
Seorang gadis duduk manis di sudut lapangan ,tangannya mengarah ke depan sambil memegang ponsel ,mengambil gambar seseorang yang sedang menunjukan aksinya di depan para muridnya.
Senyumnya terus tersungging dari bibir cantiknya.Pemandangan di depan mata memang sangat memanjakan Indra penglihatannya.
Melihat Satria yang sedang melatih bela diri para santri sudah menjadi rutinitas barunya,awalnya ia hanya mengintip dari ke jauhan,namun semakin hari ia semakin memberanikan diri untuk melihatnya lebih dekat.
Dengan bermodalkan kedekatannya dengan Alvi,ia bisa dengan bebas keluar masuk pondok pesantren tersebut,namun pastinya dengan peraturan yang sudah di tentukan.
Ratusan santri yang berada di sana tidak menjadi penghalang baginya,netranya masih setia pada satu titik.Baginya ratusan santri yang berada di sana tak lebih dari segerombolan semut yang mengerubungi gula.
Lama menunggu , akhirnya para santri membubarkan diri ,tersisa satu orang yang kini sedang duduk lesehan di tengah lapang sambil merentengkan kakinya ke depan ,mengusap setiap keringat yang membasahi seluruh wajah dan lehernya,tidak menyadari seseorang sedang menatapnya dengan takjub,sepertinya air liurnya akan menetes tatkala melihat sang pangeran yang begitu tampan di depan matanya.
" Bagaimana bisa ia terlihat begitu tampan walaupun berkeringat begitu." lirihnya dalam hati.
Gadis itu pun memberanikan diri untuk menghampirinya,sambil membawa sebotol air mineral.
" Ada perlu apa kamu kesini? bukannya teman mu sedang tidak ada di sini."tanya Satria sinis sambil melirik sekilas wanita di hadapannya.Lalu meraih botol yang Citra sodorkan.Citra pun senang karena Satria menerimanya walaupun tidak meminumnya.
" Aku kesini untuk menemui mu." jawab Citra sambil mendaratkan bokongnya, duduk lesehan bersebelahan dengan Satria.
" Jangan dekat dekat ,tidak enak di lihat orang." Satria menggeser posisi duduknya.
" Kalau tidak ada orang gimana?" goda Citra.
Seperti biasa Satria hanya diam,tidak tertarik dengan godaan dari gadis kecil seperti Citra.
" Ada perlu apa? cepat katakan aku sedang sibuk." tanya Satria dengan nada dinginnya.
" Hmmmm...." Citra berdiam sejenak,menghirup oksigen dalam dalam,menyusun kata kata yang tepat untuk ia ucapkan.Membuat Satria penasaran,namun diamnya Citra malah membuat Satria sedikit kesal,ia pun beranjak hendak meninggalkan gadis itu.
" Tunggu aku belum bicara!!" cegah Citra saat Satria melangkahkan kakinya.
" Aku rasa itu tidak penting,aku tidak tertarik dengan apa yang ingin kamu bicarakan." Satria melenggang begitu saja tanpa menoleh pada seseorang di belakangnya.
Citra pun kesal,ia menghentakkan kakinya sambil meninju udara.
" Awas saja kau,aku akan membuatmu bertekuk lutut,dasar beruang kutub." gumamnya.
Sementara itu Al dan Alvi sedang berada dalam perjalanan menuju ke tanah air.ber jam jam berada di dalam pesawat membuat wanita hamil itu merasa bosan,sekilas ia melihat wanita yang tidak asing baginya sepertinya ia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya." Fiona? bukannya itu Fiona?" gumamnya.Ia memperhatikan wanita yang duduk di kursi depan bagian samping tempat duduknya,ingin sekali ia menanyakan pada sang suami ,namun melihat sang suami terlelap ia tak kuasa untuk membangunkannya.
Satria sudah berada di bandara hendak menjemputnya pasangan suami istri itu,dan tidak lama Citra pun menyusulnya.
" Mau apa lagi kau kesini?" Tanya Satria sinis.
" Aku kesini ke sini mau jemput Alvi." jawab Citra tak kalah sinis.
" Sana jauh jauh,jangan sampai mereka berfikir kita ke sini bersama sama." titah Satria.
" Bangsat saja yang kesana ,aku sudah nyaman duduk di sini." Citra mendaratkan bokongnya di tempat duduk sambil menyedot minuman yang ia beli sebelumnya.
" Dasar gadis konyol." lirih Satria sambil menjauh.
Mereka pun duduk di kursi yang bersebrangan. Citra menjulurkan lidah seraya meledek saat Satria melirik ke arahnya.Seperti biasa Satria hanya diam tanpa ekpresi.
" Benar benar muka batu." gumamnya dalam hati.
" Kalian di sini bareng bareng?" tanya Alvi penasaran saat melihat Satria.
" Tidak." jawab Satria singkat.
" Aku kira barengan." ucap Alvi lagi.
" Mana bisa kucing sama anjing barengan." sahut Citra dengan kesal .
Satria dan Al sudah berjalan lebih dulu, tidak mendengar apa yang para gadis itu bicarakan,sementara Alvi juga Citra mengekor dari belakang.
" Akhirnya Lu nyadar juga,kalo lu sama bang Satria seperti anjing dan kucing,gak mungkin bisa bersatu." ucap Alvi.
" Siapa bilang lihat saja nanti ,gue akan buat dia bertekuk lutut di hadapan gue." ancamnya.
Alvi mendesah merasa jengah dengan tingkah sahabatnya itu.
" Gue sih cuma ngasih saran aja,mending lu berhenti mengejar Bang Satria."
" Gue gak akan berhenti sebelum bangSat bener bener nolak gue." kukuh Citra.
" Lu nunggu di tolak?sudah jelas jelas sekarang aja bang Satria gak pernah nganggap lu,emang lu yakin bisa kuat kalo bang Satria nolak lu mentah mentah." bentak Alvi .
" Lu tau kan hati gue sekuat baja,gue cuma mau buktiin kalo gue bisa taklukin si beruang kutub itu."
" Ya hati lu memang kuat,tapi selama ini lu belum pernah merasakan hati lu sakit kan? gue kasih tau aja lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati." ucap Alvi.
Mereka pun sampai di parkiran ,Al mengajak istrinya untuk segera masuk ke dalam mobil.
" Lu bareng kita aja Cit,motor lu biar nanti salah satu karyawan yang ambil ke sini." saran Alvi saat Citra menghampiri motornya.
" Ok deh,kebetulan cuacanya sedang panas." Citra pun setuju.
Satria menjalankan mobilnya dengan hati hati,sepanjang perjalanan tidak banyak yang di bicarakan oleh kedua pria yang berada di kursi depan,berbeda dengan gadis yang duduk di kursi belakang,mereka asik bersenda gurau kesana kemari membahas hal hal yang tidak terlalu penting di barengi dengan tawa mereka yang khas seakan tanpa beban. Sejak dulu memang sudah seperti itu,ketika mereka bertemu mereka seakan tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya,bahkan dunia terasa milik berdua.
" Eh Al, mana unta Arab yang lu mau?" tanya Citra dengan antusias,namun Alvi tidak menjawab ia hanya melirik sekilas ke arah depan melalu kaca spion,Al sudah menatapnya dengan tajam ,Alvi pun menunduk tidak kuasa untuk membalas tatapan sang suami, suasana menjadi hening,Satria pun bergeming memasang telinga nya baik baik,ia penasaran ingin mendengar jawabannya.Sambil terus fokus menyetir.
Alvi mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya di bibir sebagai isyarat agar Citra berhenti membahas hal itu.
" Nanti gue ceritain." bisiknya.
-
-
-
-
Terimakasih banyak guys masih setia dengan cerita dua Al,makasih juga atas dukungannya maaf karena jarang up,,kondisi badan masih belum stabil dan masih harus bolak balik RS..
mohon do'a nya juga agar Thor cepat pulih,,buat temen temen selalu jaga kesehatan..love you all...😘😘😘