
Setelah perdebatan kecil yang tak masuk akal itu, akhirnya Al bisa meluluhkan sang isteri dengan cara membujuknya dan berjanji akan membawanya ke perkebunan teh ,tentu saja gadis pecinta perkebunan itu akan dengan mudahnya tergiur dengan ajakan sang suami.
" Bener ya Bi,besok kita ke puncak?" ucap Alvi seraya bergelayut manja di lengan sang suami dengan mata berbinar.
" Iya sayang insyaallah, tapi kamu janji ya gak boleh marah marah lagi." ucap Al yang lebih terlihat pasrah.
" Iya Bi , Bi aku liat di belakang rumah Umi ada pohon mangga, kayaknya enak kalo makan rujak mangga langsung di pohonnya."
" Mangga nya masih muda,asem banget yank,nanti aja nunggu Mateng."
" Namanya juga rujak Bi,ya pasti mangga muda,kalo pengen yang Mateng beli aja di pasar banyak, ngapain mesti nunggu." sahut Alvi yang sudah meninggikan suaranya.
Al hanya menarik nafasnya dalam dalam sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Belum ada lima menit ia meminta sang istri untuk tidak marah marah,dan kini ia harus mendapat Ocehan lagi.Tidak mengerti dengan sikap sang istri yang terkadang bersikap sangat manja dan terkadang juga sangat garang.
Ia pun memilih pasrah dan menuruti setiap keinginan Alvi.
" Ya udah kalo gitu,aku minta tolong anak anak santri dulu buat ngambilnya." ucap Al seraya beranjak dari duduknya.
" Jangan Bi, aku kan udah bilang mau makan rujak mangga langsung di pohonnya, jadi aku sendiri yang ngambil." Alvi pun ikut beranjak sambil menarik tangan suaminya.
" Tapi yank,yang benar saja, pohonnya lumayan tinggi."
" Gak apa apa Bi,aku udah biasa manjat yang tinggi dan panjang." bisik Alvi sambil terkekeh, dan berlalu begitu saja meninggalkan sang suami, Al pun ikut terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. kemudian menyusul istrinya yang sudah berada di teras rumah.
" Ke Bi Marni dulu ya Bi,tapi kamu gak usah ikut."
" Loh,kenapa?"
" Takutnya di sana ada si mata elang." jawab Alvi sekenanya.
" Ya udah kalo gitu,aku tunggu di rumah Umi aja yah." ucap Al sambil berlalu ,namun baru beberapa langkah Alvi sudah memanggilnya kembali.
" Bi, kamu ikut aja deh." Alvi pun langsung mengandeng tangan suaminya yang sudah sangat terlihat pasrah, jika di bilang suami takut istri mungkin Ustadz Al adalah contohnya.
Akhirnya Meraka pun berjalan menuju dapur umum dengan bergandengan tangan,para Santri dan santriwati yang berpapasan dengan mereka terlihat menundukkan kepalanya. namun tidak sedikit juga dari mereka yang memperhatikan dua makhluk itu dengan perasaan kagum. Bagaimana tidak pasangan itu terlihat sangat serasi.
" Assalamualaikum." ucap Alvi.Setelah sampai di dapur umum.
" Wa'alaikumsalam, Neng Alvi Den Al ada perlu apa?" sapa Bi Marni yang sedang membereskan perabotan dapur.
" Maaf Bi,bisa tolong bikinin sambel rujak?" Alvi menghampiri wanita paruh baya itu,sedangkan Al duduk di meja makan tempat para santri menyantap makanannya.
" Mau sekalian di irisin buah buahan nya juga." ucap Bi Marni sambil mengulek bumbu rujak di atas cobek.
" Gak usah Bi,aku cuma pengen mangga yang di belakang rumah umi, kalo dah beres sambalnya masukin plastik kecil ya Bi."
Alvi terus memperhatikan Bi Marni yang masih menggoyang goyangkan tangannya di atas cobek. Sampai tak menyadari ancaman di depan mata.
" Assalamualaikum Al, mau aku buatkan teh?" Sarah yang sejak tadi berada di sana berusaha mendekati ustadz tampan itu.Menyadari kesempatan tidak akan datang dua kali ,saat Alvi lengah itu lah saatnya untuk mengambil hati sang ustadz tampan.
" Wa'alaikumsalam, gak usah." ucap Al tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
" Al ,apa yang kamu liat dari dia, kita udah saling kenal sejak kecil,kenapa kamu tidak pernah menatap ku seperti itu." Sarah pun ikut duduk di sebelah Al.
" Cukup Sarah,aku udah bilang,kita sudah sama sama dewasa, walaupun kita sudah dekat sejak kecil gak seharusnya kita berdekatan seperti ini,dan asal kamu tau aku lihat dia dari apa yang tidak aku lihat dari mu." Al pun beranjak
lalu menghampiri istri nya.
" Wah,kayaknya setelah Dedek Azzam, bakal ada anggota keluarga baru lagi." goda Bi Marni pada pasangan suami istri itu.
" Siapa?" tanya Alvi dengan wajah kebingungan.
" Gak mungkin lah Bi,, kan...."
" Sambalnya udah kan Bi,ayo yank bawa sekarang." Al memotong ucapan Alvi karena tidak ingin sesuatu terulang lagi seperti dulu saat di rumah orang tua Alvi.
"Ya udah yuk,makasih ya Bi. Assalamualaikum." ucap Alvi sambil meninggalkan dapur umum.
Setelah sampai di belakang rumah Umi, tepat di bawah pohon mangga yang di maksud,mata Alvi sudah berbinar menatap pada mangga mangga muda yang menjuntai sangat lebat,air liurnya seakan menetes begitu saja.
" Bi, kamu mau nemenin aku di atas apa nungguin di bawah?" tanya Alvi sambil terus menatap ke atas mencari mangga sasarannya.
" Apa, menemin di atas,emang kamu mau berapa lama di atas."
" Ya sampe kenyang lah Bi." sahut Alvi dengan malas.
" Maksud kamu?" Al mengerutkan keningnya.
" Gimana sih Bi,kan tadi aku udah bilang,pengen makan mangga langsung di pohonnya." Alvi kembali memasang mode garangnya.
" Jadi maksud kamu makan di atas pohonnya gitu?" Al sudah membulatkan mata,berharap apa yang di tanyakan nya salah,namun Alvi malah mengangguk dengan cepat sambil memasang wajah cerahnya.
" Udah ya Bi, aku manjat dulu."
tanpa menunggu persetujuan sang suami, dengan cekatan Alvi memanjat pohon mangga tersebut,untungnya masih tidak terlalu tinggi.
Dan tidak lama tanpa terlihat kesulitan Alvi pun sudah sampai di dahan yang menurut nya kokoh dan mampu menopang berat tubuhnya.
Dengan Kaki yang menjuntai ke bawah,gadis itu dengan santainya menyantap rujak mangga muda yang entah kenapa terlihat tidak terasa asam sama sekali di Indra pengecapnya.
" Yank,mangga nya gak di cuci dulu." teriak Al sambil berkacak pinggang di bawah sana.
" Gak usah Bi." sahut gadis itu sambil terus mengigit mangga utuh tanpa di iris.
Sementara itu,Faiz dan juga Citra yang baru pulang dari toko,sengaja datang ke rumah Al,tentunya dengan maksud berbeda. setelah sampai di pekarangan rumah sang kakak, mereka tidak menemukan kehidupan di sana. terlihat sepi dan sunyi.
" Lagi pada gak ada kali ya?" tanya Citra sedikit kecewa,padahal ia sengaja datang hanya untuk menanyakan soal bang Satria.
" Entar aku telpon dulu Bang Al." ucap Faiz sambil merogoh ponselnya.
Dan tidak lama panggilan pun terputus.
" Ikut gue yuk." ajak Faiz pada Citra ,Citra pun mengikutinya.
" Bang ngapain di sini?" tanya Faiz setelah menemukan abangnya. Al tidak menjawab ia hanya mengangkat jari telunjuk nya,menunjuk ke arah di mana sang istri berada.
" Astaghfirullah.." ucap Faiz dan Citra berbarengan,saat melihat apa yang di tunjuk Al.
" Sejak kapan ada kuntilanak kesiangan." ucap Faiz yang langsung mendapat pukulan kecil dari Al.
" Al,lu ngapain?" teriak Citra dari bawah
" Citra ,lu di sini,sini naik,temenin gue." sahut Alvi yang sepertinya sudah menghabiskan beberapa buah mangga namun masih belum terlihat tanda tanda akan turun.
Citra hanya menggeleng kan kepala sambil menatap pada Al ,bertanya sesuatu lewat sorot matanya,yang langsung di fahami oleh ustadz tampan itu,Al pun menjawab dengan mengangkat bahunya.
*
*
*
vote nya mana nih guys,bln ini belum dapat,maaf kalo akhir akhir ini Thor jarang up..jgn lupa like dan komenya juga.