My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 107



Citra berlari menuju taman bunga yang tidak jauh dari pondok pesantren itu,tempat dimana duo Al pernah bersitegang dulu.


Gadis itu masih terisak sambil meracau,tangannya ******* ***** tangkai bunga mawar yang tumbuh indah di sana,emosinya mampu membuat indara perabanya mati rasa,seakan tidak terjadi apa apa pada telapak tangan yang tertusuk duri dari bunga tersebut.


" Ini tidak adil,aku tidak pernah mengharapkan pertemuan seperti ini." geramnya,hingga tanpa terasa tangannya terluka akibat goresan geresan duri dari batang bunga mawar yang ia genggam dengan sangat kuat.


" Hentikan!!"


Satria menarik tangan gadis itu dengan cepat,lalu membawanya ke dalam pelukannya, membuat degupan jantungnya berpacu lebih kencang,posisi yang paling ia benci,selain dalam islam memang tidak di perbolehkan,ia jug harus berperang melawan dirinya sendiri,hatinya memang menolak,namun otaknya berfikir ini adalah cara yang tepat untuk menenangkan gadis itu.


" Lepaskan!!" Citra berontak,berusaha melepaskan dirinya,namun tenaganya kalah kuat di banding pria yang masih mendekapnya itu.


" Dasar gadis bodoh!!" ucap Satria semakin mengencangkan dekapannya.


" Lepaskan,kamu ingin membunuhku ya?" bentak Citra.


" Diam !! apa kamu benar benar ingin mati dalam dekapanku ya?" balas Satria dengan kesal,tanpa meninggalkan rasa kepercayaan dirinya.


" Lepaskan,aku tidak bisa bernafas." bentak Citra,dengan cepat Satria pun melepaskan dekapannya.


Citra nampak ngos-ngosan,sambil memegang dadanya yang terasa sesak,menatap tajam pada pria di hadapannya itu.


" Dasar tidak punya perasaan." ujarnya dengan kesal.


" Apa kamu bilang? aku berusaha menenangkanmu,aku tidak mau kamu terluka,kamu masih berfikir aku tidak punya perasaan?" Satria nampak tak terima.


" Kamu menenangkan ku, apa menenangkan seekor singa betina yang mengamuk?tidak ada lembut lembutnya." Citra mencibir,dengan menyunggingkan senyum sinis.


"Gadis Tidak tau terima kasih." gumam Satria sambil berjalan meninggalkan Citra,ia lalu duduk di sebuah gubuk kayu,namun Citra masih bisa mendengar gumamannya.


" Apa kamu bilang? aku,tidak tau terimakasih?" Citra memutar bola matanya seraya mendesis.


" aku tidak pernah memintamu untuk menenangkanku,lalu untuk apa aku berterima kasih?" ledek Citra sambil menghampiri Satria.


" Kalo saja ini bukan perintah Al,aku samasekali tidak ingin melakukannya." balas Satria.


" Jadi semua ini karena Bang Al?" Citra tergelak, tawanya pecah seketika,namun Satria di buat bingung karenanya,tawa itu terdengar sangat menyeramkan.


" Apa kamu tidak punya inisiatif sendiri,tanpa harus di perintah orang lain." tambah Citra,sepertinya gadis itu belum cukup puas untuk memojokan pria di hadapannya,seolah ia melampiaskan semua kekesalannya pada Satria.


Satria masih bergeming,dia dengan setia mendengar semua kata kata yang terdengar menyakitkan dari mulut Citra,namun ia tidak mampu menyembunyikan kekesalannya,wajahnya nampak memerah serta rahang yang menguat dan gigi yang menggertak,tanganya pun terkepal erat.


" Sudah kamu pergi saja,sampaikan pada Bang Al,aku bukan wanita lemah yang perlu ditenangkan,aku bisa mengatasi emosiku sendiri." usir Citra dengan ketus,sambil mendorong tubuh kekar pria itu beberapa kali,namun tubuh Satria sama sekali tidak berubah dari posisinya,Membuat Citra semakin kesal dan mencoba mendorongnya lebih kuat lagi.


Satriapun beranjak dari duduknya hendak pergi, namun tanpa di duga Citra masih menjulurkan tangannya untuk mendorong Satria,membuat tubuhnya tak seimbang dan menabrak tubuh kekar itu,Satria yang tidak siap menahan bobot Citra langsung terjengkang ke belakang hingga terjatuh ke tanah,dengan posisi Citra berada di atasnya.


Mereka berdua masih mematung,dengan mata yang saling bertatapan,detak jantung kembali tak beraturan,seolah kehilangan kesadaran.


" Posisi macam apa ini?" gumam Citra,namun ia tidak bisa mengelak bahwa ia merasa nyaman dengan posisinya sekarang.


Begitupun dengan Satria,pria itu tidak mau menyia nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali,sebagai pria dewasa yang normal jiwa liarnya meronta ronta.Lalu ia berguling membalikan posisinya,kini Citra berada di bawah kungkungannya,Satria menyeringai dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.


Ia mulai mendekatkan wajahnya,sontak membuat gadis itu memejamkan matanya kuat kuat,perlahan tapi pasti wajah keduanya semakin dekat,hingga hembusan nafas terasa hangat,manyapu setiap inci dari wajah keduanya.


Satria berhenti sejenak,memperhatikan wajah cantik Citra yang masih terpejam,nampak sangat mengemaskan.Iapun berusaha menahan tawanya,hingga bibirnya menyentuh telinga Citra yang terbalut jilbab,gadis itu berkidik geli,seraya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasanya sesuatu.


" Jangan pernah berharap mendapatkan ciuman pertamaku." bisik Satria ,setelah itu ia mengangkat tubuhnya lalu membersihkan pakaian yang kotor terkena tanah,lalu ia mengayunkan langkahnya sambil bersiul tanpa rasa bersalah,dan pergi begitu saja meninggalkan Citra.


Sementara Citra baru bersandar,ia membuka matanya dan langsung terbangun.


" Dasar kurang ajar,pria tidak punya perasaan,aku do'akan kamu menjomblo seumur hidup." teriaknya sambil meremas tanah yang ia genggam lalu melemparkannya ke arah Satria, namun pria itu sudah berjalan terlalu jauh hingga tanah yang di lempar tidak mengenainya.


Satria hanya terkekeh,mendengar racauan yang terlontar dari mulut Citra, setelah itu ia bisa memastikan jika gadis itu akan baik baik saja,ia lebih suka menerima ocehan gadis itu,daripada harus melihatnya menangis.


*******


******


Guys maaf ya jika ceritanya kurang bagus dan tidak sekeren Thor lainya,karena aku mah apa atuh,hanya remehan renginang yang gabut,pengangguran dan kurang kerjaan.🙊maaf juga jika ada yang menilai bahwa ceritanya kurang pantas untuk orang yang berada dalam lingkungan ponpes,🙏


ingat!! ini hanya cerita fiksi yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan tidak pantas untuk di tiru,,tapi Thor tetep minta dukungan ,vote like dan komen..love you all...😘😘😘