My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 26



Dini hari pun tiba, perlahan mata ku terbuka setelah mendengar suara indah yang selama ini selalu mengganggu tidur ku. Dalam diam ku perhatikan pria yang telah bersimpuh di atas sejadah dengan alqur'an di tangannya.Aku pun baru menyadari ternyata aku sudah kembali ke dalam kamar.


Perasaan tenang begitu terasa setelah mendengar ayat ayat yang terucap di bibirnya.Wajah yang begitu teduh membuatku merasa damai bahkan hanya saat melihatnya saja,Tanpa ku sadari bibir ku tersungging begitu saja.


Aku bangun dengan hati hati dan sepelan mungkin berusaha agar tidak menganggunya.


" Kamu sudah bangun?" tanya nya,setelah menyadari pergerakan ku.


" Hmmmm.."


" Maaf aku sudah menganggu mu,tadinya aku mau ke mesjid,tapi takut kamu perlu dsn perlu bantuan ku,jadi aku ngaji di sini." ucapnya sambil menutup Alqur'an itu dan menaruhnya di atas meja.


" Gak apa apa terusin aja,seharusnya aku yang minta maaf sudah menganggu dan mengalihkan komsentrasi mu." ucap ku yang masih duduk manis dengan menyenderkan punggung di senderan ranjang .


Dia pun hanya tertawa kecil.


" Kamu bukan hanya bisa mengalihkan konsentrasi ku,tapi juga sudah mengalihkan dunia dan hidup ku." Ucapannya membuatku merasa malu,saat itu juga rasanya ingin sekali aku pergi ke kutub utara hanya untuk menyembunyikan wajah yang sudah merona.


"Karena sudah bangun,sekarang sebaiknya kamu bersihkan diri mu dan ambil wudhu!" titahnya,dan dengan senang hati aku pun menurutinya, dengan tidak tau malunya,aku meraih tubuhnya dan langsung mangalungkan tangan ku di lehernya.


" Bantu aku ke kamar mandi." pinta ku dengan manja,walaupun masih ada perasaan yang aneh,tapi entah kenapa aku menjadi merasa senang saat berada dalam gendongannya.


"Baik lah." Dengan satu gerakan aku sudah berada dalam gendongannya,ia mengangkat ku seperti sedang membawa karung berisi kapas,terlihat ringan tanpa beban.


" Hhhuuufffttt..Jantung gue kenapa brisik sekali,apa tadi dia mendengarnya." Aku berbicara pada diri ku sendiri lewat pantulan kaca kamar mandi.


" Tapi gue suka." ucap ku lagi sambil tertawa,dan ku lihat wajah ku sudah memerah tidak terlihat kaku seperti dulu . Senyum ku terus terukir saat mengingat wajahnya.


Bukanya membersihkan diri aku malah terus berbicara,senyum dan tertawa sendiri,seperti orang gila ,kalau saja kaki ku tidak sakit ingin sekali aku berjingkrak dan berjoget saat itu juga.


" Alvi,, apa masih lama sebentar lagi waktunya subuh." suara seseorang dari balik pintu kamar mandi menghentikan kegiatan ku.


" Iya,sebentar lagi." aku pun melalukan rencana awal ku dengan cepat.


"Al.." untuk pertama kalinya aku menyebut namanya dengan benar .


" Iya."


" Aku lupa gak bawa baju ganti." ucap ku sambil mengintip di balik pintu kamar mandi.


Dan tidak lama dia menyerahkan sehelai handuk pada ku.


" Kenapa handuk,aku minta baju."


" Aku gak tau baju mana yang mau kamu pake."


" Tapi mana mungkin aku ke luar cuma pake handuk kaya gini."


" Emang kenapa,gak akan ada yang bisa lihat kamu."


" Emang kamu gak bakal lihat?"


" Emang kenapa kalau aku liat,kita udah sah,gak akan jadi dosa buat kamu."


" Tapi aku malu.Lagian aku masih butuh bantuan kamu,kalau cuma pake handuk kita bisa bersentuhan dan wudhu ku bisa batal." alesan yang sangat masuk akal.


" Ya sudah,aku harus bawakan baju yang mana."


" Yang mana saja,sesuai selara mu."


Dan tidak lama ia pun menyerahkan pakaian ku lengkap dengan pakaian dalemannya,dan lagi lagi membuat ku merasa sangat malu.


Aku membuka pintu kamar mandi , dia langsung menghampiri dan mentatih ku tanpa bersentuhan kulit secara langsung.


" Sebentar lagi subuh,kita shalat berjama'ah ya ,kalo kamu gak kuat berdiri duduk aja." ucapnya seraya membawa ku langsung ke atas sejadah yang sudah dia siapkan untuk ku.Aku pun mengangguk.


Aku melirik ke arah jam yang menempel di dinding kamar itu dan setetika mata ku terberalak.


" Gila,,hampir satu jam setengah gue di kamar mandi,apa dia gak curiga gue di sana ngapain aja." gumam ku dalam hati.


Dan saat itu juga Adzan subuh telah berkumandang,kami pun shalat perjama'ah layaknya sepasang suami istri pada umum nya.


*


*


*


" Kamu istirahat aja,aku ngajar anak anak dulu." ucapnya setelah kami selesai melaksanakan shalat subuh berjama'ah dan aku pun menurutinya.


Ku rebahkan tubuh ku kembali di atas ranjang, ku raih ponsel ku sudah banyak pesan yang masuk dari grup chat toko


" Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikum salam,kamu sudah pulang?"


" Iya, bagaimana kaki mu?"


" Sudah mendingan, tidak terlalu bengkak, sepertinya sudah tidak perlu di perban lagi."


" Ya sudah aku akan membukanya."


Setelah mengganti pakaiannya,dia menghampiri ku,dan membantu melepaskan perban yang melekat di pergelangan kaki ku.


" Aku ingin sekali pergi berlibur seperti mereka." ucap ku dengan menunjukan wajah imut ku.


" Kamu sedang sakit,mana mungkin bisa ikut."


" Kenapa kamu menyuruh mereka berlibur di saat aku sedang sakit."


"Maaf Aku sengaja,agar kamu bisa istirahat di sini. Aku gak tega liat kamu bekerja di saat keadaan mu seperti ini."


" Kamu gak adil." aku pun sedikit merajuk.


" Maaf , setelah kamu sembuh,aku akan mengajak mu kemana pun kamu mau." bujuk nya.


" Serius??" tanya ku dengan mata yang sudah berbinar.


" Tentu saja,emang kamu mau kemana?"


" Aku ingin ke Paris.Apa kamu bisa membawa ku ke sana?" ucap ku dengan antusias


" Hmmmmm,,akan aku bertimbangkan,kayaknya aku perlu menjual beberapa unta terlebih dulu." candaanya berhasil membuat ku terkekeh.


Setelah perban di lepas ,seperti biasa dia menggendong dan membawa ku ke dapur dan langsung mendudukan ku di meja makan.


" Mau aku buatkan teh?" tawarnya.


" Boleh." sahut ku tanpa pikir panjang


Dari belakang Ku perhatian punggung tegapnya, yang sedang asyik meracik minuman untuk kami, terlihat sangat seksi dan cool. Rasanya ingin sekali aku menabrakan diri ku pada punggungnya itu.


Tidak lama dia pun kembali menghampiri ku dan meletakan dua cangkir teh di atas meja.


" Sebentar lagi aku mau pergi, ada undangan dakwah dari salah satu stasion tv,aku sudah meminta seseorang untuk menyiapkan mu makanan." ucapnya sambil menyeruput teh nya.


" Baiklah."


Tidak lama, terdengar seseorang telah mengetuk pintu rumah kami.Suami ku segera menghampiri dan membukakan pintu untuknya. dengan tertatih aku pun mengikutinya dari belakang.


" Udah siap semua bang." ucap orang tersebut.


" Ya sudah,aku ganti siap siap dulu."


Dari sofa Ku perhatikan setiap gerak geriknya,apa yang ia pakai dan ia bawa tak luput dari perhatian ku.


Setelah selesai dia menghampiri ku.


" Aku pergi dulu,jaga diri kamu baik baik,jika butuh sesuatu hubungi aku,jangan khawatir di sini juga banyak orang yang bisa kamu mintai tolong." ucapnya panjang lebar,sebenarnya sulit untuk ku melepasnya pergi ,tapi bagaimana pun ini sudah tugasnya dan aku tidak bisa melarangnya.


" Apa kamu akan pergi lama?"


" Tidak,besok atau malam aku sudah pulang."


" Baiklah,hati hati."


Dia tersenyum seraya menggenggan tangan ku dengan sangat erat, seakan tau apa yang telah aku rasakan saat ini.


" Aku pergi ya." pamit nya sambil mengusap pipi ku dengan lembut.


" Tunggu! apa aku boleh mencium tangan mu." pinta ku dengan ragu dan tanpa ku duga dia tersenyum dan menyerah kan tangannya.


" Tentu saja. Tapi sebagai gantinya apa aku boleh mencium kening mu."


Aku pun tersenyum dan mengangguk, ku raih tangan itu dan langsung menciumnya.


Setelah itu ,perlahan dia mendekati ku dan mengusap kepala ki dengan lembut,dia pun mendaratkan bibirnya di kening ku. aku hanya memejamkan mata seraya merasakan hangat dan lembut dari bibirnya.


Untuk pertama kalinya aku mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria.Jantung ku semakin gaduh seperti ingin keluar dari tempatnya.


" Assalamu'alaikum ." pamitnya dengan tersenyum ,dan Dia pun meninggalkan ku Dengan perasaan yang sudah tak karuan.