
"Yang pertama memeluknya adalah bapak.
Yang pertama menciumnya adalah bapak.
Yang pertama merawatnya adalah bapak.
Sekarang bapak percayakan dan serahkan putri bapak pada mu.
Tolong jaga dan sayangi dia seperti bapak menyayanginya.
Jika suatu saat nanti kamu tidak mengingikannya lagi, jangan beri tahu dia, tapi beri tahu bapak,dengan senang hati bapak akan mengambilnya kembali."
Pesan bapak padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sekian lama akhirnya acara pun selesai, pria itu masih berbincang dengan salah satu tamu, sementara aku di bawa Citra ke sebuah kamar yang sudah di hias dengan lilin lilin kecil yang bertebaran di lantai, juga bunga mawar merah yang memenuhi seluruh ruangan dan ranjang tempat tidur.
" Wahh,, baru kali ini gue masuk kamar pengantin, kok jadi gue yang deg degan ya." seru Citra dengan mata berbinar.
" Deg degan kenapa emangnya?" tanya ku cuek.
" Emang lu gak deg degan , ini kan malam pertama lu?"
" Ngapain musti deg degan, malam pertama apa sih?"
" Astagfirullah,,kok lu ngadadak jadi be*o gini sih Al, lu sakit ? " ucap nya dengan meletakan telapak tangannya di kening ku memastikan suhu tubuh ku. " Gak panas kok."
" Siapa bilang gue sakit, gue cuma stres." ucap ku dengan asal.
" Asyikin aja say,,jangan di bikin stres." godanya dengan menyenggol bahu ku.
" Apaan sih lu." ucap ku mulai sewot.
" Pengantin jangan galak galak, entar di tinggal pergi di malam pertama baru nangis kejer lu." ledek nya seraya berlari menghindari kemarahan ku.Ia pun keluar meninggalkan aku sendiri .
Dengan gaun yang masih melekat di tubuh ku, aku duduk di sebuah sofa mata ku masih berkeliling memperhatikan ruangan tersebut,rasanya ingin sekali aku membakar ruangan ini dengan lilin lilin itu.
Tiba tiba seseorang datang tanpa mengetuk pintu, ia pun masuk dengan santainya.
Saat melihatnya perasaan ku yang tadinya biasa kini menjadi sebuah perasaan yang sulit di artikan, antara marah, kesal, kecewa dan sedih.
Namun aku masih berusaha menahan untuk setenang dan secuek mungkin dengan cara memainkan ponsel ku.
Pov thor.
Akhirnya dengan bantuan dari beberapa orang yang terlibat dalam rencannya, Al bisa memetik buah dari hasil penantian panjangnya selama dua tahun lebih,demi wanita pujaan nya ia rela melakukan apa saja termasuk dengan memanfaatkan keluguan dan diam nya Alvi, pria itu tau seorang Alvi yang tidak banyak bicara tidak akan banyak protes maupun menolak.
Alvi memang tidak banyak bicara dan terlihat lebih pasrah, namun dengan diamnya dia mempu membuat orang sekitarnya merasa tidak senang.
Terbukti setelah mereka menikah di saat malam pertama Alvi seakan tuli dan bisu, dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan suaminya di dalam kamar pengantin itu.
Dua orang yang sama sama keras kepala itu masih sama sama diam, sibuk dengan fikirannya masing, Al sibuk memikirkan apa yang harus dia ucapkan,sedang kan Alvi sibuk menahan amarah terhadap pria yang sudah menjadi suaminya itu.
" Kamu udah makan?" Al mencoba mencairkan suasana ketika melihat wajah istrinya yang sudah seperti banteng jantan yang siap menyeruduk.
" Hmmm.." Alvi menjawab dengan bahasa yang sulit di pahami.
Sontak Alvi pun melirik pakaianya,dan benar saja ia tidak menyadari gaun yang merepotkan masih melekat di tibuh indahnya.
Ia pun masuk ke kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
" Hhuuuhh..Aku harus mulai belajar bahasa isyarat." lirih Al , kemudian ia pun membuka jas nya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Tidak lama Alvi keluar dengan masih mengenakan gaun, ia melirik ke sana kemari berusaha mencari sesuatu yang dia butuhkan.
" Kamu cari apa?" dengan lembut Al berusaha mengajaknya bicara.
Krikkkk krikkk krikkk...hening seakan hanya suara angin yang terdengar.
Alvi sama sekali tidak menghiraukan orang yang berada di dekatnya.
Akhirnya Alvi benafas lega setelah menemukan sesuatu yang ia cari.
Alvi pun meraihnya dan membuka sebuah koper yang sudah berisi beberapa pakaiannya.Kemudian masuk kembali ke kamar mandi.
Al hanya bisa bernafas berat dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya layaknya seperti patung bergerak.
" Kenapa tadi aku tidak sembunyikan saja kopernya." gumamnya.
Setelah tiga puluh menit Alvi keluar dengan mengenakan piyama panjang lengkap dengan jilbab yang menutupi rambutnya.
Ia pun kembali duduk di sofa dan meraih ponselnya.
Al yang baru menyadari istri tercintanya itu sudah duduk manis langsung berjalan ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Tidak lama Al pun keluar dengan memakai kaos putih polos dan celana panjangnya.
Ia melihat istri tercintanya sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan posisi menyamping dan tangan sebagai penyangga kepala dan pipinya.
Ia pun borjongkok di hadapan gadis itu, memperhatikan wajah cantik yang selama ini ia rindukan.
" Jangan coba coba menyentuh ku." ucap gadis itu di saat tangan Al sudah berada di atas kepalanya.Al hanya bisa mengepalkan tangannya di udara.
Ia pun terperanjat setelah melihat tatapan tajam dari gadis cantik itu.
" Jangan coba coba menyentuhku, seujung kuku pun aku tidak akan sudi."
Al hanya tersenyum mendengar kata kata itu, baginya bisa mendengar suaranya saja sudah seperti mendapat oase di padang pasir.
" Aku pikir kamu tidak bisa bicara." ledeknya kemudian ia pun beranjak dan berjalan menuju kasur lalu mengambil sebuah bantal.
" Tidur di kasur saja, biar aku yang tidur di sini." ucap nya.
Dan seperti biasa Alvi hanya bisa diam dan menurutinya.
" Gadis pintar." ucap Al berusaha menggoda istrinya itu.Berharap Alvi akan membalas ucapanya, Namun tidak semudah itu Forguso...😂😂😂
**Senyum jahat terukir jelas dari bibir Thor..Harapan malam pertama yang indah telah gagal karna thor belum mengijinkan..😁😁
jangan lupa like komen dan vote nya ya guys..terima kasih..😘😘😘**