My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 77



Setelah Al membawa istrinya masuk,Faiz yang telah selesai menyusun semua hidangan di atas meja langsung mengajak pasangan suami istri itu untuk makan malam bersama.


" Waahh..Kayaknya enak." Seru Alvi menatap semua makanan di sana,air liurnya seakan siap meluncur dari mulutnya.


Faiz tersenyum bangga merasa puas dengan hasil masakannya.


Mereka pun makan barsama sambil berbincang ringan.


Selasai makan,Alvi membantu membersihkan piring kotor bekas mereka makan.Setelah itu istri dari unta Arab itu Pamit untuk beristirahat lebih dulu.


Sementara Faiz mengajak kakaknya itu untuk menyaksikan pertandingan sepak bola bergensi antar liga yang di adakan setahun sekali, Al dan Faiz sudah duduk bersebelahan di depan televisi.Menyaksikan siaran sepak bola yang tayang tengah malam secara live , ekspresi tegang dengan mata yang terus menatap layar televisi, seakan tidak ingin ada Memon yang terlewatkan,,mereka terlihat serius, sesekali terdengar sorakan atau teriakan antusias ,,mendukung klub jagoannya masing masing.


Beberapa Makanan ringan dan minuman sudah tersedia memenuhi meja di hadapannya,sekedar untuk menemani keseruan malam mereka.Rasanya sudah lama kakak beradik itu tidak pernah menghabiskan waktu bersama seperti itu.


" Faiz yakin, jagoan Faiz yang menjadi juara di pertandingan tahun ini." ucap Faiz percaya diri.Saat pertandingan tersebut masih skor 0-0


" Jangan mimpi,,udah jelas dari dulu jagoan kamu gak pernah menang." balas Al dengan nada merendahkan .


" Faiz berani taruhan." tantang Faiz tak mau kalah.


" Taruhan,?" Al diam sejenak ,lalu menganggukan kepala.


" Berani taruhan apa?" tantang Al.


" Kalo Faiz menang,Abang harus izinin Faiz buat hubungin Citra." ucap Faiz.


Al kembali terdiam,memikirkan sesuatu.


" Tapi kalo Abang yang menang,Abang minta kamu buat bisa lupain Citra." balas Al dengan tatapan serius,namun kali ini Faiz yang tertegun.


" Jangan gitu lah bang,,masa hanya karena kalah taruhan Faiz harus lupain Citra,ya gak bisa gitu lah."Protes Faiz sambil merengek


" Lalu apa? "


" Bulan depan Faiz gak minta kiriman uang deh." tawar Faiz.


Dengan terpaksa Al pun mengangguk menyetujui tawaran adik kesayanganya itu,untuk orang tersayang ia memang lebih sering mengalah.


Faiz terkekeh dan kembali menatap layar berukuran besar di hadapannya.


" Gooolll..." teriak Faiz sambil meloncat.Mengepalkan tangannya kuat kuat.


" Faiz bilang apa,tahun ini jagoan Faiz yang bakal menang." Faiz berbangga diri , meledek sang kakak. Al mendesah kesah.


Namun sampai pertandingan usai, klub yang di dukung Al tidak menghasilkan gol sama sekali.


" Ingat hanya menelpon,jangan video call,dan jangan mengatakan apa apa dulu,Abang gak mau konsentrasi belajar mu terganggu oleh hal hal yang tidak penting."Al terlihat kesal hingga ia berlalu meninggalkan sang adik yang bersorak gembira, seperti baru mendapat undian berhadiah pesawat jet. Al memang sedang berusaha untuk menghilangkan perasaan cinta sang Adik pada Citra,karena ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan.Ia tidak ingin Faiz kecewa nantinya.


" Iya Bang,Faiz janji gak ngomong apa apa dulu sebelum Faiz berhasil meraih impain Faiz."


Pemuda itu langsung menyambar ponselnya,melirik jam yang melingkar di tangannya .


02.00,perbedaan waktu Indonesia lima jam lebih cepat dari Negara yang ia tinggali. Itu artinya di Indonesia sudah menginjak pukul 07.00 ,waktu yang tepat untuk menghubungi sang pujaan hati,sepertinya dewa keberuntungan seberada di pihaknya.


Dengan hati berdebar ia menghubungi Citra,dan tanpa menunggu lama suara yang ia rindukan telah di dengarnya


Citra yang saat itu hendak berangkat bekerja langsung mengurungkan niatnya saat ponselnya berbunyi , matanya membulat sempurnaa . Dengan perasaan senang dan tidak menyangka, tanpa menunggu lama ia langsung mengangkat panggilan tersebut saat mengetahui siapa gerangan yang telah menghubunginya .


" Halo ,, assalamualaikum." Suara Citra terdengar begitu merdu di telingan Faiz,membuat pemuda itu seketika terpaku.


" Hallo ,,assalamualaikum Faizzzz....!!!" sesaat kemudian lengkingan dari suara Citra terdengar memenuhi Indra pendengaran pemuda itu, sampai ia terkesiap dan harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


" Halo ,, assalamualaikum Cit." suaranya terdengar gemetar mengikuti irama dari detak jantungnya.


" Wa'alaikum salam Faizzz ,,,Lu jahat,Lu tega ma gue,,gue benci sama Lu." Citra langsung terisak dengan nada yang di buat manja.


" Maaf Cit ,tapi kenapa?" Faiz terjekut ,nafasnya semakin memburu.


" Lu tega,lu lupain gue gitu aja,lu gak pernah kasih gue kabar,gue kangen lu tau.." rengek Citra,ia benar benar merasa rindu akan kehadiran teman yang selalu ada di saat ia membutuhnya.


Faiz tersenyum,memegang dadanya,deberan jantungnya semakin kencang,ia tak menyangka kalau ternyata Citra pun merasakan apa yang ia rasa.


Mendengar semua kata rindu yang di ucapkan Citra membuatnya tak berdaya, rasa rindunya kini semakin menggebu,ingin sekali ia berlari dan menghampiri sang pujaan hatinya saat itu juga.


" Maaf Cit, aku juga kangen sama kamu,aku gak pernah bisa lupain kamu,tapi sekarang aku memang sangat sibuk." jelasnya.


" Iya deh gue ngerti, tetep semangat ya pak dokter." goda Citra.


Lama berbincang hingga tak terasa waktu begitu singkat,mereka harus mengakhiri obrolannya.


" Jaga diri baik baik ya pak Dokter.Gue akan setia nunggu Lo." ucap Citra saat akan menutup telponnya.


Faiz mengecup layar ponselnya setelah panggilan terputus.Seperti mendapat kekuatan baru, ia menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan hidupnya. Senyumnya terus tersungging sempurna dari bibirnya.


Hingga menjelang pagi, ia bahkan tidak sempat tertidur, debaran jantungnya masih saja terasa berdetak kencang.Rasanya ia tak mampu memejamkan mata karena menurutnya kenyataan lebih indah daripada mimpi.