
Setelah pagi menjelang,mentari mulai muncul dari persembunyiannya, Alvi dengan senang hati berjalan menyusuri jalanan sempit melewati beberapa bangunan, di antaranya rumah Umi dan Mbak Zahra yang memang bersebelahan, sambil membawa teh hangat sesuai yang ia tawarkan tadi pada sang suami.
Setelah sampai di madrasah tempat suaminya mengajar,ia di sambut dengan senyum manis yang membuatnya seakan enggan untuk berpaling.
" Makasih sayang,sebentar lagi aku pulang." ucap Al sambil mengusap pipi istrinya.
" Ya udah,aku pulang ya Bi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam hati hati."
Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Umi yang baru pulang dari dapur umum.
" Assalamualaikum Mi." sapa Alvi dengan menerbitkan senyum cantiknya.
" Wa'alaikumsalam,,Al dari mana?"
" Abis nganterin teh buat Al Mi." jawab Alvi malu malu.
"Dasar manja. Kayak jauh aja minta di anterin, biasanya kalo haus juga nyuruh santri yang ambilin." ucap Umi. Alvi pun hanya menanggapinya dengan tersenyum.
" Ya udah masuk dulu yuk,Umi mau masak makanan favorit Al.Sekalian kita sarapan bareng bareng." ajak Umi sambil merangkul pundak menantunya sambil berjalan masuk ke rumah.
Alvi membantu umi dan memperhatikan setiap gerakan tangan yang umi lakukan terlihat sangat terampil dan cekatan,ini kali pertama dalam hidupnya membantu orang lain di dapur,bahkan membatu ibunya saja baru beberapa kali.
" Emang Al suka makan apa Mi?
" Al sih pemakan segala,tapi yang paling dia suka sayur asem sama tongkol balado,dia pasti bisa nambah porsi." jawab Umi antusias Alvi hanya tersenyum saat mengingat suaminya,membayangkan sang suami makan dengan lahap pasti sangat menggemaskan.
"Kamu bisa masak?" tanya Umi pada menantunya dan langsung di jawab dengan gelengan kepala.
" Maaf Umi aku gak bisa masak, kalo pengen bikin sesuatu aku pasti liat tutorialnya dulu di YouTube." jawab Alvi dengan jujur.
Umi hanya tersenyum sambil mengusap punggung menantunya itu.
" Gak apa apa,lain kali kalo pengen masak sesuatu ke sini aja,Inshaallah umi bisa bantu." tawar Umi dan langsung di angguki dengan cepat.
" Makasih Umi." Alvi berkaca kaca,ia tidak menyangka akan mendapat suami dan mertua yang begitu baik dan menyayanginya,bahkan sangat jauh dengan apa yang ia bayangkan dulu, ia sempat enggan untuk menikah karena tidak ingin di susahkan dengan tugas tugas seorang istri, apalagi jika harus mendapat mertua yang tidak punya Akhlak seperti dalam sinetron kumenangisssss .
Semua tidak sesuai dengan ekspektasi nya,bahkan ia menyesal tidak menerima Al sejak dulu,dan malah sempat menolaknya.
" Udah selesai,kamu tunggu Al di luar,bentar lagi mereka bubaran." titah umi sambil menyiapkan semua makanan di meja makan.
" Baik Mi." Alvi pun menurutinya.
Dan benar saja,tidak lama menunggu di luar ,ia melihat sang suami berjalan bersama Faiz.
" Yank,kok kamu di sini?"
" Tadi Umi ngajak aku masak,kita sarapan di sini ya Bi?" ajak Alvi sambil menggandeng lengan suaminya,dan dengan cepat Al pun menyetujuinya.
" Abi mana Mi?" tanya Al setelah ia duduk di meja makan.
" Abi sama Abang kamu masih di puncak,kayaknya mereka udah kawalahan jalanin bisnis di sana."
" Kan Al udah bilang dari dulu,kita fokus sama perusahaan minyak yang di Qatar aja,Abi gak pernah mau denger sih,kayak punya bini empat aja."
" Ishh..kamu ini kan udah tau yang di Qatar perusahaan milik kakek, Abi kamu gak mau cuma ngandelin warisan."
" Iya ya udah,kalo gitu umi sama Abi harus bisa punya anak lagi,biar ada yang bisa di andelin,kalo Al udah jelas gak mau.Faiz gak tau deh." Al mulai memasukan makanan ke mulutnya,sedangkan Alvi hanya menjadi pendengar setianya saja. Sambil sesekali memperhatikan sang suami yang begitu lahap memakan masakan sang ibu,terlihat begitu menikmati,sangat beda jika sedang memakan memasakannya.
" Faiz juga gak mau,Faiz pengen jadi dokter aja"
"Bukan umi yang harus punya anak lagi,tapi kamu,kasih Umi cucu yang banyak,biar ada yang bisa lanjutin bisnisnya Abi." ucap Umi sambil menggerutu.
" Ya Mi,kita udah usahain bikin tiap hari." ucap Al sambil melirik istrinya dengan mata genitnya.
" Ya tiap hari, wherever and whenever ." sahut Faiz.
Al hanyaenggelengkan kepala sambil terkekeh,dan Alvi menundukkan kepalanya karena merasa malu.
Setelah selesai sarapan,Alvi dan Umi membereskan piring kotor,sedangkan Faiz sudah siap untuk pergi dan Al menunggu sang istri di luar.
" Kamu mau kemana?" tanya Al pada sang Adik.
" Ke toko menuin calon bini." sahut Faiz sambil terkekeh menampakan deretan giginya.
" Hati hati, jaga jarak."
" Oke bang." ucap Faiz sambil mengangkat jempol yang di satukan dengan jarii hingga berbentuk O.
" Jangan lupa, Abang mau ke rumah sakit,katanya Satria udah bisa pulang sekarang."
" Iya Bang,nanti kabarin lagi aja." Faiz pun langsung berlalu dengan menggunakan motor kesayangannya.
Setelah selesai duo Al pun pamit pulang pada Umi.
" Kalo mau bikin apa apa ke sini aja yah." ucap Umi pada menantunya.
" Iya Mi,makasih."
*
*
*
"Bi, masakan Umi enak ya?" tanya Alvi ketika berjalan sambil menggandeng tangan suaminya.
" Iya."
" Aku gak pernah liat kamu makan selahap itu di rumah." ucap Alvi sambil menghentikan langkahnya dengan mata yang sudah menatap pada sang suami.
" Kita bicara di rumah aja yah." ajak Al yang sudah mengangkat tubuh istrinya dengan gemas.
" Bi turunin,malu di liat orang." cicit Alvi yang sudah berapa di dalam gendongan suaminya.
Namun setelah menyadari seseorang telah memperhatikan mereka sejak tadi,Alvi pun dengan sengaja mengalungkan tangannya di leher sang suami dengan manja lalu mengecup pipi unta Arabnya itu sambil terkekeh.
" Malu tapi mau." ucap Al sambil mengecup bibirnya sesaat dan mulai melangkahkan kakinya membawa sang istri tercinta ke rumahnya.
Sarah yang sejak tadi memperhatikan dua sejoli itu pun terlihat mengepalkan tangan,wajahnya memerah dengan emosi yang sudah naik ke ubun ubun. Ia pun merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Alvi dan mendapat kan pria yang selama ini di cintai nya.
*
*
*
***Like komen dan vote nya dong guys,,jgn kek orang susah..😅😅
suuun jauh buat kalian yang selalu setia sama ceritanya..😘😘***