My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 125



Seperti hari hari sebelumnya,di setiap pagi,Citra selalu menyempatkan diri membantu Bu Sukma menyiapkan sarapan,walau dengan langkah sedikit tertatih.


Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi sempat meliriknya,gadis cantik berjilbab maroon dan tunik bermotif janda bolong itu terlihat sangat sederhana namun sama sekali tidak menghilangkan aura kecatikanya,tanpa di sadari seulas senyum tersungging di bibirnya,kala mengingat pertempuran yang mereka lakukan semalam,sungguh pertempuran panas yang menggairahkan,tidak cukup hanya sekali atau dua kali ia menyerang sang istri.


" Kenapa Bang?" tanya Citra saat ekor matanya menangkap basah tatapan sang suami yang tertuju padanya.


" Tidak apa apa?" sahutnya seraya mendaratkan bokongnya di sebuah meja makan.


Citra masuk ke dalam kamar mandi hendak mengambil pakaian kotor yang sudah di pakai suaminya,setelah itu ia kembali ke dapur dan memasukan pakaian kotor tersebut ke dalam mesin cuci.


Gadis itu berdiri di depan Satria,meraih handuk kecil yang masih terlilit di punggung lehernya,lalu mulai mengeringkan rambutnya.


Satria mengangkat wajahnya menatap wajah cantik istrinya yang nampak alami tanpa riasan,setelah itu juga ia mengedipkan sebelah matanya saat mata Citra balik menatapnya.


" Dasar genit." Citra mencubit hidung mancung suaminya,wajahnya mulai memanas karena malu.


" Aakkhh,kenapa dia terlihat semakin manis sih." gumamnya dalam hati sambil berpaling menyembunyikan raut wajah meronanya.Satriapun terkekeh karena berhasil menggoda sang istri.


" Kamu semakin terlihat cantik,jika sedang tersipu malu seperti ini." ucapnya dengan tatapan serius,Citrapun berhasil di buat kelepek kelepek olehnya.


Rasanya ingin sekali Bu Sukma pergi ke planet lain,karena bumi ini sudah di kuasai dua makhluk bucin,yang sama sekali tidak menganggapnya ada.


Akhirnya bu Sukmapun berlalu,pergi ke halaman belakang,hendak menyapu dan membersihkan daun daun kering yang berceceran tersapu angin.


Menyadari ketiadaan Bu Sukma,Satria kembali melayangkan aksinya,tangan nakal yang melingkar di pinggang sang istri turun dan sedikit mencubit bokongnya.


" Ngapain sih,Bang?" Citra membulatkan mata sambil menepuk bahu Satria dengan handuk kecil yang di genggamnya,setelah selesai mengeringkan rambut Satria,Citra melangkahkan kakinya hendak mengantungkan handuk tersebut di sebuah tali jemuran yang tak jauh darinya.


Satria ikut beranjak,dengan segera ia melingkarkan kembali tangannya di pinggang sang istri dengan dagu yang mendarat di bahu.


" Ngamar lagi Yuk!!" bisiknya,sontak membuat Citra menggelengkan kepalanya dengan Cepat.


" Masih pagi,rambut mu saja masih basah." protes Citra,bagaimana tidak,sepagi ini iapun sudah mandi dua kali karena ulah Satria,yang menyerangnya setelah shalat subuh,dan terpaksa iapun kembali harus mandi lagi.


" Aku hanya mengajak mu ke kamar,apa hubungannya dengan masih pagi,dan rambut basah." ujar Satria seraya mengulum bibirnya.


" Ya ampun!! dasar bodoh,kenapa otak ku malah traveling ke mana mana?" Citra merutuki dirinya sendiri.


Satria kembali terkekeh karena lagi lagi ia berhasil mengerjainya,sangat menyenangkan melihat tingkah polos dan lugunya yang nampak sangat menggemaskan.


Satria merangkul Citra, dan membawa ke dalam kamar,setelah itu menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur,kemudian ia beranjak hendak mengambil sesuatu di dalam jaketnya yang tergantung di balik pintu kamar.Tidak lama iapun menggenggam sebuah kotak beludru berwarna maroon,berjongkok di hadapan Citra,sambil membuka kotak tersebut,nampak dua buah kalung berliontinkan setengah hati yang saling menyatu,hingga membentuk hati yang sempurna.


Citra membulatkan mata,rasanya benda itu tak asing lagi baginya,hingga ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu,saat Faiz memberinya sebuah hadiah yang di titipkan kepada Al.


" Ini milik mu kan?"


" Hmmm..Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Citra heran.


" Kemarin ibu mu menemuiku di pondok dan memberikan ini pada ku,lengkap dengan suratnya,maaf aku sudah lancang membuka dan membacanya." ujar Satria.


" Dia fikir ini sangat berharga untuk mu."


Citra menganggukan kepala sambil meraih kalung tersebut.


" Aku bahkan sempat melupakannya." ucap Citra,gadis itu tersenyum kala mengingat seorang pria yang sudah ia anggap sebagai sahabat terbaik setelah Alvi,dan ternyata dia adalah kakaknya sendiri.


" Aku dengar dia akan segera pulang ke sini,apa yang akan kamu lakukan?" tanya Satria penasaran.


" Kapan? aku sangat merindukannya,yang jelas aku akan menyambut kedatangannya dengan bahagia." Citra nampak antusias,namun tidak dengan Satria,wajah pria itu berubah muram,terlihat jelas raut tidak suka.


" Apa kau tidak menyadari jika dia mempunyai perasaan padamu?" gumamnya dalam hati.


" Lalu bagaimana dengan kalung ini,pada siapa kau akan memberikan separuh hati ini?" tanya Satria lagi.


" Tentu saja aku akan memberikannya padamu,karena sejak dulu aku sudah mengharapkan itu,tapi apa kamu mau menerima dan memakainya." Citra nampak ragu,namun seketika wajahnya kembali cerah ketika Satria menganggukan kepala.


" Kau serius?" tanya Citra antusias,lagi lagi Satria hanya mengangguk.


" Sini aku pakaikan." Citra mengambil satu kalung,lalu memasangkan di leher sang suami.


" ini adalah separuh hatiku,yang sudah aku titipkan dan aku percayakan pada mu,tolong jaga baik baik,jangan sampai Kau menyakiti dan melukainya." ucap Citra sambil membelai liontin setengah hati yang sudah terpasang di leher Satria.


Satria mengangguk dengan mantap.


" Aku berjanji akan menjaganya dengan seluruh jiwa dan raga ku,karena ini sudah menjadi milik ku juga,jangan pernah meragukan ketulusan ku." ucapnya.Citra menatap dalam namik mata suaminya,butiran kristal berhasil meluncur dari matanya.


" Terimakasih,aku yakin kau adalah pria yang tepat untuk mendapatkannya,dan aku yakin Faiz akan bahagia dengan ini semua." Citra menabrakan tubuhnya,memeluk sang suami dengan sangat erat.


" Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu." ujarnya lagi,isakannya terdengar semakin kencang.


" Pernikahan bukanlah tujuan,selainkan sebuah proses awal untuk menuju perjuangan,kita sama sama berjuang mendapatkan berkah dan ridho allah,dengan cara belajar, belajar ikhlas,belajar sabar,jujur,setia,belajar menerima kekurangan dan belajar menyukuri kelebihan pasangan." nasihat bijak terlontar dari mulut Satria.


" Maaf juga karena akupun belum bisa menjadi suami yang baik,perbesar kesabaran mu dalam menghadapi kekurangan ku,karna membahagiakan mu adalah tujuanku." lirihnya sungguh sungguh.


Citra tersenyum,hatinya terenyuh ketika mendengar untaian kata yang terdengar sangat indah,seperti alunan syair yang memanjakan indera mendengarkannya,seperti hembusan angin di musim gugur yang menyejukan hatinya.


Satria mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya,lalu kembali memeluknya.


" Kau juga harus memakainya." ujar Satria sambil mengambil kalung yang tersisa.


" Ini adalah separuh hatimu,simpanlah namaku di dalamnya, sebut namaku di setiap gumamanya." lirih Satria dengan tulus.


"Ya Allah,sejak kapan dia bisa seromantis ini,dari mana dia belajar membuat hati ku deg deg seeerr begini,aku harus menyiapkan jantung yang sehat untuk menghadapinya."


Rona merah kembali terpancar dari wajah Citra.