My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 67



Pagi menjelang ,Citra masih menggulung diri di balik selimut tebal dengan jaket milik Bang Satria yang masih menempel di pelukannya. Sepertinya sangat enggan untuk melepas jaket tersebut .


Sampai suara alarm di ponselnya menganggu dirinya,dengan terpaksa gadis itu pun membuka matanya dengan malas.


Matanya terbelalak,Setelah melihat jam yang berada di ponselnya.


" Gue kesiangan lagi." Citra langsung bangun dan dengan segera masuk ke kamar mandi hendak mengambil wudhu.Setelah itu menunaikan shalat subuh yang sebenarnya sudah menjelang pagi.


Masih mengenakan piyama tidur ,Gadis itu keluar menemui seseorang yang selama ini telah merawatnya.


" Assalamualaikum." sapa Citra dari pintu belakang rumah Alvi.


" Wa'alaikumsalam Citra , ibu kira siapa." jawab Ibu yang dulu Citra panggil Uwa,kini ia panggil ibu karena permintaannya.


" Emang siapa lagi yang pagi pagi gini udah masuk dapur orang ." canda Citra. Sambil duduk di meja makan.


" Orang siapa,ini juga dapur kamu." sahut ibu sambil yang masih sibuk dengan masakannya.


" Iya juga sih,si Alvi belum bangun Bu?"


" Belum, kayaknya dia masih belum bisa melepas kepergian bapak." Jawab ibu dengan wajahnya sedihnya. Citra pun hanya menarik nafas panjang.


" Kepergian bapak emang sulit di terima,Citra bahkan merasa bapak masih ada,dan Bapak memang selalu ada buat Citra ,walaupun sekarang Citra gak bisa melihatnya."


Ibu melirik gadis itu, lalu tersenyum sambil mengusap kepala gadis itu dengan sayang layaknya kepada putrinya sendiri.


" Ibu bangga sama kamu,ibu tau kamu juga sangat terpukul atas kepergian bapak,tapi kamu masih bisa berusaha tetap tegar." ucap ibu sambil memperhatikan wajah Citra yang terlihat sembab.


" Dengar Nak,kamu masih punya ibu,kamu bisa membagi kesedihan mu sama ibu,kalo mau kita bisa nangis sama sama." ibu tau bagaimana sifat Citra yang tidak pernah ingin membagi kesedihannya pada siapa pun.


Dengan cepat Citra menggelengkan kepala.


" Gak Bu,aku gak bisa liat ibu nangis." tolak Citra sambil mengedipkan mata beberapa kali berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.


" Citra mau manggil Alvi dulu Bu." Citra pun pergi menghindari ibu.


Setelah hampir sampai di depan pintu kamar Alvi membuka pintu dan keluar,mereka berpapasan,Citra langsung menghambur memeluk sahabatnya itu.


" Al ,Lu gak apa apa kan?" tanya Citra tanpa basa basi.


" Gue gak apa apa,harusnya gue yang nanya Lu kenapa?" jawab Alvi sudah seperti biasa.


" Gue gak apa apa kok." Citra tersenyum menampilkan deretan giginya, melihat Alvi yang sudah kembali seperti biasa.


Mereka pun kembali menghampiri ibu di dapur.


" Pagi Bu..!!!" sapa Alvi seraya mendaratkan bokongnya di meja makan.


" Pagi juga Neng." jawab ibu, tak lupa dengan senyum khasnya.


" Pisang gorengnya mana Bu,kok tumben gak bikin,padahal Alvi lagi pengen makan pisang goreng."


" Ah,, ibu gak bikin Neng, nanti ibu bikinin yah."


" Gimana bisa bapak mengawali hari tanpa pisang goreng buatan ibu." canda Alvi sambil terkekeh,namun ibu dan Citra malah diam mereka saling lirik satu sama lain.


Entah apa yang menganggu fikirannya,namun sepertinya Alvi melupakan sesuatu .


" Cit ,Lu gak ke toko,kok tumben jam segini belum siap?" tanya Alvi.


" Libur dulu lah,gue kan Bos." sahut Citra dengan santai.Menyembunyikan rasa penasaran terhadap sahabatnya yang terlihat sedikit berbeda .


" Gue mau ke kebun,panen strawberry." ucap Citra dengan antusias.Seketika mata Alvi pun berbinar ,ia memang sangat suka jika berhubungan dengan perkebunan,apalagi dengan buah yang sayur yang tumbuh subur di sana.


" Lu serius? Bapak juga ke sana kan? gue mau ajak Al ,dia pasti seneng." ucap Alvi tak kalah antusias.


Citra dan ibu kembali saling lirik,tanpa menanggapi ocehannya.


" Tapi Bapak sama Al kok belum pulang ya." Alvi pun beranjak dan pergi ke depan hendak menunggu suaminya di teras rumah.


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam salam." jawab Alvi sambil mencium tangan suaminya,dan Al membalasnya dengan kecupan hangat di bibir wanitanya.


" Isshhh...ini di luar tolong kondisikan." protes Alvi sambil menyikut perut suaminya.


" Gak ada yang liat kok Yank."


" Bapak mana Bi?" Tanya Alvi sambil melirik ke belakang berharap bapak segera datang.


Al pun sejenak mematung,ia tidak tau apa yang harus dia ucapkan.


" Sayang aku laper,kita nunggu bapak di dalam aja Yuk." ajak Al ,Alvi pun mengangguk dan mengajak suaminya masuk.


Setelah sampai di dapur Alvi langsung menyajikan teh hangat untuk sang suami,ibu pun menyiapkan makanan untuk mereka sarapan.


" Sebelum ke kebun kalian harus sarapan dulu." titah ibu,namun Alvi hanya diam sambil menatap ibunya heran.


" Bu, kenapa kita sarapan duluan,kita gak Minggu bapak dulu?" tanya Alvi.


" Sayang apa kamu lupa? bapak sudah tidak ada di sini." ucap Al hati hati sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.


Alvi pun terdiam sejenak,mencerna apa yang suaminya maksud.


Setelah berdiam beberapa saat mata Alvi mulai berkaca kaca,senyum getir tersungging dari bibirnya.


" Kenapa aku bisa lupa begini? aku merasa bapak masih ada, aku tadi sempat dengar siulan bapak mengajak main si Kojek burung kesayangannya." jelas Alvi.Air matanya langsung menetes begitu saja.


Ia memang gadis yang sangat sensitif dan selalu bermain dengan emosi dan perasaan,berbanding terbalik dengan sahabatnya.


" Neng , Bapak memang sudah tidak ada,tapi tidak seharusnya kamu bersedih seperti ini,ikhlaskan bapak,apa kamu gak mikirin kita,suami dan anak di perut mu, kalo kamu seperti ini terus kita juga ikut sedih,kesedihan kamu itu akan berpengaruh juga pada kandungan kamu,sekarang tugas kita hanya mendo'akan bapak,semoga bapak tenang di sana." ucap ibu. Alvi mengangguk namun Isak tangisnya semakin menjadi.Ibu dan Citra langsung memeluknya, setelah pelukan terlepas kini Al gantian Al yang memeluknya.


" Udah ya,kamu yang sabar,kasian Dedek bayinya." Al pun merusaha menenangkan sang istri.


" Sekarang makan dulu,dari kemarin ibu perhatiin kalian tidak makan." titah ibu,mereka pun menurutinya dan makan dengan tenang.


Setelah sarapan selesai, Alvi pamit hendak mengganti pakaian,bersiap untuk pergi ke kebun,ia tidak ingin mengecewakan Citra yang dengan sengaja tidak masuk bekerja hanya untuk membuatnya merasa senang.


Sementara Al masih di duduk di meja makan,bersama Ibu dan Citra.


" Nak Al apa yang sebenarnya terjadi sama Alvi, kenapa dia jadi sedikit aneh kayak gitu?" tanya ibu,menatap serius pada menantunya.


" Itu mungkin pengaruh obat Bu, aku terpaksa harus ngasih dia obat penenang." jelas Al dengan rasa bersalahnya.


" Obat penenang, itu bisa membahayakan janinnya." ibu sedikit meninggikan suaranya.


" Gak Bu, aku udah konsultasi sama dokter sebelum memberikanya obat,Inshaallah gak akan terjadi apa apa jika tidak di konsumsi secara berlebihan,kemarin aku terpaksa memberikannya karena aku udah gak bisa lihat keadaannya yang sepeti itu,bahkan dia ingin ingin tidur di samping makam Bapak." jelas Al panjang lebar.


Ibu hanya menarik nafas dalam.


" Ya udah kalo gitu,maaf kalo Alvi merepotkan mu."


" Ibu gak perlu bicara kayak gitu,Alvi sudah menjadi tanggung jawab ku,aku janji aku akan selalu ada buat Alvi." ucap Al sungguh sungguh.


Ibu pun tersenyum sambil menghembuskan napasnya merasa sangat lega.


" Ya sudah kalo gitu kalian bersiap,bukannya mau ke kebun." titah Ibu, Al dan Citra pun mengangguk, Al masuk ke kamar dan menghampiri istrinya,sedangkan Citra pulang untuk mengganti pakaian.


*


*


*


*Thor ucapin banyak teri****Makasih buat kalian yang masih setia di novel ini, dan Thor minta dukungannya juga.


Sedikit kasih tau ( Uwa adalah panggilan untuk om dan Tante dalam bahasa Sunda.) ( Neng atau Eneng biasanya panggilan sayang dari ibu untuk anak perempuan nya,atau bisa juga di berikan kepada seseorang berketurunan ningrat atau semacamnya.) terima kasih...😘😘😘😘***