My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 56



" Sayang..." Al yang baru keluar dari dalam kamar pun langsung turun dan membopong gadis yang sudah tidak sadarkan diri.


" Apa yang terjadi, cepat siapkan mobil." teriaknya.


Dengan segera Faiz pun menurutinya.


" Sayang bertahan lah, aku yakin kamu kuat."


Dengan kecepatan tinggi Faiz membawa mereka ke rumah sakit terdekat, tidak lama mereka pun sampai dan langsung membawanya masuk ke UGD.


" Yang sabar bang."ucap Faiz seraya duduk di sebelah Al, baru kali ini ustadz tampan itu sangat terlihat hancur.


" Kenapa Alvi bisa jatuh?" tanya Al sambil mengusap wajahnya berusaha untuk tetap kuat.


" Kami juga gak tau bang, kami semua udah di dapur,hanya saja umi nyuruh Sarah manggil kalian." jawab Faiz.


Al pun hanya diam,ia sudah tidak mampu berucap apa apa lagi.


Tidak lama dari itu semua keluarga datang dengan tergesa gesa.


" Al , gimana keadaan Alvi?" tanya Umi yang sudah berderai dengan air mata.Membuat Al semakin rapuh,ia hanya mampu menggelengkan kepala.


" Mi, Alvi masih di dalam, umi tenang dulu,jangan bikin Bang Al tambah panik." ucap Faiz sambil mengajak umi nya duduk.


" Umi harap tidak terjadi apa apa."


" Bang Satria,Citra , Sarah. Sama mbak Zahra dimana Mi? tanya Faiz.


" Mereka udah pulang duluan, di jemput orang pondok."


" Padahal ada yang pengen Faiz tanyain sama Sarah."


" Nanyain apa?"


"Soal kejadian ini. Faiz curiga sesuatu."


" Udah lah,ini bukan saatnya kita mencurigai orang lain." timbal Abi.


Setelah menunggu beberapa jam,Akhirnya dokter pun keluar dan semua berhambur menghampirinya.


" Gimana keadaan istri saya dok." tanya Al dengan ragu, ia tidak ingin mendengar sesuatu terjadi pada istrinya.


" Terdapat luka di beberapa bagian kepala istri anda, tapi janin yang ada dalam kandungan nya cukup kuat dan masih bisa di selamatkan,hanya saja akan berpengaruh jika istri anda tidak sadar dengan segera." jelas dokter.


" Janin?"


" Iya,istri anda sedang mengandung,usia kehamilannya 5 Minggu.


" Apa saya bisa melihatnya sekarang?"


.


" Tunggu setelah di pindahkan ke ruang rawat,kalo begitu saya permisi dulu." ucap dokter itu.


" Istri ku benar benar hamil?" Al terlihat tersenyum hanya saja guratan kesedihan masih terpampang nyata di wajahnya. Umi dan Abi memeluk Al secara bersamaan berusaha memberikan kekuatan untuk sang putra dan di ikuti oleh Faiz serta Bang Haikal.


" Kamu harus tegar, Abi yakin Alvi pasti baik baik aja." ucap Abi sambil menepuk bahu Al beberapa kali,dan Al hanya menganggukkan kepala.


" Kalian pulang aja , biar aku di sini yang nunggu Alvi." ucap Al


" Faiz juga mau di sini menemin bang Al."


" Baiklah kalo ada apa apa cepet hubungi umi."


Dan dengan berat hati Akhirnya Umi Abi serta Bang Haikal pun pulang.


" Faiz, kamu udah siap lanjutin kuliah, Abang udah urus semuanya, satu Minggu lagi kamu bisa berangkat." ucap Al di sela sela menunggu istrinya di pindahkan.


" Kalo gitu kamu harus berangkat,Abang gak apa apa,Abang yakin Alvi juga akan segera sadar." Al berusaha meyakin kan Faiz dan menguatkan diri nya sendiri,bagaimana tidak ia harus kehilangan adiknya untuk sementara dalam situasi seperti ini, karena bagaimana pun dan dalam situasi apa pun Faiz lah yang selalu bisa di andalkan nya.


Sedangkan Faiz hanya mengangguk.


Setelah Alvi di pindahkan ke ruang rawat dengan beberapa selang dan alat bantu di sekujur tubuhnya. Al menghampirinya dan duduk di kursi sebelah ranjang pasien sambil menggenggam tangan sang istri, ia menciumi seluruh wajah pucat itu dengan tubuh yang sudah bergetar.


Al sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi, melihat sang pujaan hati yang biasa terlihat ceria,kini terkapar tak berdaya dengan wajah yang memucat.


" Sayang, maafin aku,aku gak bisa jaga kamu dengan baik, bangun lah ,apa kamu tau di dalam perut mu ada janin, buah cinta kita, dan kamu tau, anak kita sangat kuat, bangun lah,aku akan menemani mu makan rujak mangga langsung di pohonnya lagi, aku mohon bangun lah,apa kamu tega membuat ku seperti ini? "


ucap Al,sambil mengusap perut rata sang istri, Isak tangis tak bisa ia bendung lagi, sementara Faiz hanya memperhatikan dari bekalang.


Tidak tahan melihat Abang kesayangannya menangis , Faiz pun pamit untuk pulang.


Sepeninggalan Faiz Al semakin terlihat rapuh,tak henti hentinya ia menangisi sang istri.Sambil terus mengajak istrinya bicara.Hingga tak terasa hari menjadi petang,dan petang barubah menjadi malam,Al masih terus setia di sebelah istrinya.


*


*


*


Hari berganti Minggu ,namun masih belum ada tanda tanda dari Alvi untuk bangun dari tidur panjangnya, sementara itu Faiz sudah harus pergi untuk melanjutkan pendidikannya, Al berusaha untuk menyempatkan mengantar sang adik ke bandara.


Di bandara semua keluarga beserta Citra dan Satria pun ikut mengantar kepergian Faiz .


" Jaga diri baik baik,belajar yang baik,dan jangan sampai telat makan." pesan Umi pada Faiz sambil memeluk putra bungsunya itu.


di ikuti Bang Haikal dan juga Abi.


Sedangkan Al hanya menatap Adik kesayangannya itu dengan iba, iya tau keinginan Faiz untuk melanjutkan pendidikannya semata mata hanya untuk bisa mendapatkan Citra,sedangkan Citra sudah memiliki pria idamannya sendiri.


" Abang gak mau peluk Faiz." ucap Faiz sambil menghampiri Al.


Al hanya tersenyum lalu meraih tubuh adiknya itu dan memeluknya dengan sangat erat.


" Jaga diri mu baik baik." pesan Al yang langsung di angguki oleh Faiz.


" Iya bang, Abang juga, dan aku akan selalu mendoakan agar Alvi cepet sadar." sahut Faiz, kemudian iaberalih menghampiri Citra.


"Jaga diri baik baik ya Cit, gue harap lu inget gue terus." ucap Faiz yang sudah merentangkan tanganya untuk memeluk Citra, namun Umi,Abi Bang Haikal dan juga Al langsung menghalangi mereka.


" Jangan dulu main peluk anak orang." ujar Abi sambil sedikit menjewer telinga Faiz.


" Iya Bi maaf Faiz khilaf."


Citra hanya terkekeh sambil menatap pada Faiz.


" Iya Lu juga jaga diri baik baik di sana,gue pasti bakal kangen Lu."


setelah mendapat jawaban dari Citra Faiz beralih ke Satria.


" Bang tolong tangani ini semua,lakukan yang terbaik dan tolong jaga bang Al." pinta Faiz pada Satria,yang hanya di angguki oleh Satria.


" Lu tenang aja, serahin ini semua sama gue." ucap Satria sambil menepuk bahu Faiz.


Setelah itu Faiz pun pamit pada semua keluarga karena pesawat akan segera lepas landas.


*


*


*


Terima kasih buat kalian yang masih setia nungguin up nya, jgn lupa like komen dan votenya yang banyak...😘😘😘😘