My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 133



Di tempat lain,seorang pemuda telah berdebar debar,menyiapkan hati dan perasaanya,sambil melirik jam di pergelangan tangannya beberapa kali, pesawat yang membawanya mengudara seolah tak bergerak,bayangan seorang gadis yang selalu setia menemani hari harinya selama berada jauh seakan melambai lambai meminta untuk segera di hampiri.


" Lama sekali." gerutunya


Faiz,calon dokter muda kini telah kembali,membawa masa depan dan harapan yang cerah,pemuda itu terus menyunggingkan senyumnya,memperhatikan gumpalan awan putih yang mengiringi perjalanannya dari balik jendela pesawat.


Berharap gadis yang di cintainya itu akan senang dengan kedatangannya.


" Citra,aku kembali." gumamnya dalam hati.


******


Tidak ada yang lebih menyenangkan selain ketika kita membuka mata, pemandangan indah terpampang nyata di depan nya,Citra tersenyum menatap dalam wajah pria tampan tambatan hatinya yang kini masih terlelap dengan dengkuran halus yang terdengar begitu merdu di telinganya.


"Dasar,,cinta memang buta melihat orang ngorok aja bisa sesenang ini." gumamnya dalam hati.


Netranya masih saja tertuju pada suatu maha karya luar biasa.hingga tangannya mulai terangkat membelai wajah tampan sang suami.


Bayangan tentang penyerangan semalam membuatnya tersipu,namun mendengar kata sayang dari mulut Satria membuatnya semakin semangat untuk melakukan penyerangan susulan,hingga ia menyerangnya lagi dan lagi tanpa ampun.


Gadis itu mendaratkan sebuah kecupan di kening Satria,membuat pria itu bergerak menggeliat namun kembali terlelap.


Waktu sudah menunjukan pukul 05.00, gadis itu mulai mengangkat tubuhnya,lalu memakai pakaian yang belum sempat ia pakai akibat pertarungannya semalam.


" Bangun,Bang! ini sudah pagi." ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Suaminya.


" Hmmm.." sahut Satria mulai mengerjapkan mata,pria itu tersenyum setelah nyawanya terkumpul,ia menarik tubuh sang istri hingga menindihnya lalu mengecup bibirnya sekilas.


" Bangun Yuk!" Ajak Citra.


" Bangunkan dulu adik kecil ku." ujar Satria dengan suara khas bangun tidur.


" Adik kecil?" Citra menatap heran suaminya.


" Hmmm." Satria membawa tangan Citra untuk menyentuh adik kecilnya,namun Citra dengan segera menarik tangannya kembali setelah menyadari maksud sang suami.


" Jangan macam macam,ini sudah pagi,memangnya semalam tidak cukup." gerutunya,sambil beranjak,meninggalkan sang suami yang sudah tergelak


Wanita itu mulai membersihkan diri,tidak memakan waktu lama iapun selesai,dan langsung menunaikan shalat subuh,begitu juga Satria yang langsung bangun dan membersihkan diri,tidak lupa menunaikan kewajibannya juga.


Bu Sukma sudah datang lewat pintu belakang,dan mulai mengerjakan tugasnya.


Satria dan Citra pun nampak sibuk mempercantik dan mempertampan penampilannya di dalam kamar.


Wanita itu kini telah mengenakan style hijab casual dengan me mix and match straight pants dengan kaos,dan cropped demin jacket, serta hijab pasmina berwarna netral yang simpel,terlihat sangat manis dan cocok membalut tubuh rampingnya.


Sementara Satria yang nampak lebih acuh, hanya mengenakan kaos lengan panjang berwarna gelap serta celana jeans yang banyak terdapat robekan di bagian lututnya.


Wanita yang kini tengah berdiri di depan cermin sambil mengoleskan riasan tipis di wajahnya itu,membuat Satria yang duduk dekat dengannya merasa kesal karena terlalu lama menunggunya.


Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya beberapa kali,hingga menghembuskan nafas kasar.


" Sebentar lagi." sahut Citra sambil mengoleskan lipstik tipis di bibirnya.


Pria itu pun mulai beranjak hendak mendekatinya. lalu melingkarkan tangan di pinggangnya,tatapan mereka beradu lewat cermin di depannya.


"Cantik sekali." puji Satria sambil menatap Citra dari pantulan cermin di depannya.


"Iya dong,istrinya siapa dulu." balas Citra genit,seraya mengedipkan mata.


Satria langsung membalikan tubuh istrinya,lalu memeluknya dengan erat.


" Sebenarnya aku tidak rela jika kecantikan mu ini di lihat orang lain."


" Ya sudah aku akan menghapusnya." ujar Citra yang langsung menghujani kecupan di seluruh wajah Satria,hingga gadis itu terkekeh melihat noda lipstik memenuhi wajah suaminya.


" Bagaimana?" Citra menunjukan bibirnya yang sudah tidak terlalu mencolok.


Namun Satria malah dengan cepat menyambarnya,lalu melahap bibirnya dengan buas,******* dan jilatan terasa begitu hangat.


Hingga nafas keduanya tersenggal,setelah itu mereka saling memandang dengan penuh kekaguman.


" Aku mencintai mu." bisik Satria,berhasil membuat Citra merona.


" Aku juga." balas Citra kembali memeluk tubuh Suaminya dengan erat.


" Bersihkan dulu wajah mu,aku tunggu di dapur." Citra melepaskan pelukanya,lalu berjalan ke luar meninggalkan Satria sendiri di dalam kamar.


lama lama berada di dalam kamar dengan situasi seperti itu bisa bisa perang baratayudha akan terjadi di pagi itu.


" Pagi Bu." sapa Citra ketika sampai di dapur,wanita itunlengsung menghampiri bu Sukma untuk membantu menata makanan ke atas meja makan.


" Pagi Neng." balas bu Sukma yang tengah mengaduk susu coklat hangat untuk Satria.


Sementara Satria sudah duduk di meja makan dengan santai,sambil mengelap wajahnya dengan kapas.


Citra menggulum bibirnya,saat melirik Satria yang terlihat menggemaskan dengan wajah merah akibat ulahnya.


Gadis itu mulai mengoleskan selai kacang di atas roti lalu menyimpannya di piring Satria.


" Sini aku bantu." Citra mengangkat wajah suaminya agar bisa menghadapnya,lalu mulai mengusapkan selembar kapas yang sudah ia beri cairan,agar lebih mudah mengangkat kotoran di wajah.


Gadis itu kembali menatap Satria,sambil terus menggerakan tanganya di permukaan wajah sang suami, dan lagi lagi kekaguman kembali membisikkan hatinya.


" Wajah tampan ini,sudah menjadi milik ku,sebenarnya aku juga tidak rela jika ada wanita lain yang melihatnya." gumamnya dalam hati,sambil terus memperhatikan wajah sang suami,yang kini tengah menatapnya juga.


" Suami ku,jagalah mata ini jangan sampai ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat,jaga juga bibir mu ini,jangan sampai dia salah berucap,gunakan pipi ini untuk selalu bisa mengangkat bibir mu,agar kamu selalu tersenyum padaku,dan semoga hidung mu ini bisa mencium bau syurga."lirihnya dalam hati,hingga tatapannya menjadi sendu.


" Sudah?" tanya Satria,berhasil mengagetkannya.


" Sudah Bang." sahutnya,kemudia ia membuang kapas tersebut terlebih dulu,lalu mulai mendaratkan bokongnya di meja makan sebelah sang Suami,dan merekapun mulai menikmati sarapannya masing masing.