
Gadis itu pun mengangguk setelah Mendengar permohonan dari mertuanya. Tidak ada salah nya juga ia mencoba menerima pria itu, toh selama ini ia merasa nyaman bersama suaminya itu, dan dia sama sekali tidak pernah di repotkan, bahkan suaminya itu tidak pernah mengekang nya namun tentunya selama ia masih bersikap baik .
" Maaf Umi, Alvi akan mencoba menerimanya mulai sekarang." ucap Alvi seraya menundukan kepalanya.
" Terima kasih, Umi yakin suatu saat kamu juga akan bisa mencintainya ."
Alvi pun mengangguk dan tersenyum pada mertuanya itu.
Pov 1 ( Alvia khumaira)
" Ya Allah..Aku yakin bahwa takdir mu lebih baik dari semua yang aku ingin kan,
beri aku kekuatan untuk memahami
ini sebagai anugrah dari Mu."
Setelah itu Umi pun pamit, dan aku masih termenung memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.Jujur saja untuk menerima takdir akan aku usahakan,tapi untuk menerimanya rasanya sangat mustahil.
" Kenapa kamu belum tidur." seseorang di belakang membuyarkan lamunan ku,aku pun menoleh padanya dan menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
" Kamu belum makan juga." ucapnya lagi seraya menghampiri ku. Dan lagi lagi aku hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
" Mau aku suapin?" tanya nya setelah ia membuka kotak makan yang masih berada di atas meja.
" Gak usah aku bisa sendiri."
" Ya sudah." ia pun menyerahkan makanan itu pada ku. Kemudian berlalu pergi ke dapur untuk membawakan ku minum.
" Kenapa makanan nya gak di bagi dua,kamu juga belum makan kan?" entah bisikan dari mana namun rasanya aku ingin sekali menanyakan hal itu padanya.
" Kamu makan duluan saja,kalo gak habis baru aku yang habiskan." ucapnya dengan sangat lembut,ia pun masuk ke kamar.
aku hanya mematung memandang makanan yang ada di tangan ku.
" Yang benar saja, dia mau makan makanan bekas." lirih ku.
Dari Aisyah RA ,ia berkata " Saya dahulu biasa makan bersama Nabi Saw."
Dalam hadis di riwayatkan Imam Muslim,Rosulullah Saw dan Aisyah Ra minum dan makan dengan gelas dan piring yang sama. Bahkan makan daging pada bekas jilatan Aisyah ( HR: Nasai)
" Kita makan bareng ." Ajak ku tanpa rasa malu. Dan dia pun mengangguk. Pria itu mengambil makanan dari tangan ku,kemudian mulai menyendokan dan memberikan nya pada ku, dan terjadilah makan bersama dengan saling menyuapi untuk yang pertama kalinya.
Setelah melihat ketulusannya, aku menjadi lebih yakin untuk membuka hati ku untuknya.Walaupun bisikan dari telinga kiri ku masih terus mengganggu.
" Selamat malam." ucap nya sambil mengusap kepala ku setelah membantu ku berjalan menuju kamar , Pria itu kembali ke ruang tengah untuk mengistirahatkan tubuhnya sendiri. Dan aku langsung merebahkan tubuh ku di atas kasur menarik selimut sampai ke dada.
Malam itu terasa sangat menyebalkan, mata ku seakan sulit untuk di pejamkan, momen bersamanya membuat dada ku bergemuruh, perasaan penuh benci saat mengingatnya berubah menjadi rasa yang tak bisa di jelaskan.
Tiba tiba pandangan ku menjadi gelap, dada ku terasa sesak,nafas ku tersenggal, tubuhku lemas, Keringat bercucuran di sekujur tubuh ku, dengan tenaga yang masih tersisa aku burusaha mengangkat tangan ku untuk membuka jilbab yang selalu melekat di kepala ku kini yang terasa sangat mencekik.
" Al.." lirih ku ,sepertinya tidak ada kesempatan lagi untuk aku bertahan hidup dan memperbaiki hubungan ku dengan pria itu.
Dengan setengah sadar,aku merasakan dekapan yang menghangatkan.
" Al ,,kamu kenapa?" tanya pria itu dengan khawatir, aku pun berusaha untuk tersenyum padanya.
" Gelap sekali." dengan sisa tenaga yang aku punya,aku berusaha untuk menjawab nya.dia pun langsung menggendongku dan membawa ku keluar dari kamar dan menidurkan ku di atas sofa.
" Kamu tunggu di sini,aku mau cari lilin di dapur." pinta nya sambil menyalakan senter dari ponselnya. Dan menyimpannya di dekat ku.
Tidak lama dia pun datang membawa sebuah lilin dan segelas air. dia meletakan lilin tersebut di atas meja,dan memberikan air minum itu pada ku. setelah itu
Ia duduk di sebalah ku.
" Apa kamu takut gelap?" Aku hanya menjawabnya dengan menganggukan kepala,diapun mengusap kepala ku dan membelai rambut hitam panjang ku,ia menatap ku dengan penuh penuh cinta. Dan entah kenapa ada perasaan aneh saat tatapan mata kami saling bertemu.
Wajah yang selama ini aku benci ,seakan berubah menjadi wajah yang selalu aku rindukan. Aku memeluknya dan dia pun membalas pelukan ku.
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung merebahkan tubuh ku,dan mendaratkan kepala ku di pangkuannya tanpa permisi.Entah lah dari mana aku mendapat keberanian itu,namun saat ini aku ingin melakukan apa yang aku inginkan. Rasanya aku ingin selalu bermanja padanya.
Dia terlihat sangat terkejut dengan tindakan ku,Namun dengan cepat ia menormalkan kembali raut keterkejutannya.
Ia mengusap kepala ku dengan sangat lembut,hingga tak terasa aku pun mulai memejamkan mata. Kedatangannya mambuat Rasa takut yang sempat menyerangnku seakan terhempas dengan sendirinya.
Sepertinya aku sudah benar benar menggantungkan seluruh hidup ku padanya.