
Tidak menunggu lama,beberapa kendaraan pickup yang mengangkut semua keperluan untuk mendekorasi pesta pernikahan satu persatu memasuki gerbang pondok.
" Bi apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Alvi ,sambil memperhatikan setiap orang yang sudah berlalu lalang sibuk menghias gedung aula yang berada di sebelah rumahnya.
" Bukannya aku sudah bilang,kita akan mengadakan acara untuk pernikahan Citra dan Satria."
" Secepat ini?"
" Kenapa ? bukannya dari dulu kamu yang antusias menjodohkan mereka."
" Kenapa mendadak?"
" Tanyakan saja pada Citra." sahut Al sambil melirik Citra yang masih mematung di ambang pintu tak percaya.
' Cit,tolong jelaskan,gue bener bener gak ngerti,apa selama gue di rumah sakit kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Alvi sambil memicingkan matanya.
" Tidak,ini semua terjadi tanpa kita duga,tapi bukannya bangsat tidak mau menikahi ku." ujar Citra ragu ragu sambil melirik sedikit ke arah pria yang masih terduduk di sebuah kursi.
" Kamu tenang saja,dia sudah bersedia." sahut Al sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
" Memangnya kenapa, kenapa kalian harus menikah secepat ini?" tanya Alvi semakin penasaran karena belum mendapat jawaban yang semuaskan.
" Sebenarnya..." akhirnya Citrapun menceritakan yang sebenarnya hingga Alvi mengganggukan kepalanya faham.
" Lagian ,kenapa Lu gak pergi ke toko saja semalam."
" Kamar di toko udah gue jadiin gudang lagi." sahut Citra seolah menyesali perbuatannya .
" Ya sudah ,mungkin ini memang sudah jalan takdirNya. Selamat ya buat kalian." Alvi tersenyum sambil melirik Citra dan Satria bergantian.
Umi dan Abi,juga mbak Zahra dan bang Haikal.Mereka semua berbondong bondong mendatangi rumah Al hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Al ada acara apa ini?" tanya Umi kaget.
" Aku ingin mengadakan aqiqah untuk si kembar,sekalian ijab kabul Satria dengan Citra." jawab Al santai,namun tidak dengan mereka yang nampak lebih terkejut dari sebelumnya.
" Kalian serius?" Tanya Abi sambil melayangkan pandangan pada Al dan yang lainnya.
" Citra kamu yakin mau menikah dengan pria tanpa ekspresi ini?" tanya Bang Haikal,namun Citra tidak berani untuk menjawab,ia hanya terdiam sambil menundukkan kepala.
" Tidak ada jawaban, itu artinya Citra bersedia." sahut Al yang nampak lebih bersemangat dari semua orang di sana.
" Lalu acaranya kapan?" tanya Umi lagi.
" Secepatnya,setelah semua ini selesai kita bisa langsung mulai acaranya." sahut Al lagi,sambil menunjuk ke arah dimana acara akan di selenggarakan.Lagi lagi membuat semua orang melongo tak percaya.
" Tapi kenapa kalian tidak bicara pada kami sebelumnya,jika begini kami tidak punya waktu untuk bersiap siap." sahut Mbak Zahra.
" Aku bahkan belum sempat menyiapkan pakaian yang terbaik." tambahnya lagi.
" Kalian tenang saja,tidak ada yang perlu di siapkan lagi,aku sudah mengatur semuanya"
Dan tidak lama seorang perias pengantin profesional di temani tiga orang asistennya datang,tidak lupa mengucapkan salam dengan ramah pada seluruh keluarga yang berada di sana.
" Bisa kita mulai sekarang? soalnya untuk merias pengantin perlu waktu yang lumayan lama." ujar sang perias,setelah berbincang sedikit dengan tuan rumah.
" Silahkan." Al mempersilahkan mereka untuk masuk membawa Citra, dan mengizinkan ruang keluarga di dalam rumahnya untuk di jadikan tempat merias.
Begitu juga dengan Satria yang di ajak ke tempat lain, untuk bersiap di bantu asisten MUA.
Sementara yang lainnya masih berbincang di teras rumah,Shafa dan Marwah masih nampak terlelap di dalam stoller bayi tanpa merepotkan kedua orang tuanya,seolah faham dengan kondisi yang terjadi sekarang.
" Dari kapan kalian menyiapkan ini semua?" tanya Abi.
" Entah ,Dia sendiri yang menyiapkan ini semua,kami tidak tau apa apa." sahut Alvi sambil melirik suaminya.Membuat Al terkekeh.
" Aku menyiapkan ini semua dari dua jam yang lalu,setelah mendapat jawaban jika Satria bersedia untuk menikah." jawab Al sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Dua jam yang lalu?" sahut semuanya tak percaya.
" Iya,memangnya kenapa? tidak baik untuk menunda pernikahan,lebih cepat lebih baik bukan? ini momen langka,mumpung Satria bersedia,jika di nanti nanti aku takut Satria berubah fikiran." ucap Al masih dengan mimik wajah yang santai.
****
*****
" Kamu bisa diam tidak!!!" bentak Satria pada seorang makhluk jadi jadian yang di percaya untuk membantunya memakai pakaian.
" Aku jadi penasaran bagaimana malam pertamanya nanti,bisa bisa si pengantin wanita kelojotan." ujarnya lagi,tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Satria.
" Sudah ada rencana berapa ronde untuk malam pertama nanti? Aku sih yakin,Abang tidak perlu memakai obat kuat." ujarnya lagi sambil berlenggak lenggok.
" Tapi kalo abang mau obat kuat,saya bisa merekomendasikan obat kuat yang bagus,dan bisa tahan lama untuk bisa tegak menantang seperti tugu monas,saya jamin si istri kelepek kelepek gak bakal bisa jalan seminggu." bisiknya membuatnya
Satria berkidik ngeri melihat tingkah makhluk yang entah harus memanggilnya nona atau Abang itu.
" Ssuuuuttt,,sudah jangan ngoceh terus,kita harus segera menyelesaikannya,kamu membuat abang ini tidak nyaman." sahut seorang gadis yang menemaninya.
" Kamu memang bukan wanita normal,lihat ini,apa kamu tidak tergiur dengan otot ototnya." balas nya, dengan gaya kemayu ,sambil mencubit gemas lengan Satria yang mononjolkan otot ototnya,
gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Sabar ya bang,dia memang seperti itu." tambah gadis itu lagi pada Satria,setelah menyadari raut wajah Satria yang merasa risi.
" Aku lebih baik berhadapan dengan sepuluh pria dewasa yang berbadan besar, daripada berhadapan dengan manusia jadi jadian seperti ini." gumam Satria yang sudah merasa jengah.
Di tempat lain,Citra sudah siap dengan riasan wajah yang sempurna, nampak cantik dengan sapuan make up yang natural dan tidak terlalu tebal,juga balutan kebaya modern berwarna putih yang elegan,tak henti hentinya Alvi berdecak kagum saat melihat sahabatnya itu.
" Bi,aku jadi ingin menikah lagi." ucapnya pada sang suami.
" Maksud kamu apa?" tanya Al bingung.
" Lihat,dia begitu cantik."
" Apa aku dulu secantik itu?" tanya Alvi sambil menunjuk ke arah Citra.
" Ya,kamu memang selalu cantik,dulu maupun sekarang." balas Al sambil memeluk tubuh istrinya itu.
" Aku tau,tapi maksud ku saat kita menikah." wajah Alvi berubah sendu saat mengingat pernikahannya dulu.
" Aku yakin,aku menjadi pengantin terburuk saat itu." tambahnya lagi.
" Iya kan Bi? aku bahkan sama sekali tidak menunjukan senyum selayaknya seorang pengantin." Alvi mulai terisak.
" Sudahlah sayang,tidak perlu di ingat lagi." Al merangkul istrinya, mengusap punggung Alvi untuk menenangkan.
" Seandainya waktu bisa di putar, aku ingin kembali ke masa itu." Alvi tidak bisa menahan air matanya lagi,ia semakin terisak hingga riasan di wajahnya kembali berantakan,dan terpaksa harus di perbaiki lagi.
" Dandani istri ku dengan baik,jangan sampai kalah dengan pengantin,buat dia seolah yang menjadi pengantinnya." ujar Al,lalu setelah itu iapun pergi untuk bersiap siap.
Seolah semua persiapan telah di atur dari jauh jauh hari, dekorasi ruangan ,kursi untuk para tamu, pelaminan, jamuan, dan lain lain telah siap terhidang.
Hingga menjelang sore,semua persiapan telah 100% selesai,walau terlihat sederhana namun tidak menghilangkan kesan elegan,dengan nuansa yang dominan berwarna putih yang melambangkan kesucian,semua berjalan lancar dan cukup memuaskan, walau hanya dengan waktu yang sangat singkat.
Acara tersebut hanya di hadiri keluarga dan orang orang terdekat,serta oara santri penghuni podok pesantren tersebut,para warga yang sempat menggerebek mereka tadi pagi pun turut hadir,begitu juga dengan Ibu dan Bi Marni,yang langsung datang setelah mereka mendapat kabar yang mengejutkan secara tiba tiba ini.
" Cit, kenapa kamu tidak pernah bercerita tentang ini sebelumnya." tanya Ibu sambil menghampiri Citra.
" Citra terpaksa melakukan ini semua, karena Citra sudah tidak punya tempat tinggal lagi,dan tidak tau harus kemana." sahut Citra sambil melirik sekilas Bi Marni yang duduk sambil menundukkan kepala.
" Apa yang kamu bicarakan,tidak seharusnya kamu melakukan ini,masih ada kami yang akan melindungimu,jika kamu tidak mau tinggal lagi di rumah mu,pintu rumah ibu terbuka lebar untukmu." ujar Ibu sedikit meninggikan suaranya.
"Sudahlah Bu,ini sudah keputusan Citra." Citra beranjak hendak meninggalkan kedua wanita paruh baya itu.
" Nak maafkan ibu,apapun keputusan mu,ibu doakan yang terbaik untuk mu."ucap Bi Marni saat Citra sudah berada di ambang pintu.
" Tarik saja do'amu ,aku tidak butuh."sahut Citra ketus,tanpa melirik ke arah lawan bicaranya.
Setelah semua selesai dan sudah siap,akhirnya acara yang di tunggu tunggu pun berjalan dengan lancar tanpa tanpa hambatan.
Satria mengucap ijab kabul dengan satu kali tarikan nafasnya.
"Sahhhh !!! Alhamdulilah." seru semua orang yang berada di sana untuk menyaksikan pernikahan dadakan itu.
Al yang menjadi saksi nampak lebih bahagia di banding kedua mempelai,ia memeluk Satria dengan bangga seperti seorang ayah pada anaknya.
" Selamat ya,aku yakin kamu akan lebih bahagia setelah ini." ujarnya seraya menepuk bahu sahabatnya itu.
Citra dan Satria masih bergeming dengan fikirannya masing masing,sambil menyalami semua orang yang memberi selamat pada mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk guys yang mau ikut kondangan virtual di tunggu komen dan votenya,jgn lupa bawa kado dan amplop yang tebel...🤣🤣🤣