My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
121



" Maaf,aku tidak sengaja." Citra terkekeh merasa tidak enak pada semua orang yang berada di sana, termasuk dua Al yang memperhatikan mereka dengan wajah yang aneh, gadis itu kemudian beranjak hendak membantu membersihkan makanan yang menempel di rambut dan pakaian Satria.


" Sudah tidak apa apa?" ujar Satria seraya menikmati makanannya hingga tandas.


Namun tiba tiba gadis itu menginjak kaki Satria di bawah, hingga pria itu meringis melirik pada sang istri yang sedang menatapnya tajam.


Namun Satria hanya tersenyum dan kembali menggoda istrinya dengan memajukan bibirnya seolah memberi sebuah kecupan jarak jauh,membuat Citra salah tingkah, gadis itu melirik kepada dua Al,berharap tidak ada yang mengetahui kelakuan konyolnya.


Setelah menikmati makan bersama,Satria dan Citra pamit untuk pulang.


" Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Citra kesal sambil memukul kecil punggung sang suami saat berada dalam perjalanan.


" Aku hanya ingin menggodamu saja." sahut Satria dengan santainya.


" Hanya bisa menggoda tanpa berani mengucapkan cinta." balas Citra kesal,kemudian gadis itu menarik tangannya dari pinggang sang suami.


Satria menginjak rem secara tiba tiba,membuat gadis itu terkejut dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang Satria.


" Jangan pernah mencoba melepaskan pelukan mu." ucap Satria sambil mengelus lutut Citra dengan tangan kirinya.


" Dasar menyebalkan." bisik Citra dengan nada sensual tepat di telinga Satria.Membuat pria itu tersenyum dengan degupan jantung yang mulai tak karuan.Pria itu melajukan motornya semakin kencang hingga tidak menunggu lama merekapun sampai di halaman pondok.


Citra turun lebih dulu dan Satria membantu membuka helm yang di pakaiannya.


Satria merangkul pundak Sang istri dan berjalan bersama menuju pondoknya.


" Mau aku buatkan kopi?" tanya Citra saat mereka sudah berada di dalam rumah.


" Boleh." sahut Satria sambil masuk ke dalam kamar dan melepas pakaiannya.


Citrapun berjalan menuju dapur dan mulai memanaskan air.


Gadis itu terhentak saat tiba tiba tangan kekar melingkar sempurna di perutnya.lalu Satria mengecup ceruk leher Citra dari belakang.Membuat gadis itu menggeliat kegelian.


" Jangan coba coba menggoda ku lagi." Citra menyikut perut kotak kotak yang berada di belakangnya.


" Kenapa?" tanya Satria masih terus memberi kecupan kecupan kecil di leher sang istri dengan menyibakan jilbab yang di kenakan Citra.


" Sesuai perjanjian,kamu hanya bisa menyentuhku di sini,di sini dan di sini,tapi kamu malah melanggar perjanjiannya." Citra membalikan tubuhnya sehingga menghadap sang suami.


" Baiklah kalau begitu." Satria meraup wajah sang istri dan mulai mengecup satu persatu bagian bagian wajah dari istrinya dari mulai kening,pipi dan berakhir di bibir merah yang sudah mulai menjadi candunya.


Semakin lama Satria semakin memperdalam ciumannya,sehingga Citra harus bisa mengimbanginya,gadis itu menyelipkan jemarinya di sela sela rambut sang suami,sementara Satria mengeratkan dekapannya dan mulai mengangkat tubuh kecil istrinya, membawanya duduk di meja makan tanpa melepaskan pautannya.


Pria itu tersenyum,seraya mengusap bibir merah sang istri dengan lembut,menatap Citra dengan mata yang mulai berkabut di selimuti gairah.


" Airnya sudah mendidik." Citra menunjuk sebuah panci di atas kompor yang menyala,burasaha menyembunyikan wajah gugupnya.


Satria membelikan tubuhnya lalu mulai memindahkan air panas tersebut ke dalam gelas berisi kopi.


Citra turun dari meja,dan memberanikan diri untuk membalas sang suami,ia menabrakan tubuhnya di punggung kekar sang suami,dan melingkarkan tangannya di perut Satria.


" Sampai kapan aku harus menunggu mu?" lirih Citra.


" Aku sudah lama menantikanmu mengucapkan kata cinta padaku." tambahnya lagi.


" Aku tidak biasa mengumbar kata cinta." balas Satria,yang langsung berjalan ke luar sambil membawa kopi yang di seduhnya.


" Katakan padaku,sekali saja." Citra berusaha memaksa Satria,gadis itu merengek sambil mengekor dari belakang mengikuti Satria yang sudah duduk di sebuah bangku kayu teras rumahnya,kemudian gadis itu duduk di pangkuan Satria sambil mengalungkan lengannya di leher suaminya.


" Aku ingin mendengarnya sekali saja." lirihnya sambil menatap dalam mata Satria.


"Bukannya Kamu sudah tau perasaanku? jadi ya sudah,tidak perlu aku katakan lagi." ujar Satria sambil berusaha melepaskan tubuh sang istri yang duduk di pahanya.


" Tidak,aku ingin mendengarnya langsung dari bibir mu." tolak Citra seraya memajukan tubuhnya lebih dekat dan mengeratkan pelukanya hingga sesuatu yang terjepit di bawah sana meronta ronta.


" Jangan menggoda ku seperti ini,lama lama aku bisa hilang akal danbkamu tidak akan bisa mengendalikannya." ancam Satria, membuat Citra terkekeh.


" Ak tidak perduli,aku tau kamu sudah menginginkannya,aku akan senang hati memberikannya padamu,Setelah kamu mengucapkan kata cinta pada ku." tegas Citra.


" Jadi hanya kata cinta yang kamu butuhkan? apa kamu tidak melihat keseriusanku dari hal lain?dengarkan aku,kata cinta bisa saja terucap dari siapapun,jadi jangan terlalu percaya dengan kata cinta." Satria menatap dalam pada sang istri.


"Pria dewasa menunjukan perasaanya dengan tindakan,bukan hanya dengan kata kata yang suatu saat bisa di lupakan, Aku tidak terbiasa berkata cinta,tapi aku akan membuktikan kesungguhan ku padamu." Satria langsung beranjak dan mengangkat tubuh Citra dan membawanya ke dalam kamar.Pria itu merebahkan istrinya dengan hati hati lalu menindihnya.


Pria itu membuka jilbab yang di kenakan Citra,lalu mulai menghujani sebuah kecupan di wajah sang istri,membuat Citra memejamkan mata hingga tidak menyadari kancing pakaiannya sedikit demi sedikit terbuka,gundukan harta karun terpampang nyata di depan Satria.Pria itu semakin bersemangat untuk menjelajahi lebih dalam,berpetualang menuju gunung yang menjulang tinggi,dengan memberi jejak di leher sang istri agar tidak lupa arah jalan pulang,sampai pada akhirnya bibirnya pun sampai di puncak gunung, pria itu semakin liar,menjelajahi gunung hingga mendapat harta karun.


Menyesap dan ********** hingga Citra tak dapat menahan desahannya.


Satria menghentikan aktifitasnya,ia kembali menatap sang istri yang mulai di selimuti gairah,membalas tatapan sang Suami dengan harapan bisa melanjutkan aktifitasnya lebih dari itu.


" Izinkan aku untuk memiliki mu sepenuhnya,jadilah istriku untuk selamanya." ucap Satria sungguh sungguh,seluas senyum tersungging dari bibir Citra,perlahan gadis itu mengangguk dengan wajah merona.


Satria kembali melanjutkan aktifitas,dan mulai membuka celana pendeknya,memberi kesempatan pada burung untanya yang sudah sejak lama meronta ronta.


Citra memejamkan mata sambil meremas seprai tempat tidurnya.Merakasan burung unta milik Satria mengintip di sarangnya, sedikit demi sedikit burung untanyapun mulai memasuki sarangnya dengan malu malu.


" Aaakkhhh,,,sakit." pekik Citra sambil mencakar punggung Satria.


" Tahan sedikit." bisik Satria.


" ssstttt,,,tapi ini sakit sekali." rengek Citra dengan air mata yang mulai berderai dari sudut matanya.


Burung untanya berhasil masuk dengan sempurna,namun Satria tidak tega melihat gadis di bawahnya menahan sakit akibat ulahnya.


Satriapun terpaksa mengeluarkan burung untanya kembali,menyuruh burung untanya untuk bersabar lebih lama lagi.


" Maafkan aku." lirih Satria sambil mengusap sudut mata istrinya.


" Kenapa?" tanya Citra heran.


" Aku sudah membuat mu kesakitan."


" Tidak apa apa." lirih Citra.


" Kita lanjutkan nanti saja,aku tidak tega melihat mu begini." Satria kembali memakai pakaiannya dan menyelimuti tubuh Citra terlebih dulu sebelum ia masuk ke kamar mandi.


Satria menatap burung untanya yang menunduk tak bersemangat.


" Sabar dulu,anggap saja ini hanya sebagai perkenalan,aku berjanji akan segera mendapatkan sarang mu kembali dalam waktu dekat ini." gumam Satria sambil menatap iba pada burung untanya.