
Al nampak lesu dan tak bersemangat seperti biasanya, beberapa kali ia melakukan kesalahan dalam setiap pekerjaan yang ia kerjakan, saat membantu para tukang,Satria langsung menghampirinya ketika ia tengah mencampur semen dan pasir dengan air yang ia alirkan dari sebuah selang,karena melamun pria beranak dua itu tidak menyadari jika air yang mengalir terlalu banyak hingga campuran pasir dan semen pun terlalu encer.
" Al !!" ujar Satria,berhasil menyadarkannya,pria itu langsung mematikan keran,lalu menoleh pada Satria yang kini tengah menatapnya heran.
" Ada apa?" tanya Satria. Ayah beranak dua itu hanya menggelengkan kepala tanpa mau menjawab.
Satria membawanya untuk istirahat sejenak,sambil meluruskan kaki yang sedikit terasa pegal,mereka duduk di lantai beralaskan karung bekas semen bermerek tiga ban.
" Ceritakan padaku apa yang membuat mu murung seperti ini." ucap Satria,membuat pria itu menatap dalam,pancaran matanya menyiratkan jika ia sedang tidak baik baik saja,sorot matanya seolah berucap " tolong aku."
" Faiz akan pulang hari ini." jawab Al sambil menundukan kepala lesu, Satria langsung faham apa yang di rasakan sahabatnya,iapun ikut merasakan apa yang Al rasakan,kekhawatiran tentang perasaan Faiz muncul begitu saja.
Pria kaku itu ikut termenung,tanpa ada yang membaritahu, ia tahu betul bagaimana perasaan Faiz pada wanita yang kini telah menjadi istrinya,maka dari itu selama ini ia berusaha ikhlas memendam perasaan cintanya sendiri demi Faiz,menghindari dan bersikap acuh pada gadis yang selalu mengejarnya hanya agar bisa Faiz miliki,namun allah berkata lain,gadis yang di cintai Faiz ternyata sudah menjadi milik nya,ia faham betul bagaimana perasaan Faiz jika tau wanita yang di cintainya selama ini kini telah menjadi milik seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri,walaupun tidak ada ikatan darah sekalipun, namun ikatan batin sudah sangat kuat di antara mereka,perasaan bersalah telah menghantuinya.
" Kamu tidak sendiri,Aku tau apa yang kamu khawatirkan,kita selesaikan masalah ini bersama sama,aku yakin Faiz akan mengerti." ucap Satria berusaha menenangkan sahabatnya.
Al mengangkat kepalanya,menatap pria di hadapannya, berusaha mencari keyakinan dari balik sorot matanya,setelah itu iapun menganggukan kepala.
" Mungkin Nanti sore dia sampai,tolong temani aku menjemputnya di bandara." pinta Al.
" Baiklah." Satria mulai beranjak,hendak melanjutkan pekerjaannya.
" Satu lagi,tidak ada yang tau kepulangannya,dan aku minta tolong jangan ada yang memberitahu dulu hubungan mu dan Citra,aku ingin dia mengetahuinya sendiri."
" Aku mengerti." sahut Satria lagi.
Sementara itu di kediaman utama,pemilik pondok pesantren tersebut,Umi telah mendapat firasat dari seekor kupu kupu yang memasuki rumahnya,mitos tersebut menandakan akan adanya seseorang yang datang.Percaya atau tidak namun wanita paruh baya itu tetap mengharapkannya.
" Umi sangat merindukan mu nak,kamu pasti sangat sibuk sampai tak bisa memberi kabar pada kami." lirihnya sambil menatap sebuah foto yang menempel di dinding ruang keluarga,Wanita paruh baya itu mengusap permukaan kaca yang membingkainya,tanpa terasa butiran bening menetes membasahinya,saat mengingat kenyataan yang sebenarnya.
" Tidak,bagaimana pun dan sampai kapan pun kamu tetap anak kami, salah satu putra kerajaan ini." Umi mencoba menyangkalnya,sambil menggelengkan kepala.
Jika Faiz merasakan jika waktu tidak berputar dengan baik,tidak halnya dengan Al,yang merasa waktu terlalu cepat berlalu,hingga tak terasa jam sudah menunjukan pukul 16.00,ia segera menghentikan pekerjaannya,dan langsung memutuskan untuk kembali ke rumahnya,begitu juga Satria yang langsung pergi ke asrama putra hendak membersihkan tubuhnya.
Sebelum berangkat Al mencoba menghubungi adiknya.
" Assalamualaikum." sapa Faiz dalam sambungan telpon.
" Wa'alaikum salam,sudah sampai mana?" tanya Al tanpa basa basi.
" Mungkin sebentar lagi sampai." jawab Faiz sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
" Ya sudah,Abang ke bandara sekarang,kamu hati hati,assalamualaikum."
" Siap boss,Abang juga hati hati. waalaikum salam." Sahutnya dengan penuh semangat.
Setelah itu sambungan pun terputus,
" Mau berangkat sekarang Bi?" tanya Alvi dengan secangkir teh di tangannya.
" Iya sayang,aku pergi dulu ya." Al menerima teh nya terlebih dulu,lalu meneguknya hingga habis.
" Ya sudah hati hati." Alvi mencium tangan sang suami sambil mengantarnya ke teras rumah.
" Iya,ayah pergi dulu ya sayang,jangan rewel." pamitnya dan langsung mencium kening sang istri lalu bayi kembarnya secara bergantian.
Begitu juga dengan Satria yang kini telah menunggu Al di dalam mobil,pria kaku itu terlihat mengetikan sebuah pesan.
"Maaf aku tidak bisa menjemput mu karena ada sedikit urusan,kamu bisa pulang sendiri kan?"
Citra yang kini telah menata roti ke dalam etalase sebelum ia pulang,membuka ponselnya yang berdering.
" Ya,tidak apa apa,aku akan pulang sendiri,memangnya mau kemana?" Balas nya.
"Ya sudah,hati hati ya, Aku akan mengantar Al menemani seseorang."
" Ya sudah kalau begitu,kamu juga hati hati,terimakasih atas kiriman makanannya." Balas Citra lagi tak lupa ia sematkan caption
😘😘😘 dengan jumlah yang banyak,sampai memenuhi layar.
" Iya sama sama." Balas Satria,datar tanpa ekspresi ataupun caption,persis seperti orangnya.
" Jangan pulang terlalu malam,aku takut." Balasan terakhir yang di kirimkan Citra.
" Iya,aku akan usahakan untuk pulang secepatnya."
Setelah pesan terakhir terkirim, pria itu langsung memasukan ponselnya ke dalam kantong celana jeans nya,tanpa ia sadari Al sudah berada di dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
" Sudah?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
" Seharusnya aku yang bertanya seperti itu." sahut Al kesal,karena terlalu lama menunggu Satria berkirim pesan.
Pria kaku itu mengangkat sudut bibirnya, lalu mulai melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah sederhana milik Al.
" Hari gini masih berkirim pesan." gerutu Al membuat Satria melirik sekilas ke arahnya lalu kembali fokus ke depan.
" Sekarang jamannya video call." tambah Al lagi.Namun sepertinya Satria masih tidak ingin menanggapi.
" Apa kamu masih ingin menyembunyikan perasaan mu,aku sudah tau kedekatan kalian,jadi tidak usah malu malu lagi." ucap Al kesal,karena Satria menghiraukannya.
" Aku tidak suka video call dengannya,karena itu akan membuat akal sehat ku hilang saat melihat wajahnya." sahut Satria membuat Al berdesis.
" Dasar lebay,baru melihat wajah nya di layar ponsel saja sampai seperti itu." cibir Al seraya memalingkan wajahnya ke arah luar.
" Aku mengikuti jejak seseorang, bahkan dia sudah bucin dari pertama kali melihat di perapatan lampu merah,lebih parahnya dia melakukan apa saja demi wanita itu,aku rasa itu sudah lebih dari kata lebay." balas Satria membuat Al mati kutu. Ayah beranak dua itu mendengus kesal,dan bungkam seketika tanpa bisa membalas ucapan pria di sebelahnya.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh,akhirnya kedua pria itu sampai di bandara,Satria memarkirkan mobil mewah milik Al terlebih dahulu,setelah itu mereka pun turun dan memutuskan untuk menunggunya di luar,sambil menikmati secangkir kopi yang mereka beli di sebuah coffee shop.
Selang 30 menit,seorang pemuda datang menghampiri mereka sambil membawa dua buah koper besar di tangannya,dengan senyum yang terus tersungging,ia memeluk sang kakak dengan sangat erat.
" Apa kabar, Bang? tanya Faiz ,ia sampai menitikan air mata bahagia,karena bisa sampai dan bertemu dengan salah satu kakak kesayangannya.
" Baik,kamu bagaimana?"
" Faiz juga baik,Bang."
Faiz beralih memeluk Satria, pria kaku itu menyambut hangat kedatangannya,sambil memukul kecil punggung pemuda yang tak lain adalah kakak iparnya.
" Pak dokter,kamu terlihat lebih gagah sekarang." ujarnya membuat Faiz terkekeh,namun kekehannya seketika terhenti saat ekor matanya tanpa sengaja melirik sebuah kalung putih melingkar di leher Satria.
Pemuda itu terus saja menatapnya hingga tanpa sadar ia sudah terlalu lama memeluk Satria.
" Tidak usah berlama lama,lihat! perhatian semua orang sudah tertuju pada kalian,jangan sampai mereka mengira yang tidak tidak." ujar Al seraya memisahkan keduanya.
Faiz menggaruk kepalanya,merasa tidak enak,namun matanya kembali melirik kalung yang di pakai Satria,sayang ia tidak bisa melihat liontin nya karena terhalang kaos yang di kenakan pria kaku itu.