
Seulas senyuman terukir indah di bibir ku sebagai pengantar kepergiannya, aku masih mematung di ambang pintu sampai mobil yang di kendarai unta Arab ku tak terlihat.
" Apa gue gak salah lihat, ternyata lu bisa senyum juga." Ejek Citra yang ternyata sudah berdiri di sebelah ku.
" kembali kerja." aku berusaha menyembunyikan raut wajah ku yang telah merona.
Citra pun kembali ke belakang,sedangkan aku kembali duduk di kursi kerja.
Tidak lama telpon dari meja kerja ku berbunyi,tanpa menunggu lama aku pun mengangkatnya.
Sudah ku duga seseorang yang akhir akhir ini selalu meneror ku kembali melakukan aksinya,karena aku tak kunjung menemuinya,ia memintaku untuk datang ke cafe yang pernah di rencanakan tempo hari. Karena sudah di landa penasaran tanpa pikir panjang aku pun menyutujuinya.
*
*
*
Jam makan siang pun tiba,toko tutup untuk mesentara, para karyawan bebas dari tugasnya,seperti biasa jam makan siang selalu mareka gunakan untuk bersanda gurau sambil menyantap makan siang yang mereka bawa dari rumahnya masing masing.Dengan alesan untuk menghemat uang saku.
" Cit,gue ka luar dulu ya." Izin ku pada Citra
" Mau kemana?"
" Cafe sebrang,ada urusan."
" Sok sibuk,mau gue temenin."
" Gak usah,cuma bentar."
" Oke deh.."
Setelah mendapat izin dari Cita aku pun bergegas untuk pergi,
Sepanjang perjalanan aku mengusap dada ku.Perasaan tidak enak mulai menghantui. "semoga tidak terjadi apa apa." lirih ku sambil terus melangkahkan kaki.
Tidak memakan waktu lama aku pun sudah sampai di depan cafe tersebut,aku manarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan kasar seraya memantapkan tekad ku.
Aku berusaha mengedarkan pandangan ku mencari sosok yang membuatku penasaran. setiap penjuru cafe tak luput dari pandangan ku.
" Al..!!" seorang pria dari pojokan sana melambaikan tanganya padaku. dengan ragu aku pun menghampirinya,Namun
Langkah ku tertahan saat aku tau sosok itu,sosok pria yang selama ini aku hindari dan tak ingin aku temui.
" Dimas?" lirih ku saat sudah berada dekat di hadapanya.
" Akhirnya kamu datang juga, silahkan duduk.mau makan apa?"
"Aku dah makan,aku juga gak bisa lama, Ada perlu apa?" tanya ku tanpa basa basi.
" Gak ada,aku cuma pengen ketemu kamu."
" Terus?"
" Aku dengar kamu sudah nikah,apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"
" Bukan urusan mu."
" Aku tau kamu sudah melamar ku,tapi bukanya kamu juga tau,aku menolak mu,Maaf aku harus pergi,aku gak punya waktu untuk melayani orang seperti mu." ucap ku sambil beranjak dari tempat duduk ,namun dia malah menarik tangan ku dan meminta ku untuk duduk kembali.
" Al, aku tau kamu tidak mencintainya, dia hanya ustadz kampung yang hanya numpang hidup dengan mengandalkan uang dari pemberian para donatur, apa yang kamu lihat dari dia, tinggalkan dia dan menikah lah dengan ku,aku akan memberikan apa yang kamu mau."
" Cukup..!!!"
Plakkk...Tanparan perdana ku berhasil mendarat tepat di pipinya.
" Apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkannya ,apalagi perpaling demi orang seperti mu,jangan harap,bagaimana pun dia jauh lebih baik dari kamu." mata ku berkabut manahan air mata kebecian. Emosi tertahan membuat dada ku sesak.
" Al ,,aku tidak akan menyerah begitu saja,aku akan balas apa yang kamu lakukan,aku tidak akan membiarkan mu bahagia,mulai saat ini aku pastikan kamu gak akan bisa melupakan ku sadetik saja,kamu akan manyesal." aku pun meninggalkan nya begitu saja,teriakan dan ocehannya mengiringi setiap langkah ku,bisikan dan tatapan dari para pengunjung yang lain sudah tertuju pada ku.
Aku kembali ke toko ku dengan nafas yang masih ngos ngosan,dadaku kembang kempis,ku senderkan punggungku di senderan kursi kerja.
Rini yang menyadari kedatangan ku langsung menghampiri ku dengan panik.
" Teh Alvi kenapa?"
" Ambilin minum." titah ku dengan nafas yang belum teratur,Rini pun berlalu dengan berlari kecil.
" Al lu kenapa?" Citra manghampiriku bersamaan dengan Rini. Aku meraih air minum dari tangan Rini dan menenggaknya sampai habis.
" Gue ketemu Dimas." ucap ku setelah merasa sedikit tenang.
" Apa!! Dimas?" ujar Citra tak kalah kaget.
Ku lihat raut wajahnya menjadi pucat,Aku tau apa yang Citra rasakan saat ini,dia pasti khawatir dan takut karena mendengar nama Dimas.
Bagaimana tidak,Dimas yang selalu menghalalkan segara cara demi mendapatkan keinginan nya. Dari dulu aku tidak suka dengan sifatnya ,oleh sebab itu aku memilih untuk menghindarinya dan sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengannya.
" Ko lu bisa ketemu dia."
" Dia yang selama ini neror gue."
" Jadi dia yang suka nelpon ke sini." tebaknya,akupun menganggukan kepala sebagai jawaban.
" Kenapa dia bisa ada di sini,bukanya dia dah pindah ke luar kota."
" Gue gak tau. Tapi beberapa kali dia pernah nemuin bapak gue buat ngalamar gue."
" Apa ,kok gue gak pernah tau?"
" Maaf gue gak bilang,gue fikir gak terlalu penting,dan gue kira setelah dia tau gue udah nikah dia gak bakal ganggu gue lagi."
" Lu kaya gak tau aja dia orangnya gimana."
Obrolan kami pun terhenti saat sudah kembali banyaknya pelanggan dan pesanan di toko kue kami.
*
*
*
Vote like dan komen yang banyak ya guys,,terimakasih sudah berkenan baca coretan thor amatir ini..semoga kalian sehat selalu...🤗🤗🤗😘