
Hari mulai gelap, para karyawan sudah membubarkan diri. Toko pun sudah aku tutup.
"Cit, motor mau gue bawa, lu pulang pake ojek ya." ucap ku pada Citra.
" Lu yakin mau pulang sendiri, kenapa lu gak minta jemput aja, ini kan udah mau malem." tanya Citra dengan wajah khawatirnya.
" Yakin lah , tenang aja lagian gak bakal ada setan yang berani sama gue. Gue kan temennya setan." ucap ku yang mulai menyalakan mesin motor.
" Iya deh lu sama setan kan sama, sama sama dingin, susah di ajak ngomong." Citra pun terkekeh.
" Gue duluan ya ,assalamu'alaikum." aku pun pamit pada Citra.
"Wa'alaikum salam,, Eh lu ngatain gue setan ya." teriak nya,sepertinya ia baru menyadari ucapan ku tadi, aku pun terkekeh dan mulai melajukan motor ku.
Jam di pergelangan tangan ku sudah menujukan pukul 20.00 , aku masih berada di perjalanan menuju pondok tempat tinggal si unta Arab , yang sudah menjadi tempat tinggal ku juga.
Jarak yang lumayan jauh, serta jalanan yang sepi tanpa lampu penerangan jalan,dengan hanya mengandalkan cahaya lampu dari motor yang aku kendarai membuat pandanganku sedikit terganggu.
Untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak aku ingin kan aku harus lebih hati hati dan mengurangi kecepetan.
Sepanjang perjalanan tak henti hentinya aku berdo'a. Karena bagaimana pun rasa takut itu pasti ada.
Tiba tiba empat orang pria dengan mengendarai 2 sepeda motor mengejarku dari belakang, awalnya aku tidak manaruh curiga sedikit pun, namun setelah hampir dekat mereka menyuruh ku untuk berhenti sambil menodongkan senjata tajam.
" Wooyy...berhenti !!!" teriak salah satu dari mereka.
Bukannya menuruti , aku malah menarik pedal gas untuk menambah kecepatan dari motor yang aku kendarai.
Namun ternyata mereka tidak menyerah begitu saja,mereka terus mengejarku.
" Ya allah tolong aku." lirik ku.
Sampai tiba tiba salah satu dari mereka menendang bagian belakang motor ku dengan keras, karna tidak seimbang aku pun jatuh dengan posisi menyamping bersamaan dengan motor ku.
" Akkkhhhh." aku meringis saat body motor ku menimpa sebelah kaki ku.
" Duuuhhh kasian ,,maaf ya Neng kalo saja tadi kamu nurut,abang gak mungkin berbuat kasar sama kamu." ucap salah satu pria itu dengan menyeringai sambil berjongkok di sebelah ku dan berusaha memegang dagu ku, sontak aku pun memalingkan wajah ku.
" Ayo bawa dia." titah nya kepada tiga orang temannya.
Mereka pun berusaha mengangkat motor yang menindih sebelah kaki ku, namun tiba tiba seorang pria menyerang mereka semua dari belakang, dan terjadilah perkelahian antara satu lawan empat.
Sementara aku sendiri berusaha untuk melepaskan sebelah kaki ku yang masih terjebak di balik motor ku.
Namun usaha ku sia sia, tenaga ku tidak cukup kuat untuk mengangkat nya.Aku pun pasrah dan akhirnya aku hanya bisa memperhatikan adegan baku hantam di depan ku.
Tidak menunggu lama empat orang yang menyerangku pun kalah dan mereka melarikan diri begitu saja.
" Kamu gak apa apa?" tanya pria itu sambil membantu mengangkat motor yang menimpa sebelah kaki ku.
" Aku gak apa apa,makasih nya." ucap ku seraya bembenarkan posisi ku.
" Kamu mau kemana?" tanya nya lagi sambil berjongkok di depan ku.
" Aku mau pulang."
" Ssstttt..." ku lihat pergelangan kaki ku memar dan sedikit bengkak.
" Kamu terluka, apa mau aku antar?"
" Gak usah aku masih bisa pulang sendiri , lagian udah deket kok." aku berusaha menolaknya dengan baik.
" Ya udah kalo gitu hati hati, sekarang lagi rawan pembegalan." ucapnya sambil membantu ku untuk bangun.
" Iya, sekali lagi makasih yah." aku pun kembali menaiki motor ku.
*
*
*
Akhirnya aku pun sampai di depan gerbang pondok pesantren, seseorang membantu membukakan gerbang itu.
" Selamat malam mbak." orang itu menyapaku dengan ramah.
Aku hanya mengerutkan kening ku dan mencoba untuk tersenyum padanya.
" Sejak kapan ada satpam di sini." gumam ku dalam hati.
Aku pun memilih untuk tidak peduli dan segera menuju ke rumah unta Arab itu.
" Kamu udah pulang?" unta Arab itu menyapa ku setelah aku masuk ke rumah itu.
"Hmmmm." aku berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan rasa sakit dan ngilu di pergelangan kaki ku
"Makan dulu, Aku udah siapin makanan buat kamu."
" Aku dah makan." jawab ku dan berlalu begitu saja menuju kamar.
Setelah sampai di kamar aku pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri ku dan berganti pakaian.
Dengan tertatih tatih, aku duduk di tepi ranjang. Ku lihat luka lebam kebiruan yang semakin membengkak.
Aku pun mengedarkan pandangan ku ke seleruh penjuru kamar itu, berusaha mencari sesuatu untuk mengobati luka ku,namun aku tidak menemukannya.Akhirnya aku berusaha untuk memejamkan mata,berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit ku.
*
*
*
Pagi harinya aku terbangun karena suara gemericik dari balik kamar mandi.Dan tidak lama seseorang keluar dari sana dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan sehelai handuk di pinggangnya,sontak membuat ku memalingkan wajah, berusaha untuk tidak melihatnya.
" Kenapa kamu mandi di sini?" tanya ku dengan kesal tanpa menatap ke arah orang tersebut.
" Memangnya kenapa ini rumah ku,dan ini kamar ku, aku bisa mandi di mana pun aku mau." jawabnya sambil mengeringkan rambutnya.
" Tapi sekarang di rumah ini bukan hanya ada kamu aja. Seharusnya kamu bisa jaga sikap mu." ucap ku dengan ketus
" Sikap mana yang harus aku jaga, apa aku salah memperlihatkan tubuh ku di hadapan istri ku sendiri?" ucapnya dengan senyum yang menyebalkan.
" Terserah." karena tidak ingin berdebat aku pun menyibakan selimut ku berusaha untuk bangun ,namun aku sempat lupa dengan sakit di kaki ku.
" Aaakkkhhhh..." teriak ku setelah berhasil bendaratkan kaki ku di lantai, karena lemas aku pun tersungkur ke belakang,
Namun sebuah tangan kekar berhasil melinggkar sempurna di pinggangku sehingga tubuhku tidak harus menyentuh ke lantai .
Dengan replesk aku mengalungkan tangan ku di lehernya.Tubuh kami menempel dengan sempurna. Tidak ada jarak sedikit pun di sana.
Aroma maskulin begitu pekat di indra penciuman ku.Tatapan mata kami pun saling bertemu. Membuatku mematung seketika, sembusan nafasnya terasa begitu hangat di wajah ku.
" Hati hati kamu lagi sakit kan?" ucapannya membuat aku tersadar. Aku pun berusaha untuk membenarkan posisi ku kembali ,dan langsung berlari menuju kamar mandi tanpa menghiraukan rasa sakit di kaki ku.
" Posisi macam apa itu." lirik ku ketika sampai di kamar mandi.
Ku lihat pantulan wajahku di cermin, wajahku berubah menjadi merah, nafas ku tersenggal senggal seperti baru melakukan lari maraton. jantung ku berdetak dengan tidak normal
Akupun berendam cukup lama berusaha merileks kan jantung ku yang masih bergemuruh.