My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 139



Satria dan Citra memutuskan untuk segera pulang,dalam perjalanan rintikan hujan mulai membasahi bumi tiupan angin kencang menerpa mereka,tanpa menyerah Satria terus melajukan kendaraannya menembus hujan yang mulai deras,pria itu menyempatkan diri untuk menepi sejenak hendak memberikan jaket miliknya untuk Citra kenakan.


" Pakai jaket ku." titahnya


" Kamu gimana?" ragu Citra.


" Gampang,nanti aku minta bayaran di rumah." ucap Satria sambil mengedipkan sebelah matanya.


Citra mengangkat sedikit sudut bibirnya,tak ayal ia pun menerima jaket milik Satria lalu memakainya.


Tak menunggu lama,Satria kembali melajukan motornya,Citra pun semakin mengeratkan pelukanya di pinggang sang suami,sementara Satria menggenggam tangan Citra guna memberi kehangatan,walaupun sebenarnya yang ia lakukan tidak berguna sedikitpun.


Dengan menempuh jarak 30 menit akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah,Citra turun lebih dulu di susul suaminya,mereka berlari kecil menuju teras rumah,setibanya di sana,Citra langsung membuka helm dan jaket,sementara Satria membuka pakaiannya hingga hanya menyisakan celana pendeknya.


" Kenapa gak buka di dalam saja sih." gerutu Citra tak rela jika tubuh kekar sang Suami terekspose begitu saja.


" Basah,nanti lantainya licin."ucap Satria.


" Ya sudah aku juga mau buka di sini." balas Citra yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang suami.


" Bercanda." kekeh Citra seraya mencubit gemas perut suaminya,lalu ia berlari masuk ke dalam rumah.


" Sayang!! ambilkan aku handuk!" teriak Satria dari luar membuat Citra menghentikan langkahnya,hingga ia mematung di tempat,gadis itu bergeming sambil mencerna ucapan yang di lontarkan suaminya.


" Apa? aku tidak mendengarnya!!" teriak Citra sambil menajamkan telinganya.


" Ambilkan aku handuk!"


" Bukan itu,sebelumnya." Citra sengaja kembali ke luar menghampiri sang suami.


" Sayang!!" ucap lembut dan halus dari bibir Satria membuat wanita itu melompat girang.


" Apa,apa? sekali lagi." Citra mendekatkan telinganya,seraya mengoda Satria,baginya itu sebuah panggilan yang paling indah,walaupun Satria sudah pernah mengatakan seperti itu sebelumnya,tapi tetap saja berbeda,karena saat itu Citra telah bekerja keras,dan wajar saja kalau Satria membalasnya dengan memanggilnya sayang,tapi sekarang? panggilan itu terasa berbeda dan lebih indah untuk di dengar.


" Sayang!!!" bisik Satria dengan suara beratnya,ia menggigit kecil cuping Citra yang masih terbalut jilbat,lalu memeluk mesra tubuhnya yang masih basah kuyup,dan sedikit mengangkatnya hingga tubuh gadis itu sedikit lebih tinggi darinya,Citra menundukan kepalanya hendak mencium wajah sang suami.


" Aku tidak mau di panggil sayang,makanan jatuh belum lima menit saja di bilang sayang." seloroh Citra sambil kembali melenggangkan kaki, membuat Satria seolah mati di tempat.


Padahal ia sudah mati matian menahan gengsi dan malunya demi menyenangkan sang istri.


" Ini Bang, handuknya." Citra kembali keluar dengan menenteng handuk.


" Mandi bareng Yuk." bisik Satria yang langsung mendapat gelengan kepala.


" Kenapa? dosa loh kalo nolak."


" Kalau mau di kamar saja,tidak usah di kamar mandi." ucap Citra tanpa berfikir terlebih dulu, membuat Satria terbahak,gadis itu memicingkan mata memperhatikan gelagat sang suami yang nampak aneh.


" aku cuma mengajak mu mandi bareng, kenapa malah nyuruh di kamar,memangnya mau apa?" ucap Satria sok polos, pria itu melangkahkan kaki tanpa menghentikan tawanya,wajah Citra berhasil merona di buatnya.


" iiiikkkhhh,,,dasar nyebelin." teriak Citra sambil berlari menyusulnya,gadis itu melompat ke punggung sang suami dengan kaki yang ia lingkarkan ke depan dan tangan pun melingkar di lehernya.Ia menggigit kecil pundak sang suami dengan gemas.


Karena repleks tangan Satria pun menahan bokongnya agar tidak terjatuh,lalu membawanya ke dalam kamar mandi.


******


Esok harinya,Faiz sudah berada di dalam perjalanan hendak menjemput Citra di rumahnya.Pemuda itu terus menyunggingkan senyum indahnya,Menyusuri jalan pedesaan yang masih nampak asri dengan perkebunan sayur dan buah di sisi kiri dan kanannya.Tetesan embun masih nampak membasahi dedaunannya.


Setibanya di halaman rumah Citra,ia langsung berjalan memasuki teras rumah sederhana itu dan mulai mengetuk pintunya,Namun tanpa ia duga sosok wanita paruh baya yang di kenalnya keluar dari balik pintu tersebut.


" Bi Marni?" Faiz nampak terkejut begitu juga dengan Bi Marni.


" Nak Faiz?" wanita paruh baya itu langsung memeluk pemuda yang 24 tahun lalu ia campakkan begitu saja di tempat asing,dengan hanya alas selembar kardus dan selehai kain rajik.


Faiz hanya bergeming tanpa sepatah katapun,pemuda itu terlihat tidak mengerti dengan apa yang terjadi setelah ia pergi dari negara ini setahun yang lalu.


" Kenapa bi Marni bisa ada di sini?" tanya Faiz ketika wanita paruh baya itu melepaskan pelukanya.


Faiz di persilahkan duduk terlebih dulu,lalu ia mulai menceritakan yang sebenarnya,tentang statusnya,tentang pernikahan Citra dan Satria,tentang keluarga yang membesarkannya,berharap pemuda itu akan sudi memaafkannya dan menerima kenyataan itu dengan mudah,lalu mereka bisa tinggal bersama dan memulai hidup yang baru,meskipun Citra belum bisa menerimanya setidaknya Faiz tidak begitu,fikirnya.


Namun ternyata harapannya sia sia,pria itu malah pergi begitu saja tanpa sepatah katapun,ke kecewaan dan kemarahanya yang samakin membuncah tak bisa ia bendung lagi,pemuda itu menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi,bahkan ia tidak menghiraukan keselamatannya lagi.


Citra yang kini tengah ikut bersama suaminya ke pondok terpaksa harus turun di tengah jalan saat mereka sudah berada di dekat kawasan pondok,wanita itu membiarkan suaminya pergi terlebih dulu,lalu setelah itu ia berjalan menyusulnya dari belakang,tanpa mereka sadari Faiz sudah melihatnya,pemuda itu menikung Satria begitu saja ketika mereka tiba di gerbang pondok secara bersamaan,Faiz merobos masuk tanpa menghiraukan motor Satria yang sedikit tersenggol oleh motornya.


" Faiz!!" tegur Satria ,Namun pemuda itu berlalu begitu saja.


Satria terdiam,nampak ada yang aneh pada Adik kecilnya itu,Namun ia tidak mau terlalu memusingkannya,pria itu melanjutkan laju kendaraannya menuju ke tempat proyek pembangunan gedung panti asuhan.


Tidak menunggu lama Citra pun muncul, gadis itu menyempatkan diri untuk menggoda sang suami yang kini telah memperhatikannya dengan mengedipkan sebelah mata yang di balas dengan sebuah kecupan jarak jauh dari Satria.


Citra terkekeh tanpa menghentikan langkahnya,gadis itu terus berjalan menuju rumah Al,Setelah punggung sang istri sudah tak nampak,Satria melanjutkan pekerjaannya.


Faiz langsung masuk ke dalam rumah,dengan sorot mata berkabut menahan sesak dan amarah,seolah tengah menggenggam bom waktu yang siap meledak kapan saja dan di mana saja jika ada yang mengusiknya.


Panggilan umi tak ia dengar,pemuda itu langsung masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu,Umi sempat terhentak,pasalnya baru pertama kali ini ia melihat Faiz kecilnya seperti itu.


" Faiz,,buka pintunya Nak!" ujar Umi sambil mengetuk pintu kamar yang terkunci.


" Ada apa Mi?" tanya Abi .


" Faiz Bi,sepertinya dia sedang marah."


" Marah biasa paling,biarkan saja nanti dia keluar sendiri." ujar Abi ,yang ternyata memang benar tidak lama Faiz keluar namun dengan menenteng sebuah koper.


" Faiz mau kemana?" tanya Umi sambil berlari kecil mengejar Faiz yang pergi begitu saja dengan langkah besarnya.


" Hentikan Mi,biarkan Faiz pergi." bentak Faiz membuat Umi memegang dadanya yang terasa sesak.


" Faiz apa yang kamu lakukan?" tegur Abi.


" Sudah cukup,aku sudah tau semuanya,biarkan aku pergi." teriak Faiz,dan itu berhasil membuat Umi terkulai lemas hingga wanita paruh baya itu tak bisa menahan berat badannya,Umi terhuyung dan langsung terjatuh.


Faiz kembali melangkahkan kaki tanpa perduli apa apa lagi,semua para santri yang kebetulan berlalu lalang di depan rumah abi nampak menatap heran pada sang putra kerajaan,yang terkenal ramah dan sopan itu.


" Tutup gerbang,jangan biarkan Faiz keluar." titah Abi pada security lewat sambungan telepon.


Setelah itu ia membawa Umi masuk ke dalam kamar.


Satria yang tengah membantu para tukang,langsung di kejutkan oleh suara teriakan yang berasal dari balik gerbang,Faiz meronta meminta di buka kan agar ia bisa keluar,aksinya berhasil mencuri perhatian bagi seluruh penghuni pondok.


" Faiz ada apa?" tanya Satria sambil memegang pundaknya,Namun Faiz segera menepisnya.pemuda itu menatapnya dengan sorot mata yang sulit di artikan.


" Ada apa?" tanya Satria sambil membalas tatapannya.


Faiz mendesis sambil membuang ludah ke sembarang arah,dadanya kembang kempis,ingin sekali ia menghajar pria di depannya itu yang terlihat santai tanpa rasa bersalah.


" Jika ada masalah,selesaikan baik baik." ucap Satria lagi.


Faiz sudah melayangkan kepalan tangannya di udara namun ia urungkan,dan kembali menurunkan tangannya.


" Kenapa?Kamu mau menghajarku? silahkan!jika itu akan membuatmu tenang." Satria menyerahkan wajahnya.


Dengan satu gerakan,akhirnya sebuah pukulan mendarat di pipi Satria,pria itu tersenyum sambil mengusap pipinya yang sedikit terasa kebas.


" Ayo lakukan lebih kencang lagi,keluarkan semua tenaga mu." tantang Satria.


" Kenapa kalian lakukan semua ini pada ku,Bang?" suara Faiz terdengar melemas,Namun masih terasa bergetar menahan gejolak amarahnya.


Citra dan dua Al yang tengah bercengkrama di teras rumah sambil memomong si kembar di kejutkan oleh laporan salah satu Santrinya,begitu juga bang Haikal dan istrinya,mereka sama sama langsung berlari ke arah di mana Faiz dan Satria berseteru.


" Bang!!" teriak Citra panik,seketika tatapan keduanya beralih padanya,Faiz tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala.


" Faiz ! kamu sudah dewasa selesaikan masalah ini di rumah,jangan membuat keributan di depan umum apalagi di lihat anak anak." Bang Haikal menarik tubuh Faiz menuju kediaman utama.


Di ikuti semua keluarga termasuk Citra dan juga Satria.


Alvi dan Mbak Zahra terpaksa harus menitipkan anak anaknya kepada para santriwati terlebih dahulu.


" Ceritakan pada kami apa yang terjadi padamu." ujar Bang Haikal ketika mereka sudah berada di rumah Abi.


" Seharusnya aku yang bicara seperti itu,ceritakan padaku apa yang terjadi di belakang ku selama ini,kenapa kalian semua menyembunyikan masalah sebesar ini padaku,kenapa kalian tidak memberitahuku jika aku sebenarnya bukan anak kandung Umi dan Abi." ujar Faiz panjang lebar dengan tubuh yang bergetar.


" Kenapa kalian tidak memberitahuku jika aku hanya seorang anak haram,yang tidak di inginkan."


" Cukup Faiz! semua bayi terlahir suci,jangan pernah berkata seperti itu nak,meskipun tidak ada ikatan darah di antara kita,tapi Kami sangat menyayangi mu." Umi berjalan menghampirinya sambil di bantu Abi.


" Dengar Nak,selama ini kami tidak pernah menganggap mu orang lain,Umi dan Abi sangat menyayangi mu,begitu juga bang Haikal dan Bang Al,mereka begitu senang saat menyambut ke hadiran mu di rumah ini 24 tahun lalu,kamu adalah malaikat kecil yang kirim Allah untuk menyempurnakan kebahagiaan kami."tambah Abi


Umi menceritakan kejadian 24 tahun yang lalu di saat mereka menemukan bayi yang tergeletak begitu saja di gerbang pondok pesantren miliknya yang dulu belum terlalu besar,dan belum di huni ribuan Santri.Kehadiran Faiz membawa berkah tersendiri bagi keluarga itu,dimana Umi tengah di nyatakan tidak akan bisa hamil lagi setelah melahirkan Al,dan Al merengek meminta seorang adik,dan Faiz tiba tiba saja hadir di antara mereka.Tak terbayang bagaimana bahagianya Al saat itu,bahkan ia rela mengorbankan apa saja demi adik kecilnya.Setelah Faiz masuk dalam keluarganya semua keberuntungan datang silih berganti,hingga mereka bisa menciptakan sebuah pondok yang begitu megah dan mampu menampung ribuan anak yatim,serta menafkahi para duafa.


Faiz yang baik,penurut,ramah,selalu memberi warna dan kebahagian bagi keluarga itu.


"sebelumnya kami tidak tau jika sebenarnya kamu anak kandung Bi Marni, Umi rela kehilangan seribu anak kandung demi anak angkat seperti mu,itu sebabnya kami tidak pernah mengungkit masalalu mu,karna kamu anak Umi dan Abi,adik dari bang Haikal dan Al,yang Allah berikan langsung lewat wanita itu."


" Kamu anak Umi,sampai kapan pun kamu tetap anak Umi." lirih Umi sambil menggenggam lembut tangan Faiz,pemuda itu mulai luluh namun ia kembali menatap tajam pada Satria dan juga Al yang tengah duduk bersebelahan di temani para istrinya masing masing.


" Kenapa kalian membiarkan aku jatuh Cinta pada Adik ku sendiri." semua orang menatapnya termasuk Citra yang seolah tidak percaya dengan apa yang di bicarakan Faiz barusan,Namun tidak halnya dengan dua Al dan Satria,yang memang sudah mengetahuinya lebih awal


Al semakin menundukan kepala,semua itu terjadi karena ulahnya yang tidak memberitahu sejak dulu,dan selalu memberi harapan palsu dengan mengiming imingi nama Citra agar Faiz bisa melanjutkan kuliah nya dengan benar.


" Ini semua salah abang,maafkan abang?" ucap Al,ia menatap sendu pada Adik kecilnya.


"Sejak dulu abang ingin sekali memberitahu mu jika yang di cintai Citra hanya Satria,tapi abang tidak berani,abang tidak ingin kamu terluka."


" Tapi buktinya apa? abang membiarkan aku jatuh terlalu dalam dan hanyut dengan perasaan yang tidak seharusnya aku rasakan." bentak Faiz,ini kali pertamanya ia meninggikan suara di rumah itu,terutama pada kakaknya,Al semakin bersalah ia tak bisa berbuat apa apa lagi.


Mungkin status yang ia sandang sebagai anak asuh tak terlalu penting,baginya mendapat kasih sayang yang begitu besar dari orang tua dan keluarga selama ini sudah bisa mengobati rasa kecewa yang terjadi hari ini.


Namun tidak dengan rasa kecewa yang sudah Al berikan padanya,pengorbanan yang ia lakukan hanya demi meraih cita cita dan cintanya kini sia sia begitu saja,cinta yang tak bisa ia capai dan cita cita yang entah bagaimana nasibnya jika tanpa cinta.


" Umi terimakasih karena Umi sudah sudi merawat Faiz dari kecil sampai sekarang,dan kini Faiz sudah besar,izinkan Faiz pergi,Faiz tidak bisa tinggalkan di sini lagi." ucap Faiz,lalu mencium tangan Umi dan mulai beranjak.


" Mau kemana?" tanya Umi masih terus menggenggam tangan Faiz.


" Entahlah,tapi bukannya kalian sudah bilang akan selalu mendukung keputusan Faiz,selagi itu yang terbaik untuk Faiz,jadi tolong lepaskan Faiz dan izinkan Faiz pergi." Faiz melepas paksa tangannya.


" Nak,jangan tinggalkan umi lagi." teriak Umi sambil terisak namun Faiz sudah teguh dengan keputusannya.


Al dan Satria berusaha mengejarnya.Namun Abi dan Bang Haikal mencegahnya.


" Dia sedang butuh waktu untuk menenangkan diri,biarkan dia pergi." ucap Bang Haikal.


" Abi yakin dia pasti akan segera kembali." tambah Abi.


Namun perasaan Al berkata tidak,kekecewaan yang menumpuk tidak akan semudah itu terobati dengan waktu yang singkat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gimana ?greget,atau biasa aja? gimana pun akhirnya mudah mudah tidak mengecewakan ya..mohon maaf jika tidak memuaskan masih banyak kekurangan..🤗karena kesempurnaan hanya milik allah.


Mungkin ceritanya cukup sampai di sini..kita lanjut ke cerita Faiz,,di sana thor juga masih akan membawa dua Al serta Citra dan Satria.


terimakasih buat kalian yang selalu ngikutin ceritanya dari awal ,terus sempet mandeg di pertengahan,dan akhirnya bisa sampai akhir,gak nyangka juga thor bisa tamatin,padalah dulu udah putus asa karena kondisi badan yang tak mendukung.


sekali lagi terimakasih sebanyak banyaknya....Sun jauh dari thor..semoga sehat selalu.


Kita ketemu lagi di cerita Faiz dan mentari yang judulnya." i will never let you go." you dadah babay .....😘😘😘😘