My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 136



Hingga malam hari Satria belum juga datang,Citra yang kini berada di di pondok hanya seorang diri,ia menggulung dirinya dengan selimut tebal,suara suara aneh terdengar menyeramkan,beberapa kali ia menghubungi atau mengirim pesan, namun tidak ada jawaban atau balasan,perasaanya semakin tak karuan,antara takut dan cemas,wanita pemberani itu berubah menjadi cengeng ia mulai terisak sambil mengeratkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Di dalam perjalanan,Faiz terus saja menatap curiga pada Satria yang kini tengah menyetir,pria kaku itu seolah salah tingkah saat ponselnya berdering beberapa kali,namun tak berani mengangkat,Satria melirik Faiz yang berada di belakangnya lewat kaca spion depan.Nampak sedang menyembunyikan sesuatu.


Waktu telah menunjukan pukul 23.00 mobil yang di tumpangi ketiga pria beda usia itu akhirnya tiba di depan gerbang pondok,Faiz kembali tersenyum,akhirnya setelah sekian lama suasana pondok bisa di rasakan juga.


Setelah security membukakan gerbangnya,mobil mulai memasuki area pondok,sesuai permintaan Faiz mobil tersebut berhenti di depan kediaman Al. Satria dan Al turun lebih dulu,sementara Faiz bersiap hendak memberi kejutan untuk orang tuanya.


Al dan Satria sontak membulatkan mata,saat melihat Faiz turun dari mobil,mereka berdua menggelengkan kepala dengan kelakuan adik kecilnya itu.


" Gimana Bang,kira kira Umi sama Abi tau gak ya,kalau ini Faiz?" tanya Faiz terkekeh.


" Hati hati saja,kamu bisa di tangkap para Santri yang jaga malam jika seperti ini." ujarnya.


" Gak Lah,Bang."


" Ya sudah,ini sudah malam,abang mau masuk,kamu hati hati jangan keterlaluan,Umi sama Abi bisa bisa jantungan."


" Siap,Bang! ya sudah Faiz pulang dulu." pamitnya, sebelum ia pergi calon dokter muda itu masih menyempatkan diri untuk melirik ke arah Satria lalu tersenyum.


Setelah Faiz pergi,Satria pun langsung pamit,ia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya.


Ia mencoba menghubungi istrinya balik namun tidak aktif.


Pria itu pun langsung pergi menggunakan motornya,setelah menempuh jarak yang tidak terlalu jauh,akhirnya Ia sampai di halaman pondok,Citra yang mendengar suara deru dari motor suaminya langsung berlari,dan membukakan pintu,gadis itu menabrakan dirinya pada sang suami,hingga Satria sedikit terhuyung ke belakang.


" Ada apa?" tanya Satria sambil meraup wajah sang istri yang sudah memerah.


" Kenapa lama sekali,aku takut." cicit Citra sambil kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


" Maaf,tadi aku habis menjemput Faiz." ucapnya sambil membawa sang istri ke dalam kamar.


" Faiz pulang?" tanyanya dengan mata berbinar.


" Iya." sahut Satria sambil membuka pakaiannya,setelah itu ia pergi ke kamar mandi.


" Kenapa dia tidak pernah menghubungiku selama ini,dan sekarang dia pulang juga tidak memberitahuku." lirihnya sedih.


" Apa dia tidak pernah menganggapku sebagai temannya lagi?apa dia sudah melupakan ku?" gumamnya dalam lamunannya,hingga ia tak menyadari Satria sudah kembali masuk ke kamar,Pria itu sengaja mengibaskan rambutnya,agar cipratan air yang membasahi rambutnya mengenai sang istri.


Citra memicingkan mata kesal karena ulahnya.


" Apa yang kamu fikirkan?" tanya Satria seraya berjongkok di depan sang istri yang duduk di bibir tempat tidur.


" Kamu lupa,aku pernah menjadi detektif,raut wajah mu mencurigakan,apa perlu aku selidiki sendiri." ucapnya membuat Citra terkekeh.


" Apa Faiz sudah tau jika aku adiknya?" tanya Citra serius,hatinya sedikit berdenyut kala mengingat kenyataan itu.


"mungkin aku sudah bisa menerima kenyataan pahit ini,karena sejak kecil aku sudah terbiasa tinggal sendiri,berbeda dengan Faiz yang tinggal di keluarga yang lengkap dan bahagia,hatinya akan hancur jika tau kenyataan bahwa dia bukan anggota dari keluarga tersebut." ujarnya,Satria langsung mengangguk setuju.


" Belum,kami sengaja tidak memberitahu sekarang,biarkan waktu yang memberitahunya." Balas Satria sambil mengeratkan pelukanya di pinggang sang istri.


" Baiklah." Citra berdiri,lalu meletakan handuk kecil tersebut,dan kembali naik ke atas tempat tidur,menghampiri sang suami yang sudah merebahkan tubuhnya lebih dulu.


" Sebenarnya bukan hanya itu saja yang aku takutkan." gumam Satria sambil memeluk tubuh sang istri dengan sangat posesif.


Sementara Faiz,yang kini telah meringis kesakitan karena mendapat bogeman dari sang ayah,yang mengira ia sebagai pencuri.


" Abi!! ini Faiz." teriaknya saat sudah terkapar di lantai,sebenarnya ia bisa saja membalas atau menangkis tinjuan sang ayah,namun ia tidak cukup berani,akhirnya ia hanya pasrah menerima beberapa kali sambutan dari Abi di pipinya.


" Faiz,,astagfirullah Faiz!!" jerit Umi sambil membuka penutup wajah yang di pakai pemuda itu.


Umi langsung histeris kala melihat anak kesayangannya babak belur karena sang suami.


" Ya allah, Nak ,maafkan Abi." sesal Abi dan langsung membawanya ke dalam kamar.


Umi terus saja terisak sambil mengobati luka di pipinya,wanita paruh baya itu mendelik kesal pada sang suami yang turut membantunya,pria paruh baya itu menundukan kepala merasa menyesal.


" Umi,,Abi,,Faiz tidak apa apa,kenapa kalian jadi begini." Faiz memeluk sang ibu dengan begitu manja.


" Maaf Umi kaget,umi kira kamu pencuri." lirihnya.


" Tidak apa apa Mi,maaf Faiz sudah membuat Umi kaget,udah dong jangan nangis lagi,masa anaknya pulang malah nangis sih." bujuknya.


" Kamu juga kenapa pakai pakaian seperti ini,kalau kami jantungan bagaimana." sahut abi sambil menarik kecil telinga Faiz.Yang tengah memakai pakaian serba hitam serta penutup kepala yang hanya di beri lubang bagian mata dan hidungnya.


" Aduh duh..!! Faiz meringis.


" Abi sudah!!" teriak Umi sambil menepis tangan Abi,Faiz pun terkekeh.


" Anak tampanya umi jadi seperti ini." lirih Umi sambil membelai lembut sang anak,hingga Faiz memejamkan mata menerima sentuhan halus dari tangan keriput sang ibu,Pemuda itu menggenggam tangan Umi lalu menciumnya.


" Faiz kangen sama Umi dan Abi juga." lirihnya sambil memeluk kedua orang tuanya.


Malam itu mereka tidur bertiga,menyalurkan rasa rindu yang terpendam sejak lama,mengingat Faiz bukan anak kandung mereka,Umi dan Abi sama sama tidak memejamkan mata,sepasang suami istri itu memiringkan tubuhnya,mengadap Faiz yang sudah tertidur pulas di antara mereka, menatap wajah anak kesayangannya,ketakutan terbesar menyeruak begitu saja.