
Satria mulai frustasi,ia mengusap wajahnya dengan kasar,dengan sorot mata yang mulai berkabut menahan emosi,hingga membuat dua Al yang tengah menggendong dua buah hatinya terheran heran. Alvi melirik sang suami hendak menanyakan apa yang terjadi apa pria di hadapannya itu,dengan isyarat lirikan matanya tanpa bersuara.
Al pun menjawab dengan mengangkat bahunya,bertanda iapun tidak tau apa apa.
Citra baru saja sampai di tokonya setelah mengantar pesanan terakhir,Gadis itu mendaratkan bokongnya di lantai di balik meja kasir,sambil merentangkan kakinya,kemudian mengusap keringat yang membasahi keningnya.Ia baru saja sempat membuka ponselnya,matanya melebar saat melihat puluhan panggilan tak terjawab,dan ratusan pesan singkat yang di kirimkan suaminya.
Dengan segera gadis itupun langsung menghubungi balik nomer ponsel Satria,hingga beberapa kali ,namun ternyata nomer tersebut di jawab oleh seorang wanita,memberitahukan jika suaminya tidak bisa menjawab sambungan telponnya.
" Apa yang terjadi?" Citra nampak gelisah,pasalnya ini kali pertama Satria menghubunginya hingga puluhan kali.
Tak sampai di situ gadis itupun langsung menghubungi Sahabatnya.
Alvi berlari kecil masuk ke dalam rumahnya saat ia mendengar nada dering dari ponselnya.
Tidak lama iapun langsung menggeser tombol hijau,hendak mengangkat.
" Assalamualaikum.." sapa Alvi di seberang telepon.
" Waalaikumsalam,Al, Lu di mana?"
" Gue di rumah,ada apa?"
" Laki gue ada di situ gak?"
" Iya,dia di sini,lu salah ngasih makan ya?kok bang Satria jadi aneh gitu." sahut Alvi membuat Citra semakin panik.
" Aneh gimana maksud Lu?"
" Marah gak jelas,sampe ponselnya sendiri aja di banting."
" Kenapa di banting? pantesan,gue udah hubungin dia tapi gak aktif."
"Gue gak tau, Lu ngomong sendiri aja sama orangnya." Alvi menyerahkan ponselnya kepada Satria.
" Siapa?" tanya Al seraya berbisik.
" Citra." sahut Alvi,Al pun menganggukan kepala dengan bibir yang ia majukan hingga berbentuk huruf O.
" Mereka sudah tidur Bi." Alvi melirik bayi yang berada di dalam gendonganya dan sang suami.
" Hmmm.." sahut.
" Tidurkan di dalam,aku mau mandi dulu." ujar Alvi seraya melangkahkan kakinya membawa Shafa masuk ke dalam kamar,di ikuti Al yang menggendong Marwah.
Alvi membungkukkan sedikit badanya,merebahkan bayi kecilnya dengan sangat hati hati ke dalam box bayi,melihat posisinya yang seperti itu,sontak membuat Pria di dekatnya merasa terpancing, dengan isengnya Al mendekatkan burung untanya ke bokong sang istri,hingga ibu muda itu terhentak.
" Apaan sih Bi." Alvi memukul pelan lengan suaminya,hingga pria itu menyunggingkan senyum nakalnya,Al segera membaringkan Marwah di sebelah Shafa,kemudian pria itu memeluk tubuh sang istri dari belakang setelah memastikan bayi kembarnya terlelap.
" Aku kangen sayang." bisiknya dengan suara berat.
Alvi tersenyum sambil membalikan tubuhnya,menghadap sang suami lalu mengalungkan tangan di lehernya.
" Udah selesaikan nifasnya?" tanya Al dengan menampakan wajah penuh harap,membuat Alvi tidak tega untuk menolak.Hingga akhirnya ibu muda itu mengangguk kecil,bagai mendapat sebuah undian,ayah beranak dua itu langsung tersenyum cerah,tanpa menunggu lama lagi ia menyambar bibir kecil istrinya dan melahapnya dengan sangat buas,seperti seekor anaconda yang mendapatkan mangsanya setelah lama berpuasa.
Alvi membalas serangan sang suami tak kalah buas, menuntun suaminya hingga terlentang di atas tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya.
Al mulai membuka satu persatu kancing kemejanya,sementara Alvi membuka jilbab dan retsleting gamisnya.
kecupan demi kecupan ia daratkan di leher jenjang sang istri,hingga lenguhan halus terdengar dari mulut ibu muda itu.
Setelah puas bersenang senang di bukit teletubies,Al menyerahkan tugas terakhirnya kepada adik kecilnya yang sudah meronta ronta sejak tadi,meminta untuk berbetualang di sebuah lembah tersembunyi yang memabukan.
" Aakkhh...!!" Alvi memejamkan mata seraya mengigit bibir bawahnya,saat burung unta milik suaminya berhasil menerobos sarang yang beberapa bulan ini tak berpenghuni.
" Masih sakit?" bisik Al.
"Sedikit." sahut Alvi lemas.
" Mau lanjut apa udahan?" tanya Al merasa tak tega.
" Lanjut saja Bi,sudah tanggung,tapi pelan pelan ya." jawab Alvi,yang tak ingin membuat suaminya kecewa.
Al tersenyum sambil menganggukan kepala,ia mulai menarik ulur burung unta yang sudah nyaman berada di sarangnya,hingga ******* dan lenguhan keluar dari mulut keduanya.
Menodai otak suci seorang pria yang berada di luar,Satria masuk ke dalam rumah hendak mengembalikan ponsel milik istri sahabatnya itu,namun ia urungkan setelah mendengar suara asing dari balik kamar.
Pria itu pun kembali ke luar,menunggu beberapa jam,namun dua makhluk itu tidak juga menampakan batang hidungnya,hingga akhirnya iapun memutuskan untuk pergi,menemui sang istri.
Tidak menunggu lama,akhirnya Satria tiba di depan sebuah toko,memarkirkan kendaraannya,setelah itu ia mulai masuk,matanya berkeliling mencari sosok wanita yang telah berhasil mengalihkan dunianya.
Hingga netranya menatap dalam pada punggung gadis yang tengah menata kue ke dalam etalase.
Satria mengangkat jari telunjuk di depan bibirnya, ketika Rini hendak memberitahukan keberadaannya pada Citra,salah satu karyawan Citra itu pun mengangguk sambil berlalu.
Satria menutup mata Citra dengan kedua telapak tangannya,hingga membuat gadis itu terhentak.
Namun Citra masih berusaha tenang,meraba punggung tangan yang menutup matanya,lalu naik ke bagian lengan yang kokoh dan berotot.
" Bangsat?" tebaknya, sambil membalikan tubuh,belum sempat membuka mata,Satria sudah langsung menyerangnya dengan sebuah kecupan di bibir,sontak membuat Citra mematung, ketika beberapa pelanggan dan karyawannya tak sengaja melihatnya,Gadis itu terkekeh sambil menyembunyikan rasa malu,lalu menginjak kaki suaminya itu dengan keras.
" Apa yang kamu lakukan?" cicit Citra dengan suara tercekak.
" Itu hukuman untukmu,karena sudah memanggil ku dengan sebutan itu." bisik Satria tepat di telinga Citra,hingga menimbulkan kecurigaan dan kesalahfahaman bagi semua orang yang berada di dalam toko tersebut.
" Jangan memanggilku seperti itu,jika tidak mau mendapat serangan dadakan seperti ini lagi." bisiknya lagi
Pria itu memang sering mengunjungi toko tersebut,tanpa sepengetahuan Citra,sehingga para karyawan mengenalinya.
" Aku salut pada Teh Citra,setelah teh Alvi dia juga bisa menaklukan pria sombong itu,sepertinya teh Citra punya bakat untuk menjadi seorang pawang binatang buas."bisik Rini pada salah satu karyawan.
" Kamu benar,aku bahkan mengira pria itu tidak tertarik pada wanita." balas temannya.
" Parah sekali." sahut Rini lagi sambil terkekeh.
"Bagaimana tidak,dia tidak melirik ku sama sekali saat aku mencoba menyapanya dulu, jangan salah,Biasanya cowok macho dingin tanpa ekspresi itu bengkok."
Rini menggelengkan kepala,sambil terkekeh.
" Mungkin kamu bukan tipenya, makannya dia tidak mau melirik mu." balas Rini sambil berlenggang begitu saja.
...****************...
Selesai membaca biasakan meninggalkan jejak,kasih vote like dan komen,,terimakasih basty semua..😊😊😊