
" Citra bangun!!" ini kali pertamanya Satria menyebut nama gadis yang berada dalam dekapannya itu dengan jelas,ia lalu merebahkan tubuh Citra di pangkuannya,menepuk pipinya berkali kali,namun gadis itu tak juga merespon,ia masih setia menutuo matanya.
" Panggilkan ambulan !!" teriak Satria,dengan wajah yang mulai nampak panik.
Sementara itu di rumah sakit,beberapa dokter dan perawat yang menangani proses operasi Alvi akhirnya bisa tersenyum dan bernafas lega,mereka lalu keluar dari ruang operasi setelah selesai menyelamatkan bayi kembar itu.
Semua orang langsung berhambur menghampiri dokter tersebut,tidak hal nya dengan Al yang kini nampak semakin rapuh,menyeret langakahnya yang terasa sangat berat, bahkan untuk menopang berat badannya pun seakan tidak mampu,ia tidak sanggup untuk mendengar penjelasan dari dokter tentang kondisi istri dan anaknya itu.
" Alhamdulillah,proses oprasi berjalan dengan lancar,tapi maaf ada beberapa masalah yang harus aku sampaikan,kondisi mereka masih sangat lemah mengingat kedua bayi tersebut lahir secara prematur serta organ dalam yang belum berkembang dengan sempurna,kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,sementara kondisi Alvi....." dokter itu menjeda ucapannya.
" Kami hanya bisa berharap keajaiban dari Tuhan." jelas dokter itu dengan ragu.
" Apa kami bisa melihatnya sekarang?" tanya Abi,yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
" Maaf untuk saat ini aku belum bisa mengizinkan kalian untuk melihatnya,karena mereka masih berada di dalam ingkubator,untuk Alvi kalian bisa melihatnya setelah dia di pindahkan ke ruang rawat."
Dokter itupun pamit setelah mendapat anggukan dari semua orang di sana.
Al menggelengkan kepala tak percaya,ia kembali terkulai lemah,menahan bobot tubuhnya dengan berpegangan ke sebuah kursi.
Begitupun dengan Ibu,ia menutup mulutnya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara isakan nya.Bang Fatur masih setia mendekapnya berusaha untuk menenangkan.
" Malang sekali nasib mu Nak." lirih Ibu.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang,anak dan istriku sedang berjuang keras untuk tetap hidup,sementara aku sendiri tidak bisa berbuat apa apa untuk mereka." ucap Al putus asa.
" Aku sudah tidak punya tujuan hidup lagi,jika terjadi apa apa pada mereka aku mohon bunuh aku juga." caraunya.
Abi menggelengkan kepala,ia bisa merasakan betapa hancurnya hati anaknya saat ini,Umipun ikut terisak tanpa sepatah katapun.
" Al daripada kamu seperti ini,lebih baik kamu tunaikan shalat,ceritakan semua masalahmu pada Allah,mintalah pertolongannya,do'akan semoga anak dan istri mu selamat." Abi mengusap punggung Al.
Al pun mengangguk,tidak ada gunanya juga ia menangis,menangis saja tidak akan merubah apapun,anak dan istrinya kini hanya membutuhkan doa,Al pun beranjak ,dengan langkah gontai ia berjalan menuju sebuah mushola.
" Ya Allah,hidupku memang jauh dari kata baik,jika ini sebuah terugan untukku ,maka ampuni aku,jangan hukum aku seperti ini,jangan libatkan istri dan anak anaku dalam hal ini,beri aku kesempatan untuk memperbaiki diriku,beri aku kesempatan untuk menjadi seorang imam yang baik untuk anak dan istriku.hanya padamu aku berserah ,hanya padamu aku memohon,tolong selamatkan istri dan anakku yang kini nampak tak berdaya,aku sungguh tidak sanggup untuk melihatnya." lirih Al sambil bersimpuh di atas sejadah.
*
*
*
Sementara itu Citra dan Satria langsung di larikan ke rumah sakit yang sama,mereka di bawa ke ruang UGD agar bisa segera mendapat pertolongan,tidak lama setelah itu merekapun di pindahkan ke ruang perawatan,mereka berada di dalam kamar yang sama ,Satria mendapat beberapa luka bakar yang tidak terlalu parah, ia masih terlihat baik baik saja,walaupun dengan beberapa perban yang membalut sebagian tubuhnya,namun itu semua sama sekali tidak berpengaruh dalam setiap gerak geriknya,
Berbanding terbalik dengan Citra,ia masih saja belum sadarkan diri terbaring lemas dengan beberapa alat bantu pernafasan terpasang di hidungnya.
Satria menyibakkan gorden pembatas,tampak jelas wajah pucat yang kini terbaring lemas di atas brankar.
Entah ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan,hatinya terasa tersayat kala melihat wanita yang selama ini nampak kuat kini harus terpujur kaku tak berdaya.
" BangSat." panggilan itu yang kini ia rindukan,beberapa kali terngiang di telinganya,tanpa ia sadari butiran kristal menetes mengalir di pipinya.
Ibu yang telah mendengar kabar dari bang Haikal langsung segera menemuinya,ia kembali terisak melihat dua anak gadisnya terbaring di tempat yang sama bahkan dengan waktu yang sama pula.
" Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian,kenapa bisa terjadi seperti ini." lirih Ibu sambil memeluk Citra.
" Bu maafkan aku,aku yang menyebabkannya terluka." ucap Satria tegas.
" Apa yang sebenarnya terjadi,kenapa bisa sampai seperti ini?" ibu menghampiri Satria dengan wajah yang tidak bersshabat,ada sedikit amarah yang nampak di wajah tuanya itu.Satriapun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak lama setelah itu akhirnya terdengar lenguhan kecil dari Citra,perlahan ia mengerjapkan mata,memutar bola matanya memastikan Indra penglihatannya.
" Dimana aku." lirihnya sambil memegang kening.
" Citra, kamu sudah sadar Nak?" tanya Ibu antusias.
Citra mengangguk sambil tersenyum.
" Apa aku masih hidup?" ujarnya lagi dengan suara yang masih terdengar lemas.
" Tentu saja kamu masih hidup,dasar gadis nakal ,apa yang kamu lakukan ,apa kamu sudah merasa hebat,apa kamu punya banyak nyawa sehingga berbuat nekat seperti itu." seroloh ibu dengan Isak yang semakin pecah,kemudian ia mendekap Citra perasaannya sedikit tenang ketika melihat Citra tersadar dan baik baik saja.
" Kenapa ibu menangis,ibu terlalu berlebihan,aku tidak apa apa,tak seharusnya ibu menangis seperti itu." balas Citra yang langsung membalas pelukan ibu.
" Ibu bagaimana dengan kondisi Alvi?" tanya lagi,dalam kondisi yang seperti ini,ia masih sempat memikirkan keadaan sahabatnya itu.
Ibupun menceritakan semua yang terjadi pada Alvi,membuat Citra bergeming,perlahan tapi pasti air matanya pun lolos dari pertahanannya.
" Jangan terlalu di fikirkan,fokus dulu untuk kesembuhanmu,kita do'akan semoga Alvi segera sadar." ucap Ibu,setelah itu iapun kembali pergi.
Ibu kembali ke ruang dimana Alvi berada,kini tersisa Satria dan Citra di sana.
Isak tangisnya semakin terdengar jelas,ia masih belum menyadari keberadaan Satria di sana.Di balik gorden pembatas Satria mampu merasakan kesedihan yang di alami oleh gadis itu.Ia benar benar tidak sanggup mendengar tangis yang terdengar begitu pilu.
Satria pun kembali menyibakan gorden tersebut,membuat Citra terperanjat dengan segera ia mengusap pipinya.
Satria menatap Citra dengan tatapan yang menghunus tajam,,membuat gadis itu salah tingkah,suasana seolah mencakam,ia meraba tengkuknya yang terasa merinding.
" Ada apa ? kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Citra berusaha memberanikan diri.
" Dasar gadis bodoh,tidak seharusnya kamu melakukan itu." ucap Satria,dengan tatapan membunuhnya.
" Memangnya kenapa? jangan bilang kalau kamu menghawatirkan ku." ejek Citra.
Satria hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Citra,tingkah Citra yang seolah tidak terjadi apa apa padanya membuat Satria semakin penasaran.