
Hari demi hari telah di lewati,tidak ada masalah dalam kehidupan dua Al dan keluarga,kisah Cinta Citra dan Satria masih jalan di tempat belum ada kemajuan,hingga tidak terasa kini usia kandungan Alvi sudah menginjak tujuh bulan.Aura dari ibu hamil itu terlihat lebih cerah,perutnya yang semakin membesar tidak mengurangi kecantikannya.
Acara tujuh bulanan akan di selenggarakan di panti asuhan,bersamaan dengan peresmian gedung mewah tersebut.
Terlihat para pekerja berlalu lalang menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna,menyulap sebuah ruangan yang berada di lantai dasar bangunan tersebut menjadi semakin megah nan indah,dengan bunga dan balon serta boneka sebagai hiasannya.Sangat cocok dengan tema hari ini.
Alvi dan Al datang lebih awal,ini kali pertamanya Alvi menginjakan kaki di tempat itu,anak anak para penghuni panti berhamburan menghampiri mereka lalu mencium tangan secara bergantian ketika pasangan itu baru saja keluar dari mobil.
Alvi tersenyum melihat anak anak yang berlarian ke sana ke mari di sebuah taman.Nampak ceria tanpa beban di hidupnya.
Al mengajak Alvi untuk duduk di sebuah bangku taman.
" Aku tidak menyangka kamu memiliki panti asuhan sebesar ini." ucap Alvi sambil menatap suaminya penuh bangga.
" Ini adalah impianku sejak dulu,Abi sudah memiliki panti asuhan di tempat lain,dan sekarang giliran ku." ujar Al
" Jadi bukan panti asuhan ini saja yang kalian punya?" Alvi terkejut sampai membuka mulutnya.
" Ada beberapa panti asuhan lagi yang berada di beberapa daerah,bukannya kamu juga pernah mengunjungi panti asuhan milik Abi?"
" Kapan?" Alvi mengerutkan kening menatap heran pada suaminya.
" Di saat kamu berhasil meraih impianmu,dengan membangun sebuah toko roti,kamu mengadakan syukuran dan menyumbangkan sebagian hasil kerja kerasmu di panti asuhan milik Abi." jelas Al yakin.
Alvi kembali menganga,darimana suaminya itu tau sedetail itu tentangnya.
" Aku baru ingat,aku gak tau kalo panti asuhan itu milik Abi,saat itu bapak yang menyuruhku mengadakan syukuran di sana." jelas Alvi.
" Ya,,Aku tau."
" Tau dari mana? Bukannya kita tidak pernah ketemu lagi sejak kejadian di taman bunga itu dulu?" Alvi diam sejenak,mengontrol dadanya yang terasa sesak kala mengingat kejadian di mana ia dengan kasarnya menolak Al.
" Aku bahkan tau ukuran ****** ***** mu." Al berusaha menghibur Alvi,ia terkekeh saat mendapat cubitan kecil dari istrinya.
" Dulu aku sempat mengundang pemilik panti asuhan itu,tapi Abi tidak datang saat itu." Alvi kembali melanjutkan ceritanya.
" Abi memang sibuk,makanya ia menyerahkan panti asuhan itu padaku untuk aku urus,saat kamu mengundangku,ingin sekali aku hadir,tapi jika kamu tau aku pemiliknya, aku takut acaramu berantakan,dan aku takut kamu membatalkan sumbangannya." jawab Al kembali terkekeh.
Alvi menganggukan kepala faham,ia menghembuskan nafas kasar,menatap ke depan dengan tatapan nanar.
Al menyadari kerubahan sikap istrinya itu,ia mengecup pipi Alvi sekilas membuat Alvi terperanjat.
" Heii,,tolong kondisikan ,di sini banyak anak anak." tegur Alvi.
" Lagian kenapa kamu malah melamun?"
Alvi menggelengkan kepala,ia tersenyum lalu kembali menanyakan sesuatu yang membuatnya semakin penasaran.
" Darimana kamu menanggung semua kebutuhan mereka,jumlah mereka tidak sedikit."
Ternyata masih banyak yang belum ia ketahui terhadap suaminya itu.
" Alhamdulillah,rezeki mereka selalu lancar banyak para donatur juga yang ikut membantu menanggung kebutuhan mereka." Al masih Satia menimpali pertanyaan istrinya itu.
Alvi tersenyum sambil menganggukan kepala.
"Kasian sekali mereka,di usianya yang masih membutuhkan dampingan orang tua,mereka malah harus tumbuh tanpa kasih sayang orang tua." ucapnya lirih
"Meskipun begitu aku selalu pastikan mereka akan mendapatkan kehidupan yang layak,dan Insyaallah hidup mereka akan terjamin di isi." tambah Al.
" Ternyata aku belum sepenuhnya tau tentang kamu." Alvi merilik suaminya itu sambil tersenyum.
Mereka masih asyik mengobrol hingga seorang anak berlari menghampirinya.
" Assalamualaikum,maaf aku menganggu kalian." anak laki laki berumur 6 tahun berdiri di di hadapan mereka sambil menundukan kepala.
" Wa'alaikumsalam,tidak apa apa,ada perlu apa?" Al tersenyum ramah,ia menarik bocah kecil itu agar semakin mendekat.
" Maaf ayah,aku hanya ingin memberikan ini untuk adik bayi,apa ayah mau menerimanya." anak kecil berkulit putih dengan lesung Pipit itu menyodorkan sebuah kotak kecil.Sambil menampakan wajah yang sudah berkaca kaca.
" Ayah?" Alvi terpaku ,ia masih tidak faham atas sebutan itu,apa dia anak dari suaminya itu fikirnya.
Al tersenyum sambil mengacak rambut hitam nan lebat dari anak itu.
" Berikan itu pada ibu mu." titah Al dengan gerakan dagunya.
" Ibu?" Al menunjuk dirinya sendiri.
" Jika mereka memanggilku ayah,kamu juga harus mau di panggil ibu." jelas Al.
" Aku tidak menyangka akan di panggil ibu secepat ini,padahal anak anak ku belum lahir." Alvi terkekeh,ia baru faham arti panggilan ayah untuk suaminya itu.
Al memang dekat dengan anak anak di sana,oleh karena itu ia lebih senang jika mereka memanggilnya ayah.
Alvi dengan senang hati menerima hadiah kecil dari bocah itu.
" Terimakasih ya Dek,kamu sangat menggemaskan." Alvi mencubit pipi kempotnya dengan gemas.
" Boleh aku buka sekarang." pinta Alvi yang langsung mendapat anggukan.
Alvi pun dengan tidak sabar membuka kotak tersebut,ia melihat helaian kain,nampak sepasang kaos kaki bayi juga kupluk bayi yang sepertinya sudah pernah di pakai.
" Maaf Bu,hanya itu satu satu yang aku punya,ibu panti bilang itu adalah milik ku,aku pernah memakainya waktu bayi dulu." jelas anak itu.
Air mata mengenang di pelupuk mata,betapa terharu dia saat ini.
" Tidak apa apa,ini sangat lucu." hibur Alvi.
" Boleh aku mengelus adik bayi?" pinta Anak itu kembali dengan ragu ragu,Alvi melirik ke arah suaminya meminta persetujuan.
Lalu ia berdiri merentangkan tangannya hendak mendekap anak itu setelah mendapat anggukan kepala dari Al.
Anak itu pun dengan senang hati berhambur memeluk Alvi,lalu ia mengelus perut Alvi dengan senyum yang lebar dari pipinya.
" Lahirlah dengan selamat,dan tumbuhlah dengan baik adik kecil." imbuhnya.
Seketika air mata Alvi tumpah ,ia begitu terharu atas perlakuan anak laki laki itu.
" Sangat menggemaskan siapa namamu?" tanya Alvi sambil mengusap kepala anak itu.
" Narendra Al jalari." jawabnya dengan tegas dan penuh percaya diri.
" Nama yang keren,kamu bahkan memberikan nama mu pada mereka." Alvi melirik Al dengan senyum yang semakin mengembang.
" Tentu saja,mereka sudah ku anggap anak ku sendiri."
Setelah anak itu pergi Alvi melingkarkan tangan nya di pinggang Al.
" Aku memang tidak salah memilihmu untuk menjadi ayah dari anak anak ku." ujarnya.
Al hanya tersenyum sambil mengecup kepala istrinya itu beberapa kali,sebelum mereka memasuki ruangan di mana tempat berlangsungnya acara.