My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 70



" Sayang mana bisa Faiz bawain sepasang unta, apa gak ada permintaan lain?" Al mencoba bernegosiasi ,namun Alvi dengan cepat menggelengkan kepala.


"Aku gak mau yang lain, Pokoknya aku mau unta." permintaan Alvi seolah tak bisa di ganggu gugat.Al pun mendesah frustasi sambil memijat keningnya,ia masih berusaha tersenyum di depan sang istri.


" Baik lah,aku usahakan,sekarang kamu istirahat dulu ya." ucap Al seraya membaringkan istrinya di tempat tidur.


" Kamu tidur ya,aku ke luar sebentar." Al mengecup seluruh wajah istrinya itu dengan sayang, sebelum beranjak dan pergi meninggalkan Alvi .


Di luar Al masih saja gusar memikirkan permintaan istrinya,seolah permintaan Alvi adalah perintah baginya.


Ia pun segera menghubungi Satria ,sahabat yang selalu bisa ia andalkan.


Tidak menunggu waktu lama Satria pun datang menemuinya.


" Ada apa,kenapa Lu manggil gue ke sini? ini bukan jadwalnya latihan kan?" tanya Satria setelah ia sampai di rumah Al.


" Emang bukan,tapi gue mau minta tolong sama Lu." ujar Al dengan sorot mata penuh permohonan.


" Minta tolong apa?"


" Tolong Carikan sepasang unta." Al menatap serius pada sahabatnya itu,sedangkan Satria hanya mengerutkan dahinya,meminta penjelasan tentang apa yang sudah dia dengar barusan.


" Umi sama Abi baru pulang menemui Faiz di Kairo,Faiz menitipkan sesuatu untuk Citra,dan Alvi juga menginginkan sesuatu dari Faiz,waktu gue tanya dia mau apa, dia malah minta di bawakan sepasang unta."


Al sengaja menceritakan kepada Satria awal permasalahan nya kenapa tiba tiba Alvi meminta sepasang unta pada Faiz.


" Emang nya Faiz nitipin apa buat si gadis bar bar itu?" tanya Satria.


" Gue juga gak tau,kenapa Lu malah nanyain itu?Lu bisa kan bantuin gue?" Al memasang wajah penuh permohonan nya,namun dengan cepat Satria menggelengkan kepala.


" Gue gak bisa,dari mana gue harus dapatin unta,gak mungkin gue beli unta Dari Kairo terus pulang ke sini dengan menunganggi nya." canda Satria dengan senyum mengejeknya.


" Bini Lu emang bar bar,gue harap gak pernah ketemu sama cewek spesies itu lagi kecuali bini Lu sama temennya itu." Satria bergidik ngeri ,membuat Al kesal ,sumpah serapah pun keluar dari mulut ustadz muda itu .


" Gue sumpahin semoga Lu jatuh cinta sampai tergila gila sama cewek bar bar yang lebih bar bar dari Bini gue." ucap Al ,yang di balas dengan gelak tawa dari Satria.


Setelah mendapat penolakan dari Satria, Al kembali masuk menemui istrinya yang masih berbaring cantik di atas tempat tidurnya.


Al mendekati Alvi,dan langsung melingkarkan tangannya di perut rata istrinya itu,sapuan lembut tangannya memberikan kenyamanan tersendiri untuk sang istri.


Masih dengan mata tertutup,Alvi langsung membalikan badannya ,membalas pelukannya,membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang suami,menghirup dalam dalam aroma yang selalu ia rindukan, dengan menampakan wajah genitnya ia mengangkat wajahnya menatap wajah tampan unta arabnya itu yang sudah memejamkan mata.


" Iya Yank." jawab Al.


" Tapi aku kengen." lirih Alvi sambil menggoyangkan tubuh suaminya itu.


" Kita kan udah sering ketemu Yank,bahkan dari kemarin kemarin aku nemenin kamu setiap hari." goda Al sambil menggulum bibirnya.


"Maksud aku Bukan aku yang kangen,tapi Dedek bayinya,emang kamu gak mau nengokin Dedek bayi?" ujar Alvi dengan manja,Al tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


" Becanda sayang,,Aku juga kangen kok."


ujar Al ,lalu ia menciumi seluruh wajah istrinya itu ,perlahan turun ke leher hingga ke dada yang semakin hari semakin mengencang, tak ada sedikit pun yang terlewatkan,memberikan tanda kepemilikannya,sapuan lembut dari bibir Al membuat Alvi mendesah , memejamkan mata sambil mengigit bibir bawahnya.


" Aaaahhh...geli Bi." desahnya, membuat unta arabnya itu semakin liar, dan gencar mencumbunya.


Tanpa mereka sadari pakaian yang mereka kenakan pun sudah melayang entah kemana.


Setelah merasa cukup dengan permainan bibir dan lidahnya ,kali ini giliran Al mengeluarkan burung untanya yang memang sejak tadi sudah meronta meminta masuk ke sarangnya,mengobrak Abrik dengan liar sarang yang begitu menghangatkan, membuat sang pemilik sarang terbuai di mabuk kepayang.


" Aaaggghhh,,terus Bi!!! kurang kenceng." caraunya sambil meliuk liukan badannya.


" Ini sudah kenceng sayang,kasian Dedek bayinya." balas Al ,dengan nafas yang semakin memburu.


Cucuran peluh menghiasi seruluh tubuhnya dan perlahan menetes hingga mengenai tubuh sang istri yang di kungkungnya.


Seketika Alvi pun membuka matanya,menatap pria di atas hadapannya,yang begitu sangat tampan dan gagah. Ia mengusap keringat yang terus bercucuran dari wajah suaminya itu, pandangan pun beradu, Alvi tersenyum malu dengan wajah yang sudah memerah ia tersenyum sambil menarik tengkuk sang suami ,ciuman pun tak terlewatkan,menambah gairah yang mereka rasakan.erangan dan desahan menggema di kamar tersebut,Hingga akhirnya mereka pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


Pasangan itu pun tersenyum dan kembali memautkan bibir sebelum mengakhiri ritual semedi nya.


" Makasih sayang." bisik Al. yang langsung di angguki oleh Alvi.


Sementara di lain tempat , seorang gadis yang sedang fokus mengendarai motor maticnya terpaksa berhenti , setelah melihat sosok pria yang di kenalnya memasuki kawasan perkebunan di malam hari. Dengan cepat ia pun mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan pria tersebut, menyusuri jalan setapak dengan deretan kebun sayur di sisi kanan kirinya. Sambil mengendap ngendap di balik pepohonan gadis itu melihat sebuah pondok kayu jati minimalis yang terlihat sangat nyaman,gadis itu memperhatikan pria tersebut masuk.


Perlahan gadis itu pun mendekati pondok tersebut,berusaha mencari tau tempat apa yang sebenarnya pria itu masuki. Namun belum sempat ia sampai pondok tersebut, pria itu kembali keluar dengan membawa secangkir kopi, dan duduk di kursi kayu lalu mengeluarkan sebatang rokok,Gadis itu kembali bersembunyi di balik dedaunan sambil terus memperhatikan pria tersebut.


" Bangsat emang selalu terlihat keren." gumamnya. " Apa ini tempat tinggalnya? kenapa di tengah perkebunan begini?" gumamnya lagi.


Ia pun memutuskan untuk pulang setelah Satria kembali masuk ke dalam pondok tersebut,dan tidak menampakan batang hidung lagi.


" Gue akan pastikan besok." ujarnya dengan penuh keyakinan.