
Selesai sarapan,pengantin baru itu bergegas untuk segera pergi hendak melakukan aktifitas mereka masing masing,tak lupa Satria mengantar Citra ke toko terlebih dulu.
" Jangan lupa jemput aku lagi nanti." ucap Citra saat mereka tiba di depan toko.
" Kamu fikir aku ojek pribadimu." balas Satria malas.
" Suruh siapa menghancurkan motorku,bahkan aku tidak tau nasibnya sekarang."
" Motormu sudah tenang di alam sana." sahut Satria.
Citra memutar bola matanya kesal,lalu ia membalikan tubuhnya dan mulai membuka pintu toko tersebut.
" Tunggu dulu!!" cegah Satria
" Ada apa ? kamu mau memberi kecupan perpisahan?" Citra membalikan tubuhnya kembali menghadap Satria lalu mendekatkan wajahnya dengan bibirnya yang sudah di majukan juga,namun Satria mendorong keningnya dengan cepat.
" Jangan berharap!!" ujarnya.
" Aku hanya ingin minta maaf atas perlakuanku semalam,aku harap kamu tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun." jelas Satria.
" Iiissshhh,,untuk apa aku menceritakan itu semua,tidak berguna dan tidak ada manfaatnya." balas Citra kesal,iapun langsung membalikan tubuhnya lagi,lalu mengayunkan langkahnya menuju toko.
Setelah itu Satria mulai menyalakan motornya kembali,untuk mengerjakan tugas yang semakin menumpuk,karena sudah terlalu lama di tinggal, yakni membantu para polisi mencari keberadaan Randy ,serta melakukan tugas barunya menepati janji pada para tersangka untuk mengurus dan memastikan keluarganya baik baik saja.
Saat dalam perjalanan menuju kantor polisi,tiba tiba ponselnya berdering,ia segera menepi untuk mengangkat sambungan telpon, setelah memastikan siapa yang menghubunginya.
" Assalamu'alaikum,ada apa?" tanya Satria.
" Waalaikumsalam,,Bang,tolong saya!!" suara di seberang telepon terdengar terbata bata.
" Kenapa? apa yang terjadi?" Satria nampak panik.
" Mobil untuk mengantar anak anak panti sekolah di bawa pergi beberapa orang tak kenal,mereka sempat menyerangku,mereka juga membawa anak anak." ujar seseorang di balik sambungan telponnya,yang tak lain adalah salahsatu santri yang di tugaskan untuk mengantar jemput anak anak panti berangkat sekolah.
" Dimana kamu sekarang?"
" Aku sudah di rumah sakit." jawabnya.
lalu Pria itu langsung mematikan sambungan telponnya,dan kembali menyalakan motornya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di pondok,suasana lebih memanas dan menegangkan,ketika Al mendapat kabar bahwa anak anak pantinya di bawa kabur beberapa orang tak di kenal.
Dan lebih mengejutkan lagi,ketika sang penculik menghubunginya langsung,entah apa yang mereka inginkan darinya.
" Bi,selamatkan mereka,Narendra juga ada di sana." ucap Alvi ikut panik saat mendengar anak anak panti asuhannya di culik.
" Tenang sayang,aku sudah melaporkan kasus ini ke polisi." balas Al.
" Tapi kita tidak bisa tinggal diam saja."
" Iya ,aku tahu,aku akan pergi mencari mereka bersama anak anak santri. " ujar Al lagi seraya menenangkan istrinya.
Al mulai mengarahkan seluruh anak anak penghuni pondok yang memang sudah beranjak dewasa,dan sudah mendapat pembelajaran bela diri dari Satria.
" Bismillah,,gunakan kemampuan kalian untuk hal yang baik,jangan takut, anggap ini sebuah jihad." ujar Al yang langsung di angguki para santri dengan yakin.
" Bi,hati hati!!" teriak Alvi saat melepas suaminya untuk pergi.
" Do'akan kami." Al mengecup kening istrinya sebelum pergi.
Tak lama kemudian,Satria sampai di pondok dengan wajah yang tak bisa di tebak.
" Kenapa kamu ke sini?Siapa yang memberitahumu?" tanya Al heran.
"Tidak penting, Kenapa?apa aku sudah tidak di perbolehkan untuk datang ke sini?" tanya balik Satria sinis.
" Bukan begitu,aku hanya tidak ingin menganggu mu,aku tau kamu pasti lelah." ujar Al lagi.
" Apa maksud mu,tidak ada kata lelah untuk ku." balas Satria sambil menunjukan tatapan tajamnya.
" Benarkah?" cibir Al dengan mimik wajah yang seolah mengejek.
" Maaf Bang,kapan kita akan berangkat?" tanya salah satu santri yang sudah siap di dalam mobil.
Tanpa menjawab apa apa lagi,Al langsung masuk ke dalam mobil.
" Bisa bisa nya kalian bertingkah seperti itu dalam keadaan genting seperti ini." gumam Bang Haikal yang turut serta dengan mereka.
Merekapun mulai pergi meninggalkan pondok pesantren dengan mengenderai beberapa mobil sementara Satria mengikuti dari belakang dengan motor kesayangannya.
*
*
*
Sementara itu,Citra di buat pusing dengan rentetan pertanyaan dari karyawan karyawannya mengenai pernikahan yang secara tiba tiba itu.
" Kembali bekerja!!" teriak Citra kesal.
" Jangan tanyakan masalah itu lagi,aku juga tidak tau, dan bahkan tidak pernah menyangka akan seperti ini." lirihnya seraya mendaratkan bokongnya di kursi tempat Alvi dulu.
Tidak ada kegiatan yang bisa ia kerjakan karena semua tugasnya sudah di gantikan oleh salah satu karyawannya,tiba tiba ponselnya berdering,ia langsung mengangkatnya.
" Assalamu'alaikum,,ada apa Al?"
" Cit ,Lu dimana?"
" Di toko."
" Ngapain Lu di sana?gue kan sudah bilang pada anak anak lu gak masuk sekarang."
" Terus gue ngapain kalo gak masuk?" balas Citra.
" Ya siapa tau, Lu lagi apa gitu sama Bang Satria." goda Alvi.
" Gak mungkin,ada apa telpon gue."
" Lu bisa ke sini kan?"
" Kenapa?" tanya Citra.
Setelah mendapat penjelasan dari Alvi, gadis itupun segera memesan ojek online hendak menuju ke pondok.
Dan tidak lama Citra tiba di depan rumah Alvi,di sana juga sudah ada Umi,Mbak Zahra dan Abi.
" Gue gak tau,yang jelas penculik itu mengurung anak anak di sebuah gedung kosong di dekat alun alun kota."
" Mana kunci motor Lu,Gue harus kesana." ujar Citra.
Dengan cepat Alvi pun mengambil kunci motornya.
" Gue ikut!!" teriak Alvi.
" Umi,aku minta maaf tolong jaga si kembar sebentar saja." ucap Alvi,setelah Citra mulai menyalakan motornya dan langsung meninggalkan tempat itu
" Lu yakin tau tempat nya? tanya Alvi saat mereka masih di dalam perjalanan.
" Yakin Lah,gue sudah faham semua jalanan di daerah sini." sahut Citra,karena sering mengantar pesanan kue sampai ke seluruh penjuru daerah.
Al baru saja tiba di sebuah gedung kosong berlantai dua ,kedatangan mereka langsung di hadang oleh para anak buah yang berjumlah cukup banyak,untungnya Al juga membawa para santri dengan jumlah yang seimbang hingga mereka bisa menaklukan lawannya dengan mudah.
Al berlari menuju ke lantai dua dimana anak anak panti asuhannya di sandera,pria itu menendang sebuah pintu kamar dengan kencang hingga pintu tersebut hancur.
" Ayah..!!! ayah!!!" anak anak nampak menangis histeris sambil memanggilnya.
" Akhirnya kamu datang juga,selamat datang ustadz Al." ujar satu orang pria dan wanita yang kini tengah duduk manis seraya menggenggam sesuatu di tangannya.
" Randy,lepaskan mereka!"
"Tentu saja,kami akan melepaskan mereka,tapi hanya dengan satu syarat." Fiona melangkahkan kakinya dengan anggun,menghampiri pria yang selama ini di gilainya.
" Apa yang kamu inginkan?"
" Tidak banyak,aku hanya menginginkan mu,dan dia menginginkan istri mu." jawab Fiona sambil mengalungkan lengannya di leher Al.
" Bagaimana, mudah bukan?" tambah Randy.
" Jika tidak aku akan melempar benda ini pada mereka." Randy menunjukan sebuah granat yang di genggamnya.
" Tubuh kecil mereka akan hancur seketika."ancamnya.
Al masih nampak santai ,ia berdesis sambil memalingkan wajahnya saat Fiona masih menggerayangi tubuhnya.
" Ayolah Hikam,nyawa mereka ada di tangan mu,kamu hanya perlu mengorbankan istri mu dan mereka akan selamat." bisik Fiona dengan gaya sensual.
" Bukan hanya nyawa mereka,nyawa kalian juga ada di tanganku sekarang." ujar Al,yang langsung melintir tangan Fiona ke belakang dan menguncinya,hingga gadis itu tak bisa bergutik lagi.
" Hikam lepaskan aku!!" teriak Fiona,sambil berusaha melepaskan diri,namun tentu saja tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Al.
" Aku tidak suka berbuat kasar pada wanita." balas Al ia lalu membawa Fiona ke sebuah tiang penyangga yang masih berada di dalam kamar tersebut ,ustadz tampan itu langsung mengikat tubuhnya dengan sangat mudah.
" Hikam,,lepaskan aku!!" Fiona masih saja meracau,namun tak di hiraukan.
Kini ia berhadapan dengan Randy.Pria itu mulai melangkahkan kakinya mendekati Randy.
" Kamu masih menginginkan istriku? di mana harga diri mu?kamu sudah beberapa kali di tolaknya bukan? sebaiknya kau mengalah saja,dia sudah bahagia dengan ku." Al terkekeh seraya mencibir.
" Jangan mendekat atau aku akan melepas tuas ini,dan kalian akan hancur." ancam Randy seraya memundurkan tubuhnya dengan perlahan menuju pintu keluar.
Al menyeringai,ia faham apa yang akan pria itu lakukan.
Setelah Randy berhasil sampai di pintu,pria itu terkekeh dan mulai membuka tuas yang berada di ujung granat,namun sebelum itu terjadi Satria sudah menendangnya dari belakang hingga granat tersebut terpental,dengan cepat Al menangkapnya.
" Good job." seru Al saat berhasil menangkap granat yang belum sempat terbuka.
Satria melayangkan tinjauan nya bebera kali di wajah dan perut Randy.Sementara bang Haikal datang lebih lambat karena harus berhadapan dengan para anak buah Randy terlebih dulu,setelah itu ia membantu melepaskan tali yang menjerat anak anak.
" cepat kalian keluar!!" titah Al
Setelah memastikan Randy tak berdaya Al membuka tuas granat tersebut.
" Hikam jangan lakukan itu!!" teriak Fiona panik.
" Maaf aku harus melakukannya." Ustadz tampan itu masih sempat sempatnya mengangkat tangan untuk memohon ampun ,dengan apa yang akan ia lakukan.
Setelah itu ia langsung melempar granat tersebut,sedangkan mereka segera melarikan diri.
Tak lama dari itu " Booooommmmmmm!!!!" terdengar suara ledakan yang menggema di lantai dua gedung tersebut.
" Biii !!"
" Bangsaaattt!!!" teriak Alvi dan Citra bersamaan.
Tubuh dari Kedua gadis itu langsung limbung hingga terjatuh ke tanah,mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nasib semua orang yang berada di sana termasuk suaminya.
Tidak lama mereka melihat anak anak berhambur keluar dari pintu utama dengan selamat.
" Ayah!! di mana ayah??" tanya Alvi panik,saat suaminya tak nampak di sana.
Dan tidak lama kemudian ketiga pria tampan keluar dengan cucuran keringat yang membasahi tubuh mereka.
Alvi langsung berhembur memeluk suaminya,lalu ia menangkup wajah unta arabnya dan menatapnya lekat.
" Kamu tidak apa apakan Bi?" tanya Alvi,setelah itu iapun menghujani beberapa kecupan di wajah sang suami.
" sudah sayang aku tidak apa apa?" balas Al yang langsung membawa wanitanya itu untuk segera pergi.
Sementara Citra,gadis itu nampak tersenyum sambil bernafas lega,ia merentangkan tangannya hendak memeluk,namun semua itu ia urungkan ketika melihat wajah sang suami yang nampak cuek tanpa menyambut rentangan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***bonus dari thor buat pembaca setia..🤗🤗
Satria***
Citra
sebagai gambaran thor juga kasih bonus pondok bambu Satria.
***Semoga suka,maaf kalo kurang sreg..😊😊
jgn lupa like,vote dan komennya juga***..