
Selesai membantu Citra memasangkan perban,Satria kembali meraih ponselnya,dan ternyata ia belum sempat mematikan sambungan telponnya.
" Hallo!! kau masih di sana?" tanya Satria .
" Ya,aku di sini masih setia menunggu mu, bagaimana malam pertama mu?" tanya Roby sambil menggulum bibir.
" Malam pertama,apa maksud mu?"
" Tidak perlu berpura pura,kita sudah mendengar suara mu,bahkan rintihan istri mu,jadi tidak ada yang perlu di rahasiakan lagi." sahut Frans.
" Apa yang kalian fikiran? aku tidak melakukan itu."
" Sudahlah,lanjutkan saja,maaf kami sudah menganggu." ujar Roby yang langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
" Apa yang mereka pikirkan?" lirih Satria ,kemudian ia mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur,lalu ia kembali melirik Citra yang masih berdiri mematung.
" Kamu sedang apa?" tanya Satria pada Gadis yang sudah di halalkannya .
" Aku tidur di mana?" tanya Citra ragu,kemudian Satriapun menggeser posisinya,memberi ruang untuk Citra tiduri.
" Kamu serius?" tanya Citra
" Kenapa ? kalo tidak mau ya sudah,terserah kamu tidur di bawah atau di luar." ujar Satria sambil melempar sebuah bantal padanya.
" Iiissshhh." Citra mendesis sebal.
" Pakai dulu pakaian mu!!" pinta gadis itu,yang seolah tidak mau fikiran sucinya tercemar hanya karena melihat sesuatu yang menggiurkan di hadapannya.
" Kenapa?" tanya Satria.
" Aku tidak mau ada bisikan orang ketiga di antara kita yang bisa mengganggu akal sehatku." balas Citra.Membuat Satria tersenyum miring.
"Tidak bisa !! Aku sudah biasa tidur bertelanjang dada seperti ini."
" Tapi sekarang ada aku,apa kamu tidak malu?"
" Bilang saja jika kamu tergoda dengan tubuhku." Satria nampak acuh,tanpa memperdulikan perintah istrinya.
" Sejak kapan kamu menjadi narsis dan banyak bicara seperti ini." Citra mencabik kesal.
" Sejak mengenal mu ." sahut Satria dengan lantang.
" Ya,, aku memang sangat pandai mencairkan sebuah gunung es." Citra mulai merebahkan tubuhnya di samping Satria,berusaha tetap tenang walaupun perasaannya sudah mulai tak karuan.
" Jangan berharap lebih." Ujar Satria sambil membelikan tubuhnya memunggungi Citra.
" Ya,tapi jangan salahkan aku jika suatu saat aku memperkosa mu." balas Citra asal.
Sedikit demi Sedikit jarak di antara merekapun mulai terkikis habis,bahkan panggilan aku dan kamu sudah mereka sematkan di setiap ucapannya,entah dari kapan mereka pun tidak menyadarinya.
Citra merasa senang,walaupun cintanya masih bertepuk sebelah tangan,tapi setidaknya bisa dekat dengan pria yang di cintainya sudah menjadi suatu kebahagiaan baginya.Ia tidak menyangka semua terjadi begitu singkat.
Setelah mendengar dengkuran halus dari pria itu,ia langsung memberanikan diri untuk menyentuh punggung yang berhasil meruntuhkan tiang pertahanannya.
Tangannya mulai terangkat, dengan cepat tangan itu sudah berhasil mendarat di punggung kuat berotot,mungkin kepalanya bisa hancur jika di benturkan pada punggung itu.
Satria memutar posisi tidurnya,masih dengan mata terpejam,kini wajah mereka saling berhadapan,Citra masih terus memandangi wajah tampan pria pujaan hatinya,degupan jantung terdengar semakin kencang.
" Ya allah ,Apa ini mimpi? jika benar ini mimpi aku mohon tolong jangan bangunkan aku." gumamnya.
" Tapi jika ingin benar,aku sanggup jika harus terjaga semalaman,karena aku yakin kenyataan ini lebih indah daripada mimpi." tambahnya lagi.
Tidak cukup hanya sekedar mengelus punggung,Gadis itu kembali memberanikan diri untuk menyentuh wajah pria yang masih terlelap itu,tangannya sudah berhasil mendarat di pipi,namun ia merasa belum puas juga hingga lagi lagi ia memberanikan diri untuk mendaratkan bibirnya di kening sang suami.
Satu kecupan berhasil mendarat,Gadis itu kembali tersenyum karena sudah berhasil mendapat apa yang ia inginkan,namun ia merasa itu belumlah cukup,dan lagi lagi ia memberanikan diri ,dan mempersiapkan dirinya sendiri untuk mendaratkan bibirnya pada bibir yang menggoda iman itu,melihat Satria yang masih terlelap ia langsung menyambar bibir itu dengan kecepatan kilat.
" Kamu memang tidak pernah puas dengan hanya satu hal." Seketika mata pria itu terbuka lebar.Membuat Citra gelagapan.
" Sudah biasa,sifat manusia memang seperti itu." balas Citra seraya membalikan tubuhnya,menghindari tatapan tajam Satria dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
" Kalo begitu aku akan mencukupi mu."ucap Satria dengan pupil mata yang melebar,serta hidung yang mulai kembang kempis,akibat detak jantung yang bertambah cepat,sehingga menyebabkan keluar masuk oksigen lebih cepat, Satria meraih tubuh Citra hingga gadis itu terlentang dan dengan segera ia menindihnya. Kini tubuh mungil itu berada di bawah kungkungannya, detak jantung mereka semakin terdengar saling bersahutan satu sama lain.
Suasana malam yang dingin,berubah menjadi panas.
" Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Citra gugup,saat melihat wajah Satria yang mulai di selimuti gairah,pria itu menatap buas seperti seekor singa yang siap menyerang mangsanya.
" Jangan coba coba membangunkan seekor singa yang tertidur." lirihnya dengan suara berat.
Tanpa permisi,pria itu langsung melahap habis bibir mungil sang istri dengan liar,tubuhnya menegang menahan rasa yang tak bisa di jelaskan.Mereka masih terus berpautan saling menukar salivanya,dan saling membalas dengan lilitan lidah , mengobrak abrik liar di dalam mulutnya.
Untuk sesaat Mereka semakin terbawa suasana.
Citra hanya bisa menutup mata sambil menerima apa yang Satria lakukan padanya,iapun berusaha untuk bisa mengimbangi permainan Bibir Satria,hingga mereka tersenggal kehabisan nafas .
Satria kembali merebahkan tubuhnya,sambil mengatur nafasnya,ia mengusap wajahnya kasar merutuki perbuatannya sendiri.
" Kenapa aku bisa terjebak dengan permainan ku sendiri,padahal tadinya aku hanya ingin menggodanya saja." gumamnya dalam hati sambil melirik sekilas gadis di sebelahnya.Yang masih bergeming,antara sadar dan tidak.
" Maaf aku tidak sengaja." ujar pria itu seraya membalikan tubuhnya lagi,ia merasa malu dengan perbuatannya sendiri,sementara Citra hanya mengangguk saja ia tahu betul,bahwa apa yang di lakukan Satria padanya hanya sekedar nafsu tanpa perasaan.
Hingga menjelang dini hari mereka masih terjaga dengan fikirannya masing masing.
Dan akhirnya kumandang adzan subuh sayup sayup terdengar,merekapun bergegas untuk melaksanakan kewajibannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guys mana nih votenya masih dikit, like dan komen juga masih sepi,padahal cerita sudah mau tamat.Kalo kek gini terus thor bisa nangis di pojokan..
Sambil nyanyi kumenangiiiisssss.....🤣🤣