
Flashback..
Waktu sudah menunjukan pukul 18.00, waktunya toko tutup,namun ada sedikit masalah setelah mengetahui gadis pemilik toko tersebut belum juga pulang setelah meminta izin untuk mengantarkan kue pesenan.
" Si Alvi mana ya,kenapa belum pulang juga." Citra terlihat sangat khawatir,ia sudah tidak enak diam dan terus mondar mandir di depan toko di temani para karyawan yang ikut khawatir juga.
" Assalamu'alaikum." seorang pria menghampirinya hendak menjemput istri tercintanya.
" Wa'alaikum salam,bang Ustadz." jawab Citra sedikit terkejut.
" Ada apa,Alvi mana?" tanya Al setelah melihat raut wajah dari Citra,dan menyadari istrinya tidak ada di sana.
" Alvi belum balik,tadi dia nganter pesenan ke alamat ini." jawab Citra sambil menyerahkan buku catatan khusus untuk mencatat alamat.
Al terlihat kaget dan langsung meraih ponsel yang berada di dalam kantong celananya,wajahnya semakin terkejut saat mendapat beberapa panggilan tak terjawab.Tanpa menunggu lama ia pun menghubungi seseorang.
" Lu dimana?" tanya nya pada seseorang yang sudah ia percayai untuk memantau dan menjaga istrinya itu.
" Gue di jalan perkebunan karet, gue di serang beberapa orang dan motor gue di bakar, gue gak bisa nyusul bini lu,bini lu dalam bahaya,dia pergi ke gudang bekas pabrik karet." jawab orang di sebrang sana,Al pun mematikan ponselnya dan langsung pergi begitu saja. Tanpa menjawab pertanyaan Citra.
" Bang ustadz ada apa?" tanya Citra,Al tidak menghiraukannya dan langsung menuju mobil dan kembali menghubungi seseorang.
" Faiz,,cepat kerahkan anak anak,suruh dia pergi ke gudang bekas pabrik karet." ucap Al saat berada di dalam mobil. Tanpa banyak bertanya Faiz pun langsung menyuruh para santri yang sudah terlatih beladiri untuk mengikutinya.
Setelah sampai di tempat itu,Al di hadang puluhan orang yang telah berjaga di sana,untungnya tidak lama setelah itu Faiz and the gangs datang,mereka pun saling baku hantam.
Flashback of
" Bang berhenti,jangan sampai dia mati, serahkan saja dia pada pihak yang berwajib." Faiz menghentikan amukan Al yang masih menghajar Dimas hingga terkapar tak berdaya.
" Urus dia." ucap Al sambil menendang perut pria yang sudah tak sadarkan diri.
Kemudian Al milirik ke arah Alvi dan langsung menghampirinya.
" Sayang.." lirihnya saat melihat wanitanya meringkuk ketakutan. Ia pun langsung membuka semua jeratan di pergelangan tangan dan kakinya,lalu meraih jilbab yang tergeletak tak jauh darinya.
Ia langsung menggendong dan membawanya ke luar.
" Antarkan aku pulang." ucap Al pada salah satu santri yang di bawa Faiz untuk membantu melawan para orang suruhan Dimas.
Di mobil Al terus memeluk Alvi, perasaanya hancur setelah melihat wanitanya masih gemetar ketakutan.Isak tangis terdengar begitu pilu.
" Sayang maafin aku,lagi lagi aku gagal menjaga mu." ucap Al sambil terus memeluk dan mengusap kepala istrinya itu.Namun tidak ada sahutan,air mata bercampur keringat telah membasahi pakaian yang di kenakannya.
Setelah beberapa waktu mobil pun sampai di depan pekarangan rumah, Al langsung menggendong dan membawanya masuk.
" Tolong bilang Bi Marni antarkan makanan ke sini ,dan Jangan ada yang tau soal ini, kalo Faiz pulang suruh dia ke sini." titah Al pada santri yang tadi mengantarnya pulang.
" Baik bang ustadz." santri itu pun mengangguk sambil sendikit membungkukan badannya kemudian dia pun berlalu.
Al membawa istrinya masuk ke dalam kamar,Alvi masih bungkam ,hanya isak tangis yang terus terdengar.
" Sayang aku mohon berhentilah menangis, aku gak sanggup liat kamu seperti ini." ucap Al sambil kembali memeluk istrinya,berusaha untuk tetap kuat mencoba menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.
Tiba tiba ketukan pintu terdengar,Al berbegas keluar untuk membukakan pintu.
" Assalamu'alaikum Al, Bi Marni meminta ku untuk membawakan mu makanan." ucap seorang gadis seraya menanpakan senyum cerahnya di hadapan ustadz muda itu.
" Iya ,,makasih." ucap Al cuek,ia pun kembali menutup pintu tanpa melirik pada gadis di hadapanya.
" Al ,,kenapa kamu tidak pernah melihat ku,apa kurangnya aku,apa yang kamu lihat dari bocah kaku itu." gumam gadis itu yang masih mematung di depan pintu.
Alvi kini berada di dalam kamar mandi ia mengguyur seluruh tubuhnya, ia duduk sambil menyembunyikan wajah di balik lututnya.Lalu mengosok seluruh wajah dan lehernya dengan kasar,gadis itu berteriak meraung raung melepaskan emosinya.
" Sayang, apa yang kamu lakukan." teriak Al sambil mengedor pintu kamar mandi.Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi tersebut. Tanpa menunggu lama dengan terpaksa Al pun mendobrak pintu tersebut.
" Sayang ,,hentikan !!" Al menahan tangan Alvi yang terus bergerak menggosok wajahnya sampai terlihat merah dan lecet.
Kini Al pun ikut duduk sambil memeluk istrinya di bawah guyuran air.
" Maaf kan aku Al, aku gak bisa jadi istri yang baik." lirih Alvi yang kini berada dalam dekapan suaminya.
" Aku gak pantas buat kamu, aku wanita yang kotor." lirih Alvi yang terus mengusap wajahnya dengan kasar.
" Sayang hentikan." Al menciumi seluruh wajah Alvi.
" Sekarang ini tanda ku,dan semua ini milik ku." ucap Al sambil mengusap seluruh tubuh Alvi.
" Apa kamu masih mencintai ku,dan masih mau nemerima ku?" ucap Alvi sambil mendongakan kepalanya,menatap dalam pada mata suaminya.
" Tentu saja,aku sangat mencintai mu,dan apapun keadaan mu ,aku akan selalu menerima mu." jawab Al dengan yakin sambil membalas tatapan mata istrinya. Alvi pun tersenyum dan kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya.
" Kalo begitu jadikan aku milik mu seutuhnya." ucap Alvi terlihat malu malu,Al mengerutkan keningnya, kembali menatap pada wanita yang berada dalam pelukannya,wajahnya penuh tanda tanya,meminta penjelasan dari maksud yang di ucapkan istrinya tadi.
" Aku akan melakukannya,tapi aku mohon setelah itu,aku gak mau lihat kamu nangis lagi." ucap Al setelah menyadari maksud istrinya itu. dan Alvi pun menganggukan kepalanya. Al tersenyum sambil menciumi kepala istΕinya. Ia mematikan keran air dan membawa Alvi masuk kembali ke dalam kamar.
" Ganti baju dulu,abis itu kita makan,kita akan memerlukan banyak tenaga." bisik Al membuat pipi gadis itu tersipu.
Mereka makan dengan lahap sambil sesekali saling lirik, dan seling melempar senyum, perasaannya sudah tidak karuan memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah itu.
Mereka makan dalam diam,masih sebuk dengan pemikiranya masing masing,hingga tak terasa makanan pun habis tak tersisa.
Alvi langsung membereskan dan membersihkan bekas makannya tadi,sedangkan Al sudah kembali ke kamarnya,dengan hati berdebar Alvi melangkah menyusul suaminya,ia berhenti seketika dan menarik nafasnya dalam dalam menyiapkan diri sebelum membuka pintu kamar.
Al pun tersenyum saat melihat istrinya masuk,ia langsung menghampiri dan memeluknya.
" Kamu dah siap?" bisik Al membuat Alvi tersipu kembali. Tanpa menunggu jawaban Al pun langsung menggendong dan membaringkanya di atas kasur. Ia mengucapkan sebuah do'a tepat di kepala istrinya dan mulai mencium kepala, kening hingga seluruh wajahnya tanpa menyisakan sedikit pun. dan terakhir mencium bibirnya dengan pelan namun makin lama semakin menuntut.
Al melepaskan ciumannya saat menyadari Alvi tersenggal karena kehabisan nafas,ia memandang wajah cantik itu dengan tatapan nanar. Gairah dari dirinya sudah tak bisa ia tahan lagi.
" Mau di lanjut?" ucap Pria itu sedikit menggoda padahal ia hanya meminta izin. Tak menerima penolakan ia pun melanjutkan aktifitasnya dan mulai menciumi leher sambil tangannya terus menggerayangi dua buah gunung jelly yang kini menjadi paforitnya.
******* pun berhasil keluar dari mulut gadis cantik itu saat merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
" Aaakkkhhh ..geli." desah nya saat suaminya mulai membenamkan wajahnya di gunung jelly itu.
Bulu bulu halus di bagian wajah unta Arab itu menambah kesan nikmat tersendiri baginya.
Tubuhnya meliuk liuk seperti cacing kepanasan setelah mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya. Ia menyusupkan jari jarinya di rambut bagian belakang suaminya.
Mengigit bibir bawahnya, menahan gejolak yang hampir meledak.
" Akkkhhhh...Al."
" Sayang, ini baru pemanasan." ucap pria itu, setelah melepaskan celana dan siap menyerang,tiba tiba sebuah ketukan pintu terdengar. Al pun terkejut dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Al,,ada yang dateng." Alvi langsung mendorong tubuh yang berada di atasnya,lalu meraih selimut.
Dengan malas Al pun kembali memakaikan celananya,Alvi yang baru menyadari sesuatu yang tegak menantang langsung membulatkan matanya,nyalinya menjadi sedikit menciut.
" Ada apa?" ucap Al dengan kesal setelah membukakan pintu untuk orang yang telah mengganggu ritual semedinya.
" Lho bukanya abang yang nyuruh aku ke sini." ucap Faiz dengan wajah bingungnya.
" Gak jadi,besok aja." tanpa menunggu jawaban Al pun kembali menutup pintu. Faiz pun hanya mengelus dadanya sambil beristigfar.
*
*
*
***Maaf ya Al ritual semedinya di pending dulu..thor belum siap bayangin kalian uhuk uhuk..takut otak thor yang polos ini terkontaminasi..πππ
jangan lupa like vote dan komen ya guys,,kasih bintang lima juga..semoga kalian selalu di beri kesehatan..maaf thor gabut banyak maunya..π€π€π€π
i***
thor kasih bonus visual Hikam Aljalari..
***dan ini Alvia khumaira si gadis kaku, dingin dan jutek...
mohon maaf kalo gak sesuai dengan apa yang kalian bayangkan..πππ***