
Citra masih terus menggoda suaminya,sampai terdengar suara adzan magrib,mereka langsung memutuskan untuk segera membersihkan diri,lalu menunaikan shalat berjamaah.
Setelah selesai shalat,Citra segera memasak untuk makan malam,sementara Satria berada di teras pondok sambil menikmati kopi dan rokok.
Suasana malam di tengah perkebunan yang jauh dari penduduk memang sedikit mencekam,hembusan angin yang menerpa pohon dan dedaunan sehingga menimbulkan suara berderit menambah kesan horor,begitu juga dengan suara burung hantu dan hewan malam lainnya yang saling bersahutan.
Namun itu semua tidak berlaku untuk Satria yang selama ini merasa nyaman dengan situasi tersebut,seolah telah bersahabat dengan para penduduk tak kasat mata di berkebunan itu.
Beda halnya dengan Citra yang kini tengah menggoreng ayam,ia merasa telah di awasi seseorang,selama memasak gadis itu berusaha menahan ketakutannya,hingga suara kencang dari belakang rumahnya berhasil mengagetkannya.
Gadis itu berteriak histeris sambil berlari ke luar.
" Ada apa?" tanya Satria panik,ia beranjak dari duduknya,lalu menghampiri istrinya.
" Temeni aku di dapur." rengek Citra,masih ketakutan,ia melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
" Memangnya ada apa?"
" Aku takut." Citra semakin mengencangkan rangkulannya.
" Ya sudah." Satria mematikan rokoknya terlebih dahulu,lalu ia mengajak sang istri kembali ke dapur.
" Tadi aku mengendar sesuatu dari belakang." ucap Citra.
" Mungkin mereka sedang ingin bercanda dengan mu." goda Satria,membuat gadis itu semakin ketakutan.
Citra kembali mendekati kompor melihat ayam yang tengah di gorengnya sudah berubah warna menjadi hitam pekat,gadis itu terkejut segera mematikan kompornya.
" Ayam nya gosong,Bang." Citra terkekeh merasa tidak enak,saat melihat sang suami menggelengkan kepala sambil melipat tangannya di dada.
" Ya sudah,kita pesan makanan di luar aja." Satria menarik tangan Citra lalu membawanya ke ruang tengah.
Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan sang istri sambil memainkan ponselnya.
" Mau makan apa?" tanya Satria.
" Terserah." jawab Citra.
" Terserah bukan jawaban." Satria melirik istrinya sekilas,lalu kembali menatap ponselnya.
" Kalau begitu,aku ingin nasi goreng seafood." ucap Citra yang langsung di angguki suaminya.
" Sudah aku pesan,mungkin akan datang setengah jam lagi." Satria menatap Citra,lalu menarik tengkuk sang istri agar menunduk kemudian mengecup bibirnya.
" Terimakasih." Citra tersenyum sambil mengusap bibir suaminya,yang sedikit terkena noda lipstik nya.
Kehadiran Citra membuat perubahan yang begitu drastis bagi Satria,pria itu berubah menjadi lebih baik dalam segala hal,bahkan pola hidupnya pun lebih teratur,hari harinya semakin berwarna di hiasi canda dan tawa.
" Aku tidak pernah membayangkan ada seorang wanita yang akan menemani ku di rumah ini." Satria menatap lembut sang istri.
" Bukan hanya seorang wanita,jika allah sudah berkehendak rumah ini akan ramai dengan teriakan anak kecil." Citra tersenyum malu,sambil memalingkan wajahnya yang bersemu.
Manusia memang tidak pernah merasa cukup,setelah mendapatkan pria yang di cintai, lalu mendapat cinta dan kasih sayangnya,gadis itu masih saja mengharapkan yang lain,meskipun memang pada dasarnya setiap berumah tangga pasti mengharapkan kehadiran buah hati,sungguh Allah memang tidak pernah tidur,Ia selalu memberikan apapun,jika hambaNya mau meminta dan memohon.
Satria ikut tersenyum,membayangkan apa yang ada dalam fikiran istrinya,hidupnya pasti akan lebih berwarna,dengan teriakan seorang anak yang memanggilnya ayah,menyambut kedatangannya di depan pintu,serta mainan yang akan berserakan memenuhi rumah kecilnya.
" Jadi,berapa yang kamu mau?" tanya Satria yang merasa terpancing, membuat istrinya gelagapan.
"Sial !! aku malah terjebak dengan ucapan ku sendiri." gumamnya Citra dalam hati.
Satria terbangun,pria itu menatap serius pada sang istri.
" Berapa anak yang kamu mau?"
" Entahlah." Citra beranjak setelah mendengar suara motor berhenti di depan pondoknya,sambil menghindari pertanyaan dari sang suami yang membuatnya tersipu.
Setelah membayar makanan yang di pesannya,mereka berdua berjalan ke dapur,duduk di meja makan lalu menikmatinya bersama,suap demi suap mereka masukan ke dalam mulut masing masing, hingga tak terasa akhirnya makanan pun tandas tak tersisa.
" Ngantuk." ucap Satria dengan manja, sambil bergelayut di punggung sang istri dengan tangan yang melingkar sempurna di perutnya.
" Ya sudah tidur saja." Citra masih sibuk mencuci piring bekas makannya.
" Aku tidak bisa tidur,belum di kelonin sama ayang." ucapannya berhasil membuat Citra terkejut hingga ia menjatuhkan piring yang di pegangnya.
" Astagfirullah!!" ucapnya sambil mengusap dada beberapa kali,gadis itu melirik wajah sang suami yang berada di pundaknya yang masih nampak tak bersalah.
" Apa aku tak salah dengar." gumamnya dalam hati.
" Ini sudah malam,bukannya kita harus kejar target,biarkan bu Sukma yang membereskannya nanti pagi." Satria sedikit kesal melihat Citra yang sibuk mencari sesuatu yang bisa ia cuci,untuk menyembunyikan kegugupannya.
Akhirnya Citra mengalah,ia mengikuti sang suami masuk ke dalam kamar.
Seperti kebiasaan sebelumnya Pria itu melucuti pakaiannya,hingga tertinggal celana pendek yang menutupi adik kecilnya yang perkasa.
Citra semakin di buat panik,saat melihat sorot mata sang suami yang mengisyaratkan sesuatu,meskipun itu bukan yang pertama kali,namun tetap saja perasaan takut masih terasa,mengingat malam pertama saat ia melepas kesuciannya dan malam malam selanjutnya yang membuat ia tak bisa tidur nyenyak,rasa sakit di seluruh tubuhnya menimbulkan sebuah trauma yang harus segera ia sembuhkan.
Gadis itu beringsut mendekati sang suami dengan hati hati takut jika sang beruang kutub menerkamnya tiba tiba.Dan benar saja Satria langsung menangkapnya dan membawanya untuk terlentang,sehingga ia bisa leluasa menjamah setiap lekuk tubuh istrinya dari atas.
" Bang!! aku capek,untuk malam ini libur dulu ya."Citra mencoba menolaknya dengan lembut.
" Ya sudah." Satria berguling,turun dari tubuh istrinya,lalu memiringkan tubuhnya memunggungi sang istri,membuat gadis itu merasa tidak enak hati,gadis itu mencoba memeluk Satria dari belakang,namun suaminya itu malah menepisnya.
" Bang!! kamu marah ya?"
" Tidak."
" Maaf."
" Ya sudah,tidur saja."
Satria merasa patah hati,saat mendapat penolakan dari sang istri untuk yang pertama kalinya,ia memejamkan mata berusaha menenangkan hati dan adik kecilnya yang kini telah merajuk karena keinginannya tak terpenuhi.
" Bang!! katanya mau aku kelonin?" Citra berusaha menarik tubuh sang suami agar bisa menghadapnya,namun Tubuh Satria lebih kuat.
" Bang! jangan seperti itu,kemarahan seorang suami merupakan murkanya Allah,dan malaikat akan mengutuk ku." ujar Citra.
Tidak mendapat sahutan,gadis itu berinisiatif sendiri,demi baktinya pada suami dan demi mendapat pahala dari illahi,ia memberanikan diri,mengesampingkan rasa malunya,melucuti semua pakaiannya lalu mendekatkan bagian tubuhnya yang menonjol ke punggung sang suami,hingga Satria merasakan sesuatu yang hangat di balik punggungnya.Namun ia masih bergeming,berusaha mempertahankan egonya,berharap kesungguhan sang istri demi menyenangkannya.
" Bang!! mau gak?" bisiknya sambil menggesek gesekan benda kenyalnya, membuat Satria tak bisa menelan salivanya. sedikit demi sedikit benteng pertahanannya pun mulai roboh,Satria membalikan tubuhnya menghadap sang istri,namun masih dengan wajah tertekuk.Gadis itu kembali tersenyum manis.
membelai wajah sang suami dengan lembut,tangannya mengelus setiap inci dari wajah tampannya hingga turun ke bawah,lalu mengusap perut sixpacknya yang semakin menggoda.
" Aakkkhhh,, malu sekali,tapi mau bagaimana lagi, dari pada mendapat kutukan dari malaikat sepanjang hari." gumamnya dalam hati.
Satria masih saja bergeming,seolah tidak tertarik sedikitpun,membuat Citra semakin penasaran,gadis itu semakin meninggatkan keberanian untuk menciumnya lebih dulu,tidak ada sambutan atau menolakan,akhirnya ia yang memulai permainan,hingga menguasai tubuh Suaminya,meskipun belum cukup lihai,namun Satria merasa melayang melayang dibuatnya.
" Terimakasih sayang." bisik Satria tersenyum ketika Citra terkulai lemas menimpa tubuhnya.