My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab.110



Sementara di tempat lain,dengan waktu yang sama dua Al merasa kesusahan di kala ia harus mengurus dua bayi yang terbangun dan menangis sacara bersamaan,mereka di buat berjaga semalaman,sebagai orang tau baru ini adalah pengalaman pertama bagi mereka.


Terutama Alvi,ia nampak frustasi karena tidak bisa menyusui kedua bayinya secara bersamaan.


" Sayang bagaimana kalo kita bantu susu formula saja,biar aku bisa bantu kamu susuin mereka." usul Al.


" Tapi aku ingin tetap bisa menyusui mereka." rengek Alvi.


" Iya, kamu masih tetap bisa susuin mereka,ini cuma untuk jaga jaga saja,agar dalam kondisi seperti ini kamu tidak kewalahan." ujar Al lagi,membuat Alvi bergeming,namun setelah di fikir fikir hal itu lebih baik,mau tidak mau iapun menyetujui.


Setelah mendapat persetujuan Alvi,ayah dua anak itu langsung menghubungi Satria meminta tolong untuk di belikan susu formula yang terbaik khusus bayi prematur.Selesai menghubungi Satria,Al langsung menyimpan kembali ponselnya di atas meja.


Lalu kembali menghampiri istrinya.


Ia tidak menyadari ponselnya bergetar beberapa kali,hingga ketukan pintu terdengar dari luar.


" Assalamualaikum!!" mendengar suara bising dari dalam rumah minimalis tersebut,penjaga gerbang itupun memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


" Wa'alaikum salam." sahut Al dari dalam,tidak lama iapun membukakan pintu.


" Bang Al,ini titipan bang Satria." ucap penjaga gerbang tersebut.


" Dia dimana sekarang?" tanya Al.Sambil menerima kantung plastik berisi beberapa dus susu formula.


" Sudah pulang,tadi Neng Citra juga ke sini,bapak kira Bang Al sama Neng Alvi sudah tidur,jadi bapak tidak membukakan gerbang untuk mereka, karena takut mengganggu." ujarnya lagi dengan ramah.


"Citra ke sini? malam malam begini?" tanya Al memastikan,pria paruh baya itu pun mengangguk yakin.


" Ya sudah kalo begitu,terimakasih ya Pak?" ucap Al,lalu setelah itu ia menutup pintunya kembali.


" .ada perlu apa Citra kesini malam malam begini?" gumamnya dalam hati.Perasaannya pun mulai khawatir,bagaimanapun Citra adalah saudara Alvi yang sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh mertuanya,ia ikut merasa bertanggung jawab terhadap gadis itu.


Setelah selesai memberikan susu kepada anaknya,dua Al pun bisa bernapas lega, akhirnya bayi kembar itu terlelap juga.Alvi merebahkan tubuhnya dan mulai ikut terpejam.


Sementara Al berjalan ke luar kamar,dan duduk di sebuah sofa ruang keluarga hendak menghubungi seseorang,setelah lama berkirim pesan,akhirnya ia bisa bernafas lega,mengetahui bahwa Citra baik baik saja bersama pria yang di percayainya ,hingga fikiran jahat muncul begitu saja.


Entahlah apa ini perbuatan buruk atau bukan,tapi yang jelas ia berharap yang terbaik untuk orang orang terdekatnya.


*********


Setelah adzan subuh berkumandang,Citra dan Satria memutuskan untuk menunaikan shalat di dalam kamar,Satria melaksanakan shalat terlebih dulu,setelah itu baru giliran Citra,ia memakai alat shalat milik Bu Sukma yang sengaja di tinggalkannya di sana,untuk berjaga jaga jika ia harus menjaga rumah tersebut sampai seharian.


Karena pondok itu terletak di tengah tengah perkebunan dan berada jauh dari lingkungan warga,mereka berdua merasa aman,karena memang mereka tidak melakukan apa-apa.Bahkan jika terjadipun tidak akan ada yang mengetahuinya.


Satria hendak ke dapur untuk membuatkan sesuatu,Namun tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dengan kencang, di iringi dengan suara teriakan banyak orang dari luar.


sontak membuat dua makhluk itu terkejut.Citra keluar dari kamar setelah selesai menunaikan kewajibannya.Mareka sempat saling melempar pandang lalu dengan cepat berjalan dan membukakan pintu.


buta.


" Maaf kami menganggu Nak Satria sepagi ini,kami hanya ingin memastikan kebenarannya saja,,karena semalam ada seseorang yang melihat Nak Satria membawa seorang gadis kesini." ujar salah seorang pria paruh baya yang di percaya sebagai ketua RT di lingkungan tempat Satria tinggal.


Satria terdiam lalu menatap Citra yang bersembunyi di balik punggungnya.


" Maaf mungkin ini hanya salah faham,aku tidak melakukan apa apa dengannya." ucap Satria seraya mengajak pria paruh baya tersebut untuk duduk.


" Ya, kami berharap seperti itu, karena kami tau Nak Satria orang yang baik,tapi tetap saja ini tidak benar,karena Nak Satria membawa seorang gadis malam malam tanpa meminta izin terlebih dulu pada saya."


" Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Satria tanpa mau basa basi.


" Sesuai keputusan yang sudah di setujui bersama,jika terjadi kejadian seperti ini mau tidak mau kalian harus menikah." jawabnya dengan tegas ,membuat Satria juga Citra tersentak.


" Apa tidak ada cara lain?" tanya Satria mencoba bernegosiasi.


" kalau tidak, Nak Satria bisa tinggalkan tempat ini selamanya." sahutnya lagi.


" Bagaimana? untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian,sebaiknya Nak Satria fikirkan terlebih dulu,kami beri waktu sampai siang nanti." ucap pria paruh baya itu,sebelum beranjak dari duduknya.


" Nak Satria berhubung kalian sama sama lajang, lebih baik kalian menikah saja,agar kalian masih bisa tetap tinggal di tempat ini bersama sama dengan tenang tanpa ada yang mengganggu." sahut salah satu warga yang berusaha mengompori,kemudian di setujui oleh warga yang lainnya.


" Aku akan fikirkan dulu,sebaiknya kalian pergi saja." Satria menutup pintunya dengan kasar.


Lalu menatap tajam gadis di hadapannya.


" Semua ini gara gara kamu." gumamnya.


" Kenapa aku? aku tidak pernah memintamu untuk membawamu ke sini." Citra berusaha membela dirinya sendiri.


" Lalu apa yang akan bangSat lakukan sekarang? semua keputusan ada di tanganmu,aku sudah siap jika kita harus menikah sekarang juga." Citra duduk di hadapan Satria dengan tenang,ia merasa Dewi keberuntungan telah berpihak padanya, ia bisa mendapatkan pria yang dia suka tanpa berusaha keras,sepertinya ini memang jalan terbaik untuknya,mengingat ia juga sudah tidak punya tempat tinggal sekarang.


Satria tersenyum miring dengan cepat menggelengkan kepala.


" Masih ada cara lain,jadi jangan terlalu berharap aku mau menikahimu."


Satria mengambil ponselnya yang berada di dalam kamar,ia lalu menekan tombol dalam layar tersebut hendak melakukan panggilan pada seseorang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih untuk dukungan dan komennya,sebenarnya Thor g ada niatan untuk menulis cerita seperti itu karena otak Thor sempet buntu,setelah dapat komen akhirnya Thor dapet ide juga dan bisa kembali melanjutkan ceritanya.


Jadi jangan berhenti komen ya guys,,karena secara langsung itu bisa membantu Thor yang otak nya tidak seberapa ini.


So,, tetap dukung dengan kasih vote like dan jgn lupa komen juga...see you guys....😘😘😘😘🙋🙋