
Sementara itu,di dalam kamar Alvi dan Citra masih saling berpelukan,menyalurkan rasa rindu,seakan sudah berpisah ribuan taun.
" Al gimana kabar lu,gue denger dari Faiz lu di culik Dimas."
" Sssuuttt..Jangan kenceng kenceng entar bapak sama ibu denger, gue gak mau bahas itu lagi." bisik Alvi sambil mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya.dan Citra pun mengangguk sambil merapatkan bibirnya dengan gerakan tangan yang seakan mengunci.
" Tumben Lu baru balik?"
" Iya,motor gue mogok,untung ketemu Faiz."
" Ketemu ,apa emang lu minta anter sama Faiz?" goda Alvi sambil menyenggol bahu Citra dengan bahunya.
" Gak sengaja ketemu Al.."
" Hmmm,,iya deh gue percaya."
" Lu sejak kapan di sini?" tanya Citra mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Tadi sore." jawab Alvi yang terlihat sedang memikirkan sesuatu untuk melanjutkan pembicaraannya.
" Lu kenapa apa ada masalah,lu lagi gak berantem kan sama Bang Al,apa lu sengaja di pulangin sama Bang Al?" tanya Citra dengan cemas.
" Apaan sih lu,ya enggak lah." sahut Alvi tak terima. " Gue sama Al baik baik aja,kayaknya gue malah udah falling in love sama dia." ucap Al sambil senyum senyum sendiri.
" Hmmmm,,udah mulai bucin kan Lu,gak inget apa dulu Lu tolak dia abis abisan."ejek Citra. Sambil memukul Alvi dengan batal.
" Iya,gue nyesel sempet nolak dia,seandainya kalo gue tau enaknya menikah,gue bakal langsung terima dia." ucap Alvi sambil menyangga dagunya terlihat sedang membayangkan sesuatu.
" Emang enaknya apa?" tanya Citra antusias sambil merapatkan posisinya pada Alvi.
" Hmmmm,,gue gak mungkin kasih tau sekarang,apalagi sama jomblo kaya lu." Alvi pun terbahak, Citra menyencebikan bibirnya,ia pun terlihat memikirkan sesuatu.
" Enaknya menikah? apa jangan jangan lu udah...." Citra tak mampu melanjutkan ucapannya,ia membulatkan mata menatap Alvi. "Lu udah....." Citra mengulang ucapanya sambil menyatukan kedua telapak tanganya sebagai isyarat yang langsung di angguki oleh Alvi.
" Iiiiiihhhh,,,dasar Lu mesuuummm." sambil memukul Alvi dengan bantal beberapa kali dan mereka pun tertawa bersama.
" Cit,kayaknya mulai sekarang gue gak bisa dateng ke toko tiap hari." Alvi mulai berbicara serius.
" Kenapa?"
" Gue pengen di rumah aja jadi istri yang baik,yang bisa melayani suami gue dengan baik."
" Hmmmm,,,terus kita gak bisa ketemu tiap hari dong" Lirih Citra.
" Tenang aja,lu masih bisa temuin gue di pondok,kapan pun lu mau,dan alasan ke dua,gue males di bilang cewek kaku dan dingin lagi,lu tau,tadi gue mampir ke warung bakso langganan kita, terus ada yang ngomongin gue,mereka bilang suka sama roti dan kue di toko kita tapi dia males liat gue." lirih Alvi seakan ingin menangis. Saat menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.
Citra sudah tidak bisa menahan tawanya,ia pun terbahak menanggapi ocehan dari sahabatnya itu.
" Iya deh,kalau gitu gue harus cari orang lagi dong buat gantiin Lu di toko."
" Iya terserah,gue serahin semuanya ke Lu."
" Hmmmm,,kalo lu lebih banyak ngabisin waktu di rumah,gue bisa cepet dapet ponakan dong." goda Citra sambil mengedip ngedipkan matanya.
" Do'ain aja."
" Iya lah,gue selalu do'ain yang terbaik buat Lu,dan kayaknya posisi gue bakal terancam nih." goda Citra lagi.
" Tenang aja,posisi Lu selalu aman." jawab Alvi dan mereka pun kembali tertawa sambil berpelukan.
*
*
*
Sementara itu Al yang sudah ingin masuk ke kamar mengurungkan niatnya karena mendengar teriakan Citra dan Alvi. Ia pun kembali menghampiri Bapak yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
" Nak Al,bapak kira kamu sudah tidur." ucap Bapak sambil mempersilahkan menantunya untuk duduk.
" Belum Pak,tadi ada Faiz,dan di kamar juga lagi ada Citra."
" Lalu Faiz nya kemana?" tanya Bapak sambil melirik ke ruang tamu.
" Udah pulang,dia cuma nganterin Citra."
" Ohh.." Bapak pun kembali menganggukan kepala. " Citra sama Alvi kalo udah bareng bareng kaya gitu gak bakal inget waktu. mereka udah kayak sepasang sendal." ucap Bapak saat mendengar suara cekikikan dari dalam kamar Alvi.
" Apa mereka punya ikatan saudara." Al pun memberanikan diri untuk bertanya.
" Iya,mereka sepupuan,bapaknya Citra adalah adik Bapak, tapi nasib Citra sangat buruk, bapaknya meninggal waktu dia masih dalam kandungan, dan ibunya pergi merantau waktu Citra umur 6 bulan,sampai sekarang ibunya sama sekali tidak pernah menemui dia bahkan Bapak pun tidak tau bagaimana kabar ibunya." jelas Bapak yang terlihat sangat sedih.
" Jadi Citra tidak pernah mengenal orang tuannya sama sekali?" tanya Al lagi,jiwa keponya sudah mulai meronta ronta.
" Begitu lah,dari kecil bapak dan ibu yang merawatnya,bapak menyayanginya sama saperti bapak menyayangi Alvi,bapak sudah seperti punya anak kembar,dengan karakter dan sifat yang berbeda. namun saling melengkapi." mata bapak mulai berkaca kaca.
" Setelah bapak mendapatkan jodoh untuk Alvi ,bapak juga masih punya tugas untuk mencarikan jodoh yang terbaik untuk Citra.Bapak ingin melihat Anak anak bapak bisa hidup bahagia bersama pasangannya." lirih bapak dan Al pun mengusap punggung mertuanya itu.
" Apa bapak berniat untuk menjodohkan Citra juga?"
" Tentu saja,kalau bapak sudah menemukan orang yang mau menerimanya dan tulus mencintainya." jawab bapak dengan tegas.
" Apa sekarang Citra belum pernah dekat atau mengenalkan laki laki pada Bapak." Al bertanya layaknya reporter papan atas. yang di balas dengan gelengan kepala dari bapak.
" Dia sama halnya kaya Alvi, lebih menyibukan diri dengan bekerja,bapak gak pernah liat dia dekat dengan laki laki,karena bapak sendiri melarangnya,walaupun cuma teman tetap saja mereka buka mahram." jelas bapak ,Al hanya menganggukan kepala,senyum tersungging dari bibirnya.
Ia merasa bahwa Faiz adalah pria yang tepat untuk Citra,namun tentunya bukan untuk saat ini,karena Faiz harus melanjutkan kuliahnya terlebih dulu.dan berharap Semoga saja Citra bisa menunggunya.
Malam semakin larut dengan terpaksa Citra harus pulang ke rumah peninggalan orang tuanya,satu satunya bukti bahwa ia pernah memiliki orang tua. Jika dulu ia bisa tidur bebas bersama Alvi, namun untuk sekarang ia sudah tidak bisa lagi karena Alvi sudah memiliki orang yang lebih berhak atas dirinya.
Al pun sudah kembali masuk ke kamar,ia rebahkan raganya di samping wanita pujaan hatinya. Ia terlihat kesal karena menunggu Alvi dan Citra yang seakan melupakan waktu.
" Biii.."
"Hmmm.."
Alvi mendekati suaminya dan langsung mendaratkan kepalanya di dada bidang milik suaminya,yang kini menjadi tempat ternyaman untuknya. Lalu melingkarkan tangan di perut unta Arabnya.
" Biii..."
" Iya."
" Kamu ngantuk?"
" Hmmm.."
" Bii,,aku nanya kenapa jawabnya cuma Hmmm,,emang hmmmm artinya apa?" Alvi terlihat sedikit kesal.
" Iya,aku ngantuk,kamu ngapain aja sama Citra sampe lupa sama aku." gerutu Al yang langsung di sambut dengan kekehan dari istrinya.
" Kita gak ngapa ngapain,cuma ngobrol biasa,tau gak Bi dia ngerasa posisinya terancam sama kamu.
"Posisi apa?"
" Apa lagi kalau bukan posisinya di hatiku." ucap Alvi sambil terus tergelak.
" Apa benar begitu,seistimewa itu kah Citra sampe kamu memposisikan dia di hati mu?" Al manatap manik mata istrinya,seolah mencari kebenaran.
" Tentu saja tidak,Kamu sama Citra sudah memiliki tempat berbeda di hatiku,jadi tidak akan bisa saling berebut. Dan kalian sama sama berarti buat aku." ucap Alvi sambil membalas tatapannya dan semakin mengeratkan tangan yang melingkar di perut suaminya.
" Dasar Upin Ipin." Al terkekeh lalu mencium bibir Alvi setelah mendapat tatapan tajam dari istrinya itu.
*
*
*
terima kasih buat reader yang selalu setiap baca karya ku,jgn lupa like komen dan vote nya..terima kasih,semoga kalian sehat selalu. 😍😍😍😍🤗