya.
Sepanjang perjalanan Citra melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dengan sangat erat,hidungnya mengendus wangi yang memabukan dari punggung Satria,tidak jarang ia juga menggoda Satria dengan menciumi leher bagian belakang,membuat bulu kuduk dari pria kaku itu meremang.
" Hentikan,kamu sudah menganggu konsentrasi ku." protes Satria,sambil mengusap tengkuknya,namun tidak bisa di pungkiri bahwa ia pun menyukainya,sudut bibirnya terangkat begitu saja.
Citra terkekeh tanpa menghiraukan protes yang di layangkan suaminya,ia malah mendaratkan dagunya yang lancip ke pundak Satria,dan lagi lagi Satria menggeliat kegelian.
Sangat menggemaskan,pria ber otot kawat bertulang baja itu ternyata tak bisa menahan rasa geli.
Hingga akhirnya tanpa terasa mereka pun sampai di depan toko.
" Sepertinya aku akan pulang malam,jadi kamu tidak perlu menjemputku." Ucap Citra seraya melepaskan helm.
" Kenapa?" tanya Satria dengan wajah yang nampak tidak terima.
" Banyak pesanan yang harus aku antar." jawab Citra.
" Ya sudah." Satria kembali menyalakan motornya.
" Sok sibuk,padahal karyawan mu banyak,tapi kenapa harus kamu yang melakukan itu semua." gumam Satria dengan mulut yang sudah ia majukan beberapa senti,Citra menggulum bibirnya merasa gemas.
Satria mulai melajukan motornya dengan perasaan tak karuan,beberapa jam jauh dari sang istri membuatnya tak bisa hidup tenang,hingga tiba di pondok pesantren milik Al,Pria itu masih nampak tak bersemangat,melirik ponselnya beberapa kali,berharap sang istri membalas pesannya,hingga akhirnya terdengar sebuah nada pesan singkat,pria itu langsung membuka pesan tersebut dengan detakan jantung yang mulai tak beraturan.
Tapi ternyata bukan balasan dari Citra yang ia dapat,melainkan sebuah pesan dari oknum tak bertanggung jawab yang memberitahukannya tentang sebuah undian berupa uang tunai ratusan juta,karena kesal pria kaku itupun langsung membanting ponsel tersebut hingga hancur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai membaca jangan lupa kasih jejak,tinggalkan like komen dan votenya juga..teriamakasih..😊😊