
Terik Mentari tepat di atas kepala,hawa panas menyeruak terbawa hembusan angin.Citra duduk di kursi kayu teras pondoknya.Sambil memperhatikan para petani yang tengah mengurus perkebunan depan rumahnya yang kini nampak gersang,masih di temani Bu Sukma yang setia menemaninya sesuai dengan pesan Satria.
Bu Sukma nampak cemas,pasalnya kini waktunya Nizam pulang sekolah,biasanya ia sudah ada di rumah,dan menyiapkan makanan untuk cucu kesayangannya.Namun karena harus menemani Citra,terpaksa Bu Sukma pun masih harus tetap tinggal di sana.
" Tidak ada lagi yang harus di kerjakan kan Bu?" tanya Citra saat melihat kepanikan dari raut wajah Bu Sukma.
" Sudah beres semua Neng,tinggal masak untuk makan siang,mau ibu masakin sekarang?" tanya Bu Sukma.
" Gak usah Bu,aku mau pergi,Ibu bisa pulang sekarang." ujar Citra seraya beranjak hendak bersiap siap.
" Baik Neng." Bu Sukma mengangguk,ia lalu pergi ke belakang pondok hendak mengangkat jemuran yang sudah kering,karena teriknya matahari membuat jemuran kering dengan Cepat.
" Lauk sisa pagi masih bagus kan Bu?" tanya Citra saat ia baru keluar dari kamar mandi.
" Kayaknya masih Neng." jawab Bu Sukma sambil mencicipi sedikit makanan tersebut.
" Kalo masih bagus bawa saja,sayang kalo terbuang." titah Citra.
Bu Sukma mengangguk dengan senyum yang terukir dari bibirnya,bersyukur karena tandanya hari ini ia dan cucunya bisa makan enak dengan lauk yang lengkap,dan tidak perlu memasak dan mengeluarkan uang dapur.
Meskipun Satria sudah sering menyuruhnya untuk membawa bahan makanan yang tersedia di dalam lemari pendingin.Namun Bu Sukma tidak pernah berani untuk melakukannya,karena takut Satria membutuhkan makanan tersebut suatu saat nanti.
" Terima kasih Neng,kalau begitu ibu pamit pulang dulu." ujar Bu Sukma setelah selesai membungkus makanan yang akan dia bawa.
" Iya Bu." sahutnya lagi
Selesai bersiap Citra mulai memesan ojek online untuk mengantarnya pergi ke pondok.
Tidak lama ojek yang di pesannya pun datang,dan berhenti tepat di depan rumahnya.
" Titik alamatnya sudah sesuai Mbak? pondok pesantren Almusyadadiyah."
" Iya pak." jawab Citra.Sambil menaiki motor tersebut.
Tukang ojek itupun mulai melajukan motornya,tidak lupa Citra menyempatkan waktu untuk ke minimarket terlebih dulu hendak membeli sesuatu,tidak lama gadis itupun keluar dengan menenteng beberapa plastik berlogo berukuran cukup besar,dan melanjutkan perjalanan kembali,setelah tiga puluh Menit akhirnya Citra sampai di depan gerbang ponpes,ia turun dari ojek tidak lupa membayar ongkosnya,dan memberi sebotol minuman segar yang di belinya di mini market tadi.
" Assalamualaikum." ucap Citra pada penjaga gerbang yang tengah istrihat di posnya sambil mengibas ngibaskan topinya karena cuaca panas.
" Wa'alaikum Neng Citra." jawab nya seraya berdiri untuk membukakan gerbang.
" Panas ya Pak?" tanya Citra basa basi.
" Iya Neng."
" Minum dulu pak,biar seger." gadis itu memberikannya sebotol minuman lagi pada penjaga gerbang.
" Terima kasih Neng." ucapnya sambil mempersilahkan Citra masuk.
Citra berjalan,menuju ke tempat di mana gedung panti asuhan di bangun,banyak para santri dan santriwati yang berlalu lalang,dengan bibir yang tidak berhenti mengucap sepertinya mereka sedang menghafal.Banyak juga para anak panti yang tengah bermain berlarian ke sana kemari dengan riang.
Ia juga melihat Mbak Zahra dan para pengurus panti yang tengah mengawasi Azzam dan Anak seusianya, karena bayi itu kini sedang aktif berjalan.
Tidak jauh dari sana,seorang pria bertubuh kekar dengan butiran keringat yang membasahi seluruh tubuh dan wajahnya,dan hanya mengenakan kaos polos lengan pendek,hingga memperlihatkan otot otot yang menonjol di lengannya. tengah membantu para tukang,mengaduk semen dan pasir dengan campuran air,lalu memasukannya ke dalam sebuah ember.
Gadis itu melambaikan tangan saat Satria tidak sengaja meliriknya.
Tarik matahari seolah sirna,berganti dengan awan jingga di tepi pantai, hembusan angin yang menyejukan hati dan perasaanya,bagai mendapat siraman air hujan di padang yang tandus.Satria tersenyum,lalu menghentikan pekerjaannya,ia berjalan menghampirinya.
Lalu Cup,sebuah kecupan menyambar bibirnya dengan Cepat,gadis itu terbelalak hingga mematung sesaat.
" Kamu ke sini?" tanya Satria,menyadarkan keterkejutannya.
" Astagfirullah Bang,lihat situasi bisa gak sih." kesal Citra sambil mengedarkan pandanganya ke semua arah dimana banyak orang berada di sana,termasuk Mbak Zahra dan para pengasuh panti,ada juga tukang dan para santri.
" Maaf." ujar Satria sambil melihat ke arah yang di lihat Citra,Pria itu menampakan wajah sangar ketika tatapan matanya bertemu dengan para tukang yang tengah memperhatikannya,sontak para tukang nya itu membubarkan diri dan kembali pada pekerjaannya.
" Apa aku tidak salah lihat,dia mencium istrinya." bisik seorang tukang,yang sempat ketar ketir karena Pria itu sempat membentak dan memprotes pekerjaannya.
" Aku jadi salut tapi sekaligus kasihan pada istrinya."
" Tapi penasaran juga,bagaimana cara menjinakkannya."
Bisik bisik masih terucap dari bibir mereka,tanpa menghentikan pekerjaannya.
Satria kembali melirik Citra yang masih merajuk dengan bibir yang maju beberapa senti.
" Ya Sudah,tidak perlu di fikirkan, anggap saja meraka tidak ada." ucap Satria santai,sambil membawanya duduk di sebuah bangku taman tak jauh dari mereka.
" Mana bisa begitu,kamu fikir dunia ini milikmu sendiri." gerutunya.
" Jangan marah seperti itu,apa mau aku cium lagi?" goda nya,sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya.
" Iiissshhh..." Citra mendorong wajah Satria agar menjauh darinya.
" Kamu bawa apa?" tanya Satria, melirik kantong kresek yang di bawa istrinya.
" Hanya snack,aku sengaja membelinya tadi untuk anak anak." jawab Citra sambil menunjukkannya,lalu gadis itu mengambil sebotol minuman dingin dan memberikannya pada sang suami,Satria menerimanya dengan senang hati,sikapnya berbeda jauh dari beberapa waktu lalu,dengan kejadian yang sama,saat menolak mentah mentah minuman yang di berikan istrinya.
" Terima kasih." Satria tersenyum sambil mengusap kepala Citra dengan tangan yang masih kotor.
" Tumben." cibir Citra,gadis itu lalu mengambil selembar tissu dari tas kecilnya,dan mengusapkannya pada kening dan wajah Satria yang masih berkeringat.
" Jangan terlalu capek,kamu masih harus kerja keras nanti malam." goda nya dengan suara sepelan mungkin,yang hanya bisa di dengar oleh Satria,Membuat pria itu tergelak lalu mencubit hidungnya dengan gemas.
" Mulai ketagihan rupanya."
Citra terkekeh sambil menundukan kepala.
" Padahal hanya ingin bercanda,kenapa jadi aku aku yang malu." lirihnya dalam hati.
Tiba tiba Azzam berlari menghampiri mereka dengan merentangkan tangan dan tertawa girang menampakan beberapa giginya yang baru tumbuh.
Gadis itu membungkuk sambil membalas merentangkan tangan, dan Happ...Citra akhirnya berhasil menangkap Azzam.
" Hai baby Azzam,kamu semakin tampan saja." ujarnya seraya menciumi pipi merah tembem itu dengan gemas.
Satria memutar bola matanya ketika ciuman bertubi tubi di layangkan istrinya kepada Azzam,seolah menjadi saingan terberatnya.Pria itu nampak tidak suka.
" Sudah jangan di ciumin terus." ujar Satria seraya menghalanginya dengan telapak tangan ketika Citra sudah memajukan bibirnya hendak mencium lagi.
" Iiissshhh,,,tangan mu kotor bang." Citra menepisnya,dan berhasil mencium pipi batita itu lagi,Azzam tampak nyaman,kekehan kecil terdengar dari mulut mungilnya,namun tangan bayi itu tidak sengaja menyentuh tepat bagian dada Citra,lagi lagi Membuat Satria menajamkan tatapan matanya.
" Dasar bocah kecil,berani sekali kamu menyentuh milik ku." cicit Satria sambil menahan kesal.
Bayi itu meriliknya,seolah mengerti dengan apa yang di bicarakan Satria,lalu menatap Satria dengan tatapan yang polos namun Satria mengartikan tatapan tersebut dengan sebuah tantangan.
" Kamu menantangku." ujar Satria masih terus menunjukkan tatapan tajamnya,hingga akhirnya Azzam pun menangis histeris.
" Apaan sih bang,ada ada saja." Citra mencoba membela bayi itu, memukul kecil lengan suaminya,lalu beranjak dan mulai melangkahkan kakinya,meninggalkan Satria sambil menggendong Azzam dan membawanya pada mbak Zahra.
" Pengantin baru,kemana saja,aku baru melihat mu lagi setelah acara pernikahan." goda Mbak Zahra.
" Ada kok Mbak,aku sudah sering ke sini,mbak sendiri kemana saja?" balas Citra sambil menunduk malu.
" Aku hanya di rumah,tidak pernah kemana mana." jawab Mbak Zahra.
" Oh..." Citra tersenyum sambil menundukan kepala menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah,karena ia sadar mbak Zahra telah memperhatikan kedekatannya dengan Satria tadi.
" Oh iya,aku membawa sedikit cemilan untuk anak anak." ujarnya lagi,sambil menunjuk pada kantong kresek yang ia tinggal tak jauh darinya,pada salah satu wanita yang tak lain adalah pengasuh anak panti yang tengah bercengkrama dengan mbak Zahra.
" Iya,terima kasih mbak." balas nya sambil berlalu hendak mengambilnya.