
" Nak Al ,,Alvi kenapa?" tanya Ibu saat Al membawa Alvi yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil.
" Mungkin kelelahan Bu." jawab Al, lalu ia menyuruh Satria untuk segera menjalankan mobilnya.
Saat dalam perjalanan tidak terasa Satria menyunggingkan senyum nya, saat melihat aksi Citra yang mengawal mobil ambulance sambil terus meracau memarahi para pengendara yang masih tidak ingin memberikan jalan untuk ambulance di belakangnya.
" Nak Al bagaimana keadaan Bapak?" tanya Ibu kembali.
Al dan Satria saling lirik lewat kaca spion depan, Satria mengangguk memberi isyarat pada Al untuk memberi tahu yang sebenarnya.
" Maaf Bu,kami gak bisa nyelametin Bapak,Bapak gak tertolong lagi." ucap Al dengan menundukkan kepalanya.
Ibu kembali terisak sambil menyebut nama Bapak.
Satria yang duduk di bangku kemudi mengusap punggung ibu yang berada di sampingnya,berusaha untuk menenangkan.
" saya Turut berduka cita Bu,saya harap ibu bisa ikhlas atas kepergian Bapak." ujar Satria, Ibu hanya mengangguk sambil terus terisak.
Setelah sampai di rumah sakit jasad Bapak langsung di bawa ke ruangan untuk melakukan autopsi. Dan Alvi di bawa ke kamar rawat untuk di periksa.
Al masih setia mendampingi istrinya yang masih belum sadarkan diri,Al menggenggam tangan istrinya dan terus menciuminya.
Naik ke atas mengusap kepala dan mengecup kening sang istri dengan sayang.
" Sayang,aku harap kamu bisa menerima ini semua,aku akan menjaga dan menyayangi mu selayaknya bapak menyayangi mu." bisik Al ,air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tertumpah kan juga .
Setelah itu Ibu dan Citra masuk melihat kondisi Alvi yang kini masih terbaring.
" Bagaimana kondisinya Nak Al?" tanya ibu.
" Alvi baik baik aja Bu, mungkin sebentar lagi akan bangun."
" Lalu bagaimana kondisi janin nya?" tanya ibu kembali sambil terisak mengusap perut rata putri kesayangannya.
Al mengerutkan kening sambil melirik pada Citra.
" Maaf aku yang kasih tau sama Ibu,kalo Alvi sedang mengandung." ujar Citra.
Al pun mengangguk sambil sedikit menyunggingkan senyumnya.
" Janinnya juga baik baik aja Bu.Maaf kami tidak memberi tahu ibu lebih awal." sesal Al
Ibu pun mengangguk, senyum dan tangis pun menjadi satu.
Tidak lama Alvi pun terbangun,meringis sambil memegang dahinya yang masih terasa berputar.
" Bapak.." lirih Alvi dengan suara lemas.
Mereka bertiga langsung menghampiri dan menenangkannya.
" Bu,Bapak mana?" tanya Alvi , ibu hanya menunduk sambil menggenggam tangan Alvi untuk memberi kekuatan pada sang buah hatinya.
" Bi, bapak mana?" tanya Alvi kembali pada suaminya setelah tidak mendapatkan jawaban dari sang ibu.
" Sayang , kamu yang sabar ya." ucap Al
" Iya, tapi bapak mana?" tanya Alvi dengan suara yang sudah meninggi.
Alvi pun mematung tak percaya.
" Aku mau lihat bapak." ucap nya ,sambil beranjak dan mencabut dengan paksa infusan yang terpasang di tangannya.
" Neng..!!"
" Sayang..!!" teriak Al dan ibu bersamaan sambil mengejar Alvi yang yang terus berlari mencari ruangan di mana bapaknya berada.
" Bapak di mana Bu?" tanya Alvi dengan nafas yang sudah memburu.
" Bapak di kamar jenazah Nak." jawab ibu.
" Gak mungkin." Alvi menggelengkan kepala sambil meraung raung,tubuhnya kembali tumbang saat melihat semua keluarga menghampirinya berusaha untuk menenangkannya.
" Bawa Alvi pulang,kita juga akan segera membawa jenazah bapak pulang." titah Bang Fatur.
Al pun menurutinya,membawa Alvi ,ibu serta Mbak Siva yang sedang hamil tua untuk pulang terlebih dahulu.
Sementara itu Citra, Bang Fatur dan juga Satria masih mengurus proses untuk pengambilan jenazah bapak.
Satria terus memperhatikan Citra yang berusaha tetap tegar, namun tanpa di pungkiri sisi rapuhnya tak dapat di sembunyikan lagi,memang berat kehilangan seseorang yang sudah merawatnya dari kecil bahkan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
Citra tidak mampu menahan air matanya, dalam kesunyian Citra menumpah kan semua air mata yang telah ia tahan sejak tadi.
Satria yang melihatnya merasa sedikit iba,ia pun memberanikan diri untuk menghampirinya dan melupakan egonya untuk saat ini.
" Menangis lah jika itu akan membuat kamu merasa lega." ujar Satria sambil mendaratkan bokongnya di sebelah Citra. Dengan cepat ia Citra pun langsung mengusap air matanya.
" Aku gak apa apa Kok." sangkal Citra, ia pun langsung beranjak dan pergi begitu saja,karena tidak ingin terlihat sedih.
Setelah sampai rumah Alvi langsung di bawa masuk ke kamar, ibu dan mbak Siva masih terus berusaha menenangkan Alvi yang masih meracau memanggil nama bapak.
" Kenapa kita pulang, Alvi gak sempet ketemu bapak, Alvi gak sempet bilang kalo Alvi sedang mengandung cucunya.Alvi belum sempat bahagiain bapak,kenapa bapak malah ninggalin kita,Alvi belum sempet minta maaf,Alvi pengen tidur bareng bapak." racau Alvi sambil meraung Raung di dalam kamarnya.
Ibu dan Mbak Siva yang sama hancurnya harus berusaha tetap tegar untuk bisa membuat Alvi
lebih tenang.
Sementara Al yang sudah tidak mampu melihat istrinya dalam keadaan seperti itu langsung pergi hendak mengurus setiap keperluan untuk memakamkan jenazah bapak.
Setelah mendengar ambulance yang mengantar jenazah Bapak,Alvi langsung beranjak dan menghampiri jenazah Bapak yang baru di turunkan dari ambulance tersebut.
" Bapak..!!!!" teriak Alvi ,sambil memeluk jasad sang ayah untuk yang terakhir kalinya.
" Bapak bangun Pak,Alvi belum bisa bahagiain bapak,Alvi ke sini mau kasih tau bapak kalo Alvi sedang mengandung,cucu Bapak, Alvi minta maaf karena selama ini Alvi gak pernah nurut sama Bapak." ucap Alvi di depan jenazah Bapaknya.
" Sayang,,ikhlasin bapak ya,jangan berlarut larut, tidak baik menangisi orang yang sudah meninggal,biarkan bapak pergi dengan tenang." ucap Al sambil terus mendekap sang istri. Alvi pun mengangguk dan mengizinkan agar bapak segera di makamkan.
*
*
*
Makasih buat kalian yang masih setia dgn ceritanya,jgn lupa dukungan nya juga,kasih vote yang banyak ya guys..😘😘😘😘